Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Kebahagiaan Dirga


__ADS_3

'Sekarang kamu adalah milik ku. Tak akan ada lagi yang berhak bermimpi untuk memiliki mu. Sampai akhir hayat, kau akan menjadi milik ku, Kanaya.'


#Dirga Gantara


...****************...


Sadar dengan Dirga yang terus berada di hadapannya kini Kanaya semakin menunduk. Dia sungguh tak berani melihat wajah Dirga yang terus tersenyum karena merasa gemas melihat Kanaya yang tampak malu.


"Kenapa?" tanya Dirga. Bahkan sedari tadi Kanaya juga sama sekali belum menyalami Dirga selayaknya seorang istri pada suaminya. Apalagi Dirga? di juga belum berani menyentuh Kanaya. Hanya tangannya saja yang sudah berani mengusap air mata Kanaya tadi itupun dengan sapu tangan.


"Ti_tidak apa-apa," jawab Kanaya yang semakin menunduk.


Begitu keras jantung Dirga bekerja saat ini. Juga sama dengan milik Kanaya. Keduanya terus asyik dengan detakannnya masing-masing.


"Hem, apakah kamu tidak mau menyalami suamimu?" tanya Dirga yang kini beralih berdiri di hadapan Kanaya. Namun Kanaya masih saja terus menunduk.


"Hem?" Kanaya terkesiap saat tiba-tiba Dirga mengulurkan tangan di hadapannya. Semakin kuat jantung Kanaya bekerja saat ini.


Kanaya mendongak dan mendapati Dirga yang terus tersenyum dan penuh harapan bahwa Kanaya akan menerima uluran tangannya. Dirga tau, Kanaya belum terbiasa untuk menyentuh laki-laki, tetapi apa hanya sekedar menjabat tangannya saja apakah belum bisa?


Tangan Kanaya gemetar seraya terangkat perlahan. Bibirnya terus berkatup-katup karena ragu antara menyalami atau tidak. Tetapi dia tak bisa mengabaikan hal kecil seperti itu. Biar bagaimana pun dia sadar kalau dia sudah menjadi istri dari Dirga.


Di angkatnya tangan Kanaya perlahan, hingga akhirnya bersentuhan dengan tangan Dirga. Kanaya menarik perlahan tangan Dirga hingga sampai di depan bibirnya.


Kecupan singkat membuat keduanya seolah melayang-layang dalam waktu bersamaan. Percaya tak percaya tapi kini keduanya sudah bersentuhan dan itu halal untuk keduanya.


Dirga beralih duduk di sebelah Kanaya tanpa melepaskan tangan Kanaya. Setelah Dirga berhasil duduk Dirga meletakkan tangan Kanaya pelan di pangkuan Kanaya sendiri. Setelahnya, Dirga mengangkat tangan menyentuh puncak kepala Kanaya dengan perlahan.


Satu tangan bertengger di atas sana, sementara yang satunya menengadah untuk melantunkan sebuah doa. Doa pertama yang akan Dirga lantunkan untuk Kanaya. Doa untuk memohon kebaikan.


Kanaya terdiam, dia begitu menurut dalam rasa gugup yang semakin besar. Kanaya terus menunduk seiring doa yang Dirga lantunkan padanya.


Mata Kanaya terpejam tatkala Dirga meniup keningnya usai berdoa. Hembusan yang terasa masuk ke dalam hatinya. Kali ini bukan doa mahabbah yang Dirga ucapkan, tapi doa pertama untuk istrinya.


Tak sampai di situ. Jantung Kanaya bekerja semakin cepat saat Dirga mengecup keningnya dengan sang lembut. Menyalurkan cinta pada Kanaya untuk yang pertama kalinya. Selesai pada kening Dirga beralih mengangkat wajah Kanaya dengan tangannya yang berada di dagu. Kecupan beralih di dua mata Kanaya bergantian dari kanan terlebih dahulu lalu sebelah kiri.


Tak pernah Kanaya tau kalau ada cara seperti ini dalam ritual pengantin baru. Setau Kanaya hanya menyalami tangan suami dan berganti mendapatkan kecupan di kening dan ternyata lebih dari itu.


Ada rasa bahagia, tapi juga ada rasa sedih karena kecewa. Dia bahagia mengetahui Dirga begitu lembut dalam memperlakukannya, tetapi dia sedih karena di hari bahagianya tak ada satupun sahabat yang menemaninya. Kenapa?


Dirga tersenyum setelah selesai dengan pekerjaannya. Melihat Kanaya yang begitu pasrah dan memejamkan matanya. Entah benar-benar pasrah atau mungkin ada hal lain yang dia sembunyikan hingga dia enggan untuk membuka mata.


"Apakah kamu akan terus menutup mata seperti itu di acara resepsi kita?" tanya Dirga.

__ADS_1


"Hem?" Kanaya perlahan membuka mata.


"Tidak apa-apa kalau kamu maunya seperti itu, kamu tetap terlihat menggemaskan." Dirga sengaja mencubit hidung Kanaya untuk menghilangkan rasa gugupnya saat ini. Dan benar saja, caranya berhasil.


"Apa sih, Tuan!" protes Kanaya tak terima.


"Loh! kok masih manggil tuan? kan sekarang sudah menjadi suami. Panggilannya harus di ganti dong," Dirga mencoba untuk berbicara seperti biasa. Semua itu dia lakukan supaya tidak ada kekakuan dalam mereka berdua.


Kanaya masih diam, sepertinya dia tengah berpikir panggilan apa yang tepat untuk Dirga.


Fuhh...


"Kamu cantik, Naya. Bolehkah aku mencium mu?" bisik Dirga. Dia sengaja melakukan itu karena melihat Kanaya yang melamun. Yakin dengan cara itu pasti Naya akan cepat tersadar.


"Ih! apa sih!" cepat Kanaya mengambil bantal dan mulai memukul Dirga.


"Stop, Naya! stop!" teriak Dirga seraya menghindar dari serangan Kanaya.


Tangan Kanaya tertangkap, di pegang dengan erat dan sang bantal sudah terjun bebas ke lantai.


Mata keduanya saling bertemu, saling menyapa dan menyalurkan cinta.


Kanaya terpaku, dia seolah terkunci dan tak mampu bergerak. Dirga tersenyum senang melihat Kanaya yang pasrah seperti sekarang. Tak ada perlawanan berarti padanya.


Kecupan singkat mendarat di bibir kecil milik Kanaya, tentu pelakunya adalah Dirga.


Meski terdiam tak mampu bicara tapi pipi Kanaya sudah memerah menahan malu. Dia merasa sangat munafik sekarang. Di hatinya terus berontak untuk menolak. Tapi dia menerima setiap apa yang Dirga lakukan padanya.


Kenapa bisa seperti ini?


"Sisanya kita lanjutkan nanti malam," ucap Dirga.


Mata Kanaya membulat karena perkataan Dirga barusan, nanti malam?


Mata Dirga terus berkedip genit, membuat Kanaya begitu malu. Ingin tersenyum tetapi senyumnya yang keluar terasa sangat aneh.


"Ih, Tuan mesum!" teriak Kanaya begitu heboh.


"Mesum sama istri sendiri tidak apa-apa kan?" Dirga semakin senang menggoda Kanaya. Ternyata begitu menyenangkan setelah sekarang bisa leluasa mengatakan apapun pada Kanaya.


"Ih!" Kanaya memalingkan wajahnya. Dia tak ingin lagi melihat Dirga yang terus terkekeh.


"Jangan teriak-teriak, Naya. Kalau sampai ada yang denger di kira aku udah ngapa-ngapain kamu lagi. Atau itu memang mau_mu?"

__ADS_1


"Ih! menjauh lah dariku!" Kanaya beranjak dia bergegas keluar lebih dulu meninggalkan Dirga yang begitu senang melihat Kanaya yang semakin menggemaskan.


'Akhirnya, tak ada lagi penghalang untuk aku bersamamu, Naya_ku. Sekarang kamu adalah milik ku, selamanya,' batin Dirga.


Dirga beranjak, dia berjalan perlahan untuk mengejar Kanaya. Beberapa orang ikut tersenyum melihat Kanaya juga Dirga yang masih kaku saat berada di hadapan semua orang. Bahkan tak ada kata-kata yang keluar dari keduanya.


Begitu banyak orang yang sudah menunggu kedatangan Kanaya juga Dirga. Kedatangannya langsung di sambut meriah oleh semua orang, terlebih lagi dari orang tuanya Dirga.


"Subhanallah, cantiknya," puji Umi Uswah yang menghadang Kanaya.


"Benar, Umi. Menantu kita benar-benar sangat cantik. benar cocok dengan Dirga kita," imbuh Abi Hasan.


Kanaya menyalami keduanya dengan hormat. Mendapatkan pelukan hangat juga kecupan di kening oleh Umi Uswah dan mendapatkan elusan kasih sayang di puncak kepala dari Abi Hasan.


Tiba-tiba saja ada satu rasa yang hadir di hati Kanaya hingga berakhir membuatnya mengeluarkan air mata.


'Maafkan Aya, Kang. Aya tak mampu menolak semua ini. Entah kenapa dan apa yang terjadi, tetapi Aya benar-benar tidak bisa. Maaf,' batin Kanaya.


"Kok nangis, stts.. anak cantik nggak boleh nangis," Umi Uswah menghapus air mata Kanaya, dia pikir itu hanya tangis haru, tangisan kebahagiaan. Padahal nyatanya. Tangisan penyesalan.


Hatinya kembali merasakan sakit. Tiba-tiba saja semua kenangan dan harapan manis dengan Yuan terputar rapi di dalam kepalanya. Kenapa tidak kemarin? kenapa harus sekarang setelah semuanya sudah terjadi.


Kanaya semakin sesenggukan, di tambah lagi saat matanya melihat Hani yang berdiri mematung dan menyandarkan punggungnya lemas di sudut panggung.


Hani juga menangis, begitu derasnya hingga mata Hani sudah terlihat membengkak.


Kanaya berjalan melalui semua orang, membiarkan semua melihatnya. Kanaya berlari semakin cepat ke arah Hani dan langsung memeluknya.


"Hani, kenapa kamu begitu tega padaku. Kenapa kamu tidak datang?" tanya Kanaya di tengah-tengah pelukannya.


Hani semakin terisak saja semakin erat memeluk Kanaya.


"Maafkan aku, Aya. Aku tak punya kemampuan untuk itu."


"Hani, maukah kamu menemani ku ke kebun setelah semua ini berakhir? aku ingin melihat Kang Yuan dan meminta maaf padanya. Please, tolong anter aku," bisik Kanaya.


"Pasti, kita akan ke sana setelah ini. Tapi tuan Dirga?"


"Itu akan menjadi urusan ku," jawab Kanaya.


Hani mengangguk, melepaskan sebentar pelukannya dan kembali memeluk sahabatnya lagi. Sedih hati Hani, sebentar lagi dia juga akan di tinggal oleh Kanaya. Dia akan kesepian.


...****************...

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2