
'Tak ada kebahagiaan dari seorang Suami selain melihat istrinya bisa nyaman berada di hadapannya. Bisa melihat senyum indahnya meski hanya sebentar saja. Tetaplah tersenyum istriku.'
#Dirga Gantara
...****************...
Mata Kanaya perlahan terbuka setelah pagi hari. Suara azan subuh lah yang telah membangunkannya. Mata menerawang sofa di mana Dirga tidur semalam, tapi tak dia lihat ada di sana.
Apakah Dirga sudah bangun dan langsung meninggalkannya begitu saja?
Pikiran itulah yang langsung ada di benak Kanaya. Kanaya masih sangat takut di dekati Dirga, tapi dia juga takut di tinggalkan sendirian. Hanya Dirga juga Savira yang dia kenal, Savira sudah pergi dan hanya ada Dirga, kalau dia juga pergi, lalu?
"Tuan Dirga kemana? dia tidak pergi meninggalkanku kan? dia tidak akan mengingkari janjinya kan?" Kanaya semakin takut.
Perlahan kakinya turun dari ranjang, menapak lantai yang terasa sangat dingin.
"Tuan!" suara Kanaya sudah mulai mengeras. Kakinya juga mulai melangkah.
Baru beberapa langkah saja Kanaya kembali berhenti, dia di kejutkan dengan keberadaan Dirga yang ada di lantai. Tidur di atas sajadah dengan meringkuk juga dengan tubuh yang gemetar.
"Tu_Tuan," Kanaya mendekati Dirga, dia tau ada yang tidak beres dengan Dirga. Tubuhnya yang gemetar menjelaskan semuanya.
"Tuan, bangun. Tuan," Kanaya sudah duduk di sebelah Dirga ingin membangunkan. Tangannya ingin menyentuh tapi ada rasa takut.
"Hemm... maafkan aku, Hem..." Dirga mengigau.
Maaf? apakah ini semua terjadi karena rasa bersalahnya yang belum juga bisa dia hilangkan?
"Tuan, bangun. Tuan. Astaghfirullah hal azim, Tuan demam?" begitu terkejut Kanaya setelah memberanikan diri menyentuh Dirga. Baru saja dia menyentuh bahunya dan itu sudah terasa panas Kanaya memberanikan diri untuk menyentuh kening dan ternyata lebih panas lagi.
"Astaghfirullah, Tuan. Apa yang Anda lakukan di sini. Tuan bangun," Kanaya mencoba membangunkan Dirga dan setelah beberapa panggilan juga sentuhannya Dirga perlahan membuka mata.
"Ke_kenapa kamu pa_nik?" tanya Dirga dengan terbata-bata. Dirga pelan mengubah posisi untuk duduk tapi karena kelamaan meringkuk jadi membuat dia kesusahan.
"Pelan-pelan, Tuan." Kanaya spontan membantunya.
Tangan Kanaya yang sudah berada di bahu Dirga menjadi pusat perhatiannya. Rasa hati semakin berbunga-bunga karena Kanaya mau menyentuhnya meski tangannya juga terlihat gemetar.
Dirga menoleh, memandangi Kanaya hingga membuat mata mereka bertemu. Dirga tersenyum sementara Kanaya menjadi kikuk.
"Terima kasih," ucap Dirga.
__ADS_1
"Sama-sama," Kanaya melepaskan tangannya dengan cepat setelah Dirga sudah berhasil duduk dengan benar.
"Tu_tuan tidak apa-apa kan?" tanya Kanaya. Biar bagaimanapun Kanaya adalah seorang istri dia pasti akan mengkhawatirkan Dirga sebagai suaminya.
"Tidak apa-apa," Dirga menjawab dengan santai. Seolah dia memang tidak apa-apa. Padahal sangat jelas kalau Dirga dalam keadaan tidak baik.
Allahu Akhbar Allahu Akhbar...
Mata Dirga melihat ke atas entah apa yang dia lihat tapi yang jelas telinganya mendengarkan suara iqamah.
"Ambillah wudhu lebih dulu, kita shalat bersama," pinta Dirga.
Kanaya malah melamun, ini adalah ajakan Dirga yang pertama kali untuk melakukan shalat bersama. Meski kemarin-kemarin keduanya sudah ada di ruangan yang sama tapi keduanya selalu shalat sendiri-sendiri.
"Kenapa malah melamun, apakah kamu masih belum siap untuk menjadi makmum ku?"
"Hah! ba_baik, Tu_tuan. Aya akan ambil wudhu," Kanaya cepat beranjak. Dia menyetujuinya meski tadi sempat ragu.
Dirga tersenyum melihat kepergian Kanaya. Alhamdulillah, Kanaya mau menjadi makmumnya. Dan sebentar lagi Dirga akan benar-benar menjadi seorang imam. Semoga bukan hanya imam di dalam shalat, tapi imam di dalam rumah tangga mereka.
"Biarkan Allah yang akan menyatukan cinta kita, Nay. Semua tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Aku yakin, Allah juga akan menumbuhkan cinta di hatimu untukku," gumam Dirga yang penuh harap.
Berserah diri kepada Allah adalah jalan yang benar, dan kini Dirga sadar akan hal itu. Dia juga menginginkan hati Kanaya bukan hanya sekedar fisiknya saja yang ingin dia miliki, Karena Dirga ingin memiliki Kanaya sepenuhnya, hati, pikiran juga fisiknya selain Allah.
...****************...
Shalat berjamaah pertama kali setelah mereka resmi menjadi sepasang suami-istri.
Ada rasa kebahagiaan yang mengalir dalam hati keduanya. Ketenangan, juga kenyamanan mereka dapat meski belum begitu jelas.
Dirga menyerukan dzikir seperti biasa, lalu berdoa dan Kanaya mengaminkan.
Suara 'Amin' yang keluar dari bibir Kanaya membuat jantung Dirga berdetak tak karuan, hatinya semakin berdesir namun menumbuhkan kebahagiaan. 'Seperti inikah bahagianya menjadi seorang imam?'
'Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah telah Engkau izinkan untuk hamba menjadi seorang imam dari makmum yang sudah Engkau ridhoi.' batin Dirga.
Usapan telapak tangan ke wajah adalah akhir dari doa Dirga juga Kanaya. Dirga menoleh, memposisikan duduknya dengan benar untuk menghadap Kanaya.
'Bismillahirrahmanirrahim,' batin Kanaya.
Perlahan dia berjalan dengan lututnya dan mendekati Dirga, meraih tangan tanpa meminta izin dan langsung mengecupnya.
__ADS_1
Begitu banyak pahala yang akan mengalir di tengah-tengah rumah tangga yang saling ikhlas juga saling ridho. Bisa menerima kekurangan dan sabar akan semua cobaan.
Desiran aneh semakin menggelora di hati Dirga, sejenak dia menutup mata menikmati sensasi di saat bibir basah Kanaya menyentuh punggung tangannya. Begitu luar biasa.
Perlahan mata mulai terbuka kala Kanaya mulai menjauh, belum sempat tangan Kanaya terlepas dari tangan Dirga satu tangan Dirga merengkuh kepala Kanaya, melantunkan sebuah doa sebelum dia mengecup kening Kanaya.
Sungguh, keadaan yang sangat mendebarkan untuk keduanya. Sentuhan yang penuh kelembutan juga penuh kasih, inilah yang selalu Dirga impi-impikan.
Bukan hanya Dirga yang merasakan getaran kuat di dalam jantung dan hatinya, tapi Kanaya juga. Hatinya berdesir panas kala bibir Dirga yang juga panas karena demam itu memberikan kecupan. Bahkan Kanaya juga menutup mata menikmati rasa itu.
Cinta Dirga dia rasakan, benar adanya juga sangat tulus.
Belum juga Kanaya membuka mata, tangan Dirga yang ada di tangan Kanaya terlepas dan menyentuh dagunya. Perlahan mengangkatnya dan berpindah mengganti kecupan di kedua matanya.
Semakin tak menentu hati Kanaya.
Rasa apa ini yang hadir? mungkin itulah yang Kanaya tanyakan dalam hatinya.
Benarkah rasa cinta Dirga itu akan membuat tumbuhnya cinta di dalam hati Kanaya juga? Biarkan waktu yang menjawabnya.
Mata Kanaya seakan tak berani terbuka karena jarak wajahnya juga wajah Dirga masih sangat dekat. Hembusan nafas keduanya saling menyapa satu sama lain bahkan sampai ke wajah.
Bibir merah ceri menjadi sasaran Dirga selanjutnya, dia benar menyatukannya dengan bibirnya yang terasa sangat panas miliknya itu.
Kala kedua bibir saling menyatu jantung Kanaya yang seolah ingin berhenti dalam sejenak namun tak lama bekerja lebih cepat dari sebelumnya.
Lembut.
Itulah yang membuat Kanaya terlena dan merasa di hargai dan di limpahi cinta dan kasih sayang. Seandainya saat ini juga Dirga meminta haknya pastilah Kanaya tidak akan menolak karena dia juga ingin merasakan di sentuh dengan kelembutan seperti sekarang.
Tapi rasa was-was masih merajai di hatinya dan membuat pikiran membayangkan rasa sakit yang dia dapat waktu itu.
"Terima kasih sudah bertahan untuk ku, Naya. Terima kasih," ucap Dirga setelah lama dia memandangi wajah ayu Kanaya yang memejamkan mata.
Alhamdulillah, tak ada Gairah buruk yang datang dan menghancurkan kehangatan saat ini di dalam diri Dirga, dia bisa mengendalikannya dengan baik.
"Hem," Kanaya mengangguk pelan dengan wajah yang merona, dia langsung menunduk karena begitu malu.
Dimana ketakutan tadi?
Mungkin ketakutan itu telah di kalahkan oleh cinta Dirga yang begitu tulus juga semua sentuhan lembut yang dia berikan.
__ADS_1
...****************...
Bersambung...