
...****************...
Terus Kanaya juga Dirga bercanda gurau di dalam kamar. Malam semakin larut tapi keduanya sama sekali tak ada rasa kantuk.
Kanaya yang penasaran dengan ilmu bisnis tadi Dirga sempat mengajarkannya, berbagai cara Dirga lakukan untuk membuat Kanaya bisa berbisnis dan itu dengan mudah. Kanaya yang memang memiliki otak encer pastilah akan lebih mudah mempelajarinya.
Tapi apa yang di lakukan semata-mata hanya untuk membuat Kanaya tau saja dan tidak ada niatan untuk membuat Kanaya menjadi pembisnis yang selalu sibuk seperti dirinya. Dirga masih mampu menghidupi Kanaya jadi tidak akan di biarkan Kanaya akan semakin sibuk dan itu akan membuat Kanaya kelelahan.
"Mas, hentikan! Nay nggak kuat, hahaha!"
Kanaya terus tertawa karena Dirga terus menggelitik Kanaya jelas itu akan membuat tertawa terbahak-bahak tiada henti.
"Tidak akan mas lepasin, hahaha!" Dirga terus saja membuat Kanaya terus tertawa bahkan Dirga sendiri juga ikutan tertawa.
Entah apa awalnya yang membuat mereka berdua tertawa seperti sekarang ini tapi keduanya terlihat begitu bahagia sekarang.
"Hahaha!" hingga akhirnya di tawa yang terakhir Dirga langsung memeluk Kanaya dan menjatuhkan nya di kasur.
Saling ketawa dan juga saling berpelukan dengan sangat erat. Bukan Kanaya yang memeluknya tetapi Dirga lebih tepatnya, dia seakan ingin terus memeluk istrinya dan tak ingin melepaskan.
Begitu membahagiakan di setiap kebersamaan sekecil apapun entah itu hal di luar rumah ataupun di dalam rumah.
Kini tidak lagi menggelitik_i tapi Dirga beralih menghujani kecupan di seluruh wajah Kanaya. Keduanya terlihat begitu menggemaskan dan sangat lucu, seperti anak kecil saja mereka.
"Mas, hentikan!" Kanaya menghindar tapi Dirga terus mengejarnya jelas membuat Kanaya terus berteriak.
"Oke mas akan berhenti tapi..."
"Tapi apa?" suara mereka masih sesekali melengking dengan bercampur tawa.
"Minta jatah yang lain," baru saja berhenti bicara Dirga langsung menyatukan bibirnya dan memulai pergemulan mereka berdua.
Kanaya hanya diam dan menurut saja apa yang Dirga lakukan karena memang itu yang seharusnya.
...****************...
Sarapan pagi sudah tersedia di atas meja, kali ini bukan hanya Kanaya yang sibuk di dapur tapi ada wak Ami juga yang membantu.
__ADS_1
Sarapan sederhana untuk mereka bertiga tapi mampu menumbuhkan kehangatan dan keceriaan. Keluarga yang begitu di nanti-nanti dan selalu di idamkan oleh semua orang dan kini wak Ami dapat merasakan keluarga yang mampu menghadirkan kebahagiaan di tengah-tengahnya.
Ini bukanlah mimpi ini adalah hal yang nyata yang di alami oleh wak Ami. Ternyata, kebahagiaan Kanaya adalah sumber dari kebahagiaannya.
Melihat hubungan Kanaya dan Dirga yang begitu harmonis membuat wak Ami sangat senang.
'Terima kasih Ya Allah, telah Engkau beri kebahagiaan untuk anak hamba,' batin Wak Ami.
"Mas nanti pulang jam berapa?"
Dirga yang tengah mengunyah sengaja menghentikannya dan memandangi Kanaya.
"Mungkin sekitar jam tiga sore, emangnya ada apa?" Dirga yang beralih bertanya.
"Nggak, kalau mas sibuk nanti Nay belanjanya biar di antar pak Danu saja."
"Biarkan pak Danu saja yang belanja, Nay. Kamu di rumah saja mas takut kamu akan kecapean. Kamu katakan saja sama pak Danu apa yang kamu inginkan pasti semua akan terbeli," jawab Dirga.
"Emang iya, Mas. Tapi Nay pengen aja jalan-jalan untuk belanja kayaknya enak."
Jelas tak akan di biarkan sampai Kanaya kecapean dan akan sakit, Dirga tidak ingin itu terjadi.
"Iya, Mas. Tidak akan capek kok."
"Ayo Wak makannya yang banyak," pinta Kanaya.
Wak Ami tersenyum dia begitu senang mendapatkan perhatian dari Kanaya ataupun dari Dirga. Meski itu hanya perhatian kecil tapi itu sangat membahagiakan.
"Mas berangkat dulu," Dirga beranjak dan langsung mengambil tas kerjanya.
Kanaya ikut mengantarkan Dirga sampai depan mencium punggung tangannya dan mendapatkan kecupan hangat penuh cinta dari Dirga.
"Teruslah temani Wak, jangan biarkan dia sendiri itu akan membuat dia sedih lagi kalau hanya sendiri," ucap Dirga.
"Iya, Mas. Mas hati-hati ya, jangan lupa makan siang dan juga istirahat."
"Assalamu'alaikum..."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam.."
Seperti biasa setelah kepergian Dirga Kanaya akan bergegas masuk dan beres-beres rumah. Mungkin hari ini akan menjadi terakhir Kanaya sibuk karena besok akan ada asisten rumah tangga yang akan membantunya. Dirga tak akan bisa membiarkan Kanaya melakukan semuanya sendiri.
"Assalamu'alaikum, Mbak Nay!" belum juga masuk ada seorang yang memanggil.
"Wa'alaikumsalam, eh mbak Muna. Mbak Muna belum berangkat kuliah?" Muna sudah berjalan mendekat dan berhenti di hadapan Kanaya.
"Hehe, sebentar lagi, Mbak. Mas Dirga sudah berangkat ya, Mbak?"
"Baru saja berangkat. Emang ada apa?"
"Hehehe..."
Muna terus saja meringis jelas itu membuat Kanaya sangat penasaran. Sebenarnya ada apa, kenapa Muna seperti itu?
"Yuk masuk dulu, kita bicara di dalam," ajak Kanaya seraya menggandeng Muna.
Keduanya duduk di ruang tengah terlihat Muna hanya malu-malu untuk bicara, sebenarnya ada apa?
"Mbak Muna kenapa? keluhannya lagi seneng banget?" Kanaya yang begitu keheranan.
"Mbak, saya datang untuk memberikan undangan ini untuk mbak sama mas Dirga." satu undangan keluar dari tas Muna.
"Undangan apa?" Muna tidak menjawab membiarkan Kanaya tau dengan membacanya sendiri.
"Wah, ini beneran mbak? mbak mau bertunangan dengan mas Zein!" Kanaya terlihat begitu bahagia.
"I_iya," Muna mengangguk manusia juga menunduk seolah tak berani memandangi Kanaya.
"Selamat ya, Mbak," Kanaya mendekat dan langsung memeluk Muna.
'Akhirnya, mas Zein mendapatkan orang yang baik dan tepat. Semoga semuanya berjalan lancar dan kalian berdua bahagia selamanya,' batin Kanaya.
...****************...
Bersambung...
__ADS_1