Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Menutupi Aib


__ADS_3

'Biarkan derita ini menjadi milik kita bersama, dan bersama-sama kita berusaha untuk mengakhirinya. Aku ikhlas.'


#Kanaya Setya Ningrum


***************


Begitu was-was Kanaya untuk masuk ke dalam kamar, apalagi dia mengingat apa yang terjadi pada Dirga barusan. Bayang-bayang akan hal buruk terus merajai kepalanya namun dia harus bisa sekuat tenaga untuk mengendalikan ketakutannya.


Kalau Dirga saja bisa mengendalikan diri kenapa dia tidak bisa mengendalikan ketakutannya? Kanaya yakin dia pasti bisa melalui ini. Bukannya dia sendiri yang mengatakan akan berjuang bersama-sama?


''Assalamu'alaikum, Tuan. Aya boleh masuk?'' izin Kanaya.


Kanaya menunggu dan belum ada jawaban dari dalam. Sebenarnya apa yang sedang Dirga lakukan sekarang sehingga dia tak menjawab panggilannya.


''Tuan, Aya masuk ya?'' tanpa mendapatkan jawaban dari Dirga Kanaya langsung membuka pintu dan masuk begitu saja.


Betapa terkejutnya melihat keadaan Dirga sekarang, dia bahkan menyiksa dirinya sendiri dengan mengikat kedua kaki dan sedang berusaha mengikat kedua tangannya.


Melihat Dirga yang seperti itu jelas saja Kanaya langsung berlari mendekatinya. Menghentikan usaha Dirga yang akan menyiksa dirinya.


''Biarkan ini, Nay. Jangan lepaskan, aku tidak mau menyiksa kamu dengan kaki juga juga kedua tanganku. Hentikan, Nay,'' bagaimana mungkin Kanaya akan membiarkan hal itu terjadi, meski dia sendiri tak mau mendapatkan penyiksaan lagi tapi tetap dia tak akan membiarkan Dirga menyakiti dirinya sendiri seperti sekarang ini.


Dukanya Dirga pastilah akan menjadi dukanya juga. Tangis Dirga sekarang saja juga sudah berhasil menjadi air mata Kanaya juga yang akhirnya dia ikut menangis di hadapan Dirga yang begitu lemah.


''Tidak, Tuan. Tuan tidak boleh menyakiti diri sendiri. Tuan harus bisa yakin kalau tuan pasti bisa sembuh ada aku di sini, Tuan.''


Meski tak punya kemampuan apapun tapi Kanaya tetap berusaha. Seorang ibu tidak perlu belajar dari orang lain untuk bisa membahagiakan anak-anaknya, begitu juga dengan istri yang tak butuh guru untuk memahami dan bisa membuat suami merasa nyaman ada bersamanya.


Meski Kanaya juga bukan wanita terpelajar tapi dia sangat yakin dia pasti bisa membantu Dirga dalam melewati semuanya.


Begitu menyedihkan keadaan Dirga saat ini, dia terus menangis karena kerapuhannya. Dia ingin kuat tapi nyatanya dia tak sekuat yang ada pada keinginannya. Dia rapuh.


Kanaya langsung memeluk Dirga begitu saja saat semua ikatan sudah terlepas. Melihat itu Kanaya ikut merasakan sakitnya juga. Apakah itu yang di namakan ikatan suami istri?


"Tuan, sabar. Tuan harus bisa kuat. Ini pasti akan cepat berlaku," Ucap Kanaya yang terus berusaha menghibur Dirga.

__ADS_1


"Besok kita tanya sama mbak Savira. Kita cari dokter yang bisa membantu kesembuhan, Tuan," Imbuh Kanaya lagi.


Begitu mudah Kanaya untuk bisa menerima Dirga, semoga saja apa yang Kanaya rasakan bukan semata-mata karena bentuk kasihan. Tapi karena dia benar-benar ikut merasakan apa yang Dirga rasakan dengan menggunakan sebuah ketulusan.


"Ma_maaf. Tidak seharusnya aku lemah seperti ini. Terima kasih, Nay," Pelukan Kanaya pudar karena Dirga yang melepaskannya. Bukannya dia tidak mau di peluk oleh Kanaya tapi dia terlalu takut kalau kedekatannya akan menumbuhkan hal yang sama seperti tadi.


Kelainan Dirga mungkin memang sudah sangat kuat menguasainya, tapi kelainannya masih kalah dengan keimanannya hingga membuat Dirga bisa melawan hawa na*su yang kadang muncul dengan tiba-tiba.


Ternyata benar, penyakit apapun akan terkalahkan jika kita hanya berserah diri kepada Allah dan terus mendekat pada-Nya. Penyakit atau kesehatan yang membuat kita semakin mendekat pada Tuhan itu adalah sesuatu hal yang membawa keberkahan. Tapi penyakit atau kesehatan seperti apapun yang membuat kita menjauh dari Tuhan itu bisa saja seperti musibah.


Dirga tersenyum sembari tangan menghapus air matanya kala melihat Kanaya yang duduk di hadapannya dengan ketegaran dan tak ada rasa takut. Tak ada canggung ataupun malu-malu seperti sebelumnya.


Bukan niat Dirga menyiksa diri hanya untuk mencari sensasi atau empati ataupun perhatian dari Kanaya. Tapi semua itu adalah murni karena dia terlalu takut akan menyakiti Kanaya.


"Tenangkan hati, Tuan. Itu di luar ada Umi dan Abi. Tuan tidak mau mereka tau kan dengan apa yang tuan alami sekarang?"


Jelas Dirga menggeleng, dia tak mau sampai kedua orang tuanya tau. Dirga tidak mau merasa kalau apa yang terjadi pada Dirga adalah sebuah aib bagi mereka. Biarkan hanya dirinya, Kanaya juga Savira yang mengetahui semuanya.


"Hem, aku akan membasuh muka dulu," Dirga hendak beranjak, dengan spontan Kanaya membantunya.


"Tuan, tuan baik-baik saja kan?" Tanya Kanaya yang begitu khawatir dengan keadaan Dirga.


"Tidak apa-apa, hanya pusing saja nanti juga akan sembuh. Tidak usah terlalu khawatir," Di belainya pipi Kanaya dengan sangat lembut.


Dirga cepat berlalu, kedua orang tuanya pasti sudah menunggu di ruang tengah sangat lama.


"Maafkan aku yang tak bisa melakukan apapun, Tuan. Tapi Aya janji, Aya akan berusaha untuk membantu tuan sembuh." Batin Kanaya.


****************


Dirga bertingkah baik-baik saja di hadapan kedua orang tuanya, jelas tak mau sampai mereka curiga dan tau apa yang terjadi.


Baru saja sampai di hadapan keduanya Umi benar-benar menarik telinga Dirga. Sepertinya dia benar-benar kesal karena ulah Dirga yang membawa kabur Kanaya begitu saja tanpa bicara.


Bahkan Dirga juga tidak mengatakan membawa Kanaya kemana hingga akhirnya mereka tau dari Savira. Sebenarnya Dirga ingin mengatakan dari kemarin, tapi saat itu luka Kanaya masih sangat jelas takut saja kan kalau dia ketahuan. Ya! Mungkin Dirga terlalu penakut mengakui kesalahannya kepada kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Aduh duh! Lepas Umi, telinga Dirga bisa lepas!" Jelas Dirga kesakitan karena Umi menariknya memang sangat keras.


Hanya itulah yang akan selalu Dirga dapat kalau membuat Umi kesal. Sebenarnya hanya jeweran yang penuh kasih karena juga tidak sungguh-sungguh untuk membuat Dirga sakit.


"Dasar nakal ya, kamu harus Umi hukum pokoknya," Ucap Umi.


"Seharusnya kemarin itu bawa nak Kanaya ke rumah Umi, bukan langsung ke sini. Umi udah siapkan semuanya, udah menyiapkan penyambutan mantu ternyata malah kamu kacaukan semuanya, dasar nakal," Imbuh Umi mengomel.


"Maaf Umi, Dirga kan juga pengen dia datang ke rumah kami untuk yang pertama kalinya. Setelah itu baru ke rumah Umi." Tidak mungkin kan Dirga akan mengatangkan kalau dia membawa pulang Kanaya ke rumahnya lebih dulu karena insiden yang dia buat.


Tapi apapun yang akan terjadi Dirga sudah ikhlas. Dia menyerahkan hak sepenuhnya pada Kanaya. Kalau Kanaya ingin mengatakan semuanya dia tidak apa-apa.


Dengan sedikit candaan sebenarnya Dirga tengah gelisah. Dia takut kalau Kanaya akan berkata jujur kalau dia mendapatkan kekerasan di hari pertama.


"Loh, Nduk. Itu kenapa wajahmu sedikit kebiru-biruan seperti itu?" Meski Kanaya dan Dirga diam tapi Abi tak bisa melewatkan bekas di wajah Kanaya yang belum hilang sepenuhnya.


Deg...


Jantung keduanya seakan ingin mencuat keluar karena mendengar pertanyaan Abi.


"I_ini?" Kanaya terus melihat Dirga dan terlihat dia sudah pasrah.


"Ini, ini karena jatuh, Abi. Kemarin Kanaya tidak hati-hati dan akhirnya jatuh," Tentu jawaban Kanaya adalah sebuah kebohongan.


'Terimakasih, Nay. Kamu telah menutupi aib ku meski itu pada kedua orang tuaku sendiri,' batin Dirga.


'Aibmu adalah aibku juga, Tuan. Apalagi itu adalah urusan ranjang. Aya tidak mau, karena apa yang Aya katakan akan menjadi alasan tuan dan Aya di benci Allah dan masuk neraka. Biar hanya kita yang tau, aku ikhlas.' batin Kanaya.


Kanaya tersenyum saat melihat Dirga tersenyum kepadanya.


"Walah, kayaknya kok kabar gembira akan segerakan datang to, Bi," Gurau Umi membuat keduanya langsung menoleh ke Umi secara bersamaan.


"Amin," Hanya itu yang menjadi jawaban dari abi namun dengan begitu bersemangat.


******,******

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2