Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Khataman


__ADS_3

**********


Nyanyian sholawat bersahut-sahutan dari santri-santri. Semua tamu undangan sudah mulai berdatangan begitu juga dengan para wali santri yang di undang secara khusus.


Semua tak sabar ingin melihat penampilan dari anak-anak mereka yang akan naik ke atas panggung. Sungguh, sesuatu hal yang menjadi kebanggaan untuk orang tua di saat melihat anak-anak mereka dengan berani naik ke atas panggung dengan hafalan kitab yang mereka hafal selama satu tahun ini.


Baju putih, hijab atau kopyah putih juga bawahan hitam. Itulah yang menjadi seragam dari semua para santri saat ini.


Begitu was-was dan sangat gelisah perasaan Hani, Wati juga Kanaya saat ini. Mereka yang bertanggung jawab untuk semua yang akan terjadi di atas panggung.


Di saat satu persatu santri naik ke atas panggung perasaan semakin was-was, mereka bertiga yang duduk di kursi para santri yang paling depan hanya bisa terus memijat-mijat tangan mereka dengan perasaan yang tak karuan.


Di saat yang sangat tak menentu seperti saat ini Kanaya bahkan melupakan kalau hari ini dia akan bisa bertemu dengan Yuan. Pria yang sudah satu bulan ini telah pergi, dan tentu sangat Kanaya rindukan.


Sepasang mata melihat ketiganya dengan tersenyum penuh rasa bangga. Meski semua belum selesai tapi semua sudah jelas. Mereka telah berhasil melakukan tugas mereka.


Lebih tepatnya Kanaya lah yang paling dia lihat tanpa berkedip. Gadis dengan balutan baju yang sama dengan para santri itu terlihat sangat cantik meski dalam keadaan panik.


"Kuatkan hatimu, Ay. Akang ada di sini. Akang di sini menemani kamu," Gumam Yuan yang ternyata duduk di kursi para tamu undangan di blok para laki-laki.


Ternyata usaha mereka membuahkan hasil yang sangat baik. Semua yang mereka ajarkan benar-benar di lakukan dan di tampilkan dengan sangat indah oleh para santri.


Gemuruh tepuk tangan terdengar bersahut-sahutan saat selesai. Tibalah penampilan dari gadis kecil enam tahun yang Kanaya gembleng dalam satu bulan ini.


Sebelum lagu mulai di nyanyikan, ketiga gadis yang membimbing mereka semua juga ikut naik ke panggung. Satu barisan anak-anak besar berdiri di belakang, satu barisan yang lebih kecil ada di depannya, sementara Hani, Wati juga Kanaya duduk di paling depan. Tentu dengan membawa mic masing-masing.


'Kaulah ibuku, cinta kasihku


Pengorbanan mu, tak kan pernah terganti


Kau bagai matahari yang s'lalu bersinar, sinari hidupku dengan kehangatan mu...'


Gadis kecil dengan bibir mungil dan suara yang sangat merdu mulai berbunyi. Seketika semua menjadi hening, menghayati lagu ibu yang di bawakan olehnya.


Hembusan nafas panjang, dengan mata terpejam sesaat terlihat dari Kanaya, gadis itu mulai bersiap mengangkat mic dan mulai menyerukan puisi untuk Ibu. Bukan hanya Kanaya, tetapi Hani juga Wati. Mereka bertiga saling bergantian.


Ibu....


Begitu besar perjuangan untuk melahirkan anak-anak mu, jasamu besar untuk membesarkan kami


Maafkan jika kami bersalah, maafkan jika kami lalai akan kebaikanmu


Kau selalu mengingat kami, mengirimkan doa di setiap sujud mu


Tapi apa balasan kami, kami lebih senang menanyakan kabar teman-teman kami dan melupakanmu.

__ADS_1


Ibu, maafkan kami.


Sebanyak harta tak mampu membeli semua kasih sayangmu


Segunung tisu tak mampu mengeringkan keringat di kala melahirkan dan membesarkan ku


Kau bagai matahari yang selalu memberikan sinar kehangatan


Kau bagai rembulan yang memberi sinar di dalam kegelapan


Cintamu tak terbatas meski kami tak mampu membalas


Kasihmu tak berujung meski jarak tak saling terhubung


Kau adalah pelita ku


Kau adalah penerang gelap ku


Kau adalah kebanggaan ku


Terima kasih Ibu, terimalah cinta ku


Terima lah do'a ku....


Puisi yang di serukan bersamaan dengan syair yang di nyanyikan oleh gadis kecil itu. Semua semakin larut dalam haru.


Air mata mengalir dari mata Kanaya, gadis yang sudah tak memiliki kesempatan untuk bisa membahagiakan ibunya yang sudah berpulang. Tak mampu Kanaya menahan gejolak kepedihan yang benar-benar besar dalam hatinya.


Ingin dia menjerit memanggil Ibu, berharap akan mendapatkan jawaban yang ingin selalu dia dengar. Kerinduan kepada ibu membuat Kanaya terus menangis, air mata tak dapat dia bendung meski hanya setetes saja.


Kanaya menunduk, hati sudah menggebu-gebu dalam perasaan pedih. Ingin sekali kali ini Ibunya datang, tersenyum di hadapannya dengan bangga dan memeluknya dengan erat. Tapi itu tak akan mungkin dia dapatkan.


Kepergian Ibu yang begitu cepat tanpa adanya sakit membuat Kanaya benar-benar sangat terpukul hingga kini masih tak percaya kalau ibu sudah tiada.


Cinta yang besar dari Ayah untuk ibu Kanaya membuat dia juga menyusul sang ibu genap di hari seratus Ibunya pergi, dan itulah yang membuat Kanaya tinggal bersama Wak Ami dan Wak Tejo sekarang ini.


Tangis bukan hanya dari Kanaya, tapi kedua sahabatnya yang ada di dua sisinya ikut menangis, mereka sadar bagaimana perasaan Kanaya sekarang. Keduanya langsung memeluk Kanaya dengan sangat erat, mungkin dengan itu bisa membuatnya kuat menjalani hidupnya.


"Sabar, Ay. Mereka sudah bahagia di sana. Mereka pasti sangat bangga melihat kamu yang tangguh seperti ini." Bisik Hani.


"Sabar, Ay. Kamu tidak sendiri, ada kami yang akan selalu bersamamu." Imbuh Wati.


Di usap air mata Kanaya oleh kedua sahabatnya dan berhasil membuat Kanaya tersenyum masih dalam sedu.


Ketiganya kembali memandangi semua tamu undangan, ternyata semuanya hening dalam rasa haru. Bahkan tak sedikit yang ikut menangis, apalagi yang mengenal Kanaya.

__ADS_1


Mata Kanaya yang masih merembes tak sengaja melihat pria yang sangat dia rindukan Yuan, ya! Yuan yang Kanaya lihat.


Pria itu menarik kedua ujung bibir menggunakan kedua jarinya sendiri. Meminta Kanaya untuk tersenyum meski Yuan sendiri juga ikut menangis saat itu. Namun Yuan sudah lebih dulu mengusapnya sebelum Kanaya melihat.


Kanaya tersenyum dia sangat bahagia bisa melihat Yuan, ternyata Yuan menepati janjinya untuk datang di saat acara khataman. Melihatnya yang ikut naik ke atas panggung dan melihat penampilannya.


Masih melihat Yuan tangan Kanaya terangkat, mendekatkan mic dan kembali bersuara.


'Guru belahan jiwa, kekasih yang sempurna


Akhlak mu mempesona, duhai bulan purnama


Bunga-bunga bersemi di atas tanah suci


Mekar indah nan wangi cintamu kan abadi


Ke seluruh penjuru, kau tegakan agama


Jagat raya gempita, menyambut akhlak mulia... '


Sambungan syair Wati dan Hani sambung, suasana semakin hening dalam rasa haru yang begitu syahdu. Hingga di akhir syair semuanya bersuara termasuk para santri yang ada di belakang mereka bertiga.


Plok plok plok....


Gemuruh tepuk tangan memadati tempat acara setelah syair selesai. Semua bersorak-sorai dalam rasa kagum dan rasa bangga. Tak sedikit yang berdiri dan dalam wajah bahagia.


Plong sudah rasa hati mereka bertiga, akhirnya mereka bertiga berhasil dengan tantangan yang hanya satu bulan diberikan oleh Ustadz Ahmad. Mereka berhasil.


"Wassalamu'alaikum warohmatulohi wabarakatuh!" Seru semua bersamaan.


"Wa'alaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh!" Jawaban juga tak kalah seru dan sangat kompak. Dan berakhirlah penampilan mereka semua.


Satu persatu santri mulai turun dari barisan paling belakang, lalu depannya dan yang terakhir Hani, Kanaya lalu Wati. Dan tepuk tangan kembali mereka dengar.


"Saya menginginkan semua informasi tentang gadis yang ada di tengah. Kamu harus mendapatkannya hari ini juga. Saya tidak menerima kegagalan. Kamu mengerti." Ucap salah satu pria yang ada di tengah-tengah para tamu khusus.


"Baik, Tuan. Secepatnya saya akan bawakan informasi gadis itu untuk Tuan." Jawab sang ajudan.


Pria itu menyeringai saat melihat ketiga gadis itu turun dari panggung, lebih tepatnya Kanaya yang menjadi pusat perhatiannya.


"Inikah yang di namakan cinta pada pandangan pertama? Hem..., aku akan mendapatkan mu, entah bagaimanapun caranya. Kamu harus menjadi milikku," Gumam nya.


◦•●◉✿"✿◉●•◦


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2