Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Usaha Arifin


__ADS_3

...****************...


Begitu tak sabar Kanaya ingin menemui Hani sang sahabat yang selama ini dia rindukan. Setelah mendapatkan izin dari Dirga dia bergegas berangkat.


Sebenarnya Dirga juga ingin ikut, tapi tiba-tiba ada e-mail datang dan Dirga harus mengeceknya. Itu tak menjadi masalah untuk Kanaya, dia bisa pergi sendiri sekarang dan Dirga bisa menyusul setelah semuanya selesai.


Baru juga sepuluh menit Kanaya pergi Arifin mendekati Dirga yang tengah serius dengan laptopnya. Terlihat Arifin tersenyum sinis dan terus melangkah entah apa yang dia rencanakan saat ini.


"Ga, kamu nggak ikut istrimu ke tempat Hani?" Arifin langsung duduk di hadapan Dirga dengan membawa teh untuk dirinya sendiri.


"Nanti saya menyusul," Dirga menjawab tapi sama sekali tidak melirik ke arah Arifin.


'Sombong sekali dia, emangnya dia bekerja apa sih sampai-sampai sombong begitu. Pakai bawa-bawa laptop segala lagi. Dasar pamer!' batin Arifin tak suka.


Semakin tak suka Arifin, dia juga begitu merendahkan Dirga yang tidak tau apa sebenarnya pekerjaannya. Arifin pikir hanya bekerja di pabrik gitu.


"Emangnya kamu percaya begitu saja sama istrimu. Apa kamu tidak tau kalau Yuan ada di sana juga? Tadi aku lihat dia mengantar Hani. Entah dari mana mereka atau mungkin memang Hani bilang sama Yuan kalau Kanaya datang? bisa jadi kan mereka ingin bertemu?"


Dasar kompor meleduk nih Arifin. Terus saja memanasi Dirga yang dia pikir akan cemburu buta dan akan kembali marah pada Kanaya. Tapi itulah yang Arifin inginkan. Mereka bertengkar hebat, Dirga menyakiti Kanaya lalu di tinggalin tuh Kanaya_nya.


Deg...


Jantung Dirga jelas langsung berdetak tak menentu, benarkah ada Yuan juga di rumah Hani? apakah Kanaya begitu tidak sabaran untuk ke sana karena tau Yuan datang dan mereka akan bertemu?


Dirga juga langsung terdiam dan menghentikan pergerakan tangannya di atas keyboard laptopnya.


Apa yang harus dia lakukan, apakah dia harus menyusul istrinya sekarang dan memarahinya karena dia menganggap telah berbohong? atau mungkin Dirga harus tetap di sana dan mengendalikan semua emosinya dan tetap memberikan kepercayaan penuh pada Kanaya?

__ADS_1


"Apa kamu lupa, Kanaya itu sangat mencintai Yuan. Bisa jadi kan dia masih berhubungan di belakang kamu. Siapa tau mereka masih terus berkirim pesan."


Begitu semangat Arifin untuk menyalakan sumbu yang ada pada Dirga, dia sangat yakin sebentar lagi sumbu itu akan semakin membesar dan akan membakar semuanya. Membakar semua dengan kobaran kemarahan yang sangat besar dan tak akan bisa di kendalikan.


Tapi, perkataan barusan malah membuat Dirga tersadar akan sesuatu. Darimana Arifin tau tentang mereka yang masih suka berkirim pesan?


Kanaya ada di semarang, Yuan ada di Jogja dan Magelang ada di tengah-tengah diantara keduanya. Lalu?


Tidak mungkin kan kalau Yuan akan bercerita pada Arifin tentang apa yang dia lakukan pada Kanaya, tapi kalau Yuan melakukannya. Padahal jelas-jelas Yuan tidak melakukan itu.


"Emang mas Arifin tau dari mana mereka suka berkirim pesan?" tanya Dirga penuh selidik.


"Ya, ya sa_saya hanya beranggapan seperti itu saja. Mana saya tau kalau itu benar. Lagian seandainya benar dan kamu tau aku yakin kamu tidak akan membiarkan itu kan?" Arifin berusaha untuk berkilah. Tidak mungkin juga dia akan mengatakan hal kejujuran kalau dia yang telah berusaha mengadu domba antara mereka.


Arifin kan inginnya Dirga dan Yuan berselisih, setelah itu Kanaya di tinggalkan Dirga namun Yuan sudah terkadung marah pada Kanaya dan tak mau menerimanya. Pastilah Kanaya akan sangat menderita, iya kan?


Begitu senang Arifin sekarang, hatinya bersorak kemenangan saat melihat Dirga langsung menutup laptopnya lalu beranjak dan juga cepat berjalan masuk ke kamar Kanaya.


'Yes! akhirnya sebentar lagi akan lihat tontonan yang sangat luar biasa. Hahaha!' batin Arifin begitu sangat puas dengan pekerjaannya yang menggunakan mulut tajamnya.


Sementara Dirga tidak langsung keluar lagi tapi dia kembali membuka laptopnya menyelesaikan pekerjaan yang hanya tinggal sedikit saja.


"Alhamdulillah," ucapnya. Tangannya cepat menutup laptop dan bergegas untuk menyusul Kanaya. Dia ingin membuktikan apakah perkataan Arifin benar bahwa Yuan ada di sana?


Tapi belum juga Dirga beranjak dia melihat buku di sebelah laptopnya. Di dalam buku terselip sebuah pena berwarna hitam.


Di bukanya oleh Dirga dan langsung dia dapat apa yang sangat kuat untuk menjadi sebuah petunjuk.

__ADS_1


"Kamu tidak akan bisa berkilah lagi mas Arifin," terlihat Dirga begitu geram. Yah! dia tentu sangat geram karena dia mendapatkan satu lembar kertas yang gagal dalam penulisannya.


Memang kata-kata ada yang tak bisa di baca karena sudah di coret-coret tapi masih ada yang tersisa.


Semua semakin jelas siapa yang telah mengirim surat pada Kanaya dan mengatasnamakan Yuan. Dan itu adalah keluarga Kanaya sendiri. Entah siapa, Arifin atau siapakah yang melakukan itu pada Kanaya. Kenapa mereka begitu senang sekali ingin membuat Kanaya menderita.


Apa untungnya untuk Arifin coba jika berhasil melakukan ini. Benar-benar tak habis pikir.


Dirga cepat bergegas keluar dari kamar, bahkan dia juga cepat keluar dari rumah. Melihat Dirga yang begitu buru-buru dan tidak melihat Arifin lagi yang masih ada di tempat membuat Arifin menyungging sinis. Usahanya telah berhasil pikirnya.


"Penasaran aku pengen lihat tontonan yang sangat bagus. Ini pasti akan sangat menyenangkan," tak kalah Cepat Arifin beranjak.


Arifin berlari begitu saja meninggalkan tehnya yang belum habis berniat untuk mengejar Dirga untuk bisa melihat kejadian apa yang akan terjadi.


Mungkinkah Dirga akan marah pada mereka semua?


Mungkinkah Dirga akan menghajar Yuan?


Ataukah, mungkin Dirga akan menarik paksa Kanaya seperti waktu itu dan akan memarahi Kanaya?


Ah, bayangan Arifin sudah begitu banyak pikiran-pikiran negatif tentang apa yang akan di lakukan Dirga. Arifin akan lebih senang jika akhirnya Dirga marah hingga sampai menganiaya Kanaya lalu Yuan tidak terima. Bukankah itu tontonan yang sangat menarik?


"Ah, sudah nggak sabar aku!" Arifin terus berlari.


...****************...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2