Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Baik-baik saja


__ADS_3

...******...


"Nak, kamu istirahatlah dulu. Biar wak yang menjaga Naya," ucap wak Ami.


Dari awal Kanaya masuk rumah sakit sampai sekarang Dirga sama sekali belum istirahat, dia hanya terus berada di sampingnya hanya akan pergi saja ketika dia harus menjalankan ibadah shalat, itu saja dia lakukan di dalam ruangan Kanaya itu.


"Tidak, Wak. Dirga tidak apa-apa," jawab Dirga seraya menolak apa yang di perintahkan oleh wak Ami kepadanya.


Semakin kesini wajah Dirga semakin pucat, bahkan saking khawatirnya pada Kanaya sampai-sampai dia juga lupa akan obat yang seharusnya dia konsumsi. Dia sama sekali tidak meminumnya dalam jadwal dia yang sudah seharusnya minum tiga kali.


"Kamu pucat banget loh, Ga. Lebih baik kamu makan-makan dulu lalu istirahat. Biar wak yang menjaga Naya."


Wak Ami terus membujuk tapi Dirga juga tetap bersikeras untuk tetap di sisi Kanaya untuk selalu menemaninya.


Tak akan dia biarkan Kanaya merasa kesepian dan dia tidak ada saat Kanaya butuh. Dia ingin menjadi suami yang benar-benar siaga dan bisa di andalkan untuk Kanaya.


"Nanti, Wak. Nanti saya pasti akan istirahat," katanya lagi.


Tak lama Dirga menutup mulutnya yang tengah berbicara pada Kanaya Kanaya perlahan bangun dan mulai mengerjabkan matanya.


Sungguh bahagia Dirga setelah melihat istrinya itu terbangun, Dirga juga terus tersenyum dengan tangan yang masih menyatu dan langsung di kecup oleh Dirga berkali-kali.


"Mas," panggil Kanaya. Suaranya begitu sangat lemah dan terdengar serak-serak aneh.


"Hem," terharu Dirga, dia mengangguk dan juga sudah berdiri. Tangannya yang satu tetap menahan tangan Kanaya untuk tetap menyatu dengan tangannya sementara yang satu mengelus puncak kepala Kanaya dengan lembut dan penuh kasih.


"Bagaimana, apa ada yang sakit?" suara Dirga juga terdengar serak mungkin karena dia terus bersedih sepanjang Kanaya di rumah sakit.

__ADS_1


"Ti_tidak. Hanya masih lemas saja."


"Mas, mas sakit?" kali ini Kanaya yang bertanya setelah melihat wajah Dirga yang semakin puncak.


"Tidak, mas tidak apa-apa. Mas hanya kurang istirahat."


Dirga usahakan tersenyum supaya Kanaya tidak berpikir macam-macam dia harus membuat Kanaya senyaman mungkin biar semuanya akan baik-baik saja.


"Mas harus istirahat, Naya tidak apa-apa kok," katanya.


"Mas tidak apa-apa," Dirga semakin menekankan bahwa dia memang baik-baik saja dan gak perlu ada yang di khawatirkan lagi.


Kanaya percaya dengan apa yang Dirga katakan, mungkin dia terlihat pucat dan matanya sembab karena melihat keadaannya saat ini.


"Ini sudah malam, wak pulang dulu, Ya. Besok wak ke sini lagi," pamit wak Ami.


"Tidak perlu sungkan, memang sudah seharusnya seperti itu. Wak pulang dulu. Ingat, Ga. Kamu juga harus istirahat jangan sampai kamu sakit nantinya. Assalamu'alaikum."


"Iya, Wak. Pasti. Wa'alaikumsalam."


Dirga mengantarkan wak Ami sampai pintu dan setelah itu dia kembali lagi menghampiri Kanaya yang terus melihatnya.


"Mas, anak kita tidak apa-apa kan?" Tanya Kanaya begitu khawatir.


"Alhamdulillah, dia tidak apa-apa. Dia kan kuat seperti kamu," Dirga kembali tersenyum. Tangannya menyentuh perut Kanaya yang sudah buncit dan terlihat semakin menggemaskan itu.


"Alhamdulillah," Kanaya bisa bernafas lega sekarang.

__ADS_1


Krukk...


"Eh, bangun-bangun langsung lapar," goda Dirga kala mendengar perut Kanaya yang berbunyi.


"Hehe, iya," Kanaya hanya meringis saja sebagai jawaban bahkan dia diam tidak protes saat Dirga juga mencubit pipinya yang terlihat begitu tembem sekarang.


"Sini, biar mas suapin," Dirga langsung mengambil jatah makan Kanaya dari rumah sakit, perlahan menyuapinya.


"Mas juga harus makan," Kanaya merebut sendok yang ada di tangan Dirga dan menyuapi Dirga dengan makanan yang sama dia makan.


"Kok malah jadi mas juga." Dirga protes tapi Kanaya tetap kekeuh hingga dia gak bisa mengelak lagi kecut menerima suapan itu.


Kanaya tau, Dirga pasti juga sangat lapar. Dia tidak mungkin akan bisa makan kalau Kanaya sakit.


Makan itu akhirnya habis dan berpindah di perut mereka berdua. Begitu bahagia di saat-saat seperti itu, mereka selalu dekat dan terlihat sempurna kebahagiaan mereka karena bisa saling melengkapi.


Hingga malam semakin larut Kanaya meminta Dirga untuk tidur di atas ranjang yang sama dengannya. Awalnya Dirga menolak mengatakan kalau tidak akan mungkin muat, tapi Kanaya memaksa.


"Naya tidak akan bisa tidur kalau tidak di peluk oleh mas," katanya yang di jadikan alasan. Hingga akhirnya Dirga menurut dan naik di ranjang untuk tidur sembari memeluk Kanaya.


'Ya Allah, tetapkanlah kebahagiaan dan kenyamanan ini. Jika bisa, berikan aku kesembuhan dan panjang umur supaya bisa selalu membuat Naya bahagia,' batin Dirga.


Meski sekarang baik-baik saja belum tentu besok akan sama. Penyakit yang sangat serius membuat Dirga juga sesekali berpikir akan hal itu dan juga memiliki ketakutan jika sewaktu-waktu dia akan tiada.


Bagaimana nasib Kanaya dan anaknya tanpa dirinya?


*******

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2