Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
TPA Asy-Syifa


__ADS_3

'Izinkan aku menebus semua kesalahan ku dengan membuatmu bahagia di masa kini juga masa yang akan datang.'


#Dirga Gantara


...****************...


Sudah seperti seorang putri perlakuan Dirga pada Kanaya. Selalu saja di spesial_kan bahkan sampai rumah setelah pulang dia juga masih menggendong ala bridal dan membawa Kanaya langsung masuk ke kamar.


Kanaya hanya diam, menerima perlakuan manis Dirga padanya. Di luar kekurangan Dirga yang memiliki kelainan yang sangat menakutkan itu Dirga benar-benar suami yang patut di idam-idamkan.


Semua perlakuan manis dan penuh kasihnya tak bisa di ragukan lagi. Mungkin, setelah Dirga sembuh dia benar-benar menjelma seperti malaikat yang memiliki perilaku yang sangat sempurna baiknya.


"Sebentar, aku ambilkan obat dulu," Dirga bergegas mengambil kotak obat setelah menurunkan Kanaya di sofa dengan perlahan.


"Hem," Kanaya mengangguk, memandangi kepergian Dirga yang semakin jauh namun tidak sampai keluar dari kamar karena kotak obat ada di kamar itu juga.


Tak lama Dirga kembali dia kembali berlutut dan melepaskan kaus kaki Kanaya lagi dengan pelan. Melepaskan sapu tangan yang membelit kaki Kanaya hingga membuatnya meringis karena sapu tangan itu sudah menempel dengan lukanya.


"Aww!" pekik Kanaya dan langsung memegangi pundak Dirga.


"Maaf maaf. Kamu tahan sebentar mungkin ini akan sakit sedikit," katanya dan kembali melanjutkan pergerakan tangannya setelah melihat wajah Kanaya sebentar.


Benar-benar Kanaya kembali meringis setelah Dirga membersihkan lukanya lalu mengoleskan obat. Mungkin memang sangat perih.


"Lebih baik kamu istirahat saja dulu, untuk sekarang tidak usah ikut ngajarin anak-anak dulu," kata Dirga.


Mata Kanaya membulat. Dia sudah begitu antusias kemarin juga tadi hingga sekarang tapi malah tidak boleh ikut. Terasa ada gejolak panas yang langsung datang di kelopak matanya.


Jelas Kanaya sangat kecewa.


"Ini hanya luka kecil, Tuan. Apakah Aya benar-benar tidak boleh ikut sekarang?" Kanaya sangat menginginkan hal itu. Ingin berkenalan dengan anak-anak yang begitu banyak, menyibukkan lagi hari-harinya di tengah-tengah anak-anak yang pasti akan sangat menyenangkan hatinya.


"Tapi kamu lagi sakit, Nay," Dirga hanya tidak tega saja melihat Kanaya yang sakit.

__ADS_1


Sebenarnya sakitnya bukan seberapa tapi Dirga yang terlalu khawatir. Itu hanya luka kecil bagi Kanaya, bahkan dulu saat dia terjatuh dan penuh luka bahkan saat di lukai Arifin saja dia bisa menahannya, kenapa hanya luka kecil karena anakan ilalang dia menyerah, tidak kan?


"Ini hanya luka kecil, Tuan. Aya mohon, izinkan Aya ikut," Kanaya terus membujuk Dirga berharap usahanya akan berhasil dan dia boleh ikut dengan Dirga.


"Hem, baiklah. Tapi kamu harus tetap hati-hati. Jangan sampai lukanya semakin parah," tutur Dirga yang harus selalu Kanaya ingat selama dia ikut dengan Dirga nanti.


...****************...


Riuh akan anak-anak usia lima sampai dua belasan tahun begitu menggema di Pendopo di samping masjid Al Ikhlas.


Tidak di desa tidak di kota ternyata sama, semua anak-anak akan bermain, bercanda, bahkan ada yang berlari-larian sebelum sang guru datang.


Jarak dari rumah sampai masjid memang tidak begitu jauh, tapi karena kaki Kanaya sedang sakit Dirga memilih mengendari motor supaya lebih mudah dan cepat.


Sempat merasa malu juga gugup saat pertama di hadapkan dengan anak-anak yang begitu banyak. Dirga sangat luar biasa, dia hanya sendiri tapi mampu menangani sampai puluhan anak dengan usia dan tingkatan yang berbeda.


Semua aktivitas yang sedang anak-anak lakukan itu langsung di hentikan setelah melihat kedatangan Dirga. Semua berlari dengan senyum bahagia, menghampiri Dirga dan menyalami secara bergantian.


"Assalamu'alaikum, Kak," sapa semua anak-anak itu bergantian.


Semuanya terdiam, terpaku di hadapan Dirga sembari memandangi Kanaya. Mungkin mereka masih takut karena Kanaya adalah orang baru bagi mereka, atau mungkin mereka malu karena belum mengenal Kanaya.


"Oh ya! Kenalin, ini Kak Kanaya. Dia istri kakak dan mulai sekarang dia akan membantu kakak mengajari kalian semua. Ayo beri salam kak Kanaya nya," pinta Dirga.


Sungguh menggemaskan sekali, saat semua di minta untuk memberikan salam pada Kanaya mereka malah saling dorong.


"Kamu dulu," ucap salah satunya.


"Kamu dulu," saut yang satunya dan mendorong temannya sementara dia sendiri malah mundur.


Kanaya juga Dirga malah di bikin melongo oleh mereka semua.


Tapi tidak dengan anak laki-laki kecil usia lima tahunan yang datang paling akhir tapi dia langsung maju dan meraih tangan Kanaya. Dia menarik Kanaya meminta Kanaya duduk dan menyetarakan tinggi badannya. Kanaya pun menurut.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Kak ustadzah. Perkenalkan aku Fikri, usiaku lima tahun lebih satu bulan. Selamat datang di sini ya," ucapnya dengan berani.


"Wa_wa'alaikumsalam, Fikri. Kenalkan saya kak Kanaya. Jangan panggil kak ustadzah ya, panggil saja kak Naya," jawab Kanaya dengan lembut.


Anak laki-laki imut yang langsung mencuri hati Kanaya. Sungguh dia terlihat menggemaskan sampai-sampai Kanaya langsung mencubit pipinya dengan gemas.


"Kalian nggak mau kasih salam kak Naya?" Fikri menoleh mengejutkan para kakak-kakaknya yang masih saling dorong.


"Hehe, kita akan kasih salam kok, Fik," akhirnya satu persatu dari semua anak-anak itu menyalami Kanaya. Semua terlihat bahagia akan kedatangan Kanaya mungkin tadi hanya karena malu saja.


Akhirnya, meski sudah menikah satu hal yang menjadi keinginan Kanaya tidak hilang dan akan terus berjalan. Meski dengan anak-anak yang baru, lingkungan baru, juga cara yang baru tapi Kanaya sangat bahagia.


Di desa dia menjadi guru bantu di TPA Al Amanah, dan sekarang dia juga menjadi guru bantu di TPA Asy-Syifa yang di tanggung jawab_i oleh suaminya sendiri.


Asy-Syifa, memiliki arti obat. Dan benar akan menjadi obat bagi Kanaya. Obat dari semua kegelisahan, duka juga kekecewaan. Perlahan akan terobati seiring waktu dia berada di sana.


Asy-Syifa yang bukan hanya sebagi obat bagi Kanaya, tapi juga sumber kekuatan untuk menambah kesabaran juga keikhlasannya dalam kehidupannya.


Dengan anak-anak yang kini berebut menggandeng kedua tangan Kanaya semua duka akan hilang, rasa sepi juga akan terganti. Semua akan baik-baik saja dan akan damai.


Senyum, tawa, celoteh dari anak-anak langsung mengembangkan hati Kanaya menjadi semakin mekar. Menampakan keindahannya melalui senyum yang terus terukir indah di setiap detiknya.


Tak sia-sia Dirga mengizinkan Kanaya ikut, karena mulai sekarang Kanaya akan terus tersenyum dan menyampingkan dukanya.


Dirga terpaku melihat Kanaya yang sudah menjauh di gandeng anak-anak, setetes dua tetes air mata bahagia meluncur dari matanya.


Satu kesalahannya akan dia tebus dengan sejuta kasih yang akan selalu membuat Kanaya bahagia hingga benar-benar melupakan kesalahannya.


"Stts, kenapa?" Dirga menunduk ternyata masih ada Fikri yang sedari tadi masih mengawasinya.


"Tidak apa-apa," cepat Dirga menghapus air matanya, dia tersenyum lalu mengulurkan tangan kepada Fikri.


Tangan kecilnya langsung menyambut jari telunjuk Dirga, keduanya pun langsung bergegas menyusul langkah Kanaya yang sudah jauh.

__ADS_1


...****************...


Bersambung.....


__ADS_2