
'Kenapa harus ada pemaksaan dalam sebuah hubungan. Hubungan pernikahan adalah hubungan yang akan di jalani seumur hidup, yang harus di pertimbangan dengan matang. Bukan hanya semenit dua menit seperti permainan yang bisa di lakukan dengan cara instan. Maafkan aku, Aya. Aku tak bisa membantumu, maaf.'
#Hani
...****************...
Begitu tertunduk Kanaya di hadapan kedua orang tuanya Dirga. Meski baru mengenalnya tetapi mereka terlihat sangat baik, semoga saja benar mereka baik.
Kanaya juga hanya diam, dia hanya akan membalas pertanyaan mereka dengan mengangguk atau menggeleng saja. Itupun sudah lebih dari cukup menurut Kanaya.
Sementara Dirga, dia begitu terpesona matanya terus memandangi gadisnya yang menunduk malu. Terlihat sangat menggemaskan karena pipinya yang terlibat memerah.
Dalam hati Dirga terus bersuara memanggil nama sang pujaan, berharap niatnya akan di perlancar dan Kanaya tak akan berpaling atau berubah pikiran.
'Aku melakukan ini karena aku hanya ingin kamu menjadi milik ku, Naya. Aku berjanji, setelah kita bersatu dalam ikatan pernikahan aku akan berusaha menumbuhkan cinta di hatimu dengan cara yang benar. Jika suatu saat pengaruhnya hilang maka saat itu cinta sudah ada di hati kamu untuk ku,' batin Dirga.
Cinta Dirga memang benar adanya. Tapi dia hanya terlalu takut kalau lama mendapatkan Kanaya maka dia akan kehilangan, Dirga tidak siap untuk kehilangan juga patah hati dari cinta pertamanya.
Sebab itu, Dirga melakukan cara itu supaya Kanaya menjadi miliknya dan dia tidak akan patah hati. pikirnya.
"Ya Allah, Abi. Umi sudah tidak sabar bawa mantu pulang. Pasti akan sangat menyenangkan karena Umi akan ada teman saat Dirga juga Abi pergi," ucap Umi Uswah.
"Sebentar lagi, Umi. Bukankah tak lama lagi umi akan bawa nak mantu pulang? sabarlah sebentar lagi," Jawab Abi Hasan.
"Kenapa tidak besok saja sih nikahnya, Abi. Tidak usah besar-besar nggak apa-apa, yang penting sah. Setelah itu baru kita adakan resepsi yang besar di rumah," kata Umi Uswah.
Sepertinya Umi_nya Dirga ini sudah sangat tak sabar untuk menjadikan Kanaya sebagai menantunya dan segera membawanya pulang.
"Kalau kami ikut saja, Bu. Mau besok atau kapanpun kami siap. Kanaya juga sudah siap. Iya kan, Nduk?" tanya Wak Tejo.
__ADS_1
Matanya begitu tajam melihat Kanaya, seolah ingin mengintimidasinya.
Kanaya melirik takut. Jantungnya juga berdetak tak menentu. Kanaya melirik ke arah Wak Ami, beliau tersenyum pasrah. Memasrahkan semua keputusan padanya. Sementara wak Tejo tajam begitu memaksa apalagi dengan Arifin! dia sebelas duabelas dengan wak Tejo.
"Hem," Mata Kanaya terpejam seiring dengan satu kalimat yang terdengar oleh semuanya. Wajahnya juga seolah ada yang menggerakkan untuk mengangguk. Siapakah pelakunya? Kanaya sama sekali tak tau itu.
Semua tersenyum senang, apalagi Dirga. Dirga begitu berbunga-bunga hatinya. Jantungnya sampai berdetak tak karuan, ingin sekali dia memeluk Kanaya_nya saking bahagianya tetapi tidak! mereka belum pantas untuk itu. Dirga akan menahannya sampai mereka berdua halal.
"Kalau begitu lusa saja pernikahan mereka. Pak Tejo nggak usah mengkhawatirkan segala kebutuhannya, karena semua sudah kami siapkan. Semua kebutuhan Kanaya juga sudah siap," ucap Umi Uswah.
Begitu senang hati wak Tejo, akhirnya dua hari lagi Kanaya akan terlepas dari tanggung jawabnya, dan yang jelas apapun peninggalan kedua orang tuanya bisa dia kuasai. Tak mungkin juga Dirga sekeluarga akan mengutak-atik peninggalan yang tak seberapa, mereka kan orang kaya.
Bukan itu saja melainkan wak Tejo pasti akan mendapatkan sesuatu dari keluarga Dirga setelah Kanaya menjadi menantu mereka, ya mungkin bisa di katakan uang bayaran mereka selama merawat Kanaya.
"Terima kasih, Bu. Kami jadi merasa sangat malu. Seharusnya kami yang menyiapkan segalanya untuk acara pernikahan. Dan kini malah kalian yang menyiapkan segalanya," ucap wak Tejo pura-pura sungkan.
"Ah, anda bisa saja, Pak." wak Tejo tersenyum sungkan, padahal dapat hatinya sangat berbeda jauh. Di dalam sana tengah kegirangan. Seolah dia memiliki barang berharga dan laku dengan harga yang sangat mahal.
...****************...
Arifin tau akan rencana Hani juga Kanaya saat berada di kebun kemarin, hingga akhirnya Arifin sama sekali tak mengizinkan Kanaya untuk pergi keluar dari rumah. Sementara Hani, Hani di ancam oleh Arifin kalau dia tak boleh mengatakan semua pada Yuan perihal pernikahan Kanaya.
Bahkan Arifin dengan sengaja menyita ponsel Hani dan menyimpannya. Dia juga tidak memperbolehkan Hani mengatakan pada orang tuanya akan perbuatannya, kalau sampai orang tuanya tau maka Hani yang akan mendapatkan hukumannya.
Di desa itu Arifin memang terkenal seperti seorang preman, semua takut padanya karena Arifin tak segan-segan melakukan hal buruk jika ada orang yang ikut campur.
"Mas, berikan ponsel Hani!" teriak Hani saat melihat Arifin lagi yang tengah berjalan di depan rumahnya.
Mata Arifin langsung melotot, rupanya Hani tak mengindahkan ancamannya. Arifin melangkah mendekat dengan sangat marah membuat Hani langsung ketakutan, dia melangkah mundur untuk menjauh dari Arifin.
__ADS_1
"Berani kamu ya," hanya kata sepele yang Arifin katakan, tapi nada dan aura wajahnya tak sepele seperti kata-katanya.
Semua tengah sibuk di rumah Arifin, ikut membantu persiapan pernikahan Kanaya juga Dirga. Bahkan kedua orang tua Hani juga ada di sana jadi tak akan ada yang tau saat ini.
"Mas, lepas!" Arifin menyambar lengan Hani menyeretnya masuk ke dalam rumahnya sendiri, 'Brak!' pintu di tutup dengan kasar oleh Arifin membuat Hani seketika gemeteran.
"Aww!" Hani meringis sakit ketika Arifin mendorong tubuhnya hingga punggungnya terbentur dinding, begitu kasar sekali si Arifin padanya. Hani bahkan sudah mulai berkaca-kaca. Takut? iya! Hani sangat takut.
"Jangan coba-coba kamu menghubungi Yuan. Kanaya tidak pantas sama laki-laki lembek seperti dia. Laki-laki yang tidak bisa tegas, laki-laki yang tak bisa di andalkan sama sekali."
"Kanaya hanya pantas dengan Dirga saja. Dia kaya, mapan, tampan, dan yang jelas tidak lembek kayak Yuan, dia lebih tegas!" Seru Arifin terus menekan tubuh Hani supaya tak bisa bergerak.
"Tapi, Mas! Mereka saling mencintai. Kanaya tidak akan bahagia bersama tuan Dirga, Mas!" seru Hani memberanikan diri.
"Siapa kamu menentukan Kanaya mau sama siapa. Bahagia nggak bahagia itu urusan Kanaya sendiri. Kalau dia menerima pernikahan ini dia akan bahagia. Tapi kalau dia terpengaruh dengan omong kosong mu dia tidak akan bahagia! jadi, sebelum pernikahan selesai jangan berani-beraninya kamu muncul di hadapan Kanaya," mata Arifin begitu membulat.
"Mas, jangan menekan Kanaya seperti itu. Dia tidak akan bahagia!"
Arifin kembali setelah selangkah ingin menjauh dari Hani. Matanya kian melotot dengan tangan terangkat dan kembali mendorong Hani.
"Diam! jangan berisik, jangan ikut campur kalau kamu tidak ingin menyesal. Sepertinya aku mulai tertarik padamu, Han. Sepertinya akan enak jika kita melalui semalam bersama-sama sebelum Kanaya menikah," Arifin menyeringai. Terlihat begitu menakutkan.
Arifin benar-benar orang tergila yang Hani kenal selama ini. Seorang gadis mana yang tidak akan takut mendapatkan ancaman seperti itu, Hani pun juga ketakutan saat ini, dia langsung meringsuk.
Senyum devil keluar dari Arifin, tak susah mengendalikan semua orang termasuk Hani juga Kanaya. Hanya dengan sedikit ancaman seperti itu mereka sudah sama-sama ketakutan. Tapi jika mereka tetap melawannya, tak sia-sia juga ancamannya karena Arifin pasti bisa melakukannya.
...****************...
Bersambung....
__ADS_1