
...****************...
Kanaya terdiam, terduduk dengan lemas di atas ranjang. Matanya terus menatap kosong pintu yang membuat Dirga hilang di telannya.
Air matanya terus mengalir, jelas dia sedih bahkan sangat kecewa. Kanaya tak percaya kalau Dirga bisa melakukan hal seperti itu padanya. Ternyata kesadarannya kemarin-kemarin hanya setengah saja, bahkan hampir tidak sadar.
Hampir tak bisa di bayangkan kalau orang sebaik Dirga bisa melakukan hal itu. Padahal pengetahuan agamanya juga sangat banyak bahkan lebih banyak daripada Kanaya. Tapi kenapa bisa seperti itu?
Mahabbah seperti apa yang Dirga lakukan, bagaimana hukumnya di dalam agama, pasti Dirga juga tau itu kan?
"Kenapa mas tega sama Aya?" gumamnya dengan mata yang tak berpaling.
Sakit, jelas hati Kanaya sakit.
Semangatnya pagi ini hilang. Niatnya mau shalat sunnah kini niatnya terabaikan. Hatinya benar-benar kacau karena pengakuan Dirga.
Dia pikir kesalahan Dirga padanya karena melakukan hal-hal yang bersinanggungan dengan kelainannya, tapi ternyata karena mahabbah yang dia lakukan padanya.
Sekarang Kanaya harus bersyukur atau bersedih?
Benarkah rasa yang datang dan kenyamanannya akhir-akhir ini adalah efek dari mahabbah?
Hati Kanaya terus berperang. Benarkah efek itu akan hilang ketika Dirga sudah mengatakannya dan meminta maaf dengan tulus padanya?
Kanaya masih terus mencari-cari sebuah rasa yang ada di dalam hatinya. Membedakan mana yang pergi saat ini ataupun yang datang.
Apakah ada yang bertahan ataukah semua ikut pergi bersama kepergian Dirga dari kamar itu.
Tak ada cacat kasih sayang yang Dirga berikan untuknya sekarang. Semua benar-benar tulus dan tak terlihat menginginkan imbal balik.
Kanaya begitu bingung, benarkah itu wujud ketulusan dari Dirga atau hanya untuk menutupi semua perbuatannya?
Sulit untuk Kanaya membedakan mana yang kebenaran atau mana yang hanya sebuah kedok saja. Mungkin karena hati Kanaya masih penuh kabut kekecewaan jadi sangat sulit untuk membedakan.
"Apa yang harus aku lakukan?" Kanaya semakin tersedu dalam tangis. Dia bingung untuk melakukan apa dan keputusan yang harus dia ambil.
Benarkah Kanaya harus bertahan? Menerima semua kekurangan Dirga dan memaafkan semua yang sudah dia lakukan meski hatinya begitu sakit dan kecewa.
Atau dia harus pergi, mengubur semua yang telah terjadi setelah saat ini dan menganggap ini hanya mimpi buruk. Tapi bagaimana dengan kedepannya? Apakah mungkin masih ada yang akan menerimanya?
Menerima seorang janda yang meninggalkan suaminya? Di masyarakat mungkin banyak yang akan memandangnya negatif.
Kanaya perlahan turun dari ranjang, berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Bukan shalat sunnah lagi yang Kanaya kerjakan saat ini, tapi shalat subuh.
__ADS_1
Dalam kekecewaan Kanaya hanya bisa memasrahkan semuanya pada Sang Pencipta. Menyerahkan semua masalahnya dan berserah diri padanya. Itu adalah jalan yang terbaik untuknya sekarang.
...****************...
Tidak ada cinta yang tak memiliki ego. Kata orang, cinta tak harus memiliki. Tapi apa gunanya cinta tak bisa memiliki? Karena perasaan cinta adalah perasaan yang hadir saat ingin memiliki seutuhnya.
Tapi ternyata, keikhlasan adalah pucuk tertinggi dalam hakikat percintaan. Rasa ikhlas untuk melepas, ikhlas menerima kekurangan dan ikhlas ketika yang di cinta bahagia dengan orang lain. Tapi, rupanya mudah di katakan tapi susah untuk di lakukan.
"Lihatlah, Ga. Bahkan rembulan pagi ini saja menertawakan mu. Menertawakan dirimu yang begitu egois."
Dirga duduk seorang diri di taman belakang, menatap rembulan yang mungkin hampir bersembunyi karena waktu akan berganti.
Rembulan yang bersinar terang redup seperti benar-benar tengah menertawakannya.
Meski ada rasa takut tapi hatinya sudah lega dan kini tinggal bagaimana dia belajar untuk ikhlas dan menjadikan cintanya bukan cinta yang egois.
Kejadian demi kejadian menyadarkan Dirga, mendewasakan hingga kini dia bisa berhasil mengatakan semua yang dia lakukan.
Kini Dirga hanya diam, menyendiri di kegelapan bahkan lampu pun dia matikan. Berusaha untuk tak ada yang melihatnya sekarang. Bahkan untuk Kanaya saja tidak.
Meski sudah lama berada di sana dan azan subuh sudah berkumandang Dirga masih sangat enggan dan ragu untuk kembali ke kamar. Dirga masih takut kalau Kanaya masih dalam kekecewaan atau mungkin dia akan marah padanya.
Karena azan sudah berkumandang Dirga tetap beranjak, biasanya dia shalat subuh bersama Kanaya kali ini dia putuskan untuk berjamaah di masjid. Dirga hanya mau memberikan waktu untuk Kanaya. Mungkin waktunya juga belum tepat kalau menemui sekarang.
...****************...
Meski terus diam Kanaya tetap menyiapkan sarapan untuk Dirga. Semua dia lakukan dengan sepenuh hatinya.
Muna yang baru saja datang merasa sangat penasaran. Kanaya terus diam bahkan saat kedatangannya saja Kanaya seolah tak tau. Bukan itu saja, tapi sapaannya saja tidak di gubrisnya.
"Mbak Naya kenapa?" Muna merasa sangat heran.
Muna mendekat dan apa yang dia lihat mengejutkannya. Bahkan Kanaya yang melamun tak merasakan kalau pisau yang dia gunakan untuk memotong bawang putih telah mengenai tangannya sendiri.
"Astaghfirullah hal 'Azim, Mbak!" Cepat muna menarik tangan Kanaya dan mengambil pisau lalu menjauhkannya.
Baru Kanaya terkejut saat Muna yang tiba-tiba menariknya. Baru terlihat kalau ada darah yang menetes di tengah-tengah potongan bawang di sana.
"Apa yang terjadi, Mbak. Astaghfirullah hal azim." Muna menarik Kanaya mencuci jarinya di tempat cucian piring.
"Ada apa, Muna?" Begitu tergesa Dirga datang setelah mendengar pekikan Muna barusan. Dirga yang baru saja pulang dari masjid langsung menghampiri karena dia sangat ingin tau apa yang terjadi.
"Astaghfirullah, Muna tolong ambilkan obat!" pinta Dirga yang langsung mendekati Kanaya dan menarik tangannya dari tangan Muna.
"Baik, Mas!" Kanaya langsung berlari.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Nay. Kenapa bisa sampai seperti ini?" Dirga begitu panik dia juga langsung menyambar tisu untuk membersihkan darah Kanaya yang terus mengalir.
Kanaya terus diam, belum ada keinginan untuk menjawab tapi matanya terus menatap Dirga, mencari sesuatu yang mungkin bisa dia dapatkan.
Apa yang Kanaya cari?
Cinta dan ketulusan yang ingin Kanaya cari dan lihat dari Dirga. Benarkah Dirga mencintainya dengan tulus atau hanya sebuah obsesi saja.
Kanaya terus mengikuti kemana Dirga mengajaknya bagaikan kerbau yang di cucuk hidungnya Kanaya terus mengikuti kemana Dirga menariknya.
Hingga sampailah di ruang tengah dan Dirga meminta Kanaya untuk duduk.
"Mas, ini obatnya," Muna kembali nafasnya terdengar sedikit ngos-ngosan.
"Terima kasih, Muna," di raih nya kotak obat oleh Dirga dan cepat dia ambil apapun yang dia perlukan.
Dengan pelan namun pasti Dirga mengobati luka Kanaya. Kekhawatiran benar terlihat jelas di wajah Dirga.
Muna yang berfikir kalau keduanya memang sedang dalam masalah memilih pergi. Dia tidak mau mendengar dan mengetahui masalah mereka karena itu masalah rumah tangga mereka.
"Mas, biar Muna saja yang nerusin masaknya," Muna pergi dari sana.
"Hem," Dirga menoleh sebentar lalu kembali fokus dengan tangan Kanaya.
Tak berkedip dan tak berpaling mata Kanaya memandang Dirga. Semuanya sangat jelas sekarang di matanya. Apakah benar ini jelas? ataukah masih ada efek-efek dari mahabbah Dirga?
"Mas, benarkah cinta mas itu nyata?" tanyanya dan berhasil menghentikan pergerakan tangan Dirga juga perhatiannya.
"Apa tujuan mas menikahi Aya?" tanyanya lagi.
Air mata Kanaya kembali mengalir dengan perlahan hingga semakin deras dan tak tertahankan.
Dirga pikir semua akan baik-baik saja setelah dia jujur tapi ternyata dia salah, dia menggores luka yang teramat menyakitkan di hati Kanaya.
"Cara mas memang salah, tapi cinta Mas tidak salah, Nay. Cinta mas nyata, mas sangat mencintaimu," Jawab Dirga.
Kanaya beranjak, Dirga pikir dia akan meninggalkannya tapi ternyata Kanaya malah menarik tangan Dirga dan mengajaknya ke kamar.
Ini adalah masalah keluarga tidak baik jika ada orang yang mendengar meski itu adalah Muna, sepupu Dirga sendiri.
Kini Dirga yang menurut, tak berkomentar meski Kanaya terus menariknya. Dirga juga diam karena dia tau apa tujuan Kanaya membawanya ke kamar. Semua harus di bicarakan di sana.
Semakin beruntung Dirga jika Kanaya tetap bertahan padanya, Kanaya selalu bisa memikirkan kebaikan, dan berusaha untuk menutupi aib keluarga, termasuk aibnya.
...****************...
__ADS_1
Bersambung.....