
'Maafkan jika caraku salah. Tetapi yakinlah, cinta ku padamu tak pernah salah. Aku tulus mencintaimu dan aku ingin kamu menjadi milik ku. Selamanya.'
#Dirga Gantara
...****************...
Mobil terus melaju, menuju arah penginapan yang selama ini Dirga buat tempat persinggahan selama berada di Magelang.
Amarahnya masih sangat menggebu-gebu kalau mengingat sang gadis pujaan yang tengah bersama pria lain. Padahal Dirga sendiri juga tau kalau pria itu lebih dekat dengan Kanaya daripada dirinya yang masih terbilang baru.
"Tuan, apakah anda yakin tidak akan melakukan apapun?" sang sopir bersuara. Melakukan apa yang di maksud pak sopir itu. Apakah dia masih menginginkan Dirga untuk melakukan hal yang sangat ingin dia jauhi kemarin?
Dirga terdiam, tetapi pikirannya terus menimang-nimang hal yang ingin dia lakukan. Dirga ingin memiliki Kanaya seutuhnya, tapi dia juga tidak mungkin melakukan itu. Tapi itu kemarin, entah sekarang.
Setelah semua terlihat dengan jelas bahwa penolakan gadis pujaannya hanya karena pria lain.
"Kalau menurut saya, tak masalah anda melakukan itu, Tuan. Toh jika pengaruhnya sudah hilang dia sudah menjadi milik anda sepenuhnya. Atau mungkin, dia sudah mengandung atau memiliki anak dengan anda."
Benar-benar sopir yang tidak baik. Sopir yang terus berusaha untuk menyalakan api di kompor yang minyaknya meluber.
'Benarkah itu yang harus saya lakukan? tapi bagaimana jika kelak aku juga akan kehilangan dia, apakah aku sudah siap untuk itu?' batin Dirga.
Batinnya terus berperang antara jalan yang benar juga jalan yang sedikit berbelok dengan tujuan yang sama.
Jika Dirga mengikuti jalan yang benar dia pastilah akan sampai tempat tujuan meski entah kapan. Tetapi jika dengan jalan yang salah bisa jadi dia akan tersesat, jangankan untuk sampai tujuan dia mungkin tidak akan ingat jalan pulang.
Sampailah Dirga di tempat penginapan, dia langsung menjatuhkan tubuhnya begitu saja di atas kasur. Dia seakan kehilangan semangatnya untuk beraktivitas.
"Inikah yang di namakan dengan patah hati?" gumam nya.
"Rasanya sangat menyakitkan. Itu sebabnya aku tak mau berurusan dengan cinta, tapi kenapa dengan diriku, apa yang ada pada Kanaya. Setiap aku berusaha melupakan tetapi bayangannya seakan terus berputar-putar di kepala ku. Senyumnya, bisa membuat aku juga ikut tersenyum meski hanya membayangkan saja."
Begitu bingung Dirga. Kenapa bisa seperti ini. Dia yang tak pernah mendekati lawan jenis dan seolah tak pernah tertarik sekalinya tertarik langsung patah hati seperti ini.
__ADS_1
"Bagaimana caranya untuk aku bisa memilikinya?" matanya menatap langit-langit, dia sangat berharap bisa bersama Kanaya. Selamanya!
Begitu banyak wanita yang lebih baik, lebih cantik, yang pasti lebih segalanya dari Kanaya tetapi Dirga tak pernah tertarik, dan hanya dengan Kanaya saja hatinya langsung bergetar dan memantapkan pada Kanaya_lah hatinya akan berlabuh.
Gadis desa yang sangat sederhana. Gadis desa yang berstatus yatim piatu dan juga dengan segudang kekurangannya. Tetapi hati Dirga malah begitu memuja gadis biasa itu.
Perlahan mata Dirga terpejam. Hilanglah rasa lelah di hatinya akibat kebersamaan Yuan juga Kanaya. Istirahat lebih baik daripada terus memikirkan jalan yang harus dia ambil.
...****************...
Pagi yang begitu cerah, secerah wajah Kanaya yang kini tengah berada di pelataran rumah dengan sapu lidi di tangannya.
Sejenak dia menghela nafas panjang menikmati udara sejuk di pagi hari. Melihat pemandangan gunung yang terlihat sangat jelas dimatanya.
Perjumpaan dengan Yuan kemarin seakan membawa energi positif untuk Kanaya hingga akhirnya dia begitu semangat pagi ini.
"Ojo senyum-senyum sendiri, Ayy! kesambet Dewi Embun loh entar!" seru Arifin yang kebetulan pas keluar.
"Mana ada Dewi Embun, Mas! Mas Arifin ngarang yo!" seru Kanaya dengan suara yang cempreng namun sangat menggemaskan.
"Aya lagi nungguin Ilham jatuh dari puncak Merbabu, Mas! Hhhh," Kanaya berjuang menahan tawa setelah mengatakan itu.
Smirk tak senang keluar dari Arifin. Entahlah, setiap apapun yang di lakukan dan di katakan oleh Kanaya pastilah sangat mengganggunya. Arifin memang tak begitu menyukai Kanaya. Merasa cemburu saat Kanaya mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari wak Ami.
"Halah, ngomong wae belibet gitu kok bangga," nyinyir Arifin dan berlalu dan kembali masuk lagi.
"Bentar lagi Ilham datang, Mas! oh bukan, tapi mbak Rani yang datang!" teriak Kanaya menggoda Arifin. Rani adalah gadis pujaan Arifin yang sampai kini belum juga bisa di dapatkan.
Arifin menghentikan langkah. Membalikkan badan dengan cepat dan melotot tak suka ke arah Kanaya.
Seketika Kanaya mengkerut, dia sadar candaannya tidak di sukai oleh Arifin. Padahal niatnya hanya sebatas bercanda bukan mengejek.
Melihat Kanaya sudah menunduk diam Arifin tak jadi menyerukan suara. Dengan matanya saja sudah cukup membuat Kanaya takut bagaimana jika di tambah dengan suaranya yang selalu cukup membuat Kanaya ketakutan?
__ADS_1
Begitu takutnya Kanaya hingga dia tak menyadari akan kedatangan mobil yang kini sudah berhenti di belakangnya. Bahkan sang penghuni mobil sudah keluar dan berdiri di samping Kanaya.
Fuhhh...
Tiupan dari Dirga membuat Kanaya terperanjat, seketika menatapnya, melihat wajah yang terfokus di matanya.
"Pagi-pagi kok sudah berwajah masam seperti itu?" ucap Dirga namun Kanaya tak menggubrisnya dan begitu fokus dengan wajah yang ada di hadapannya.
Untuk apa Dirga datang pagi-pagi seperti sekarang ini. Apakah itu urusan kebun yang ingin dia beli kemarin atau ada urusan lain?
Berdebar hati Kanaya, jantungnya seketika berpacu dengan begitu kuat. Ada apa dengan Kanaya sekarang?
Tak seperti biasanya yang baik-baik saja saat kedatangan Dirga tapi sekarang seperti ada sesuatu yang terjadi kepadanya. Apa yang Dirga lakukan padanya, bahkan tatapan Kanaya berubah seolah dia tertarik padanya.
Hati kecilnya berteriak menolak untuk terus melihatnya, tetapi berbeda dengan matanya yang tak mau berkedip di hadapannya. Pengaruh apa ini?
"Assalamualaikum. Pagi, Naya," sapa Dirga begitu lembut.
"Wa_wa'alaikumsalam," suaranya mendayu-dayu seolah begitu merdu di telinga Kanaya. Suara yang semakin menggetarkan hatinya. Kenapa terasa ada paksakan dari semua yang terjadi pada dirinya.
Dirga tidak melakukan mahabah_nya kan untuk menjerat dan menggetarkan hati Kanaya seperti sekarang ini?
"Tuan, datang?" tanya Kanaya.
"Iya, datang untuk membawa mu pergi. Membawamu pulang ke rumah kita," ucapannya begitu lirih, sangat yakin kalau hanya mereka berdua yang mendengar suara itu.
Tak seperti biasa yang selalu menolak dan kesal tetapi Kanaya kini hanya diam, bagaikan kerbau yang begitu menurut pada majikannya.
'Maafkan aku, Naya. Hanya dengan inilah kamu bisa menjadi milik ku. Maaf," batin Dirga.
...****************...
Bersambung...
__ADS_1