
'Jika masih ada kesempatan maka maafkanlah. Namun, jika memang tak bisa maka jangan paksakan, kamu bisa memilih jalan sesuai apa yang kamu mau. Tapi, aku tetap berharap kamu akan memaafkan ku dan akan tetap bertahan dengan semua kesalahanku.'
#Dirga Gantara
''Kanaya!'' suara teriakan datang dari arah belakang Kanaya. Jelas dia adalah Savira yang tak menemukannya di dalam kamar.
Ternyata Kanaya sudah berada di sana sejak tadi hanya saja dia terus diam dan mendengarkan apa yang keduanya bicarakan.
Savira langsung terdiam di sana kala melihat Kanaya yang terus melihat Dirga. Apakah Kanaya mendengar apa yan mereka bicarakan tadi? itulah yang membuat jantung Savira terasa ingin berhenti berdetak saat ini.
''Kanaya,'' suara Savira begitu lirih dan nyaris tak terdengar. Bahkan telinganya sendiri juga rasanya tak mendengar.
Tentu Savira takut kalau Kanaya mendengar dan akan bertanya pada Dirga apa yang telah terjadi kepadanya.
Kanaya sama sekali tak menghiraukan panggilan dari Savira dia tetap fokus dengan Dirga yang sangat terkejut akan kedatangannya dan terus menatapnya tanpa berkedip itu.
Bagaikan seperti patung ketiganya malah terpaku dian di tempat masing-masing tentu juga dengan pikiran masing-masing.
''Naya, kamu sudah baik-baik saja?'' tanya Dirga dengan suara yang sangat ragu. Bahkan terkesan sangat enggan.
Perlahan Dirga mendekati Kanaya dan saat itu Kanaya semakin gemetar. Melihat itu Dirga langsung menghentikan langkahnya. Dirga sangat tau kalai istrinya itu masih sangat takut padanya.
Apalagi di tambah dengan wajah Kanaya yang mulai pucat saat Dirga semakin dekat. Itu artinya kalau Kanaya masih sangat ketakutan.
''Oke, aku akan pergi,'' meski sebenarnya Dirga sangat ingin bersama Kanaya tapi Dirga cukup tau diri bahwa Kanaya masih membutuhkan waktu.
Dengan perasaan yang juga sangat hancur Dirga mulai membalikkan badannya. Sebenarnya sangat berat baginya meninggalkan Kanaya, Dirga ingin ada dan menemani Kanaya. Bahkan Dirga ingin bisa membantu Kanaya sembuh. Tapi apalah daya Kanaya masih tak mau menerima kedatangannya.
Kanaya begitu ragu, dia sangat takut tapi dia juga membutuhkan penjelasan. Sebenarnya Kanaya keluar dari kamar juga karena dia mencari Dirga. Tak melihat kedatangan Dirga membuat Kanaya menjadi seperti sebuah barang yang di buang setelah di pakai.
''Tu\_tuan,'' suara Kanaya begitu lirih. Memanggil Dirga dengan suara yang gemetar.
Mendengar dirinya di panggil tentu membuat Dirga langsung menghentikan langkah. Dia masih tak menoleh karena dia takut salah dengar, siapa tau telinganya tengah mengalami masalah. Benar begitu kan?
Dirga diam sejenak sekedar memastikan apakah ada panggilan untuk dirinya atau tidak dan ternyata tidak ada. Fiks, Dirga hanya salah dengar. Mungkin dia hanya berhalusinasi saja karena dia terlalu berharap.
__ADS_1
'Sadar, Ga. Dia tak mungkin memanggilmu,' batin Dirga dan bergegas lagi untuk melangkah pergi.
''Tu\_tuan. Apakah tuan tidak akan menjelaskan pada Aya dengan semua yang telah terjadi? Apakah tuan akan membuang ku begitu saja setelah Tuan mengambil hal yang paling berharga dalam diri saya yang saya jaga selama ini?''
Meskipun dengan suara yang parau juga gemetar tetapi Dirga sangat jelas mendengarnya.
Kini Dirga percaya kalau dia tidak salah dengar. Itu adalah benar suara Kanaya.
Hati Dirga begitu berbunga bisa lagi mendengar suara Kanaya yang dia peruntukkan untuk dirinya. Dia sudah menunggu hal itu sejak kemarin dan sekarang dia sudah mendengarnya.
Melihat dan mendengar hal itu Savira memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka berdua. Savira ingin mereka berdua berbicara dari hati ke hati tanpa ada orang yang akan membuat mereka tidak nyaman. Kaki Savira pun melangkah pergi.
Ragu Dirga kembali mendekat. Kanaya tampak takut tapi dia berusaha keras untuk tidak ketakutan di hadapan Dirga.
Jari-jari tangan Kanaya saling bertemu satu sama lain saling bertautan menandakan dia sangat gelisah. Kanaya takut kalau Dirga akan melakukan hal yang sama seperti kemarin lagi.
''Kita duduk di sana,'' ajak Dirga. Tangan Dirga ingin meraih tangan Kanaya tapi dia menolak dan berjalan melewati Dirga begitu saja.
Dirga sangat yakin, hati Kanaya sudah sangat kuat dalam berbagai ujian apapun jadi dia bisa sangat cepat menyembuhkan lukanya dengan sendiri.
Dirga mengikuti Kanaya dan akhirnya mereka berdua duduk di bangku yang berbeda dengan jarak yang sedikit jauh.
Sejenak mereka berdua diam, tak ada kata yang keluar dari bibir mereka berdua hingga akhirnya Dirga memulai bicara.
''Nay, maafkan aku,'' Dirga memulai pembicaraan, wajahnya langsung menunduk dengan hati yang kembali merasa sakit.
Mengingat detik demi detik semua kejadian yang Dirga lakukan membuat Dirga merasa kembali merasakan kehancuran yang sangat dalam. Dia tak menyangka akan terjadi hal yang sangat menakutkan itu darinya. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur, sudah terlanjur terjadi dan tak bisa di putar kembali dan jalan ceritanya di ubah sesuai keinginannya.
''Aku tau aku salah, mungkin aku juga tak pantas untuk mendapatkan kesempatan kedua darimu karena yang aku lakukan sangatlah buruk. Aku tak lebih dari seorang penjahat. Bahkan aku sudah seperti seorang psikopat.''
Begitu buruk penilaian pada diri sendiri, padahal Kanaya juga tak sampai untuk memberikan penilaian yang seperti itu.
__ADS_1
Kanaya masih ragu untuk menjawab. Dia masih sangat takut berbicara karena dia sangat taku kata-katanya akan salah dan Dirga akan kembali murka hingga berakhir melakukan apa yang kemarin dia lakukan.
''Kau pantas membenciku, Nay. Dan itu akan aku terima dengan ikhlas. Karena aku memang pantas untuk mendapatkan itu darimu.''
Begitu sudah pasrah Dirga sekarang dan sangat menyerahkan semuanya kepada Kanaya. Apapun yang terjadi dia tidak akan mengeluh apalagi marah. Tidak!
''Apa itu Sadisme?'' tanya Kanaya.
Berarti benar, Kanaya mendengar semua yang menjadi pembicaraannya dengan Savira tadi.
Mata Dirga langsung membulat dan menatap Kanaya, dia sangat tidak percaya kalau Kanaya akan tau secepat ini.
Setelah Kanaya tau apakah dia akan menjauhinya? itulah ketakutan Dirga yang begitu besar. Dia tidak siap untuk kehilangan Kanaya meski dalam beberapa saat dia juga sempat berpikir akan melepaskan Kanaya jika dia memang memilih untuk pergi.
''Tuan, tolong jelaskan pada saya, apa itu Sadisme.''
Begitu besar keingintahuan Kanaya tentang kelainan yang di alami oleh Dirga saat ini. Mungkin dengan itu dia akan bisa menentukan jalan apa yang akan dia ambil.
''I-itu?'' Dirga sangat ragu. Apakah benar kata Savira kalau dia harus lebih terbuka pada Kanaya. Tapi, memang benar. Dalam kehidupan rumah tangga harus saling terbuka dan tak boleh ada yang di sembunyikan.
''Katakan, Tuan. Tapi kalau Tuan masih menginginkan saya tetap ada di sini bersama anda dan melanjutkan rumah tangga ini.''
Bahkan sudah menjadi suami istri saja Kanaya masih begitu dingin. Sama persis saat dia berkali-kali menolak dirinya saat itu. Apakah selamanya Kanaya akan seperti ini? semoga saja tidak.
''Janji kamu tidak akan meninggalkanku?'' tanya Dirga.
Kanaya diam.
''Tidak usah kau tau kalau akhirnya kamu akan tetap pergi meninggalkanku. Pergilah istirahat dan jangan terlalu kamu pikirkan hal yang emang tak harus kau tau,'' pungkas Dirga.
Mungkin akan hanya percuma kan jika Dirga menjelaskannya tapi Kanaya akan tetap pergi meninggalkannya. Jadi lebih baik tidak peduli ceritakan, pikir Dirga.
__ADS_1
Bersambung