
...****************...
Tidak setiap hari Kanaya datang ke tempat sekolahnya Dia bisa melakukan dengan cara homeschooling dan hari ini dia tidak berangkat dan melakukan semuanya di rumah.
Tentu, yang dilakukan saat ini juga dengan izin dari Dirga yang juga sama berada di rumah. Tak ada masalah pada Dirga atau kelainannya kambuh tetapi Dirga memang ingin menghabiskan waktu bersama Kanaya, berdua saja.
Menemani semua kegiatan Kanaya yang tidak dia lihat di hari sebelumnya. Dirga sangat penasaran seperti apa yang dilakukan Kanaya dan kini dia berada di kamar dan membantu Kanaya menyelesaikan semua tugasnya.
"Bagaimana, apakah semua bisa kamu kerjakan?" tanya Dirga dengan melihat kertas-kertas yang ada di hadapan Kanaya.
"Alhamdulillah, agak susah sih tapi masih bisa aku kerjakan," Kanaya menoleh sebentar dan tersenyum ke arah Dirga yang ada di sebelahnya.
Kanaya hanya tersenyum ketika Dirga mengelus rambutnya dengan sangat pelan dengan sejuta rasa cinta yang di salurkan melewati setiap helai rambut Kanaya.
Cintanya benar-benar sampai ke hati Kanaya di setiap tangan itu membelainya. Membuat ketentraman di hati yang kian besar akan sebuah cinta yang awalnya hanya sebuah kesalahan.
Ternyata tak ada yang mustahil jika Allah sudah berkehendak, bahkan hati yang begitu membenci saja bisa berubah menjadi begitu mencintai.
Itulah kenapa banyak orang mengatakan jangan terlalu membenci juga jangan terlalu mencintai. Hati orang siapa yang tau, hati akan selalu berubah dengan berjalannya waktu.
"Pekerjaan mas sudah selesai?" Kanaya kembali menoleh.
"Alhamdulillah, sudah. Sekarang hanya tinggal menemani mu."
Benar Dirga terus menemani Kanaya, setiap kata-kata yang tak di mengerti, setiap pekerjaan yang begitu susah Dirga akan selalu menjelaskannya dengan cara yang baik. Dengan penuh telaten juga penuh dengan kelembutan.
__ADS_1
Hingga akhirnya semuanya selesai dan keduanya bisa istirahat. Kanaya menutup semua buku-bukunya sementara Dirga sudah menyandarkan punggungnya di sofa sementara matanya memandangi langit-langit.
"Mas mau makan apa untuk siang ini, biar Naya masakin," tanya Kanaya sebelum selesai membereskan semuanya.
"Di sinilah sebentar, nanti kita masak bersama-sama," di tariknya tubuh Kanaya dan berhasil bersandar di tubuh Dirga. Benar posisi yang sangat nyaman untuk Kanaya juga Dirga.
Posisi yang membuat keduanya semakin betah untuk terus berduaan.
"Hem," Kanaya tersenyum dan itu jelas membuat Dirga penasaran. Sebenarnya apa yang membuat Kanaya tersenyum.
"Kenapa?" Dirga melirik ke wajah Tasya dan istrinya itu masih saja tersenyum.
"Senang saja," jawab Kanaya yang masih penuh tanda tanya.
"Senang kenapa, apakah kamu tidak mau membagi kesenangan mu padaku?" tanya Dirga yang semakin penasaran.
"Tentu akan enak di dengar, karena jantung ini hanya akan selalu berdetak untukmu saja. Tidak ada orang lain selain kamu di setiap detak jantungku."
"Ihh, mas gombal ya," tentu Kanaya akan protes. Kata-kata manis bagai madu yang selalu Dirga ucap selalu saja mampu membuat Kanaya protes tapi juga sangat senang. Mampu membuat hatinya semakin berdesir panas.
Kata-katanya yang menjadi candu untuk Kanaya, ingin selalu di dengar dan akan selalu di rindukan ketika jauh ataupun ketika diam.
"Benar sayang. Semua yang ada di dalam diri mas semuanya hanya karena kamu, dan untuk kamu. Mas berdiri hanya untuk mu, bernafas juga untukmu, dan semuanya hanya untukmu." ucapnya.
"Ahh, mas jangan bicara yang melow-melow dong, nanti aku jadi nangis loh ini."
__ADS_1
"Bukan melow sayang, tapi inikah mas, semua hidup mas hanya untuk kamu," lagi kata manis itu terucap.
Kanaya langsung memeluk Dirga dengan sangat erat. Tak ingin jauh, tak ingin melepaskan dan ingin sekali bersama.
"Nay," panggil Dirga dengan sangat lembut.
Kanaya mengangkat wajahnya dan saat itu mata keduanya saling bertemu.
Perlahan bibir keduanya bertemu ketika Dirga memulainya. Matanya keduanya terpejam, saling merasakan perasaan masing-masing yang datang. Perasaan dan juga gejolak yang semakin besar.
Kembali Dirga berusaha untuk bisa menahan lagi apa yang menjadi masalah terbesarnya. Tentu Dirga tidak ingin menyakiti permata hatinya namun dia ingin sekali menyentuhnya kadi dia benar-benar harus mempertahankan rasa penasaran yang terus berputar-putar dalam otaknya.
Semakin dalam sentuhan keduanya, Dirga terus melakukan dengan lembut, Kanaya juga terus menerima dan merasakan setiap kelembutan yang semakin hari semakin terasa.
Jujur, Kanaya sudah sangat yakin kalau Dirga sudah sembuh seutuhnya. Tak ada semua rasa tersiksa yang Dirga perlihatkan, semua selalu saja terjadi seperti yang Kanaya harapkan.
Sentuhan demi sentuhan lembut selalu terjadi. Dan itulah yang selalu Dirga berikan.
"Ridho?" tanya Dirga.
"Hem," Kanaya mengangguk dan Dirga langsung beranjak laku mengangkat Kanaya untuk berpindah ke ranjang.
Doa-doa kembali mereka berdua ucapkan sebelum bersatunya cinta mereka berdua. Berharap akan ada benih yang berkembang dan akan menambah kesempurnaan kebahagiaan mereka.
'Ya Allah, sempurnakan lah hidup kami dengan semua kebahagiaan,' batin Dirga.
__ADS_1
...****************...
Bersambung...