Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Kecurigaan Kecil


__ADS_3

***********


Begitu uring-uringan Zein kala menyadari Kanaya tidak berangkat ke tempat LPK dimana dia mengikuti kursus. Dia sudah menunggu sejak pagi tapi ternyata yang di tunggu ternyata tidak datang.


Tak ada kabar kalau Kanaya tidak akan datang bahkan sang mama juga tidak memberitahu itu. Mau marah tapi sama siapa? Mau tanya alasannya tapi juga sama siapa?


"Kamu kenapa, Zein?" Meski tau apa yang tengah di alami anaknya tetap saja bu Annisa bertanya. Ya, sekedar basa-basi saja siapa tau yang dia pikirkan salah.


"Ma, Kanaya tidak berangkat? Kok mama tidak mengatakan padaku?" Terlihat jelas kalau Zein sangat kesal.


"Untuk apa, Zein. Mau dia datang atau tidak bukan urusan mu Zein. Lebih baik kamu urus urusan mu. Urusi pekerjaan mu untuk bekal masa depan. Ingat, Zein. Dia adalah istri orang tidak baik kamu terus mengejarnya," Lagi-lagi bu Annisa menasehati, berharap anaknya akan mengerti.


"Pasti selalu ini yang mama katakan. Lebih baik sekarang mama kasih tau dimana rumahnya."


"Mau apa, Zein?"


"Zein mau ke sana lah Ma. Zein ingin memastikan kalau dia baik-baik saja."


"Ingat Zein. Dia ada suaminya yang akan selalu memastikan keadaannya. Kamu jangan terlalu jauh ikut campur dan masuk ke dalam rumah tangga mereka. Mama mohon hentikan kegilaan ini, Zein."


Begitu berharap bu Annisa untuk kebaikan Zein. Ibu mana yang mau anaknya ikut campur bahkan ingin menghancurkan rumah tangga orang lain. Tidak ada yang mau!


"Udah lah, Ma. Suaminya itu tidak becus menjaganya. Nyatanya dia tak pernah terlihat bahagia, Ma. Kanaya pasti terpaksa menikah dengannya, dan dia juga terpaksa menerimanya!"


"Astaghfirullah, Zein! Sudah ya! Mama minta kamu jauhi dia. Ingat statusnya, Zein. Dia istri seseorang!"


"Udah lah, capek ngomong sama mama."


Dengan begitu cepatnya Zein pergi ke ruangan mamanya mencari-cari berkas yang mungkin akan dia temukan alamat Kanaya.


"Zein, apa yang kamu lakukan! Zein!" Bu Annisa tentu tak tinggal diam. Dia tidak mau anaknya semakin jauh dengan kelakuan yang salah.


"Dapat! Ma, pinjem sebentar. Nanti akan saya kembalikan."


Dan dapatlah Zein alamat Kanaya. Alamat dimana Kanaya tinggal dengan Dirga suaminya yang berada di tumpukan berkas di atas meja kerja bu Annisa.


"Zein! Zein! Berhenti, kembalikan pada mama, Zein!" Teriakan bu Annisa benar-benar tak di gubris oleh Zein, dia tetap melangkah pergi dengan cepat.


"Astaghfirullah hal azim, apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan kegilaan Zein," Begitu pusing bu Annisa dengan kelakuan anaknya yang begitu keras kepala itu. Tak pernah mau mendengarkan apa yang dia katakan.


***********

__ADS_1


Sampailah Zein di alamat yang dia tuju. Motornya sudah berhenti di dekat rumah Dirga.


"Kok sepi ya, benar nggak sih ini rumahnya?" Zein terlihat mengamati rumah besar namun terlihat sangat sepi.


Rumahnya sangat besar ternyata lebih besar dari rumah Zein sendiri. Zein sadar sekarang, lawannya tidaklah mudah di bandingkan jika mengenai harta.


"Tapi benar ini alamatnya kok?" Zein berjalan mendekat, melihat-lihat dengan jelas.


"Permisi! Permisi!" Teriak Zein mencoba untuk menyapa sang tuan rumah siapa tau ada yang keluar dan Zein harap Kanaya yang akan keluar.


"Permisi!" Teriaknya lagi dengan tangan memukul-mukul gerbang.


Tetap saja tak ada yang datang, jelas tak ada karena memang tak ada orang yang ada di rumah.


"Cari siapa ya, Mas?" Seorang penjaga keamanan datang.


"Ini, Pak. Mau mencari teman saya namanya Kanaya. Apakah dia beneran tinggal di sini?"


"Benar, Mas. Tapi sekarang mbak Kanaya sedang pergi dengan mas Dirga. Sepertinya mereka akan pergi dalam beberapa hari ini."


"Kira-kira pergi ke mana ya, Pak?" Zein tetap ingin tau. Mungkin dia akan mendatangi mereka jika tau keberadaan Kanaya.


'Bagaimana mau menghubunginya, nomornya saja saya nggak punya,' batin Zein dengan kecewa.


"Baik, Pak. Biar saya langsung hubungi dia saja," Ucapnya berbohong. Lagian tidak mungkin juga dia bisa menghubungi Kanaya.


"Iya, Mas. Saya permisi kalau begitu," Pamit nya.


"Hem," Hanya anggukan juga dekhemam saja yang menjadi balasan dari Zein.


"Kira-kira Naye pergi ke mana?" Masih saja Zein melihat bangunan di depannya itu, masih saja berharap kalau Kanaya akan keluar dari rumah itu.


**********


Kedatangan Kanaya juga Dirga memang sangat di sambut baik oleh wak Ami, tapi tidak oleh Wak Tejo juga Arifin. Senyum mereka palsu dan juga kata-kata manisnya apalagi.


Sok bilang ikhlas bilang bahagia kalau mereka berdua tidur di rumahnya dalam beberapa hari tapi kenyataannya dalam hati mereka terus ngedumel.


'Kenapa harus di sini sih? Apa nggak bisa di tempat lain apa?' batin wak Tejo dengan senyum palsu yang bersamaan dia keluarkan.


"Terimakasih karena sudah mengizinkan kami menginap di sini dalam beberapa hari, Wak." Ucap Dirga.

__ADS_1


"Iya, Nak. Anggap saja rumah sendiri. Kalian bebas di sini selama yang kalian mau," Terus saja dengan kata-kata yang palsu karena bersamaan di hatinya juga merutuki.


"Terima kasih ya, Wak," Kini Kanaya yang berbicara.


"Iya, Nay. Kamu kan juga bagian dari keluarga, Wak. Kamu sudah seperti anak kami malah," Jawabnya yang membuat Kanaya terasa tersanjung. Alhamdulillah masih di akui sebagai keluarga apalagi di akui sebagai anak.


Sementara Arifin, dia begitu bingung. Kenapa semua yang dia lakukan rasanya sangat sia-sia. Kenapa Kanaya dan juga Dirga baik-baik saja, apakah surat-surat yang dia kirim tidak sampai di tangan Dirga?


'Apa-apaan sih ini. Kenapa mereka tetap baik-baik saja? Apakah surat yang aku kirim tidak pernah sampai, tapi alamatnya benar kok. Tapi kenapa hasilnya seperti ini? Bukannya Dirga orangnya emosian, kemarin aja langsung marah saat kejadian di ladang,' batin Arifin yang begitu bingung.


"Mas Arifin kenapa?" Pertanyaan Dirga sama sekali tak di gubris oleh Arifin. Dia begitu terbawa akan apa yang ada di kepalanya.


Benar-benar begitu serius Arifin saat ini sampai-sampai pertanyaan Dirga sama sekali tidak dia dengar. Entah ketutup apa tapi benar tidak mendengarnya.


"Mas?" Kembali Dirga memanggil.


"Fin, ini loh di tanya nak Dirga. Kamu kenapa sih?" Suara wak Tejo begitu menggelegar kuat dan berhasil mengejutkan Arifin.


'Apakah Arifin masih memikirkan soal keinginannya untuk menikah?' batin wak Tejo.


"Apa sih, Pak. Bapak mengganggu kesenangan ku," Terlihat kesal Arifin karena seruan dari bapaknya.


"Kamu di tanyain nak Dirga, Fin," Kini ucapan wak Tejo membuat Arifin menoleh ke arah Dirga.


"Apa yang di tanyakan?"


"Bukan apa-apa. Hanya, mas Arifin kenapa?" Dirga mengulang pertanyaannya.


"Tidak apa-apa." Suaranya mengisyaratkan bahwa Arifin tidak menyukai kedatangan Dirga dan Kanaya.


Tapi, apa yang terjadi pada Arifin malah membuat Dirga semakin penasaran. Apakah ada hal yang dia sembunyikan?


Dirga masih tidak mau terburu-buru dalam hal-hal yang ingin dia ketahui, masih ada waktu tapi dia juga tidak akan terlalu santai karena yang dia lawan belum tau orang yang seperti apa. Tapi kecurigaan Dirga sudah di patenkan pada Arifin.


"Alhamdulillah kalau begitu," Dirga tersenyum penuh arti.


'Kenapa dia tersenyum seperti itu, aneh sekali,' batin Arifin.


**********


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2