
'Kenapa begitu susah untuk Mendapatkan perhatian dari mu. Semua sudah aku lakukan tapi tak berhasil membuat kamu menoleh ke arah ku. Datang lah padaku dan lihatlah aku.'
#Zein Andriawan
...****************...
Setiap hari ada-ada saja yang di lakukan oleh Zein pada Kanaya, padahal dia sudah di peringatkan oleh mamanya kalau tidak boleh mengganggu Kanaya tapi apa mau di kata, dia sangat suka dengan kerjaan barunya itu.
Sementara Kanaya sendiri dia tidak tau kalau Zein adalah anak dari LPK itu sendiri setahunya dia sama-sama murid yang mencari ilmu di sana ternyata Kanaya di bohongi mentah-mentah oleh Zein.
Lagi-lagi Kanaya tidak bisa konsentrasi gara-gara Zein. Pria itu terus bertanya-tanya dan duduk di depannya bukan itu saja tapi matanya yang terus menatapnya membuat Kanaya merasa frustasi.
"Naye Naye Naye..." panggilnya dengan panggilan yang sangat berbeda dengan yang lain tentu juga melenceng dari nama Kanaya. Seharusnya sama seperti Dirga, Naya. Tapi kenapa malah Naye?
Kanaya terus diam dan terus fokus, sebenarnya bu Annisa di mana juga kenapa meninggalkan dirinya dengan pria yang sangat mengganggu ini. Sebenarnya di kelas itu tidak hanya ada Kanaya ada beberapa orang yang satu angkatan dengan Kanaya tapi mereka juga fokus dengan belajarnya. Mereka semua bisa fokus karena tidak mendapat gangguan, sementara Kanaya?
Ingin rasanya Kanaya nonjok pria yang terus meringis sok manis sok kecakepan di depannya ini tapi Kanaya pecinta kelembutan bukan kekerasan.
"Naye, aku lihat-lihat beberapa hari ini suami mu tidak jemput. Kalian lagi bertengkar?" kedua tangan Zein terlipat manis di meja Kanaya, dagunya menempel manis di kedua lipatan namun matanya melihat ke arah wajah Kanaya.
"Oh, kalau diam berarti aku anggap iya. Syukur deh, untung-untung sampai cekcok berat, pisah ranjang terus pisah rumah terus ganti status jadi Jendi. Aku siap menangkap mu dan menghalalkan mu setelah masa idah selesai." katanya dengan terus berada dalam posisi itu.
Semakin jengah Kanaya pada Zein kenapa doanya selalu saja yang buruk-buruk kenapa tidak mendoakan semoga rumah tangganya adem ayem tanpa hambatan apapun dan selalu bahagia. Terus di kasih rezeki yang melimpah juga di karunia banyak anak sama seperti yang orang-orang lain katakan. Tapi nih anak. Bener-bener berbelok ke jalur yang salah.
"Kenapa ya, kalau perempuan pendiam itu lebih menggoda. Lebih membuat penasaran," nih mulut benar-benar tak ada habisnya, ngomong mulu kayak kereta panjang yang kaya anak TK panjangnya bukan kepalang.
"Astaga, Naye. Apakah kamu benar-benar ingin membuat ku seperti orang gila karena bicara sendiri?"
__ADS_1
Kanaya tetap diam dan tidak menggubris apapun yang Zein katakan. Mau dia berpikir dia seperti orang gila itu urusan dia sendiri. Mau dia benar-benar gila juga bukan urusan Kanaya.
"Ya elah, Mak. Aku kurang ganteng piye toh?" gerutu Zein frustasi.
Kali ini Kanaya harus menahan tawa karena Zein yang sok kecakepan itu mengeluh. Kanaya pikir dia tidak bisa bahasa Jawa ternyata dia juga bisa.
Tak mampu menahan hingga membuat Kanaya menggigit bibir bawahnya. Tentu dia tidak mau sampai kelepasan dan tertawa terbahak-bahak, nanti bisa di salah artikan oleh Zein.
"Sabar, Zein. Sabar. Orang sabar di sayang sama gusti Allah," wajahnya mendongak dengan kedua telapak tangan menengadah ke atas seperti tengah berdoa. Tapi mana doanya?
"Ya Allah, semoga hatinya mentok di hatiku. Aku rela menjadi yang kedua," yang ini baru doa.
Tapi membuat Kanaya semakin tak percaya pada pria di hadapannya ini. Dia seorang pria yang tampan dan sempurna. Tinggi dengan dengan tubuh yang juga atletis pastilah siapapun akan mudah jatuh hati padanya. Tapi tidak untuk Kanaya, karena sesempurna Zein di matanya tetap yang paling sempurna adalah suaminya.
Lelah sendiri akhirnya Zein. Sedari tadi di diamkan oleh Kanaya akhirnya dia diam sendiri kan sekarang. Dan itu membuat Kanaya merasa damai apalagi kalau Zein pergi dari hadapannya pasti akan lebih damai lagi.
Zein kembali membuat ulah lagi dengan memukul-mukul penggaris Kanaya di meja. Bukan itu saja tapi juga membuka-buka buku Kanaya yang tengah di buat menulis.
"Mas, diam nggak!" pekik Kanaya tak percaya, bagaimana bisa Zein terus saja mengganggunya.
Bukan hanya Zein yang terkejut tapi semua orang yang ada di sana juga sama terkejutnya. Tak biasa Kanaya akan berteriak bahkan bicara saja sangat jarang tapi ini?
Kanaya sebenarnya orangnya simpel, dia tidak akan menggangu orang lain bahkan saat dia di ganggu juga akan diam, tapi tidak kalau sudah keterlaluan.
Seperti kali ini dia benar-benar sangat jengah dengan Zein yang terus saja menjadi pengganggu. Tidak pernah dia membiarkan Kanaya untuk diam.
"Wow, ternyata kalau lagi marah kamu terlihat semakin menggemaskan, Naye." katanya meski tadi sempat terperanjat dan sangat terkejut.
__ADS_1
"Kamu makin cantik Naye kalau seperti ini," imbuhnya lagi.
Kanaya sungguh kehilangan rasa sabarnya sekarang dia berdiri dan berjalan untuk berpindah di tempat yang jauh dari Zein. Sebisa mungkin dia harus menghindar dari Zein. Entah apa lagi yang akan dia lakukan padanya.
"Lah, mau kemana, Naye?" mata Zein memandangi Kanaya yang sudah menjauh dan akhirnya dia lega karena melihat Kanaya yang berhenti dan duduk di bangku lain.
Setidaknya Kanaya tidak keluar dari pelajarannya saat ini dan Zein masih tetap bisa melihat wajah ayu Kanaya yang seperti biasa tanpa ada polesan apapun.
"Itu mas Zein kenapa sih, gangguin Naya terus. Kasihan ya dia jadi tidak bisa konsentrasi," kata salah satu teman.
"Iya, sepertinya Mas Zein itu sangat suka dengan mbak Naya deh," jawab yang lainnya.
bukan hanya itu saja tapi masih banyak lagi asumsi teman-teman Kanaya. Tapi ada juga yang malah menyalahkan Kanaya dan menyebut Kanaya ganjen. Tau sudah punya suami masih saja mendekati Zein.
Itulah dari beberapa orang yang tidak suka pada Kanaya yang lebih di perhatikan oleh Zein. Mereka juga ingin seperti Kanaya, siapa sih yang tidak.
Di perhatikan dan selalu di ganggu oleh pria tampan.
Zein beranjak, dia ingin kembali mengejar Kanaya tapi suara yang baru saja datang membuat Zein terkejut dan langsung menoleh.
"Zein, apa yang kamu lakukan si sini. Tuh ada yang nungguin si luar!" seru bu Annisa yang baru saja masuk.
'Mama lagi mama lagi, kenapa sih tidak bisa melihat anaknya seneng sebentar saja,' batin Zein lemas.
Sementara Kanaya sangat senang, dia bisa bebas dari Zein.
...****************...
__ADS_1
Bersambung...