
... ...
...***************...
Satu minggu sudah kejadian yang menimpa Kanaya kemarin. Kejadian yang sangat menakutkan juga sangat menegangkan, kejadian yang mampu membuat psikologis Kanaya sedikit terguncang.
Tapi alhamdulillah, Dirga adalah suami yang paling sempurna dan langsung membawa Kanaya untuk konsultasi untuk menghadapi masalahnya. Dan sekarang dia sudah kembali ceria.
Persahabatan dengan Zein juga terjalin sewajarnya, Zein menyadari dan mengakui akan tindakannya yang tidak benar yang menaruh rasa pada istri orang lain. Ternyata, di setiap kejadian pasti akan selalu ada hikmahnya.
Kanaya kembali kursus ke LPK seperti biasa tentu dengan di antar oleh Dirga sampai di tempat yang biasa, depan LPK. Dirga juga mengantarkan masuk, memastikan Kanaya benar-benar aman sampai tujuan dan nanti akan dia jemput sebelum waktu pulang tiba. Kesalahannya tak akan di ulang untuk kedua kalinya.
"Pagi Nay, Ga," Sapa Zein. Yah! Pria itu sudah pulang dari rumah sakit dan sekarang selalu datang ke LPK seperti biasanya, tapi tidak untuk mengganggu Kanaya lagi melainkan membantu ibunya.
"Pagi, Mas." Jawab Kanaya yang masih terus menggandeng Dirga.
"Pagi, Zein. Bagaimana, sudah benar-benar baikan?" Tanya Dirga tentang keadaan Zein, biar bagaimana pun Dirga juga ingin selalu memastikan Zein benar-benar sembuh dan tak ada luka dalam. Dia juga ikut andil dalam menyelamatkan istrinya jadi ada istilah hutang budi.
"Alhamdulillah, sudah sangat baik," Zein tersenyum memperlihatkan keadaannya yang benar-benar sudah membaik bahkan luka juga lebam-lebamnya sudah hilang.
"Alhamdulillah, aku mau berangkat saya titip istri saya di sini. Tolong, kalau ada apa-apa cepat kabari saya. Dan ya! Jangan ganggu dia. Dia udah menjadi hak paten untuk saya," Sedikit terselip guyonan di kata-kata Dirga dan mampu menghadirkan senyum pada Zein juga Dirga sendiri.
"Pasti, saya tidak akan mengganggunya, tapi kalau tidak khilaf," Jawaban Zein juga sama, terselip gurauan juga. Semakin hari semakin akrab mereka berdua, benar-benar sudah seperti dua manusia yang sudah sejak lama berteman.
"Awas saja kalau sampai khilaf," Uluran tangan dengan mengepal keras sekeras batu Dirga berikan pada Zein tentu itu bukan ancaman yang nyata karena mereka berdua hanya bercanda.
"Oke, aku jabanin," Sementara Zein malah menanggapi dengan memasang kuda-kuda seolah ingin tinju dengan mengangkat kedua tangannya yang mengepal.
Tapi pada akhirnya kedua tangan kanan mereka saling bertemu dengan tangan mengepal hanya untuk tos saja. Sungguh, persahabatan mereka begitu cepat. Semoga tak akan ada perselisihan antara mereka berdua.
Dirga langsung pamit setelah itu, seperti biasa sebelum pergi Kanaya akan selalu meraih tangan untuk di salami tapi Dirga ragu untuk mengecup keningnya seperti biasanya karena ada Zein jadi dia hanya mengelus pipinya saja dengan lembut lalu tersenyum lalu benar-benar pergi.
"Assalamu'alaikum," Ucapnya.
"Wa'alaikumsalam," Jawaban Kanaya juga Zein begitu kompak.
__ADS_1
"Mas Zein, saya permisi. Assalamu'alaikum," Kanaya pun juga pamit dari hadapan Zein. Mungkin dia tadi bertahan di sana karena ada Dirga tapi sekarang tidak karena hanya ada mereka berdua.
"Wa'alaikumsalam, belajar yang benar, Nay. Dan cepatlah lulus karena aku sangat bosan melihat mu terus," Ucap Zein sedikit malas.
Bukan karena bosan melihat Kanaya sebenarnya si Zein tapi dia bosan karena setiap pagi harus melihat kemesraan Kanaya dengan Dirga. Meski dia terus berusaha keras untuk menerima dan belajar ikhlas tapi hatinya masih sangat susah menerima, masih panas melihat itu.
"Tentu, Mas. Saya juga bosan lama-lama di sini," Jawab Kanaya dengan sedikit memberikan senyum juteknya.
Tak lagi ada suara yang terdengar dari keduanya yang ada hanyalah Zein yang masih terus melihat kepergian Kanaya.
'Ikhlas, Zein. Meski sangat susah tapi itu yang terbaik. Benar yang Kanaya katakan, kamu harus bisa menerima takdir ini dan berdoa mendapatkan gadis yang lebih baik darinya, atau paling tidak sebelas dua belas seperti dia,' batin Zein.
Kepergian Kanaya juga membuat Zein pergi juga dari sana setelah Kanaya tak terlihat.
Kini, Zein harus terus belajar ikhlas dengan semua takdir dan berusaha menghargai perempuan. Jangan sampai sifatnya yang playboy terus terpupuk di hatinya dan akan semakin membuatnya rusak.
Jika dia tak bisa menghargai sebuah hubungan juga seorang perempuan bagaimana dia akan di hargai dan bisa mendapatkan yang terbaik. Untuk mendapatkan yang baik dia harus menjadi baik lebih dulu bukan?
***************
Saking senangnya dia terus bersiul dengan irama yang semakin menambah bungah.
"Akhirnya, sebentar lagi aku akan melamar Ayu," Lah, kenapa jadi Ayu sekarang? Benar-benar laki-laki playboy kelas kakap ini si Arifin.
Kemarin gadis mana yang minta di lamarin sama bapaknya dan sekarang, akhirnya siapa juga yang di lamar. Lalu di mana gadis yang kemarin? Semoga saja bukan hanya habis manis sepah di buang.
"Fin, sudah siap belum?" Teriak wak Tejo yang juga sudah siap.
"Bentar, Pak!" Arifin juga berteriak menjawabnya.
Bukan langsung keluar tapi Arifin malah menambahkan minyak di rambutnya, mengusapnya hingga begitu basah dan kembali menyisirnya. Arifin benar-benar ingin menjaga penampilannya supaya terkesan baik di mata keluarga calonnya.
"Astaga, Fin! Kamu ini ya, dandan lama banget kayak cewek. Ini kita sudah telat Fin, Fin!" Kembali wak Tejo berteriak takk habis pikir dan sangat penasaran dengan apa yang di lakukan oleh anaknya di dalam.
"Iya Pak sebentar!" Lagi Arifin menjawab dengan kesal.
__ADS_1
"Dah tua berisik banget lagi!" Omel nya dengan suara pelan supaya tidak terdengar oleh bapaknya.
Arifin benar-benar keluar setelah rapi dan tentunya juga wangi dengan parfum mahal yang dia beli dari uang pemberian Dirga juga. Uang yang begitu banyak bagi Arifin hingga dia begitu foya-foya dan membeli apapun bahkan yang tidak penting sekaligus.
"Yuk pak berangkat," Ucapnya dengan tangan yang mengulur ke belakang untuk menarik gagang pintu untuk menutupnya.
"Yo ayo berangkat! Kamu sing lama kok yo," Omel wak Tejo dengan sangat kesal.
Tapi kemarahan wak Tejo seakan tak bersuara di telinga Arifin, dia terus abai dan melangkah lebih dulu mendahului wak Tejo.
Semua sudah di persiapkan, segenap barang-barang untuk lamaran juga sudah di taruh di dalam mobil, bukan itu saja tapi beberapa orang yang di minta untuk andil dalam acara itu juga sudah datang.
Semakin bahagia Arifin ketika melihat semua persiapan yang sudah di siapkan jauh-jauh hari itu sudah komplit dan terlihat di depan mata. Senyumnya terukir indah.
'Aku sudah tidak sabar sampai ke rumah Ayu. Setelah acara lamaran ini satu minggu lagi kami akan menikah. Aaa! Aku sudah tidak sabar ingin memiliki Ayu seutuhnya. Ayu Ayu, kau ini bikin aku penasaran. Hanya kamu saja wanita yang aku kenal yang tak mau aku sentuh. Tapi tak apa, sebentar lagi aku bebas ngapa-ngapain kamu, hahaha!' batin Arifin.
Begitu bersorak bahagia batin Arifin hingga membuat dia terus tersenyum dan tentu itu akan di lihat oleh orang-orang yang ikut juga kedua orang tuanya.
"Jangan tersenyum terus, Fin. Kayak orang kurang satu ons," Wak Tejo yang berkomentar.
"Apa sih pak, ganggu orang lagi senang saja. Aku lagi bungah ini, Pak," Jawab Arifin dengan kesal.
"Wes le senyam-senyum sendiri sekarang kita berangkat," Ajak Wak Tejo.
"Kamu harus jaga sikap di sana loh, Fin. Jangan neko-neko," Wak Ami juga bersuara.
"Halah, opo to, Bu. Emang opo sing bakal aku lakukan. Belum-belum kok sudah nuduh yang tidak-tidak. Mending ibu di rumah wae lah kalau hanya mau ngritik Arifin," Kesal Arifin dan berlalu begitu saja dari hadapan wak Ami.
"Astaghfirullah hal 'azim," Hanya mengelus dada lagi yang bisa wak Ami lakukan anaknya selalu saja tak mau mendengar apapun yang di katakan olehnya.
"Ayo Buk! Jadi ikut nggak!" Teriak Arifin semakin kesal.
Wak Ami langsung berjalan tanpa menjawab, hatinya begitu campur aduk dengan berbagai perasaan yang menyatu, dan semua itu karena Arifin anak semata wayangnya.
"""""""""""""""
__ADS_1
Bersambung....