Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Obsesi


__ADS_3

...****************...


Obsesi yang begitu besar ingin memiliki di hati seseorang seakan membutakan segalanya. Tak mendengar kata-kata kebenaran dari orang-orang terdekatnya meski mereka adalah kedua orang tuanya sendiri.


Rasanya begitu senang jika bisa mendapatkan apa yang menjadi bagian dari obsesinya, entah itu cinta ketenaran, jabatan atau masih banyak lainnya dan semua yang terbentuk karena sebuah obsesi pasti caranya akan lebih keras dan terkesan memaksakan.


Istilahnya, bisa seperti orang yang keras kepala karena tak mau mendengar semua yang orang katakan. Meski itu adalah hal kebenaran tapi baginya itu bukanlah kata-kata yang baik yang bisa di lakukan. Padahal itu adalah hak yang sebaliknya.


Jika dekat selalu saja mengejar setiap jauh akan selalu gelisah dan setelah berhasil mendapatkannya bisa saja dia akan puas tapi tetap saja akan ada segi negatif atau mungkin ketergantungan.


Hal itulah yang sekarang begitu di rasakan oleh Zein. Sudah tiga hari dia tak melihat wanita pujaannya, wanita yang menjadi warna untuknya. Entah menjadi sebuah warna atau mungkin Zein yang memaksa menumpahkan warna untuk sang pujaan, Kanaya.


Hatinya begitu di landa rasa gelisah yang begitu besar, dia terus mondar-mandir kesana-kemari tanpa arah yang jelas. Ingin mencari tapi dia tak tau harus kemana tapi mau diam saja dia juga tidak betah jika menunggu terlalu lama.


Itulah kesalahannya, kenapa harus memiliki rasa kepada wanita yang sudah menjadi istri pria lain. Kenapa dia tak bisa menaruh rasa kepada wanita lain selain Kanaya.


Zein juga tidak ingin sebenarnya, tapi kenapa semakin hari rasanya semakin besar dan semakin gak kuat untuk di tahan.


Zein sadar dia salah, semua perkataan orang-orang itu benar kalau dirinya tak pantas melakukan itu. Rasa yang dia miliki akan menghancurkan kebahagiaan orang lain, Zein sangat paham. Tetapi Zein tak bisa mengendalikan semua rasanya.


Entah itu benar-benar cinta sejati atau mungkin hanya cinta karena obsesi, Zein tidak mengerti. Tetapi yang paling jelas Zein sangat bahagia melakukan semua itu tanpa harus memikirkan sebuah beban dari penderitaan yang akan di dapat oleh orang lain karena ulahnya.


"Yah, aku memang egois. Dan inilah keegoisan ku yang terus akan aku kejar," gumamnya.


Matanya terus mengamati rumah Dirga yang masih setia kosong tak berpenghuni. Entah sampai kapan rumah itu pintunya akan terbuka lebar dan akan mengizinkan dia masuk ke dalamnya.

__ADS_1


"Keegoisan adalah keegoisan yang berdasar. Dan dasarnya aku ingin memiliki dia seutuhnya dan selamanya," terlihat tekatnya begitu kuat untuk merebut Kanaya dari suaminya.


Seorang gadis berhijab datang dengan begitu bahagia. Wajahnya tampak berbinar dan sepertinya berniat untuk masuk ke dalam rumah Kanaya.


Mata Zein juga langsung berbinar, dari belakang sekilas seperti Kanaya. Sama-sama dengan pakaian tertutup juga tingginya sama, hanya terlihat dia sedikit berisi.


"Naye," Zein langsung lompat dan berlari menuju ke arah gadis itu sebelum dia membuka gerbang.


"Naye, kamu darimana saja kenapa kamu lama sekali perginya?! Nay!" tangan Zein langsung menarik lengan gadis itu dan hampir saja memeluknya jika saja tidak langsung di dorong dengan kuat.


"Siapa anda! berani sekali pegang-pegang saya!" matanya seketika melotot dengan wajah yang sudah berdiri tegak dengan marah.


Zein juga membulat terang matanya setelah dia mengetahui dia salah orang, yang dia hentikan bukalah Kanaya tapi entah dia sendiri tidak mengenalnya.


"Seharusnya saya yang bertanya padamu, kamu siapa? kamu mematai-matai rumah ini! atau jangan-jangan kamu pencuri?" tuduhan yang langsung di layangkan pada Zein.


"Setiap hari saya melihat kamu terus berkeliaran di sini, apa maksud kamu sebenarnya, hah!" ternyata bukan hanya sekali dia mengetahui Zein terus di sana tapi setiap hari!


Siapakah gadis itu sampai-sampai dia terus berada di sana?


Muna Az-zahra. Yah! dia adalah Muna. Sepupu yang di minta Dirga untuk tinggal di rumahnya dalam waktu beberapa hari saja saat Dirga dan Kanaya pergi.


"Sa_saya..." tak mau Zein melanjutkan kata-katanya dia lebih memilih lari dan menghindar dari Muna yang begitu banyak bicara.


"Hey! mau kemana kamu! awas ya kalau sampai saya lihat kamu datang lagi! akan aku laporkan ke kantor polisi!" teriak Muna yang tentu terdapat sebuah ancaman.

__ADS_1


"Sebenarnya dia siapa, dan apa tujuannya datang ke sini, mencurigakan," gumam Muna.


Setelah tak terlihat lagi Zein yang sudah melarikan diri Muna bergegas masuk, dia sangat lelah karena pulang dari kuliahnya.


"Istirahat dulu lah sembari menunggu mas Dirga pulang." kembali Muna bergumam.


...****************...


Semakin uring-uringan Zein saat ini, sudah tidak bertemu dengan Kanaya dia malah bertemu dengan gadis yang galak juga sangat cerewet.


"Sial, bukannya bertemu dengan Naye malah bertemu dengan ikan cup*ng, kecil galak lagi. Persis!"


Di perjalanan Zein hanya terus menggerutu karena sangat tidak beruntung Sekarang dia tak akan mudah untuk kembali lagi ke sana. Kalau ketahuan bisa-bisa dia beneran di tangkap polisi.


"Gadis seperti itu sangat me_mengerikan. Ancamannya pasti akan selalu di buktikan. Sekarang aku harus bagaimana? harus mencari Naye kemana?"


Bingung sendiri kan sekarang kamu Zein? makanya cari yang masih lajang jangan bini orang kamu embat. Niatmu sudah salah pastilah apa yang kamu dapat juga tidak akan sesuai.


"Naye, sebenarnya kamu dimana?" imbuhnya lagi.


Dengan motor yang sudah masuk ke jalan perkotaan dia masih saja kesal. Jelaslah dia akan sangat kesal dan itu karena perbuatannya sendiri.


...****************...


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2