Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Kebersamaan


__ADS_3

'Kebersamaan akan selalu menumbuhkan kehangatan dan kebahagiaan. Biarkanlah kebersamaan seperti ini yang terjalin di antara kita.'


#Dirga Gantara


...****************...


Kanaya lari terbirit-birit setelah sampai di luar dan melihat mobil Dirga sudah terparkir manis di halaman. Sekali dia menoleh karena takut Zein akan mengejarnya dan alhamdulillah Zein tidak terlihat.


"Alhamdulillah, untung dia tidak ngejar lagi. Kalau dia ngejar lama-lama akan terjadi salah paham. Aku heran, kenapa dia begitu tak percaya padaku apakah wajahku terlihat seperti seorang pembohong?" gumam Kanaya begitu lirih.


Sekali lagi dia menoleh dan memperlambat langkahnya tetap saja dia tak melihat Zein mengejarnya. Nafasnya sangat lega dan dia bisa tersenyum lebar sekarang.


Sampailah Kanaya di mobil Dirga dan sang sopir sudah membukakan pintu untuknya, "silahkan, Nona," katanya.


"Terimakasih, Pak," jawab Kanaya dan perlahan naik.


Dia tersenyum melihat Dirga yang juga tersenyum menyambut kedatangannya. Tangannya sudah mengulur seperti orang tua saat menyambut anaknya pulang sekolah.


"Assalamu'alaikum, Mas." salam Kanaya.


"Wa'alaikumsalam.., bagaimana, lancar kan?" tanya Dirga. Perlahan dia merengkuh kepala Kanaya dan mengecup keningnya.


"Alhamdulilah lancar. Tapi sedikit susah, mungkin karena belum terbiasa dan juga karena sudah lama tidak berfikir keras. Jadi agak tumpul saja otak ku, hehe," Kanaya meringis membuat Dirga menjadi gemas dan langsung merangkulnya.


Menenggelamkan kepala Kanaya di dada bidangnya dan terus menghujani kecupan di puncak kepala Kanaya.


Alhamdulillah, hati Dirga sangat senang karena Kanaya tidak menolak bahkan dia juga membiarkan itu juga membuat posisinya lebih nyaman di dekapan Dirga.


Semakin hari Kanaya semakin dekat padanya, seolah tak ada jarak dan jarak itu semakin hilang. Dirga percaya, Kanaya sudah benar-benar menerima kehadirannya dan nyaman bersamanya.


"Nay, sepertinya beberapa hari lagi mas harus pergi ke Jepara ada urusan pekerjaan di sana. Kamu mau ikut atau..." ucapan Dirga terhenti karena Kanaya terlihat begitu terkejut bahkan dia sudah mengangkat wajahnya dan memandangi Dirga.


"Ke Jepara, kapan?" ada semburat sedih yang seketika hadir di wajah Kanaya.


Baru saja dia merasa senang dengan keberadaan Dirga beberapa hari ini, dia berhasil menghilangkan rasa canggungnya dan dalam beberapa hari Dirga akan pergi ke Jepara. Apakah Kanaya akan di tinggal sendiri? atau di ajak juga?


"Empat hari lagi dan mas akan di sana selama satu minggu. Sebenarnya untuk kali ini mas tidak bisa mengajak mu, tapi kalau kamu mau ikut mas akan usahakan."

__ADS_1


Semakin sedih Kanaya sekarang, dia benar-benar akan di tinggal sendiri di kota yang baru untuknya ini.


"Hem, seandainya selama mas pergi kamu tinggal bersama Umi dan Abi dulu bagaimana?" Dirga terus berbicara sementara mobil sudah berjalan sejak tadi.


Kanaya diam berpikir, benarkah dia akan tinggal bersama Umi dan Abi dalam waktu satu minggu? lalu bagaimana dengan rumahnya apakah akan di tinggal begitu saja?


"Hem, kalau memang mas akan pergi Aya tetap di rumah saja. Aya berani kok," katanya yang sudah dia pertimbangkan.


Meski dia akan tinggal sendiri tapi sepertinya akan lebih nyaman berada di rumah sendiri daripada di rumah mertua. Ya meski Kanaya tau mereka sangat menyayanginya.


"Kamu yakin?" Dirga memperjelas dan Kanaya mengangguk lalu kembali bersandar di dada bidang Dirga.


Jika Dirga pergi jelas Kanaya akan merindukan saat-saat seperti sekarang ini. Rindu dengan kasih sayang Dirga yang selalu di limpahkan untuknya. Kasih sayang yang tiada batas.


"Hem, Aya yakin," balasnya. Suaranya terdengar lemah dan Dirga tau kalau istrinya itu merasa sangat sedih.


"Baiklah, besok mas minta Muna menemani kamu di rumah selama mas pergi. Dan untuk pulang pergi kursus akan ada pak Danu yang akan selalu stay di rumah." terang Dirga.


"Hem," hanya sekilas Kanaya menjawab Dirga benar-benar yakin sekarang kalau istrinya seperti tak ikhlas akan kepergiannya. Tapi mau bagaimana lagi kepergiannya tidak bisa di tunda atau di wakilkan pada orang lain, harus Dirga sendiri yang datang.


...****************...


Baru tadi dia mengatakan akan niat kepergiannya tapi sekarang dia sendiri yang berpikir kalau dia pasti akan sangat merindukan Kanaya.


Dirga terus ada di rumah sekarang, tak ada niat pergi kemana-mana dan menghabiskan waktu hari ini dengan kesibukan di rumah yang mereka kerjakan bersama-sama.


Masak untuk makan malam keduanya lakukan di dapur. Kanaya yang mengolah dan Dirga yang membantu memotong-motong sayuran juga lauk-pauknya.


Meski bisa masak tapi Dirga lebih senang makan masakan Kanaya. Ya, meski yang dia masak hanya makanan sederhana karena mengikuti resep di desa dan yang dia bisa tapi rasanya tetap tak kalah enak.


Bukan hanya meneduhkan hati dan matanya saja tapi Kanaya juga pintar memanjakan perut Dirga dengan masakannya yang sangat lezat.


Tumis kangkung, ayam goreng crispy juga ada ikan asin yang Kanaya masak. Ada juga orek tempe yang terlihat sangat menggiurkan. Pasti akan sangat memanjakan lidah.


"Akk, Mas!" teriak Kanaya ketika Dirga secara iseng menjentikkan jari-jarinya yang basah tepat di wajahnya.


Rasa dingin itu sangat terasa di wajahnya membuat Kanaya sangat terkejut tadi.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Mas ada di sini," jawabnya dengan sedikit terkekeh.


"Mas nggak kemana-mana kok. Masih selalu stay di rumah. Jadi apa yang kamu mau sekarang, Hem?" jarinya kembali iseng dan menoel hidung Kanaya.


"Mas! jangan becanda terus. Nanti masakan Aya gosong!" teriak Kanaya lagi.


"Gosong pun asal itu yang masak kamu pasti mas makan," jawabnya lagi begitu enteng.


"Bener ya! awas kalau nanti bohong. Kalau ada yang gosong dan nggak di makan maka besok-besok Aya nggak akan masak," Kanaya menegaskan.


"Siap ibu negara," Dirga memberikan hormat pada Kanaya yang mana membuat Kanaya malah tertawa.


"Tapi ada syaratnya," Dirga mendekat.


"Hem?" tentu Kanaya bingung dan langsung menatap Dirga yang berdiri di hadapannya.


"Mas mau makan ini dulu," katanya dengan tangan yang sudah langsung bergerak untuk menarik wajah Kanaya dan menyatukan bibirnya.


Kanaya terdiam, dia menerima perlakuan manis dari Dirga dan membiarkan apapun yang Dirga inginkan.


Tak tau kalau satu tangan Dirga juga bergerak untuk mematikan kompor jadi seberapa lamanya dia melakukan itu masakannya tidak akan gosong.


Manis. Itulah yang Dirga rasakan.


Lembut. Itulah yang Kanaya dapatkan. Semakin hari perlakuan Dirga semakin lembut padanya seolah tak dapat di percaya kalau masalah itu belum juga hilang.


Begitu lama keduanya saling hanyut dalam sentuhan yang sebenarnya semakin menuntut tapi kenapa Dirga masih tetap menahannya apakah dia masih sangat takut?


Krukk....


"Hem, maaf membuatmu jadi kelaparan. Sekarang biar mas saja yang teruskan masaknya," Bunyi perut Kanaya membuyarkan semuanya.


Kini Kanaya hanya bisa tertunduk malu karena tadi dia juga menikmati sentuhan Dirga.


"Hem, enak ya?" goda Dirga.


"Ih! apa sih mas!" Kanaya berteriak tapi dia tetap tertunduk malu.

__ADS_1


...****************...


Bersambung....


__ADS_2