Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Terima


__ADS_3

'Seharusnya aku mengikuti kata hatiku, bukan kata dari pikiranku. Tapi bagaimana bisa? bahkan aku sendiri tak bisa mendengar apa yang hatiku katakan. Pilihkan untukku jalan yang benar, jika ini salah maka gagalkan. Jika tetap tak bisa percayakan bahwa ini memang kehendak_Mu.'


#Kanaya Setya Ningrum


...****************...


"Cie cie cie! yang udah di lamar, bentar lagi naik pelaminan nih," goda Arifin pada Kanaya saat keduanya masuk. Sementara Dirga sudah pergi dari kediaman wak Tejo dan berniat untuk mengajak orang tuanya untuk melamar Kanaya secara serius.


Begitu tak sabaran Dirga untuk segera memiliki Kanaya sampai-sampai dia menggadang-gadang akan mengadakan pernikahan satu minggu lagi. Entah pernikahan seperti apa yang akan terjadi karena hanya melakukan persiapan satu minggu saja.


Arifin terus saja menggoda Kanaya sementara yang di goda terus acuh.


Hati Kanaya masih saja tetap bergelut dengan semua keadaan. Kenapa dia menerimanya?


Bahkan Kanaya sendiri tak mengerti. Hati kecilnya merasa begitu sesak, begitu sakit tetapi akal pikirannya seolah menutup rasa itu.


"Cie cie cie," lagi Arifin menggoda Kanaya dan akhirnya Kanaya menghentikan langkah.


"Apa sih, Mas! kalau Mas Arifin juga udah pengen banget nikah nggak usah godain Aya. Aya tau, sebenarnya Mas Arifin juga sudah sangat ingin nikah kan!" keberanian darimana hingga Kanaya menyerukan suara yang seperti itu pada Arifin. Biasanya dia akan selalu diam dan takut dengan apapun yang di katakan Arifin, tapi ini?


"Kamu kenapa? kalau udah mau jadi pengantin itu nggak boleh marah-marah, pamali!" Arifin mencapit hidung Kanaya dengan gemas tentu sang empu akan langsung melayangkan protes padanya.


"Mas!" wajahnya menghindar cepat meski sudah telat, sementara tangannya juga terangkat untuk mengibaskan tangan Arifin yang berulah.


"Iya iya!" akhirnya Arifin melepaskan sendiri tangannya dia juga langsung melaju keluar rumah. Sementara Kanaya langsung berlari masuk ke dalam kamar.


Ada apa dengan diriku?


Itulah yang menjadi pertanyaan Kanaya sekarang. Terduduk lemas di atas ranjangnya, meraih bantal lalu memangkunya.


Pikiran Kanaya begitu kalut, hatinya terasa penuh dan sesak. Tak ada kata yang bisa keluar dan hanya air matanya saja yang sudah keluar tanpa permisi.


Kenapa antara hati nuraninya juga akal pikirannya sama sekali tidak sama, kedua saling bertarung dan menyerukan pendapat masing-masing. Membuat Kanaya semakin pusing.


Akal pikirannya sudah terkontaminasi akan Dirga hingga tak ada secuil saja tempat tentang Yuan yang selama ini selalu ada dan terus berusaha membahagiakannya.


Bayangan wajah Dirga, senyumnya juga semua tingkah keisengannya terus berputar di kepala Kanaya bagaikan sebuah kaset yang di putar terus menerus.

__ADS_1


Sembunyi di mana kenangan juga harapan tentang Yuan saat ini?


Begitu cepat dan terasa sangat mudahnya Dirga menggantikan posisi Yuan dalam dirinya.


Kanaya seperti orang linglung, tak bisa berpikir dengan benar, tak bisa mengambil keputusan dengan hati. Semua terjawab begitu saja tanpa permisi.


Siapa yang membuatnya seperti ini?


Tentu pelakunya adalah Dirga Gantara yang begitu tergila-gila dan begitu terobsesi ingin memilikinya.


"Astaghfirullah hal 'azim," di usapnya air mata yang terus mengalir. Tubuh Kanaya ambruk begitu saja di kasur, perlahan matanya terpejam.


'Semoga Allah menyiapkan takdir terbaik untuk kita ya, Ayya.'


Suara Yuan menggema keras dari hati nuraninya dan melewati lorong-lorong sempit yang sudah terpenuhi dengan Dirga Gantara. Mencari jalan keluar dan ingin menyadarkan Kanaya yang seperti orang linglung.


"Kang Yuan!" Kanaya terperanjat, dia membuka matanya juga langsung duduk dengan mata yang terbelalak. Ternyata jeritan dari hati nuraninya sampai juga di akal pikirannya.


Kanaya terpaku dalam diam seribu dalam kata. Ekspresi wajahnya benar-benar seperti bukan Kanaya beberapa saat yang lalu di saat Dirga belum datang.


"Ahhh!" jerit Kanaya merasakan pusing yang amat sangat.


Hatinya terus memaksa untuk mengingat Yuan tetapi akal pikiran juga anggota yang lainnya menolak dan terus menutupnya.


Mahabbah seperti apa yang Dirga berikan padanya sampai-sampai dia menjadi seperti ini.


Kanaya tidak berpikir sejauh itu, yang ada dalam pikirannya adalah dia begitu senang karena sebentar lagi akan naik ke pelaminan dengan Dirga. Padahal di hati nuraninya tengah menjerit-jerit dan hanya air mata yang terus keluar tanpa adanya sebuah penjelasan.


"Ayya!" panggil wak Tejo.


Kanaya yang tengah membungkuk dalam duduknya kembali tersadar. Dia langsung duduk tegak dan cepat menjawab.


"Bentar, Wak!" jawab Kanaya yang juga menjerit.


"Sini sebentar, Nduk!" Suara wak Tejo begitu mendayu-dayu seolah penuh dengan kasih sayang tak seperti biasa yang selalu saja kasar. Bukan hanya Kanaya yang berubah, bahkan wak Tejo juga sama.


"Iya, Wak!" Kanaya cepat menghapus air matanya, berlari keluar untuk menghampiri wak Tejo yang memanggil. Sepertinya ada hal yang ingin di bicarakan.

__ADS_1


"Sini duduk," wak Tejo menepuk-nepuk tempat di sebelahnya memintanya Kanaya duduk di sana. Di tengah-tengah antara wak Tejo juga wak Ami.


Perlahan Kanaya duduk, dia menunduk saat kedua wak_nya memandangnya.


"Aya, apakah kamu sudah sangat yakin menerima Dirga dan akan menikah dengannya?" begitu lembut wak Ami berbicara.


Dialah perempuan kedua setelah ibu yang benar-benar membuat aku bahagia. Perempuan yang tulus sama seperti ibu. Juga perempuan yang meneruskan perjuangan ibu untuk membuatku menjadi lebih baik lagi.


"Kenopo tanya seperti itu, Mak. Aya sendiri tadi yang bilang dia sudah siap. Dia juga sudah menerimanya," ucap wak Tejo tak terima dengan pertanyaan wak Ami.


"Apa sih, Pak. Mak hanya mau dengar sendiri dari Kanaya. Kala dia mengatakan siap di hadapan ku aku akan ikhlas. Aku juga pasti akan mendukungnya," keduanya malah ingin berdebat sendiri karena masalah ini.


"Iku, jawab, Ayy! jangan berubah-ubah jawabanmu. Opo wak akan di permalukan nantinya," kembali suara wak Tejo seperti biasanya. Selalu kasar juga penuh penekanan.


"Bagaimana, Ayy. Apa kamu benar-benar menerimanya, tanya lagi wak Ami.


Aku terus menimang-nimang kata yang akan menjadi jawabanku. Rasa ragu sungguh sangat besar di dalam hatiku. Tapi tiba-tiba saja...


"Aku menerimanya," jawabku spontan. Entah darimana kata-kata itu muncul tapi yang jelas sudah langsung keluar begitu saja dari mulutku.


Wak Ami diam dalam perasaan tak percaya, sementara wak Tejo tersenyum gembira.


"Tuh kan, Mak. Kanaya itu sudah menerimanya," kata wak Tejo di iringi dengan senyum sumringah.


"Baiklah kalau kamu sudah menerimanya. Wak tidak bisa apa-apa kalau itu memang sudah menjadi keputusanmu. Semoga kamu tidak salah langkah dan keputusanmu tidak akan membuat mu menyesal di kemudian hari."


Ucapan wak Ami hanya seperti angin saja di telinga Kanaya, hanya sebatas lewat, berlalu begitu saja tanpa singgah terlebih dahulu. Tak seperti biasanya yang selalu mendengar dan mencerna dengan baik, tapi kali ini semua tidak ada yang di gubris.


"Mungkin besok Dirga baru datang, Mak. Dan kita harus menyiapkan segalanya," ucap wak Tejo.


"Hem," wak Ami mengangguk. Jika sudah seperti ini hanya doa dan juga restu yang bisa wak Ami berikan pada Kanaya.


'Semoga kamu akan selalu bahagia, Ayya. Di manapun kamu berada dan dengan siapapun kamu berdampingan,' batin Wak Ami.


...****************...


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2