Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Angan Untuk Masa Depan


__ADS_3

'Sebuah angan indah mulai tercipta, semua mimpi manis mulai berbaris menyambut masa yang akan datang. Masa yang paling membahagiakan dalam kehidupan kita. Tetaplah bersamaku dan kita jalani kebahagiaan bersama-sama hingga akhir.'


#Dirga Gantara


...****************...


'Ekhem!


Kanaya juga Muna langsung menoleh saat mendengar suara dekheman dari Dirga. Kanaya langsung terdiam dengan mata membulat tak percaya. Dia juga gugup sekaligus takut kalau sampai Dirga mendengar obrolan mereka berdua tadi.


Sudah terlalu banyak Kanaya merepotkan Dirga, sudah begitu banyak yang Dirga wujudkan untuknya dan sekarang tidak lagi. Lagian itu juga bukan benar-benar ingin, tapi Kanaya hanya berpikir seandainya saja.


"Tu_tuan sudah pulang?" Kanaya seketika beranjak setelah Dirga sudah berhenti di hadapannya.


Kanaya menerima uluran tangan dari Dirga juga mengecupnya perlahan. Tangan Dirga terasa panas juga lembab mungkin karena dia habis dari luar yang begitu panas saat ini.


"Assalamu'alaikum," ucap Dirga seraya tersenyum ke arah Kanaya yang membungkuk mengecup tangannya.


"Wa'alaikumsalam," bukan hanya Kanaya yang menjawab tapi Muna juga sama. Keduanya menjawab hampir bersamaan namun dengan nada yang berbeda. Muna tampak biasa saja tapi Kanaya terdengar sangat gugup.


Entah apa yang Dirga bawa di dalam paper bag cokelat yang kini masih dia bawa itu.


"Lanjutkan saja ngobrolnya, aku mau bersih-bersih dulu, gerah," katanya dan langsung mendapatkan anggukan dari Muna.


Dirga melangkah lebih dulu berniat untuk meninggalkan Kanaya juga Muna untuk kembali ngobrol tapi sepertinya tidak untuk Kanaya yang akhirnya pamit juga sama Muna.


"Mbak, saya ke kamar dulu ya," pamit Kanaya. Jelas Kanaya ingin mempersiapkan kebutuhan Dirga di kamar. Menyiapkan semua baju yang ingin dia pakai.


"Iya, aku akan menunggu," Muna kembali duduk di tempat yang tadi kembali menikmati keripik pisang yang tadi di bawa oleh Kanaya. Bahkan Muna juga langsung mengambil sama wadahnya dan memangku nya.


...****************...

__ADS_1


Dirga yang tengah melepaskan jaketnya terkejut melihat kedatangan Kanaya yang tiba-tiba masuk juga menutup pintunya.


Istrinya itu terlihat sangat gelisah entah apa yang dia pikirkan tapi Dirga tau apa yang ada di pikiran Kanaya. Dia pastilah takut kalau sampai Dirga mendengar obrolannya tadi bersama Muna.


"Kenapa, Nay?" Dirga menghampiri Kanaya setelah dia menaruh jaketnya di gantungan yang ada di sebelah lemari. Semakin dekat dengan Kanaya yang terdiam dan terpaku di tempat.


Tangannya terus memilin-milin ujung hijabnya dengan wajah p yang menunduk. Kanaya hanya melirik kecil saat Dirga sudah berdiri di hadapannya.


"Tu_tuan. Tuan baru pulang kan?" Kanaya ingin memastikan kalau Dirga memang baru pulang dan tidak mendengar semua perkataannya tadi.


"Ada apa, apa ada yang kamu sembunyikan? atau ada sesuatu yang tidak boleh aku tau?"


"Bu_bukan seperti itu. Ta_tapi?"


"Tenang, aku baru pulang kok. Apapun yang kalian katakan aku tidak melihat."


Ya! memang tidak melihat tapi mendengar. Bahkan semuanya Dirga mendengarnya dari A sampai Z yang Kanaya katakan dia tau. Tapi Dirga tidak mau sampai Kanaya tau itu dan akan merasa semakin tak enak. Biarkan semuanya Dirga lakukan dengan perlahan dan tidak ada curiga.


Bukan hanya Kanaya yang sangat senang tapi Dirga lebih senang lagi karena melihat senyum Kanaya di hadapannya. Sekarang Kanaya semakin murah senyum pada Dirga tak seperti dulu yang begitu dingin dan terkesan cuek-cuek bebek.


Senyum yang begitu manis membuat Dirga begitu terpesona hingga akhirnya tangan terangkat dan menyentuh dagu Kanaya. Sedikit mengangkat wajah Kanaya lalu mencium bibirnya dengan sangat lembut.


Mata Kanaya seketika membulat tak tau kalau Dirga akan menciumnya di sana. Kanaya terdiam namun pipinya semakin merah.


Sentuhan yang begitu manis apakah akan berlanjut ke acara selanjutnya? Tapi bagaimana kalau Dirga masih belum bisa mengendalikan semuanya.


'Perlahan harus aku lakukan, Nay. Aku harus bisa belajar untuk mengendalikannya. Maaf jika aku harus meminta bantuan mu, karena hanya kamu yang bisa membantuku. Tak mungkin aku melakukannya pada orang lain,' batin Dirga.


Ternyata apa yg kali ini dia lakukan adalah proses pengendalian diri. Memang semakin lembut sentuhan Dirga daripada yang kemarin. Mungkin inilah yang Dirga dapatkan dari pertemuan kedua pada dokter Rendra hari ini.


"Terima kasih," Dirga melepaskan bibirnya dari bibir Kanaya. Semua memang harus di lakukan sedikit demi sedikit, tidak boleh dengan buru-buru karena takut di tengah-tengah masalah Dirga ini kembali kambuh.

__ADS_1


"Hem," Kanaya tertunduk, dia merasa lega karena tak ada kekerasan lagi. Ya! meski belum begitu lembut tapi sudah lebih baik.


"A_aku akan menemui Muna," Kanaya menghindar, dia sangat malu untuk terus di hadapan Dirga. Sampai-sampai Kanaya melupakan apa yang menjadi tujuan sebenarnya dia datang ke kamar.


"Hem," izin dari Dirga berikan dan kini Kanaya langsung melesat pergi meninggalkannya.


Di sentuhnya bibir sendiri, Dirga tersenyum karena dia merasa bahagia bisa melakukannya dengan lembut tanpa harus ada kekerasan lagi.


"Seperti ini lebih manis," gumamnya.


Begitu memuji dirinya sendiri, Dirga menjadi tak sabar ingin secepatnya sembuh dan bisa melakukan yang lebih lagi dengan penuh kelembutan. Dengan itu bukan hanya dirinya saja yang menikmati tapi Kanaya juga.


Berhubungan dua kali tapi tidak ada yang membuat Dirga merasa senang. Tapi dia malah merasa mendzolimi Kanaya. Pertama dia melakukannya dengan paksa juga kekerasan, dan yang kedua di saat Kanaya tidak sadar meski dia sendiri akhirnya tau kalau Kanaya menyadarinya. Tapi itu tak ada yang menguntungkan.


"Aku tidak sabar menunggu saat-saat itu, Ya Allah. Sembuhkan lah aku secepatnya hingga aku bisa menggauli istriku dengan cara yang benar," gumamnya lagi.


Dirga menoleh ke paper bag yang tadi dia bawa. Ada dua kotak di dalamnya yang satu dia ambil dan yang satu dia biarkan lalu dia simpan beserta paper bag nya.


Beberapa obat dari dokter Rendra yang harus Dirga konsumsi. Bukan hanya memberikan wejangan-wejangan saja dokter Rendra pada Dirga tapi juga obat untuk lebih mempercepat kesembuhannya.


Tidak hanya itu saja, tapi masih banyak hal-hal yang harus Dirga lakukan. Terapi ini itu, semua harus di lakukan apa yang sudah dokter Rendra katakan.


Dirga hanya bisa pasrah pada dokter Rendra, dia yang lebih tau dan lebih bisa menangani apa yang di alami Dirga. Dirga optimis bahwa dia akan secepatnya sembuh.


"Setelah sembuh, pasti hanya akan ada kebahagiaan untuk kita, Nay. Tidak ada yang saling tersakiti yang ada hanyalah kebahagiaan," gumamnya lagi.


Betapa indah bayangan itu. Di saat semuanya berjalan seperti yang Dirga inginkan. Dia juga Kanaya akan bahagia dengan saling menyayangi dan juga mencintai.


'Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan'


...****************...

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2