Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Tak ada yang mustahil


__ADS_3

...****************...


Entah apa yang ingin Dirga dan Yuan bicarakan tapi Dirga meminta Kanaya dan Hani masuk lebih dulu. Tentu akan langsung di setujui oleh Hani juga Kanaya.


Dengan begitu mereka juga punya kesempatan untuk bisa bersama-sama, dan


saling temu kangen dan saling bertukar cerita. Meski ada sedikit rasa takut kalau Kanaya akan mengatakan apa yang pernah dia lakukan padanya tapi Dirga tetap akan yakin Kanaya tidak akan mungkin membuka aib suaminya.


"Terimakasih kamu sudah berkenan datang karena permintaan ku," dan ternyata Kedatangan Yuan adalah keinginan Dirga. Dia yang telah menyuruhnya.


Tapi Dirga hanya mengira kalau Yuan tidak akan datang bersamaan dengan Hani jadi pas Kanaya minta izin ke tempat Hani dia langsung mengizinkannya.


"Ada apa, apakah ada masalah penting yang memang harus di bicarakan?" tanya Yuan. Kali ini tak ada canggung di keduanya. Keduanya saling berbicara juga jelas tak ada kebencian atau dendam.


"Sepertinya saya sudah menemukan orang yang membuat surat itu. Dia adalah mas Arifin. Sepupu Kanaya sendiri," jelas Dirga.


"Benarkah? kamu tidak berbohong kan? kamu punya buktinya kan?" tak langsung percaya begitu saja Yuan.


Memang Arifin sangat tidak menyukai hubungan mereka berdua tapi bukannya Arifin menyukai hubungan Kanaya dan Dirga, lalu untuk apa dia melakukan itu?


"Saya ada buktinya. Ini saya temukan di kamar Kanaya. Lihatlah, bukannya tulisannya sama persis?" Di perlihatkan kedua tulisan di kertas yang berbeda tapi model penulisannya sangat sama. Tak ada perbedaan sama sekali.


"Tapi mana mungkin, apa tujuan dia sebenarnya?" Yuan masih tak mengerti juga tak percaya begitu juga dengan Dirga yang tak tau tujuan Arifin yang sebenarnya.


"Itu dia yang tidak aku ketahui. Kenapa dia melakukan ini. Tapi menurutku sebenarnya sasaran mas Arifin sebenarnya itu adalah Kanaya. Jelas karena dia ingin Kanaya menceritakan."


"Tapi kenapa harus menggunakan namaku?"


"Itulah yang harus di cari. Tapi, aku sangat yakin mas Arifin memiliki maksud tidak baik pada Kanaya. Dia jelas ingin membuat Kanaya menderita," terang Dirga.


"Setelah ini apa yang akan kamu lakukan?"


"Ada," Dirga tersenyum penuh arti tapi dia tak mau mengatakan apapun pada Yuan. Biarlah ini menjadi pekerjaannya sendiri. Biar bagaimana pun Dirga tidak mau Yuan ikut campur terlalu jauh, ini adalah keluarganya.


Keduanya kembali hening, tapi sepertinya masih begitu banyak yang mereka berdua pikirkan.

__ADS_1


"Yuan, apakah kamu masih mencintai Kanaya? seandainya Tuhan menginginkan kehendak lain apakah kamu masih bisa menerima Kanaya?"


Pertanyaan Dirga membuat Yuan terpaku. Kenapa Dirga bertanya seperti itu? Apakah dia tidak bahagia dengan Kanaya, apakah dia memiliki niat untuk untuk meninggalkan Kanaya?


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? awas ya, Ga. Sampai kamu menyakitinya atau meninggalkannya aku tidak akan memaafkan mu. Jika kamu sampai berani menyakitinya kamu akan langsung berhadapan denganku," mata Yuan melotot.


Jelas dia masih mencintai Kanaya. Tapi apalah daya, dia sudah gak bisa mendapatkannya hingga dia hanya bisa mendukung Kanaya untuk bisa terus bahagia.


"Hem, terimakasih jawabannya. kamu memang laki-laki baik, Yuan. Pantas saja Kanaya sangat susah melupakanmu," ucap Dirga.


Ada apa ini, kenapa perkataan Dirga seperti ini? apakah di hatinya ada rasa cemburu karena pertemuan ini yang sebenarnya dia sendiri yang memintanya?


Jika saja Dirga tidak memaksa Yuan juga tidak akan datang ke sana. Dia dan dia tidak akan bertemu dengan Kanaya.


Jika pertemuan yang Dirga buat memunculkan kecemburuan kenapa dia menginginkan pertemuan ini?


...****************...


Kanaya dan Hani ada di dalam kamar Hani saat ini, keduanya sama-sama duduk dan juga saling berhadapan.


"Ay, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Hani begitu khawatir karena temannya itu terus diam.


Memang, dari dulu Kanaya tak banyak bicara tapi tetap dia bercerita banyak saat bertemu seperti ini. Apalagi mereka baru bertemu setelah waktu yang sangat lama.


"Tidak, aku tidak apa-apa kok, Han," bibirnya mengatakan tidak apa-apa tapi nyatanya wajahnya masih terlihat sangat muram juga dengan tatapan yang sering kosong.


Hani tau, ini tak akan mudah untuk Kanaya tapi mau bagaimana lagi, inilah yang terjadi.


"Aya, aku tanya padamu. Saya mohon jawab dengan sangat jujur," Hani membalikkan Kanaya hingga keduanya benar-benar saling berhadapan begitu juga dengan mata yang saling bertatapan.


Kanaya tidak menjawab namun dia terlihat sangat bingung apa yang ingin Hani tanyakan.


"Ay, apakah kamu masih mencintai kak Yuan?" tanya Hani yang sontak membuat Kanaya tersadar dengan mata membulat.


"Atau mungkin kamu sudah melupakannya? apakah kamu sudah menerima suamimu?" Kembali Hani bertanya sekedar untuk memastikan.

__ADS_1


"Bukankah seorang istri hanya boleh mencintai suaminya saja, Han? lalu, bagaimana mungkin aku tidak menerima mas Dirga sebagai suamiku," jawab Kanaya dengan sangat yakin.


"Iya, sih. Tapi bagaimana dengan hatimu. Apakah sudah benar-benar menerimanya?"


Pertanyaan Hani malah membuat Kanaya tersenyum, ternyata sahabatnya tidak berubah dan akan selalu cerewet seperti dulu bahkan sampai sekarang.


Kanaya sangat bahagia, setidaknya Hani tidak marah padanya seperti saat itu. Hani sudah memaafkannya.


"Kenapa kamu malah tersenyum seperti itu? apakah pertanyaan ku ini lucu bagimu?" terlihat Hani sangat kesal sekarang.


Tapi melihat Hani yang kesal Kanaya malah langsung memeluk Hani dengan sangat erat.


"Kamu tidak membenci ku kan, Han?" dan malah pertanyaan itu yang muncul dari Kanaya. Meskipun mereka sudah tinggal begitu jauh tapi Kanaya masih sangat takut kalau Hani akan marah padanya.


Terdengar kalau Kanaya sudah sesenggukan di pelukan Hani saat ini. Meskipun Kanaya tidak mengatakannya tapi Hani sangat tau apa yang Kanaya rasakan. Tak mudah menjadi Kanaya.


"Sabar ya, Aya. Aku yakin kamu akan bahagia dengan mas Dirga. Dia terlihat sangat baik kok. Dia juga begitu mencintaimu, itu benar kan?" Hani berbicara.


Kanaya terus saja memeluk Hani rasanya tak ingin melepaskan. Terlalu nyaman berada di dekapan sahabat sendiri seperti ini.


"Han, apakah Kang Yuan membenci ku?" kini Kanaya melepaskan pelukannya dari Hani.


Hani sedikit terkejut ternyata Kanaya sudah berlinang air mata dan kini tengah berusaha untuk menghapusnya.


"Tidak, Kak Yuan tidak akan mungkin membencimu. Tidak mungkin seseorang membenci orang yang pertama kali menjadi pemilik hatinya, Aya. Bahkan aku yakin Kak Yuan juga tidak akan bisa melupakan mu meski suatu saat ada perempuan lain yang bersanding dengannya."


"Itu tidak boleh terjadi, Han. Kang Yuan harus bahagia meski dengan wanita lain. Kang Yuan harus melupakan ku, Han."


Hal yang tidak mungkin di lakukan oleh Kanaya sendiri tidak akan mungkin di lakukan oleh Yuan juga. Jika Kanaya sendiri tidak bisa melupakan Yuan bagaimana dengan dia sendiri.


Ya, meski sekarang jalannya sudah berbeda tapi sebuah kenangan indah tak akan bisa di lupakan. Selamanya.


...****************...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2