Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Benarkah Ini Cinta?


__ADS_3

...****************...


Di sinilah Dirga juga Kanaya berada, di kamar mereka berdua. Di dalam kehangatan mentari pagi tapi sebaliknya pengaruh di keduanya yang sama-sama menggigil karena gejolak rasa dari keduanya.


Kecewa, kesedihan tapi ada sebuah getaran cinta yang berada di tengah-tengahnya dan terasa bersembunyi di balik rasa yang lebih mendominasi.


Rasa kecewa bertarung dengan rasa penyesalan. Keduanya duduk saling berdampingan tapi dengan wajah menunduk dan tak saling bertatapan.


Atmosfer seketika berubah, dari kedamaian penuh kebahagiaan kini menjadi mencekam dengan sebuah kegelisahan.


"Bagaimana kalau saya pergi?" kedekatan yang semula menggunakan kata Aku kini berubah menjadi kata Saya dari mulut Kanaya. Begitu besarkah kekecewaan Kanaya? begitu cepat berubah kah hati Kanaya hingga tak bisa benar-benar memaafkan kesalahan Dirga?


"Apakah anda akan benar-benar ikhlas dan mau bertanggung jawab dengan semua yang telah terjadi?"


Ucapan Kanaya menjadi begitu formal juga begitu dingin. Seperti inilah Kanaya sebelum mendapatkan mahabbah dari Dirga, benarkah semuanya memang sudah luntur dan tak ada sedikitpun yang tertinggal?


Benarkah tak lagi ada sedikit rasa di hati Kanaya dan hanya sebuah keburukan Dirga saja yang terlihat dimatanya? apakah semua kebaikan juga ketulusan Dirga selama ini yang dia lakukan juga tidak nampak sedikitpun?


Dirga hanya pasrah, mungkin inilah yang harus dia terima. Kebencian dari Kanaya dan sebentar lagi mungkin dia akan di tinggalkan. Tapi, setidaknya dia sudah lega, semua sudah gugur di dalam hatinya, kewajiban untuk mengatakan kejujuran juga mengakui kesalahan ataupun meminta maaf sudah dia lakukan.


Akhir, hanya Kanaya yang bisa menentukan dan Dirga akan ikhlas meski yang dia dapat akan sangat menyakitkan.


"Apakah Anda benar-benar akan mengembalikan senyum ku, kebahagiaan ku?" Kanaya kembali bersuara. Sementara Dirga satu katapun juga belum keluar dari mulutnya.


Mulut Dirga seolah kelu dan tak bisa berucap. Tenggorokannya terasa sangat kering juga terasa di cekik oleh keadaan.


Nafas Dirga, jelas tidak teratur dan dadanya naik turun seolah tak seirama. Sesakit inikah jika mengutamakan kejujuran?


Tapi, jika mengabaikan kejujuran apakah selamanya juga akan bahagia? apakah tidak akan ada duka sampai kemudian hari? Tidak! duka akan lebih besar karena penyesalan dan rasa bersalah akan selalu menghantui.


"A_aku ikhlas. Jika kamu lebih memilih pergi aku ikhlas. Itu adalah jalan hidup mu dan aku akan bertanggung jawab dengan semua yang sudah aku rusak."


Sedikit Dirga melirik ke arah Kanaya melihat wanitanya dengan yang masih terus menangis dengan gelisah.


"Apakah Anda tidak akan menahan?"


"Tidak, buat apa aku menahannya. Apa hanya karena cintaku aku mengorbankan kebahagian mu. Kamu berhak bahagia dengan siapapun, Nay. Dan aku akan ikhlas meski itu tidak bersamaku."


Begitu yakin Dirga mengatakan tapi tidak dengan keadaan hatinya yang begitu sakit. Hatinya jauh lebih parah, lukanya tak berbekas tapi sakitnya luar biasa di rasakan.


Siapa yang tidak akan sakit jika melepaskan seorang yang di cintai. Melepaskan semua mimpi indah dan di paksa harus menguburnya dalam-dalam.


"Dalam hidup, kita memang bisa mengharapkan sesuatu, kita bisa memimpikan sesuatu tapi semua tergantung pada nasib juga takdir yang sudah menjadi ketentuan-Nya."


"Mungkin, kamu hanya bisa menjadi harapan ku, menjadi mimpiku, juga menjadi kenangan manis dalam hidupku. Aku ikhlas, asal kamu bahagia dengan siapapun yang kamu cintai."

__ADS_1


"Aku tidak mau egois dengan terus menahan mu bersamaku. Aku tidak mau terus membuat duka di hatimu."


"Maafkan aku, atas kebahagiaan, cinta dan juga mimpi indah mu yang telah aku renggut darimu."


"Apakah Anda benar-benar tidak akan menahan ku?" sekali lagi Kanaya menegaskan.


"Jika aku mengikuti ego ku dan juga cinta ku maka aku akan menahan mu. Aku akan memenjarakan mu hingga selamanya dan tak aku beri kesempatan kamu untuk keluar."


"Tapi dalam sebuah ikatan bukan hanya ego juga cinta sepihak yang di butuhkan. Aku menginginkan ikatan yang bisa saling memberikan cinta dan bisa membangun ikatan yang kuat bersama-sama tanpa di menangkan oleh ego dari salah satunya. Aku ingin cinta, Nay. Bukan ego."


"Sekarang hanya ada cinta di hatiku, Nay. Aku tidak mau di kendalikan oleh egoku. Jika kamu memang memilih pergi meninggalkan ku, Aku ikhlas, aku akan berusaha bahagia dan menerima dengan siapapun kamu kedepannya."


"Tapi, jika kamu memilih bertahan. Aku akan berusaha untuk bisa membuat mu bahagia. Aku tidak akan pernah menuntut kamu bisa memberikan cinta mu, karena aku tau tidak akan mudah untukmu memberikan itu. Tapi setidaknya, taruh sedikit namaku di dalam hatimu."


Dirga kembali diam, sementara Kanaya? dia menoleh ke arah Dirga meminta keaslian semua kata-kata dari sorot matanya.


Duka juga penyesalan benar terlihat oleh Kanaya.


'Kenapa hatiku merasa sesakit ini melihat dia seperti ini? ada apa dengan ku?' batin Kanaya.


Kenapa, seolah duka Dirga menjadi dukanya juga. Semua rasa yang Dirga rasakan kenapa terasa terbagi di dalam dirinya.


Benarkah itu karena cinta?


Benarkah ada yang tersisa setelah semua yang datang karena mahabbah itu sudah pergi. Apakah itu artinya ada cinta yang datang dari Sang Pemilik Cinta?


'Apakah aku mulai mencintainya?' batin Kanaya lagi.


Hati Kanaya masih terus berperang membedakan itu benar-benar cinta atau hanya sebatas rasa yang hadir karena kasihan.


"Aku akan bantu kamu berkemas. Setelah itu aku akan antar kamu kemana pun pergi." Bukan tanpa alasan Dirga mengatakan itu. Tapi Dirga menyimpulkan itu karena diamnya Kanaya.


Bukan maksud Dirga untuk mengusir Kanaya dengan cepat dari rumahnya. Tapi, bukankah lebih cepat lebih baik?


"Aku akan mengantarkan mu pada orang yang benar-benar mencintaimu dan yang kamu cintai. Yuan, dia pasti sudah menunggumu."


Tak mudah untuk Dirga mengatakan itu bahkan dia sudah berdiri dan menyembunyikan dukanya yang terus keluar bersamaan dengan air mata.


Tekatnya sudah bulat dia akan menyerahkan Kanaya pada Yuan.


Kanaya ikut berdiri, dia berjalan dan berdiri di depan Dirga. Melihat dengan jelas dukanya.


"Kenapa, apakah benar mas tidak mencintai Aya? Apakah mas tega melepaskan Aya setelah mas merenggut semuanya dari Aya?"


"Semuanya tak ada yang tersisa, Mas. Semuanya sudah mas ambil dari Aya. Senyum, kebahagiaan, masa depan, mimpi, kehormatan semua sudah mas ambil. Lalu mas mau membuang Aya begitu saja?"

__ADS_1


"Dimana cintamu, Mas! dimana semua janji mu?" mata Kanaya begitu nyalang penuh keberanian. Memandangi Dirga tanpa rasa ketakutan.


"Apakah mas akan membuang Aya begitu saja setelah semuanya mas ambil?"


Kanaya mencengkram baju Dirga, dia terlihat begitu emosional saat ini. Bagaimana bisa Dirga akan melepaskan dirinya setelah dia sudah mengambil semua darinya. "Katakan, Mas! katakan!"


"Di mana hatimu, Mas. Dimana!" Kanaya semakin kuat bahkan dia juga menarik baju Dirga hingga begitu lusuh.


Keduanya sama-sama menangis kamar itu bagaikan banjir akan air mata mereka berdua. Kamar yang menjadi saksi perdebatan pertama kali dari mereka berdua.


"Bagaimana kalau Aya mengatakan kalau cinta Aya juga sudah mas ambil, apakah mas akan tetap melepaskan Aya?" tangis Aya semakin pecah.


Mata Dirga membulat seiring dengan air mata yang terus keluar.


"Kamu telah mengambil semuanya, Mas. Bahkan cintaku juga sudah kau ambil bagaimana mungkin Aya bisa pergi."


Wajah Kanaya meringsuk di dada Dirga di atas tangannya yang masih mencengkram baju Dirga. Tangis semakin pecah bahkan suaranya juga sangat keras.


Antara percaya dan juga tidak, benarkah Dirga sudah membuat Kanaya mencintainya? benarkah cinta itu benar-benar ada untuknya?


Dirga ikut tersedu tapi dia masih terpaku dalam kebingungan juga rasa tak percaya.


"Kamu jahat, Mas. Kamu jahat," ucap Kanaya di sela-sela tangisnya.


Hal itu membuat Dirga tersadar, kedua tangannya begitu berani untuk terangkat mendekap sang istri yang menumpahkan tangis di dadanya.


"Maafkan Mas, Nay. Maaf," katanya.


"Sekarang aku akan menghalangi mu jika kamu mau pergi," didekapnya semakin erat. Keduanya terus menangis.


Rasa Dirga begitu campur aduk, dia tidak percaya kalau dia bisa secepat ini membuat Kanaya mencintainya. Dia tak percaya kalau akhirnya dia mendapatkan cinta Kanaya, rasanya kini terbalas. Kebahagiaan seperti apa lagi yang dia harapkan yang lebih besar dari ini.


Kanaya telah memilihnya, dan memilih bertahan dan menyampingkan semua kesalahannya.


"Jangan biarkan aku pergi," Kanaya masih saja tersedu.


"Tidak, mas tidak akan membiarkan kamu pergi," di apit wajah Kanaya, di hapus semua air matanya hingga kering namun tetap saja kembali basah karena Kanaya masih terus menangis.


Tak tahan dengan tangisnya Kanaya kembali memeluk Dirga dengan sangat erat. Dia tak ingin melepaskannya.


'Aku tak tau kapan aku mulai mencintai mu, Mas. Tapi yang jelas aku ingin selalu bersamamu. Aku merindukan mu ketika kamu jauh, dan aku ingin selalu bersamamu. Bahkan aku juga ikut sakit saat kamu tengah berduka. Ini benar-benar cinta kan, Mas?' batin Kanaya.


...****************...


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2