Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Sisi Lain Dirga


__ADS_3

'Maafkan aku. Tanpa sengaja aku telah menyakitimu. Aku sendiri tak tau apa yang terjadi papaku.Ya Allah maafkan aku, aku tau yang ku lakukan salah. Tapi aku juga tak mau kehilangan dirinya. Kanaya, maafkan aku."


#Dirga Gantara


*********


Kanaya begitu ketakutan, tangisnya semakin pecah kala Dirga memaksakan kehendaknya untuk Kanaya menjadi miliknya seutuhnya. Di kamar penginapan, Dirga terus memaksa Kanaya meski dia terus memohon ampun, berontak juga ingin di lepaskan.


Semua kata-kata Kanaya tak ada satupun yang di dengar oleh Dirga, dia seakan sudah begitu harus menyentuh Kanaya. Bukan hanya sekedar menyentuh melainkan menyatukan dirinya juga Kanaya selayaknya suami istri pada umumnya.


Kanaya terus menghindar dari kungkungan Dirga tapi tetap saja dia akan terus tertangkap. Tempat yang semula rapi dan begitu indah kini sudah berserakan karena Kanaya terus melemparkannya kepada Dirga.


Mungkin, Kanaya akan memberikan apa yang menjadi hak Dirga sekarang juga kalau dia memintanya dengan baik-baik. Karena Kanaya juga tau akan hukumnya istri yang menolak ajakan suaminya untuk bergemul. Tapi dengan cara Dirga sekarang? Itu akan membuat Kanaya takut padanya.


"Akk! Jangan Tuan, tolong lepaskan Kanaya! Akk!" Teriak Kanaya histeris setelah dia berhasil tertangkap oleh Dirga.


Dia sudah ambruk di lantai, saat dia ingin berlari lagi kakinya di tarik dengan kasar oleh Dirga.


Plakk...


Satu tamparan tepat mendarat di pipi Kanaya sebelah kiri. Perih. Itulah yang Kanaya rasakan setelah pipinya memerah mendapatkan cap tangan dari Dirga.


Sementara Dirga sendiri, dia malah terkekeh melihat Kanaya yang kesakitan. Dia malah semakin ingin menyatukan dirinya saat melihat Kanaya kesakitan. Semakin Kanaya meringis kesakitan, Dirga semakin puas dan semakin menggila.


Dirga terus menyakiti Kanaya. Memukulnya berkali-kali bahkan menyakiti Kanaya dengan gesper yang dia pakai. Semakin Kanaya kesakitan semakin gairah Dirga semakin besar.


Apa yang terjadi pada Dirga? Apakah ada sebuah kelainan dalam dirinya?


Dirga pun tidak tau, karena dia sendiri juga seolah tak sadar dan dia seakan terbawa pengaruh ketidaksadaran.


"Tolong lepasin Aya, Tuan." Suara Kanaya semakin lirih tak berdaya. Dia sudah kehilangan tenaga untuk melawan tenaga Dirga yang begitu kuat.


Di mana Dirga yang kemarin? Pikir Kanaya.


Dirga yang kemarin seperti seorang Malaikat yang memiliki hati yang sangat lembut penuh kasih. Tapi sekarang? Dia seperti seorang pria yang kesetan*n.


Semua Dirga tanggalkan, memaksa Kanaya melayani gairahnya yang membesar.


Sakit.


Itulah yang Kanaya rasakan. Sakit sekujur tubuhnya, sakit hatinya, juga sakit pusat tubuhnya karena Dirga merenggutnya dengan paksa.


Seorang wanita saat pertama kamu melakukannya tidak dalam paksaan saja merasakan kesakitan yang teramat sangat, apalagi Kanaya. Dia di paksa melakukannya.

__ADS_1


Meski yang melakukannya adalah suaminya sendiri dan itu halal untuknya apakah harus dengan cara seperti itu?


Semakin semangat Dirga melakukannya saat melihat Kanaya kesakitan, dia semakin membuncah. Senyumnya terus keluar seolah tak ada rasa bersalah.


Hingga akhirnya, Dirga ambruk di samping Kanaya setelah mendapatkan puncaknya.


"Terima kasih, Naya," Ucapnya yang begitu berbunga-bunga. Akhirnya dia sudah menjadikan Kanaya miliknya seutuhnya.


Dirga menoleh ke arah Kanaya dengan rasa bangga, namun setelah melihat keadaan Kanaya dia mulai panik. Kanaya tergolek tak berdaya, Kanaya tak sadarkan diri dengan begitu banyak luka lebam di sekujur tubuhnya.


"Naya, Nay," Dirga menepuk-nepuk pipi Kanaya. Mengangkat kepalanya dan terus berusaha membangunnya.


"Naya. Bangun, Nay. Astaghfirullah, apa yang aku lakukan. Kenapa aku tak sadar melakukan ini. Apa yang terjadi padaku, Ya Allah. Ada apa denganku. Nay, bangun! Nay!" Dirga begitu panik kala tak bisa membangunkan Dirga.


Dia melirik ke lantai di bawah tubuh Kanaya, terlihat jelas terdapat darah Kanaya. Darah keperaw*nan Kanaya yang di ambil paksa olehnya.


Dirga begitu bingung, apa yang akan dia lakukan. Jika di bawa ke rumah sakit terdekat dia pasti akan di berondong beribu-ribu pertanyaan. Bisa saja dia akan di pasal kan karena menyiksa Kanaya.


Kalau di bawa pulang ke rumah wak Tejo, pastilah citranya akan hancur kalau semua orang tau. Kalau di bawa pulang ke Semarang, jaraknya sangat jauh. Bisa jadi Kanaya akan kenapa-napa. Tapi kalau tidak?


"Nay, bangun. Maafkan aku, Nay. Maafkan aku." Begitu menyesal Dirga sekarang. Niatnya menikahi Kanaya untuk membuatnya bahagia dan menghujani cinta dan kasih sayang semua itu tidak terjadi.


Dirga malah menyakiti Kanaya di saat belum genap sehari dia menjadikannya istri.


Baru kali ini Dirga menangis. Dia tak berdaya melihat Kanaya seperti sekarang ini, dia merasa paling buruk menjadi manusia sekarang.


Suami yang baik adalah yang selalu membuat istrinya bahagia. Memastikan istrinya bahagia lahir batinnya. Jangan sampai membuatnya menangis atau menyakitinya, tapi sekarang?


"Naya pasti akan baik-baik saja. Kamu pasti bisa bertahan, Nay." Setelah semuanya terpakai Dirga membopong Kanaya. Berlari keluar dan segera menuju mobilnya.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi, Tuan?" Begitu terkejut sang sopir melihat keadaan Kanaya yang tak sadar. Dia juga terus melihat meski tangannya sudah membukakan pintu mobil.


"Jangan banyak bertanya. Cepat kembali ke Semarang. Tapi jangan ke rumah Umi. Ke rumah saya yang lebih dekat," Titahnya.


"Baik, Tuan." Sopir juga cepat masuk. Dia cepat melajukan mobilnya untuk segera menuju rumah Dirga.


Di dalam mobil yang melaju cepat Dirga menghubungi seseorang. Suaranya sangat tergesa-gesa.


"Cepat ke rumah sekarang juga. Aku sampai kamu harus sudah ada di sana. Bawa semua obat-obat yang terbaik," Titahnya pada orang yang ada di seberang.


Hanya itu yang dia katakan setelahnya dia menutup telfonnya dan kembali fokus dengan Kanaya.


"Nay, cepatlah sadar. Aku minta maaf. Nay." Terus Dirga mengecupi tangan Kanaya yang lemas lalu berpindah ke puncak kepalanya dan terus bergantian.

__ADS_1


'Apa sebenarnya yang Tuan lakukan. Kenapa nona Kanaya bisa sampai seperti ini?' batin sang sopir seraya melirik Dirga yang memeluk Kanaya dari kaca spion.


*******


'Aya ingin, suatu saat nanti kita akan tetap tersenyum saat berjumpa. Memperkenalkan pasangan juga anak-anak kita masing-masing dengan rasa bahagia. Tanpa mengingat lagi sebuah mimpi yang pernah kita rajut bersama.'


'Kadang takdir tak sesuai harapan kita, tapi takdir dari Sang Pencipta pastilah lebih baik untuk hidup kita. Bukan kota yang mengendalikan takdir, tapi Allah Azza Wajalla'


'Semoga kelak, takdir akan mempertemukan kita. Meski hanya sebatas teman dan masa lalu.'


Wassalamu'alaikum Warahmatullahi wabarakatuh.


Pemeluk Takdir...


Kanaya Setya Ningrum


________


Air mata Yuan kembali tumpah setelah selesai membaca surah dari Kanaya. Bagaimana mungkin dia bisa tersenyum jika kelak bertemu dengan Kanaya. Bagaimana mungkin dia bisa terlihat baik-baik saja.


Di kamarnya yang sempit ini Yuan hanya bisa menangisi kebodohannya. Menangisi penyesalan karena dia lebih memilih melanjutkan sekolahnya. Dan kini dia kehilangan gadisnya. Kehilangan mimpi indah bersama Kanaya.


Setelah ini tak lagi ada canda tawanya, keisengannya, rengekannya dan semua yang ada dalam diri Kanaya tak akan bisa dia lihat.


Tak ada lagi kesempatan untuknya bisa bertemu dengan Kanaya. Apalagi kesempatan untuk bisa hidup bersamanya.


Tubuhnya ambruk di kasur yang tak begitu empuk, hanya kasur lama yang berbahan kain dan kapuk.


Matanya berusaha untuk terpejam, berharap kali ini dia bisa bertemu Kanaya meski dalam mimpinya.


Berat dan semakin berat matanya untuk terbuka, mungkin akibat dari tangisnya juga.


'Kang, maafkan Aya. Maafkan Aya!'


'Kang, Aya sakit. Kang, tolong Aya,'


Yuan terperanjat dan kembali duduk. Belum juga dia bisa tidur suara Kanaya terdengar jelas di telinganya. Suaranya begitu parau khas orang yang kesakitan.


"Astaghfirullah hal azim. Ada apa ini Ya Allah. Apa yang terjadi pada Aya. Apa yang laki-laki itu lakukan padanya. Ya Allah, jaga Aya ku dari semua keburukan," Yuan mengusap wajahnya kasar. Hatinya ikut merasakan sakit seolah dia juga merasakan apa yang di rasakan oleh Kanaya saat ini.


"Lebih baik aku ambil wudhu laku sholat. Hatiku tidak akan tenang kalau begini. Apapun yang terjadi pada Kanaya hanya Allah yang bisa membantunya. Jadi yang kepada Allah tempat terbaik untuk meminta," Yuan langsung bergegas melakukan apa yang dia katakan.


**********

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2