Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Pelangi Setelah Badai


__ADS_3

...****************...


Ternyata Dirga tetap tak bisa menahan apa yang tiba-tiba tumbuh dalam benaknya. Meski tadi dia sudah terus-terusan dibawa shower yang menyiramkan air dingin ke seluruh tubuhnya tetap saja rasa itu tak mau pergi.


Bahkan sekarang malah semakin besar saat dia tidur bersebelahan dengan Kanaya. Apalagi di tambah dengan jarak yang sangat dekat bahkan mereka saling menempel.


Alhamdulillah tak ada pikiran-pikiran kotor yang membuatnya penasaran, gairahnya juga semakin membesar meski tak melihat dan mendengar suara kesakitannya Kanaya.


Apakah itu artinya Dirga bisa melakukannya dengan cara yang benar.


"Nai, hem? bagaimana jika mas mau mencobanya sekarang, apakah kamu tidak keberatan?" Dirga tau Kanaya belum tidur, dia hanya menutup mata saja.


"Hem?" Terbukalah mata Kanaya seketika memandangi Dirga yang ternyata matanya sudah memerah.


"Ridho?" Dirga menekankan.


"Hem," Kanaya mengangguk pelan.


Perlahan Dirga melakukannya, membuang jauh-jauh apapun yang membuatnya bisa menyakiti Kanaya. Dia berjuang terus, berusaha menyentuh Kanaya penuh dengan kelembutan dan menyampingkan pikiran-pikiran yang ternyata tetap muncul dan tak bisa di kendalikan.


Dengan tubuh yang bergetar Dirga tetap memberikan sentuhan demi sentuhan pada Kanaya. Kelembutannya mampu membuat Kanaya terlena dan begitu menikmati semuanya.


'Alhamdulillah, mas Dirga sudah bisa mengendalikan dirinya sendiri,' batin Kanaya di sela-sela kenikmatan yang dia dapat.


Yakin bisa mengendalikan Dirga membisikkan doa pada telinga Kanaya di sebelah kanan. Doa selayaknya untuk mengawali hubungan mereka dengan benar.


Mengharapkan tak akan ada gangguan-gangguan dari setan dari setiap detik hubungan mereka juga berharap setan tak dapat mendekat atau menyentuh sesuatu yang mungkin bisa saja di takdirkan.


Bukan hanya Dirga yang melantunkan doa juga membisikkannya kepada Kanaya, begitu juga dengan Kanaya. Tentu saja keduanya sangat menginginkan rahmat dari Tuhan semesta alam.


Dengan amat hati-hati Dirga membuai bidadari cantik yang sudah menjadi permata dalam hatinya. Menyentuhnya dengan penuh kelembutan meski dirinya sendiri terus menahan gejolak besar yang terus memaksa untuk dia lakukan.


Tapi tidak! Dirga tidak mau di kendalikan oleh gairah laknat yang akan menyakiti Permata hatinya. Dia ingin selalu membahagiakannya, Selalu dan selamanya.


Sangat susah, sangat berat untuk Dirga tapi tetap dia paksakan. Berusaha memunculkan gairah baru ketika melihat istrinya terbuai dalam setiap sentuhannya dan mengalahkan gairah buruknya.

__ADS_1


Perlahan namun pasti, setiap sentuhan akan menemui puncaknya. Begitu bahagia meski dengan kerja keras Dirga bisa melakukannya. Tanpa menyakiti Kanaya juga


dalam keadaan Kanaya sadar sepenuhnya.


'Alhamdulillah,' puji syukur Dirga ucapkan dalam hati. Dia sangat bahagia seiring kenikmatan yang akhirnya mereka berdua dapatkan.


Keduanya terkulai di bawah selimut yang menutupi tubuh polos mereka. Bersama-sama tersenyum dalam rasa syukur.


Apa yang lebih indah dari kisah ini. Kisah halal. Di mana tak ada ketakutan ataupun keraguan dalam melakukan hubungan ini. Tiap keringat yang keluar dan terjatuh semua terhitung pahala. Hubungan yang dilandasi cinta dalam ikatan suci pernikahan.


Didekapnya tubuh sang permata hatinya, di dekap erat dan tak mau saling melepaskan. Kecupan terus di hujan kan di puncak kepala Kanaya. Dirga begitu bahagia.


"Terimakasih, Naya sayang," ucap Dirga penuh dengan kebahagiaan. Benar-benar sangat bahagia.


"Hem," Kanaya mengangguk di dalam dekapan Dirga.


Kanaya tau, sebenarnya belum sepenuhnya masalah Dirga ini hilang dalam dirinya, tapi masih ada. Tetapi, Kanaya sangat bahagia karena akhirnya Dirga bisa mengendalikannya.


"Tidurlah," di elus-elus pipi Kanaya dengan penuh kelembutan.


'Ya Allah, terima kasih atas nikmat yang telah Engkau berikan kepada hamba. Terima kasih telah engkau satukan kami dengan cara yang benar sesuai yang kami inginkan dan Engkau ridhoi,' batin Dirga.


Di tariknya selimut untuk menutupi tubuh keduanya oleh Dirga, jelas tak ingin sampai Kanaya kedinginan. Nafas teratur dari Kanaya sudah Dirga dengar, Kanaya sudah tertidur karena kelelahan.


"Terima kasih, Sayang," ucapnya lagi.


...****************...


Senyum terus keluar di bibir Kanaya, dia merasa sangat malu mengingat kejadian semalam.


"Kenapa?" tanya Dirga seraya mengeringkan rambut Kanaya menggunakan hairdryer.


Rambut basah di pagi hari sebagai bukti hubungan kasih yang terjadi dari mereka, senyum indah dari Kanaya menjadi bukti kebahagiaan yang hadir dalam diri Kanaya.


"Ti_tidak apa-apa," jawab Kanaya.

__ADS_1


Kanaya terus menurut, membiarkan Dirga bekerja mengeringkan rambutnya.


"Hem, apakah mas Dirga benar-benar sudah sembuh sekarang?" tanya Kanaya memberanikan diri.


"Mas belum tau. Biar nanti mas ke dokter Rendra.


"Semoga mas benar-benar sudah sembuh," harap Kanaya.


"Amin..."


"Kenapa, apakah biar kita bisa bekerja keras untuk membuat baby?" bisik Dirga dengan sedikit membungkuk.


"Ih, apa sih!" Kanaya begitu malu mendengar ungkapan Dirga yang tepat di telinganya. Perkataan itu memang wajar sih untuk semua pasangan tapi terdengar bagaimana gitu di telinga Kanaya.


"Bukankah semua akan sempurna dengan kehadiran buah hati? lagian abi juga umi sudah sangat menginginkannya."


"Kenapa, apakah hanya abi dan umi yang menginginkannya, apakah mas tidak?" kini Kanaya menjawab.


"Kenapa tidak, kalau mas tidak menginginkannya mas tidak akan bekerja keras kan? bagaimana apakah kita harus mengulang lagi?"


Semakin memerah pipi Kanaya, bagaimana mungkin mereka akan mengulang lagi bahkan rambut Kanaya saja belum kering dan mereka juga belum shalat subuh.


"Naya mau ambil wudhu," Kanaya cepat berlari lebih tepatnya menghindar dari godaan Dirga.


"Hem, Naya Naya," Dirga tersenyum puas melihat Kanaya yang sangat malu dan kini melarikan diri.


Ditaruhnya hairdryer di atas meja lalu Dirga juga mulai bersiap untuk shalat subuh. Bersiap di depan kamar mandi untuk antri mengambil wudhu.


Pagi yang begitu bahagia, urat-urat juga semua otot-otot menjadi semakin kuat dan semakin bersemangat. Seolah apa yang terjadi semalam telah mengalirkan energi.


Seandainya dari awal sudah seperti sekarang ini pastilah kini mereka benar-benar mendapatkan kebahagiaan yang besar. Tapi tidak! Allah menginginkan mereka berdua menjalani ujian terlebih dahulu sebelum mendapatkan kebahagiaan.


Kini mereka dapatkan sebuah pelangi setelah badai, semoga pelangi yang di mulai pagi ini akan selalu menghiasi kehidupan keduanya dan semakin indah.


...****************...

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2