
...****************...
Luka yang perlahan kering kini kembali terbuka setelah kedatangan Dirga dan lebih parah lagi setelah dia pergi.
Kenapa harus datang kalau hanya untuk menggoreskan luka lagi dan semakin dalam. Ingin Yuan berteriak sekuat-kuatnya tapi dia tak bisa melakukan itu.
Susah-susah dia berusaha untuk menyembuhkan luka, melupakan semua kenangan manis yang pernah ada dan kini semua kenangan itu seolah terus berputar manis di kepalanya.
Kenapa cintanya bisa sebesar ini. Padahal dia sudah tau tak mungkin dia bisa memilikinya. Kenapa perasaannya pada Kanaya tak bisa pergi begitu saja seperti angin yang terus terhembus dan pergi.
Niatnya ingin pulang dan istirahat kini akhirnya Yuan malah sampai di salah satu pantai di Jogja.
Lukanya ingin dia buang bersamaan dengan desir ombak yang menyambut lalu membiarkan membawanya pergi sejauh-jauhnya.
Bukan pantai yang ramai yang Yuan tuju tapi pantai yang sangat sepi itu karena Yuan ingin menyembunyikan kepedihannya pada Dunia meski alam tak bisa di bohongi.
"Argghhh!" Yuan ambruk berlutut di pasir pantai. Akhirnya dia bisa berteriak sekuat-kuatnya dan berharap bebannya akan berkurang atau bahkan hilang.
Air matanya dia biarkan mengalir deras. Seandainya ada orang yang tau mungkin Yuan akan di anggap laki-laki paling bodoh karena menangisi seorang perempuan yang sudah tak bisa menjadi miliknya.
Kedua tangannya terangkat, mengusap wajahnya dengan kasar. Dia begitu frustasi dengan keadaan ini. Mau menyesal juga sudah tak bisa mengubah segalanya, waktu tak akan bisa di putar kembali hanya dengan menyesal.
"Kenapa dulu Engkau biarkan rasa ini tumbuh dan berkembang bila akhirnya tak bisa aku miliki," Yuan tersedu dalam tangis. Dia sadar benar-benar bodoh sekarang karena terlalu rapuh hanya karena cinta.
Sebenarnya menangis pun tak akan bisa mengubah segalanya lagi. Tapi setidaknya bisa mengurangi rasa sakit di hatinya. Benar begitu kan?
Desir angin pantai terasa begitu menyayat begitu menyakiti relung hatinya hingga kini untuk bersuara saja rasanya tak mempunyai kemampuan itu.
Yuan membiarkan hatinya semakin terluka membiarkan angin sore di pantai terus menyapa dan seolah membiarkan jika ingin menerbangkannya.
__ADS_1
Kenapa harus seperti ini jalannya. Hatinya seolah di permainkan dan di ombang-ambingkan seperti air pantai yang ada di hadapannya.
"Kamu harus bisa, Yuan. Ini adalah jalan takdir yang harus kamu lalui. Kamu harus ikhlas," katanya yang keluar untuk membuat hatinya lebih kuat lagi.
Tangannya terangkat dan perlahan mengeringkan pipi dari air matanya.
"La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin," ucapnya dengan benar-benar dia resapi.
Salah jika Yuan menganggap Kanaya adalah miliknya, salah jika dia juga menganggap cinta nya hanya untuk Kanaya. Mungkin itulah kesalahan terbesarnya.
Kanaya adalah milik Sang Pencipta begitu juga dengan cintanya. Dia tak bisa mematenkan cintanya untuk siapa karena bukan hak nya untuk menentukan hal itu.
Dan itulah yang sekarang terus di bolak-balik dalam angan-angan Yuan sendiri. Dia tidak bisa melakukan itu, tak bisa mengendalikan segalanya sesuai apapun yang dia kehendaki.
Dia hanya seorang hamba yang tak bisa menentukan jalannya sendiri semua itu di luar kendalinya.
Hanya doa yang selalu bisa dia panjatkan dan memohon takdir yang terbaik itulah yang benar.
Meneguhkan hati dan menguatkannya. Berusaha Ikhlas dan menyerahkan semua kepada Sang Pencipta. Itu adalah jalan yang terbaik.
...****************...
Rasa bersalah juga menyelimuti hati Dirga. Dia sadar kali ini akan kesalahannya. Ternyata benar, cintanya pada Kanaya tidak sebesar cinta Yuan pada Kanaya.
Cinta Yuan begitu tulus, begitu abadi dan tidak cinta yang di penuhi dengan obsesi.
Cinta Yuan bisa bahagia jika melihat orang yang di cintai bahagia tapi cintanya? cintanya begitu egois karena memaksa dan merebut cinta dari orang lain.
Tatapan matanya kosong setelah mobilnya berhenti. Dia juga tidak mengerti kenapa dia menjadi seperti ini. Bagaimana bisa dia memiliki hati yang sangat tamak hingga memaksa seseorang untuk menjadi miliknya.
__ADS_1
Bagaimana bisa dia merusak sebuah kebahagiaan dari seseorang untuk kebahagiaannya sendiri. Apakah dengan itu kebahagiaannya akan selalu abadi? tidak!
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan," keluhnya.
Kata Yuan benar, dia harus jujur pada Kanaya dengan apa yang sudah dia lakukan. Sebenarnya tanpa mendapatkan saran dari Yuan Dirga sudah pernah memikirkan itu, tapi dia menunggu waktu yang tepat.
'Jujurlah pada Kanaya apa yang kamu lakukan. Itu akan mengurangi rasa bersalah mu. Setelah itu, biarkan dia menentukan sendiri apa yang ingin dia lakukan, tetap bertahan atau memiliki pergi. Tapi aku yakin, Kanaya ku bukan wanita seperti itu. Hatinya tidak akan setega itu dan akan meninggalkan mu. Prinsipnya terlalu besar hingga aku sendiri juga tak akan bisa mengendalikannya.'
Kata-kata Yuan kembali terngiang di benaknya. Kanaya ku? bahkan Yuan sudah sejak lama mematenkan Kanaya adalah miliknya tapi dia telah menghancurkan semua itu.
Begitu keji dirinya karena telah memisahkan kedua orang yang saling mencintai dan juga penuh mimpi yang sudah ingin mereka lalui dan wujudkan.
'Kamu bisa selalu memiliki jiwa raganya, tapi kamu tak bisa memiliki cinta sejati yang ada di dalam dirinya. Maafkan aku jika aku tidak bisa menyerahkan cinta itu untukmu.'
Benar, yang di katakan Yuan memang sangat benar. Dia bisa memiliki jiwa raga Kanaya tapi tidak dengan cinta sejatinya. Meski Kanaya selalu tersenyum bahagia saat bersamanya sesekali Dirga masih mendengar Kanaya memanggil nama Yuan di bawah sadarnya.
"Aku janji, Yuan. Aku akan membahagiakannya seumur hidupku jika dia memilih bertahan bersamaku. Akan aku limpahkan kasih sayang hingga dia akan lupa dengan sakitnya di masa lalu. Aku janji akan membahagiakannya."
"Terimakasih kamu bisa ikhlas dan menyerahkan tanggung jawab mu padaku untuk menjaganya. Aku janji, aku tak akan menuntut cintanya," gumamnya.
Tapi bagaimana bisa. Dia tidak menginginkan cinta itu untuknya. Bagaimana bisa dia membiarkan cinta istrinya menjadi milik orang lain.
"Jika Allah memberikan takdir untuk ku. Maka aku pun pasti bisa mendapatkan cintanya."
Keduanya sama-sama baik, sama-sama menginginkan kebahagiaan Kanaya. Tapi Dirga lebih ada kuasa untuk itu, sementara Yuan? Dia hanya bisa sebatas doa saja.
Entah siapa yang akan benar-benar mendapatkan cinta Kanaya di kemudian hari. Entah Yuan Prayoga atau mungkin Dirga Gantara.
Sebuah lika-liku cinta yang tak bisa di kendalikan oleh akal manusia. Hanya Allah lah yang bisa menentukan segalanya. Siapa yang akan mendapatkan cintanya, siapa yang akan hidup dengannya atau mungkin siapa yang hanya akan bermimpi dan selalu ikhlas dalam kisahnya.
__ADS_1
...****************...
Bersambung.....