
'Kita bisa merencanakan dengan siapa kita menikah, tetapi kita tidak bisa merencanakan dengan siapa kita jatuh cinta. Begitu juga dengan ku. Aku bisa dengan mudah mewujudkan kamu menikah dengan ku. Tetapi, aku tak bisa mewujudkan dengan mudah untukmu jatuh cinta padaku. Maafkan aku jika memaksamu untuk menerimaku, dan itu adalah sebuah kesalahan ku.'
#Dirga Gantara
...****************...
Tatapan Dirga begitu penuh dengan penyesalan. Duduk di halaman rumah dengan memandang bunga-bunga yang mulai terkena panasnya sinar matahari pagi.
Nyanyian alam seolah berbanding dengan keadaan hatinya yang tengah terluka. Nyanyian yang indah. Apakah alam tengah menertawakannya?
Mungkinkah alam bersorak-sorai karena sebuah kebodohan yang telah dia lakukan?
Sebuah tabir pembatas yang dia buang dengan paksa dari dirinya dengan kanaya kini seakan tabir itu datang dan melilit dirinya sendiri hingga terasa menyesakkan.
Apakah Dirga mulai terkena dampak dan akibatnya karena ulah tersembunyi yang dia lakukan dengan diam? ya! mungkin memang benar.
"Cepatlah sembuh, Nay. Dan setelah itu aku akan katakan semuanya. Biarkan aku kehilanganmu daripada aku membiarkanmu tetap bertahan namun dengan penderitaan yang aku buat," gumam Dirga.
"Tapi, bagaimana mungkin aku akan membiarkan dia pergi setelah aku mengambil semua darinya. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan. Aku sadar ini hanya cinta sepihak dan sepihaknya akan terluka karena hubungan ini."
Dirga kembali termenung, hatinya terus beristighfar memohon ampunan kepada Allah. Dia begitu lancang dan melakukan apapun yang dia ingin dan mengabaikan takdir dari Sang Pencipta. Ataukah mungkin, ini memang sebuah takdir yang harus terjadi.
"Ga," kedatangan Savira begitu mengejutkannya. Dia cepat menoleh dan melihat Savira yang semakin dekat lalu duduk bergabung di kursi yang lainnya namun berada di dekatnya.
"Bagaimana keadaannya, Vir?" tanya Dirga.
"Alhamdulillah, dia mulai membaik. Dia baru selesai bersih-bersih juga sarapan." jawab Savira.
Mata kembali menerawang jauh dengan sedikit kosong, setelah perbuatannya Dirga menjadi lebih sering melamun, dia merasa sangat bersalah dengan Kanaya.
"Ga, apakah kamu yakin kamu tidak akan mengatakan apa yang terjadi padamu pada Kanaya? dia istrimu, Ga. Dia berhak tau apapun yang terjadi. Kanaya wanita yang baik, aku yakin dia akan menerimamu dengan tulus dan bisa membantumu untuk sembuh," Ucap Savira.
"Entahlah, Vir. Tapi aku sangat takut. Aku takut kalau Kanaya akan menjauh jika tau aku tidak normal. Lebih baik aku menjauh darinya daripada dia pergi meninggalkanku. Aku ikhlas dia membenciku seumur hidupnya daripada asal dia bisa selalu dekat denganku," jawab Dirga.
__ADS_1
"Lalu apa bedanya, Ga. Kalau kalian bisa saling menerima kekurangan masing-masing kenapa tidak, Ga."
"Akan aku pikirkan."
Dirga kembali diam, begitu juga dengan Savira. Sahabatnya itu begitu menyayangkan jika Dirga melakukan apa yang barusan dia katakan, itu tidaklah benar bukan?
"Vir, kemungkinan apa yang terjadi jika aku tidak berobat?"
Savira terkejut dengan pertanyaan Dirga, apakah itu artinya dia akan menyerah begitu saja?
"Akibatnya akan sangat buruk, Ga. Di samping kamu akan terus menyakitinya, bisa jadi kamu akan berurusan dengan hukum kalau kelak Kanaya tidak terima. Juga, jika berlangsung dan tidak segera di obati bisa juga berakibat kerusakan otak juga kematian, Ga," tutur Savira.
"Seburuk itu kah?" Dirga begitu terkejut.
Jika Dirga tidak mau melakukan saran Savira apakah dia akan siap untuk terkena kerusakan otaknya. Lalu bagaimana dengan Kanaya nantinya?
"Iya, Ga. Maka dari itu aku menyarankan kamu harus secepatnya melakukan perawatan dan pengobatan, Ga. Aku yakin kamu bisa sembuh."
"Sebenarnya tidak akan terlalu sulit jika kamu bisa lebih terbuka dengan Kanaya. Dia adalah partner mu. Dia yang akan mengalami semua yang kamu lakukan. Kamu bisa bicarakan baik-baik padanya dan aku yakin dia akan membantumu."
Begitu banyak perkataan yang Savira katakan. Memberikan pengertian kepada Dirga dan memberi tau apa yang harus di lakukan.
Sementara Dirga, dia diam namun begitu menyimak akan semua kata-katanya.
'Apakah aku bisa mengendalikan semua itu? bahkan aku sendiri saja seperti orang yang tak sadar saat melakukannya. Apakah itu karena baru pertama aku mengalaminya?' batin Dirga.
"Sebenarnya, itu jenis kelainan apa, Vir?"
"Kelainan itu biasa di sebut Sadistis atau Sadisme, Ga. sebuah kelainan s*x. Yang mana orang itu tidak akan puas jika tidak melihat pasangannya terluka. Dia akan semakin puas jika lawannya itu terluka dan kesakitan. Dan kebanyakan kelainan itu terjadi pada laki-laki." terang Savira.
"Seorang sadisme atau Sadistis akan memperoleh kepuasan melalui jeritan dan teriakan pasangannya yang menderita karena siksaan fisik yang dilakukannya selama berhubungan," imbuh Savira.
Pantas saja, saat Kanaya mulai berteriak-teriak kesakitan juga terus merintih memohon ampunan Dirga malah semakin puas dan semakin ingin lebih semangat melakukannya.
__ADS_1
"Ternyata sangat mengerikan, Vir."
"Hemm, Ga. A_apakah kamu pernah mengalami kekerasan sebelumnya? maksudku saat kamu masih kecil?"
Dirga terdiam, dia berpikir keras dengan pertanyaan Savira. Seingatnya dia tidak pernah mengalami hal-hal yang seperti itu. Kedua orang tuanya begitu menyayanginya, bahkan menjewer saja tidak pernah karena Dirga juga termasuk anak yang penurut kepada orang tuanya.
"Tidak," jawab Dirga sangat yakin.
Lalu dari sisi mana Dirga bisa memiliki kelainan yang mengerikan seperti ini jika tidak ada kekerasan sebelumnya. Memang sih bisa dari beberapa aspek lainnya tapi kebanyakan orang yang memiliki masalah itu adalah orang yang mengalami kekerasan semasa kecil atau remaja.
"Aku sarankan, kamu secepatnya ke dokter. Aku yakin akan ada solusi terbaik untukmu. Aku yakin kamu juga bisa sembuh. Ingat semua kata-kataku tadi, Ga."
"InsyaAllah, Vir."
Savira beranjak dia hendak melihat Kanaya lagi, mungkin dia membutuhkannya.
"Vir!" panggil Dirga dan Savira menghentikan langkah dan menoleh, "terimakasih," Savira tersenyum mendengarnya.
"Kita sahabat, Ga. Bahkan sudah seperti saudara. Tenang, semua pasti akan baik-baik saja," jawab Savira lalu kembali berjalan.
'Kata Savira benar, semua pasti akan baik-baik saja,' gumam Dirga.
Dirga mulai sibuk dengan ponselnya. Mencari-cari tau kebenaran dengan apa yang terjadi padanya. Dia harus tau apa yang harus dia lakukan dan yang tidak.
Beberapa artikel dia berhasil temukan, di baca satu persatu dan membuat Dirga benar-benar paham langkah apa yang harus dia ambil.
"Aku harus bisa sembuh. Aku tidak mau menyakiti Naya apalagi sampai pergi meninggalkannya sendiri." gumam Dirga.
Dirga beranjak, dia ingin masuk. Dan betapa terkejutnya, saat Dirga berdiri dan membalikan tubuhnya dia melihat Kanaya berdiri mematung dengan melihatnya. Hingga kini mata keduanya saling bertemu dalam diam.
"Na_Naya."
...****************...
__ADS_1
Bersambung....