
...***********...
"Nay sayang. Lihatlah apa yang mas bawa untukmu," Dengan beberapa lembar kertas Dirga menghampiri Kanaya yang tengah membereskan baju-baju mereka yang akan dia masukan ke lemari di kamar mereka berdua.
Entah apa yang Dirga bawa tapi mampu membuat Kanaya menoleh dan membuatnya sangat penasaran. Sejenak Kanaya menghentikan pergerakan tangannya dan terus menunggu Dirga sampai di hadapannya.
"Lihatlah," Akhirnya Dirga duduk di hadapannya. Dan beberapa kertas itu sudah dia sodorkan pada Kanaya yang sontak langsung di terima olehnya.
"Ini apa, Mas?" Padahal Kanaya bisa membacanya sendiri tapi dia tetap bertanya karena mungkin Dirga akan mengatakannya.
"Itu adalah surat yang mas terima, surat yang menjelaskan kalau kamu sudah di terima untuk ikut paket C satu minggu lagi."
"Mas beneran sudah daftarin Nay?" Kanaya begitu tak percaya kalau ternyata suaminya begitu semangat. Kanaya pikir dia akan di ajak ketika mendaftarkan tapi ternyata tidak, mungkin karena Dirga tak mau Kanaya lelah yang harus menyiapkan ini itu sebagai syaratnya.
"Hem, bagaimana kalau hari ini kita mencari semua kebutuhan mu. Mas juga sudah mendapatkan semua kisi-kisinya jadi akan sangat mudah untuk kamu belajar. Bagaimana? Kamu sudah benar-benar siap untuk sukses?"
Bukan menjawab dengan kata-kata tapi Kanaya hanya mengangguk dengan perasaan yang sangat terharu. Begitu baik Dirga memperlakukannya. Entah kebaikan apa yang kedua orang tua Kanaya perbuat hingga sekarang anaknya memetik buahnya yang begitu manis seperti ini.
Butir-butir bening keluar dari mata Kanaya tanpa ada kata-kata, Kanaya sungguh gak sanggup untuk bicara apapun. Dia sangat bahagia. Inilah tangis bahagianya yang dia peroleh oleh Dirga.
"Hey, kenapa malah menangis," Begitu lembut kedua tangan Dirga mengusap pipi Kanaya. Sedikit bingung karena Dirga tak tau apa yang sebenarnya Kanaya rasakan. Apakah ini tangisan bahagia karena mendapatkan kejutan darinya atau malah tangis penyesalan karena merasa selalu di paksa dan harus selalu mengikuti apa yang Dirga ingin.
Dengan cepat Kanaya langsung memeluk suaminya itu. Begitu Kanaya merasa membenci dirinya sendiri sekarang, kenapa dia dulu bisa sempat membenci pria sebaik Dirga.
Dulu dia yang tak mengenalnya dan langsung memberikan penilaian negatif pada Dirga karena selalu mengikutinya dan selalu berusaha mendekatinya meski dia sudah menolak.
Begitu menyesal Kanaya, kenapa pikiran-pikiran buruk tentang Dirga pernah singgah di dalam dirinya dulu. Dan sekarang? Semua telah terbukti berbanding terbalik, Dirga adalah orang terbaik bagi Kanaya, yang selalu menginginkan kebaikan juga kebahagiaannya.
"Eh," Dirga terkejut karena mendapatkan pelukan tiba-tiba dari Kanaya tangannya sejenak mematung sebelum akhirnya dia ikut membalas pelukannya dan membelai kepala Kanaya di bagian belakang.
"Terima kasih, Mas. Terima kasih," Tangisan Kanaya pecah di dalam pelukan Dirga.
Inilah takdir yang Kanaya dapat untuk sekarang, dia bahagia dengan suaminya entah takdir seperti apa yang akan dia dapat esok hari. Semoga selalu takdir yang terbaik yang akan selalu menghadirkan senyum-senyum kebahagiaan.
"Semua hanya untuk mu, Sayang. Untuk mu," Jawab Dirga yang akhirnya ikut meneteskan butiran bening juga.
Pelukan yang begitu lama untuk keduanya hingga keduanya benar-benar merasakan cinta kasih yang sudah semakin besar di antara keduanya. Bahkan di hati Kanaya juga.
"Sudah, jangan menangis lagi. Kamu harus selalu tersenyum karena itu yang ingin selalu mas lihat. Mas tidak mau melihat kamu menangis lagi. Apapun yang terjadi kamu harus tetap tersenyum."
Di usapnya lagi air mata Kanaya hingga benar-benar kering.
Kanaya tersenyum juga dengan tangan yang juga bergerak menghapus air mata Dirga.
"Mas juga tidak boleh menangis. Kalau mas menangis Kanaya akan ikut menangis."
'Kenapa, Mas. Ada apa dengan dirimu, kamu tidak biasanya selemah ini,' batin Kanaya yang sedikit memiliki kecurigaan pada Dirga.
"Sini, biar mas bantu setelah ini kita berangkat untuk mencari semua kebutuhanmu."
Dirga langsung mengambil baju-baju yang sudah berhasil di lipat oleh Kanaya. Sedikit demi sedikit Dirga yang memasukkan ke dalam lemari dengan senyuman dan terus melangkah ke sana-kemari.
__ADS_1
***********
Meski masih satu minggu lagi tapi semua sudah mulai di persiapkan. Dirga sendiri yang selalu memastikan tak akan ada kekurangan untuk semua yang akan di jalani oleh Kanaya.
Keduanya begitu bahagia, melangkah ke sana-kemari ke salah satu daerah di Semarang hanya untuk mencari semua kebutuhan Kanaya.
Keduanya terus bergandengan, kadang Kanaya juga merangkul lengan Dirga. Begitu menyenangkan perjalanan mereka berdua hanya ada kebahagiaan yang di hiasi dengan senyuman.
Benar-benar hanya berdua saja, tak ada pak Danu yang mengantarkan mereka. Mereka begitu bebas mengekspresikan kebahagiaannya di manapun kaki mereka melangkah.
Ada kamera juga yang Dirga bawa yang dia kalung_kan di lehernya dan sesekali mengambil foto Kanaya yang nampak tersenyum bahagia.
"Sekarang Nay yang mengambil foto mas," Begitu antusias Kanaya meminta kamera pada Dirga.
"Tidak usah, kamu saja yang foto," Tolak Dirga yang tak mau menyerahkan kamera pada Kanaya.
Kanaya terdiam, dia memicingkan matanya dan melihat Dirga dengan begitu berbeda tapi bukan marah atau kesal.
"Ke_kenapa?" Dirga jadi salah tingkah sendiri, belum pernah Kanaya memandangi dengan cara yang seperti itu.
"Masya Allah, itu cowok cakep banget," Berganti Kanaya memandangi arah belakang Dirga dengan wajah yang penuh takjub.
"Hah!" Dirga menoleh dengan wajah kesalnya, istrinya memuji pria lain di depannya sendiri sungguh berani sekali.
"Ye, aku dapat!" Meski sedikit kesusahan melepaskan kamera dari leher Dirga tapi Kanaya tetap berhasil. Dia terkekeh begitu bahagia dan saat itu baru Dirga sadar kalau dirinya hanya di bohongi oleh Kanaya.
"Hem," Nakal sekali ya istriku," Dirga hanya tersenyum tapi juga menggeleng. Dia hanya pasrah karena dia tak mau menghapus senyum Kanaya itu dengan meminta lagi kameranya.
"Senyum," Pinta Kanaya dan senyum Dirga keluarkan.
Kebahagiaan sungguh nyata pada Kanaya juga Dirga, kebersamaan yang terasa sangat menentramkan hatinya.
Tak habis-habisnya mereka berdua terus berjalan, seolah tak ada lelah sekedar untuk menjelajahi kota Semarang berduaan.
Inilah cara pacaran yang selalu Kanaya dan Dirga idam-idamkan, pacaran dalam halal dan bebas mengekspresikan cinta mereka dengan cara yang mereka mau tanpa takut ada dosa yang akan mengalir.
"Kita ke sana," Ajak Dirga menunjuk ke arah taman.
"Hem," Kanaya mengangguk antusias, tangannya kembali masuk ke lengan Dirga, menggandengnya dan mereka berjalan berdampingan.
Dalam langkahnya Kanaya begitu asyik melihat-lihat foto yang ada di kamera, semua tampak indah.
"Mas, nanti kita foto bersama ya. Fotonya sudah begitu banyak tapi belum ada yang kita berdua," Adu Kanaya.
"Boleh. Hem, sekarang kamu lebih eksis ya. Tidak seperti dulu yang anti kamera," Dirga terkekeh seraya mengingatkan.
"Hehe, yang penting eksisnya hanya dengan suami sendiri kan? Lagian kamera juga punya mas, kalau punya orang lain juga tetap nggak mau," Jawab Kanaya.
"Terserah kamu asal kamu senang."
Keduanya duduk di salah satu gubuk kecil dan saat dia sampai sana hujan datang. Tidak deras, hanya gerimis saja tapi dinginnya mampu mereka berdua rasakan.
__ADS_1
"Dingin?" Tanya Dirga.
Kanaya menggeleng meski dia sebenarnya merasa dingin.
"Kita pulang sekarang atau menunggu reda?"
"Sebentar lagi lah Mas, Nay masih ingin di sini."
Dirga yang menyadari Kanaya kedinginan melepaskan jas nya dan memakaikan pada Kanaya dia tersenyum saat memakaikannya.
"Biar lebih hangat," Katanya.
Setelahnya Kanaya yang mendekati Dirga dan merangkul lengannya, menyandarkan kepalanya di bahu Dirga.
"Apa mas tau, sebelum menikah aku pernah bermimpi datang ke tempat ini. Duduk di sini dengan seorang pria dengan melakukan hal yang sama persis seperti ini," Cerita Kanaya.
"Benarkah?" Dirga menoleh.
"Ya, tapi wajah pria itu tidak jelas tapi sekarang sangat jelas. Dan mas lah yang bersamaku. Tak pernah aku menyangka kalau mimpi itu menjadi nyata."
"Terus, apalagi yang di lakukan di sini?"
"Nggak ada, hanya seperti ini. Setelah itu dalam beberapa hari lagi aku bermimpi lagi di sini. Tapi, yang keduanya aku hanya sendiri..." Ucapan Kanaya terhenti.
"Kok gitu?"
"Nggak tau. Mas, kita akan selalu bersama seperti ini kan?"
"Tentu, kita akan selalu bersama seperti ini." Jawab Dirga.
Kanaya kembali diam dan semakin merangkul lengan Dirga dengan sangat erat. Kembali menyandarkan kepalanya di bahu Dirga.
"Mas tidak akan meninggalkan Naya kan?" Kembali Kanaya bertanya dan Dirga hanya diam.
Gerimis terus turun membasahi semua tempat dan menyiram semua tumbuhan yang memang membutuhkan air untuk pertumbuhannya.
Gerimis yang menemani keduanya di sana.
"Doa di saat hujan Allah akan mengabulkannya. Doa apa yang kamu minta?" Tanya Dirga.
"Naya hanya meminta satu permintaan saja sebagai doa. Naya ingin kita selalu bersama, hingga akhir hayat. Hingga Allah memisahkan kita karena maut. Bahkan jika Allah mengizinkan, aku ingin kita menjemput itu bersama-sama, karena Nay tak akan mungkin bisa jika tak bersama kamu, Mas."
"Kalau mas, doa apa yang mas minta?" Giliran Kanaya yang bertanya.
"Mas, mas hanya meminta semoga Allah selalu mengabulkan apapun yang menjadi doamu."
"Ih, kok gitu!" Kanaya protes.
"Ya, karena tidak ada sebaik doa selain doamu untuk Mas. Jadi apa yang kamu minta mas hanya minta Allah mengabulkannya."
********
__ADS_1
Bersambung.....