Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Akhirnya Sampai


__ADS_3

...****************...


Begitu bahagia Kanaya ketika sampai di Villa. Begitu antusias ketika keluar dari mobil untuk segera melihat ke area sekeliling. Benar sangat indah villa yang di buat oleh Dirga ini tak menyangka kalau akan menjadi villa yang sangat mewah.


Kanaya begitu terperangah dan melihat-lihat ke area sekeliling, bahkan dia juga berjalan berputar-putar melihat semua penjuru. Ternyata benar, ada taman di depan villa juga kolam ikan kecil beserta air mancur. Semua sesuai dengan apa yang di inginkan oleh Kanaya.


Satu yang membuat Kanaya terpaku diam, sebuah bunga mawar yang warnanya persis seperti yang ada di depan rumah Yuan. Kenapa harus ada bunga mawar yang seperti itu, itu akan sangat mengingatkan Kanaya pada kenangan-kenangan Kanaya pada Yuan. Apalagi lewat sudut Villa itu dia bisa melihat rumah Yuan.


"Nay, ada apa?" Dirga menghampiri berdiri dan ikut melihat apa yang Kanaya lihat.


"Mas, ini?" Kanaya menoleh ke arah Dirga namun tangannya terangkat dan menunjukkan ke arah bunga mawar yang sudah ada beberapa bunga yang mekar.


"Kenapa, bukannya warna itu kesukaan mu?" Dirga menjawab dan memastikan kalau apa yang dia katakan adalah benar.


Dulu memang benar warna dari bunga mawar itu adalah kesukaannya, tapi sekarang? sekarang tidak lagi karena Kanaya ingin melupakan semua yang menyangkut tentang Yuan.


Dia bisa mengingatnya sebagai kakak atau sebagai seorang teman tapi jika melihat bunga itu Kanaya akan kembali mengingat semua kenangan begitu juga semua mimpi yang pernah di rajut bersama.


Bukan berarti Kanaya tak bisa berdamai akan masa lalu, tapi dia hanya tidak mau kalau Dirga mengetahui apa alasan dia menyukai warna itu dia akan merasa sedih atau malah tersinggung.


"Kalau kamu tidak suka biar aku minta tukang untuk mencabutnya," ucap Dirga.


"Tidak usah, Mas. Ini sudah hidup dengan subur kasihan kalau harus di cabut," jawab Kanaya.


Dulu berkali-kali Kanaya mencoba menanam tapi tak pernah hidup, tak pernah berhasil tapi ini? sekali saja Dirga memerintah bunga itu langsung hidup begitu saja. Mungkin ini sama dengan cinta Dirga untuk Kanaya yang lebih cepat tumbuh dan tidak layu dan bisa berkembang dengan indah.


"Beneran?" Dirga kembali memastikan.


"Hem," Kanaya menganggukkan kepalanya cepat. Dia anggap ini bukan dari wujud cinta yang tak bisa di lupakan tapi ini adalah wujud dari cinta yang akan selalu berkembang dan tumbuh dengan lebat, yang akan memberikan warna dan wangi di sekitarnya dan akan terus melindungi dengan duri-durinya.


"Sekarang kita masuk?" ajak Dirga dengan menggandeng tangan Kanaya.


"Hem," kembali Kanaya mengangguk dan mengikuti langkah Dirga yang menariknya.


Bukan hanya di luar saja yang membuat Kanaya terperangah penuh kagum tapi di dalam terlebih lagi. Sangat nyaman dan juga memenangkan. Meskipun cuaca yang sangat dingin tapi di sana tetap tersedia AC. Dirga benar-benar menyiapkan segalanya untuk kenyamanan.


Satu persatu Dirga menunjukan ruangan dan terlihat semua dengan indah. Bahkan Dirga juga mencetak beberapa foto mereka berdua dan menempel di semua tempat.


"Kamu suka?"


Tentu Kanaya akan kembali mengangguk, bagaimana mungkin dia tidak menyukai tempat yang begitu indah.


"Sekarang kota lihat kamar kita," Dirga kembali menarik tapi karena Kanaya masih terus mengamati tempat itu dan terus melihat-lihat Dirga langsung mengangkat tubuh Kanaya.

__ADS_1


"Mas!" pekik Kanaya yang begitu terkejut. Kedua tangan langsung melingkar di leher Dirga untuk berpegangan supaya tidak terjatuh.


Sampailah di kamar yang tak kalah menenangkan untuk istirahat. Kamar bernuansa cokelat itu kembali membuat Kanaya terkagum-kagum.


Mata Kanaya terus melihat semua penjuru kamar nunggu Dirga malah lebih senang melihat wajah Kanaya. Baginya wajah Kanaya lebih indah dari pada apapun dan belum ada yang bisa menyainginya.


"Cantik," ucap Dirga.


"Iya, ruangan ini sangat cantik," jawab Kanaya yang ternyata salah mengartikan ucapan Dirga.


"Kamu yang cantik, Nay," Kembali Dirga berkata dan lebih menjelaskan.


"Hem?" Kanaya melihat ke arah Dirga dan itu membuat dia langsung gugup.


Dirga duduk di ujung ranjang dan kini masih setia memangku Kanaya. Rasanya gak ingin di lepaskan karena Dirga memang tak mau melepaskan. Aura Kanaya membuat Dirga begitu menginginkannya untuk sekarang.


"Mas menginginkan mu, Nay," sudah terdapat sebuah gairah yang besar yang muncul dalam diri Dirga, dia begitu menginginkannya sekarang.


"Mas tidak capek?"


"Biar sekalian capeknya, sekali saja setelah itu kita istirahat sampai ashar," jawab Dirga.


Lekas Dirga melakukan apa yang menjadi keinginannya setelah mengatakan itu dan Kanaya tidak menjawab. Diam berarti mau, pikir Dirga.


...****************...


Muna terlihat sedikit bingung saat kedatangan Zein dan ibu Annisa ke rumahnya. Tentu, dia tidak tau apa yang menjadi tujuan mereka berdua saat ini. Nama tetap lah Muna memberikan senyum ramah kepada keduanya sebagai penyambutan kedatangan.


"Assalamu'alaikum, Nak," sapa Bu Annisa setelah pintu terbuka dan melihat Muna lah yang membuka kan pintu.


"Wa_wa'alaikumsalam, Bu," Muna terlihat gugup dia juga tidak percaya kalau ada tamu yang begitu agung menurutnya.


Muna menyalami bu Annisa dengan begitu sopan setelahnya dia sedikit melirik ke arah Zein yang berdiri di belakangnya. Pria itu juga tersenyum dengan begitu manis dan membuatnya terlihat semakin menawan.


"Assalamu'alaikum, Muna," sapa Zein.


"Wa'alaikumsalam, Mas. Mari masuk Bu, Mas," pintanya. Pipinya sudah merasa panas setelah melihat senyum Zein tadi.


Apakah mereka berdua datang dengan membawa maksud tertentu? memang sudah sering Zein datang ke rumahnya tapi tidak datang dengan bu Annisa juga


Lalu apa maksudnya?


Beberapa buah tangan juga bu Annisa dan Zein bawa meskipun hanya parsel buah juga entah apa yang di dalam kotak yang di bawa Zein tapi membuat Muna yakin kalau memang ada tujuan tertentu kedatangan mereka saat ini.

__ADS_1


"Mari duduk Bu, Mas. Sebentar saya panggil Ayah dan Bunda," Muna mengarahkan tempat dimana mereka harusnya menunggu dan setelah itu dia sendiri masuk.


Tak lama sepasang laki-laki dan perempuan datang, dia adalah kedua orang tua Muna. Muna pun juga ikut keluar lagi namun Muna terlihat berbelok arah ke tempat lain.


Kedatangan mereka berdua sungguh di sambut baik oleh kedua orang tua Muna, mereka begitu senang bahkan mereka juga terlihat begitu sumringah. Meski belum kenal dengan bu Annisa tapi mereka mengenal Zein. Zein anak yang baik menurut mereka.


Sementara di dalam Muna masuk ke dapur ternyata dan bergegas membuat minuman yang akan dia sajikan kepada tamunya.


Terus Muna memikirkan apa sebenarnya maksud kedatangan mereka, menerka-nerka apakah benar ada hal yang serius?


"Mereka datang untuk apa ya?" sejenak Muna melamun dengan angan-angan yang terlampau jauh, tapi langsung dia tepis karena merasa belum percaya. Mungkin kedatangan mereka berdua hanya untuk silaturahmi saja kan?


Selesai dengan beberapa cangkir minumannya Muna bergegas keluar lagi dengan membawanya. Bergegas ke tempat tamu untuk memberikan suguhan minum juga beberapa camilan yang ada di atas satu nampan.


Zein terus saja melihat Muna yang datang, matanya tak berkedip sama sekali membuat Muna gugup tentu menjadi salah tingkah juga.


'Mas Zein kenapa sih lihatnya begitu banget, kayak mau makan Muna saja,' Batin Muna yang menyerukan protes namun gak berani keluar dari bibirnya.


"Mari dukung minum, Bu, Nak Zein," suara Bunda Muna yang mengawali setelah membantu Muna menurunkan minum juga camilan yang di bawa.


"Terima kasih, Bu. Malah jadi ngerepotin kan?"


"Tidak, Bu. Hanya air daja kok," keduanya begitu ramah dalam berbicara ternyata keduanya sama-sama memiliki sifat yang lembut.


"Mari Bu, Nak Zein," Ayah Muna menambahi.


"I_iya Om terima kasih," Zein yang menjawab.


Mereka meminum beberapa teguk teh tersebut sebagai tanda menghormati pemilik rumah dan setelahnya kembali menaruh di atas meja lagi.


Muna terus diam, duduk di samping bundanya dengan perasaan yang campur aduk, ada apa ini? Muna sangat gelisah namun dia bingung karena apa.


"Pak, Bu, maksud kedatangan kami kembali sini yang pertama untuk bersilaturahmi dan yang kedua..." bu Annisa menghentikan sejenak perkataannya dan menoleh ke arah Zein yang langsung mengedipkan matanya sebagai kode.


"Saya ingin meminang anak bapak nak Muna untuk anak saya Zein," imbuhnya.


Deg...


Seketika jantung Muna bekerja sangat cepat, matanya juga langsung melihat ke arah Zein. Apakah semuanya benar? Dia tidak sedang bermimpi kan?


Tatapan mata Muna langsung di sambut dengan tatapan penuh harap dari Zein dan juga senyum yang terkesan begitu kaku. Zein masih belum tenang dia juga terlihat gelisah menunggu jawaban dari keluarga Muna ataupun Muna sendiri.


...****************...

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2