
'Takdir yang tak pernah sejalan dengan sebuah harapan. Aku mencintainya, tetapi takdir membawa yang lain untuk menjadi milikku. Ya Allah, berikanlah aku ikhlas untuk menerima takdir mu.'
#Kanaya Setya Ningrum
...****************...
Duduk seorang diri di dalam kamar. Menyandarkan punggung dan melipat kedua kaki lalu memeluknya, itulah yang Kanaya lakukan saat ini.
Berdiam diri dengan lamunan yang tiada arti. Jeritan hati juga seakan tak dia dengar dan rasakan, semua terus dia abaikan. Pikirannya seolah kosong dan tak dapat bekerja dengan baik. Selintas dua lintas ingatan manis selalu buyar begitu saja lalu hilang bagai di bawa angin.
Istighfar yang selalu di lantunkan di bibir mungilnya seakan tak dapat meresap sampai ke dalam hatinya. Jiwanya kadang kosong meski sudah berulang kali mengisinya dengan semua kenangan indah ataupun harapan indah yang dia inginkan.
Perlahan, hanya air mata_lah yang tiba-tiba keluar dari pelupuk mata. Membasahi pipi hingga menetes di atas rok berwarna hitam yang dia kenakan saat ini.
"Emak, bapak, Ayya rindu!" hanya jeritan itu yang bisa lolos keluar dari bibirnya. Di sela-sela istighfar yang terus terucap.
Kerinduan yang sangat besar hanya teruntuk kedua orang tuanya. Tak ada lagi kerinduan untuk orang lain yang tak bisa di miliki. Kerinduan itu putus setelah tak ada lagi kabar darinya bahkan sang sahabat pun tak datang menampakan diri menjelang hari paling bersejarah untuk Kanaya.
"Kang Yuan, Hani, Wati, apakah kalian memang sudah membenciku dan tak mau menjadi sahabatku lagi?" pikiran negatif yang hadir di dalam pikirannya. Tak tau apa alasan sebenarnya kenapa semua tak terlihat.
Semua seakan meninggalkannya sendiri. Tak ada yang menemani bahkan tak ada yang mengucapkan kata untuk memberikan semangat ataupun sekedar tersenyum menyapa saja. Sungguh, hatinya sangat rapuh tanpa adanya orang-orang yang begitu dia harapkan kehadirannya.
Kembali Kanaya semakin tersedu. Malamnya terasa sunyi meskipun di luar sana begitu ramai akan orang-orang yang mempersiapkan segalanya untuk acara pernikahannya besok.
Sudah sedari tadi wak nya mengira dia sudah tertidur tapi nyatanya, Kanaya sama sekali tak mampu untuk memejamkan mata. Dia begitu kalut, gelisah dalam angan yang ingin dia lupakan sejenak.
Di temani angan kosongnya Kanaya perlahan merebahkan tubuhnya, memeluk bantal satunya dengan sangat erat.
"Bapak, Emak, Aya ingin ikut kalian saja," kata-kata begitu menyayat hatinya sendiri. Semakin lama bukan semakin ngantuk tetapi malah terang namun pedih karena air mata yang tak kunjung henti.
...****************...
Gundah. Gelisah, tanpa tau alasannya terjadi pada Yuan saat ini. Di malam yang semakin larut dia tetap tak bisa tidur, padahal dia juga sangat lelah karena aktivitasnya.
Dari tadi Yuan hanya keluar masuk kost-kostan, tak jelas apa yang terjadi padanya tetapi dia tak bisa tidur.
__ADS_1
Yuan berdiri di depan kost, mendongak melihat langit yang begitu gelap gulita dan sama sekali tak ada bintang, bahkan bulan juga tidak nampak dan sekali. Dimana mereka semua?
"Kemarin Hani menghubungiku hingga lima belas kali, dan sekarang aku hubungi tidak bisa. Sebenarnya ada apa, apa yang terjadi?" pikirannya mengarah pada panggilan Hani kemarin.
Mengingat hal itu Yuan semakin tak enak pikirannya. Seakan dia merasakan kalau ada hal yang tak baik yang terjadi.
"Aku akan pulang besok. Kalau tidak, aku tak akan tau apa yang telah terjadi," gumamnya.
"Ya Allah, jangan biarkan keburukan terjadi pada orang-orang terdekatku, jangan biarkan orang-orang yang ku sayang sedih apalagi sampai mengeluarkan air mata. Jaga mereka dari hal-hal yang tak baik," harapnya tulus dari dalam hati paling dalam.
Rasa dingin yang semakin menyakiti membuat Yuan memutuskan untuk masuk ke kost, dia ingin mencoba lagi untuk tidur siapa tau dia akan bisa memejamkan mata.
Yuan merebahkan tubuhnya perlahan di samping Angga menaruh tangannya di kening dan terlihat dia begitu sangat berpikir, padahal dia sendiri bingung apa yang akan dia pikirkan saat ini.
"Astaghfirullah hal 'azim, ada apa ini?" Yuan beralih miring menjadikan tangannya sendiri sebagai bantal. Sungguh, dia tak merasa tenang sama sekali saat ini.
Shalawat juga istighfar terus bergantian keluar dari mulutnya. Membuat dirinya sendiri menjadi nyaman hingga akhirnya perlahan dia bisa memejamkan mata setelah waktu yang lama.
...****************...
Beberapa keluarga Dirga datang juga semua warga desa Buntar juga datang untuk menyaksikan acara yang paling sakral itu. Begitu juga dengan Kyai Achmad yang sudah datang.
Meski tak terlalu mewah acaranya, tapi sangat meriah.
Hani ataupun Wati sama-sama tak datang, entah kenapa tapi Kanaya sama sekali tak tau. Berkali-kali dia menoleh untuk mencari kedua sahabatnya itu, tetap saja dia tak bisa menemukan mereka.
Kanaya benar-benar seperti sendiri, tak ada yang menemaninya. Kanaya sungguh kesepian karena tak ada mereka yang datang.
Kanaya memang tak mau di make-up dengan begitu berlebihan, hanya riasan sederhana yang tetap tak menutupi bagaimana wajahnya yang asli. Bahkan Kanaya gak mau di tambah alis buatan, itulah keinginannya.
Gamis putih berbahan bordir, hijab putih, selendang putih yang menjuntai panjang di belakang juga roncean melati yang sampai perut dan juga bando dari melati yang di tambah dengan mahkota berwarna silver. Itulah yang di kenakan Kanaya. Hanya simpel.
Meski hanya riasan sederhana dan baju yang sederhana tetap saja membuat Kanaya terlihat begitu cantik. Aura pengantin begitu menyinarinya, bahkan bau melati juga begitu semerbak mengenai hidung-hidung yang melintas.
Kanaya terus menanti di dalam kamar, sementara di luar acara sudah di mulai dan Kanaya benar-benar jelas mendengar suaranya.
__ADS_1
Tubuh Kanaya begitu gemetar, hatinya juga sama. Sementara jantungnya terus berdetak gelisah tak menentu.
"Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha Kanaya Setya Ningrum binti Rahmah alal Mahril Madzkuur wa Radhiitu bihi, Wallahu Waliyut Taufiq."
"Sah!" seru pak penghulu.
"Sah!" jawab semua saksi dengan serentak, bahkan semua yang datang juga itu berseru dengan sangat bahagia.
Mengalir_lah air mata Kanaya saat ini, berganti_lah sekarang statusnya menjadi seorang istri dari seorang Dirga Gantara.
Seorang yang tak pernah dia kenal dan sebelumnya juga tak ingin dia kenal. Seorang yang sama sekali tidak dia bayangkan akan menjadi suaminya.
Takdir begitu manis-manis pahit untuk Kanaya. Dia mencintai pria lain, mengharapkan pria lain untuk menjadi imam untuknya namun ternyata yang Allah takdirkan adalah pria yang lain.
Kanaya tersedu seorang diri di dalam kamar. Entah tangis bahagia atau memang tangis yang datang karena sebuah luka.
Kanaya mengganti tisu yang ada di tangannya yang sudah basah akan air matanya. Dia terus menunduk hingga dia tak melihat akan kedatangan laki-laki yang sekarang sudah sah menjadi suaminya, ya! Dirga sudah ada di hadapannya sekarang.
Dirga mengambil sapu tangan dari jas putihnya dia berlutut di hadapan Kanaya dan perlahan ikut menyapukan air mata Kanaya. Jelas, itu membuat Kanaya langsung mengangkat wajah dan melihatnya.
Dirga tersenyum seiring tangan bergerak mengeringkan air mata Kanaya. Dirga terus melakukan karena Kanaya juga membiarkannya.
"Menangis boleh, tapi seperlunya saja. Jangan berlebihan. Itu tidak akan baik akhirnya," ucap Dirga dengan sangat lembut."
"Ma_maaf," jawab Kanaya dan Dirga hanya tersenyum.
"Sa_saya hanya merindukan emak dan bapak," ucap Kanaya lagi.
Dirga sangat tau, pengantin mana yang tidak akan menangis. Saat di hari bahagianya dia hanya sendiri. Tanpa ayah tanpa ibu yang menemaninya karena sudah pergi menghadap Sang Pencipta.
"Kirimkan doa untuk mereka, hanya doamu_lah yang mereka nantikan. Bukan air matamu." ucap Dirga lagi dengan lembut.
...****************...
Bersambung....
__ADS_1