Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Terlambat


__ADS_3

'Kamu terlihat begitu berbeda dari yang lain dan itu sebabnya aku ingin mengenalmu. Dan berharap bisa menjadikan mu milikku. Tapi ternyata aku sudah terlambat, aku kalah cepat dari orang yang begitu beruntung dan sudah memiliki mu. Apakah memang tak ada lagi kesempatan?'


#Zein Andriawan


...****************...


Sama seperti kemarin hari ini Dirga kembali mendapatkan surat lagi dari orang yang sama. Sama mengatasnamakan Yuan Prayoga juga dengan kata-kata yang hampir sama seperti kemarin.


Bahkan di sana lebih menjelaskan lagi kalau Kanaya juga sempat membalas suratnya setelah dia kirim surat kemarin yang di terima Dirga. Itu jelas tidak mungkin kan?


Bagaimana mungkin Kanaya membalas suratnya kalau dia sendiri saja tidak tau kalau dia mendapatkan surat dari Yuan, bukankah ini sangat aneh?


Di jalan untuk menjemput Kanaya di tempat kursus Dirga kembali membaca suratnya, dia tidak menyetir sendiri sekarang ada sopir bersamanya jadi dia bebas untuk membaca. Jika di baca terus menerus maka akan membuat kemarahan akan semakin besar.


"Aku sama seperti dirimu, Aya. Aku sangat merindukanmu. Senyummu, wajahmu semua tentang mu terus terngiang-ngiang di ingatan ku. Kapan kamu akan datang, Aya? dan kita bisa hidup bersama untuk selamanya dan saling berbagi kebahagiaan," ucap Dirga membaca surah itu.


Suami mana yang tidak akan marah jika lagi-lagi mendapatkan surat dengan kata-kata seperti itu yang di peruntukan untuk istrinya. Tentu Dirga sangat marah dan ingin sekali melampiaskan kemarahannya, tapi sama siapa? tidak mungkin dengan Kanaya yang sepertinya tidak tau apapun.


"Tuan, apa ada masalah?" tanya sang sopir.


"Pak, bisakah kamu selidiki siapa orang yang selalu mengirimkan surat untuk Naya? Surat-surat ini sangat meresahkan dan sepertinya orang ini memang sengaja terus mengirimkan surat karena menginginkan kesalahpahaman antara aku juga Naya. Bisa kan pak?" tanya Dirga.


Sang sopir terdiam, jika dia harus menyelidiki siapa pengirim surat itu bagaimana dengan pekerjaannya. Jaraknya sangat jauh pasti akan sangat melelahkan jika harus pulang pergi Magelang Semarang.


"Untuk pekerjaan tidak usah di hiraukan, bapak bisa fokus dengan tugas ini dan untuk pekerjaan di sini aku bisa mengendalikannya," kata Dirga yang seolah tau dengan apa sopir itu pikirkan.


"Baik, Tuan." jawabnya patuh.


Mobil melaju semakin cepat semakin dekat dengan tempat yang menjadi tujuannya, di tempat Kanaya Kursus.


Sampailah mobil Dirga di tempat parkir di halaman gedung itu. Untuk hari ini ternyata Dirga lebih cepat dan Kanaya belum selesai yang jelas Dirga akan menunggu Kanaya di mobil saja.


Dirga terus mengulang-ulang membaca surat itu sampai habis meski hatinya terus menahan marah tapi dia terus saja membaca dan terus menerka-nerka siapa sebenarnya yang mengirim surat itu


Tak ada kejelasan meski Dirga sudah membacanya lagi dan lagi, entah sudah ke berapa kali Dirga membacanya.


"Ternyata Naya belum pulang," sekali Dirga mengamati arah pintu dan belum ada satupun orang yang keluar dari sana termasuk istrinya.

__ADS_1


Sementara di dalam gedung Kanaya masih serius dengan pelajaran yang di berikan. Ternyata tak mudah ketika mempelajari untuk membuat baju saja. Padahal hanya baju yang sederhana tentu dengan rumus yang sederhana juga.


"Mbak, udah bisa belum? kalau belum nanti aku siap mengajari mbak," Zein lagi dan Zein lagi.


Ternyata pria itu juga kursus di sana. Tapi, sepertinya dia sudah lebih lama di sana karena sudah bisa bahkan dia juga sudah bersedia mengajari Kanaya juga.


"Mbak, kok nggak di jawab sih. Niat saya kan baik. Mbak kok sombong banget ya?" komentarnya karena Kanaya yang diam tak menanggapinya.


Kanaya memang sengaja diam dia tidak mau menanggapi orang yang tak jelas seperti Zein ini.


Tapi diamnya Kanaya tidak membuatnya menyerah begitu saja dan diam tapi dia malah mengatakan dan mengomentari hal-hal yang tidak baik pada Kanaya.


"Mbak, apa mbak memang tidak mau berteman dengan saya ya? niat saya kan baik, saya hanya ingin bisa berteman dengan mbak," katanya lagi.


Semakin jengah Kanaya dengan pria ini, selalu saja bicara dan terus mengganggu Kanaya. Tentu membuat Kanaya tidak bisa konsentrasi.


Belum juga paham dan kini ada Zein yang terus mengganggunya. Hadeuh.. Kanaya hanya bisa menghela nafas panjang.


"Oke, sekarang apa mau mu!" Kanaya menoleh dengan sangat kesal. Ingin sekali dia menghentikan Zein kalau tidak dia pasti akan terus kehilangan konsentrasi sampai kapanpun.


"Saya kan hanya mau berteman mbak," jawabnya dengan memasang wajah seolah dia adalah orang yang begitu teraniaya.


"Alhamdulillah, akhirnya jadi teman juga." Zein begitu bahagia karena di terima menjadi teman Kanaya. Itu adalah hal yang sangat dia inginkan.


"Oh ya! kan sudah jadi teman berarti sekarang bisa kenalan dong. Mbak namanya siapa hehehe..." Zein meringis malu-malu, persis seperti seorang gadis yang ingin berkenalan pada pria pujaannya.


"Kanaya, jelas. Sekarang jangan ganggu saya," Lagi-lagi Kanaya menegaskan.


Mimpi apa Kanaya selama ini bisa kenal dengan pria yang begitu mengejar-ngejarnya seperti ini. Pria yang tak ada kata menyerah untuk bisa menjadi teman.


Sebenarnya Zein terlihat sangat baik tapi Kanaya takut karena terlihat jelas ada sebuah obsesi yang Zein miliki atas dirinya.


Semoga saja Zein benar-benar ingin menjadikan dia teman saja tidak lebih. Kalau dia memiliki rasa yang lebih jelas Kanaya akan langsung menolaknya.


Sejenak Zein terdiam tapi matanya terus memandangi Kanaya dengan begitu serius hingga sama sekali tidak berkedip.


Kanaya begitu risih di lihat seperti itu, jika yang melihatnya Dirga itu tidak masalah karena dia adalah suaminya tapi ini adalah orang lain. Jelas itu tidak pantas.

__ADS_1


"Mbak, mbak sangat cantik," pujinya dengan mata tetap dalam posisi yang sama.


Hembusan nafas panjang lagi-lagi Kanaya keluarkan, kenapa harus Dia yang di kejar, di puji juga di amati seperti itu. Apakah tidak ada orang lain yang lebih baik darinya yang lebih cantik dan tentunya belum memiliki identitas sebagai istri orang.


"Mbak, setelah ini kita makan siang bersama yuk. Aku ada tempat yang bagus loh. Kita bisa makan di sana dengan tenang dan nyaman tentunya juga dengan makanan yang enak," katanya lagi.


Kenapa Zein ini seperti seorang perempuan, begitu banyak bicara bahkan bicaranya melebihi Kanaya sendiri yang seorang perempuan.


"Sudah ya, Mas! jangan aneh-aneh dan jangan terlalu berharap. Saya tidak akan bisa ikut dan juga tertarik pada mas. Karena apa? karena saya sudah menikah, saya sudah bersuami. Jadi saya mohon jauhi saya," kini Kanaya berbicara begitu banyak.


"Menikah? hahaha! mbak mbak. Jangan becanda, saya tau pria yang kemarin itu hanya pacar saja bukan suami. Hahaha, bercandanya lucu sekali," apakah kata-kata Kanaya seperti candaan sampai Zein tidak percaya?


"Terserah kamu mau percaya atau tidak, tapi yang jelas saya sudah menikah," tandas Kanaya.


"Zein! kau ini ya, apa tidak bisa kalau tidak menjadi pengganggu murid lain?!" Seru bu Annisa sang pemilik LPK itu.


"Hehehe... maaf, Bu." lagi-lagi dia hanya meringis.


"Naya, untuk hari ini sudah cukup ya, bisa di lanjut besok lagi. Itu di luar kamu sudah di tunggu," ucap bu Annisa memberitahu.


"Baik, Bu." Kanaya cepat bergegas. Dia harus cepat keluar dan cepat pergi dari pria itu. Bisa-bisa Kanaya stress kalau terus di sana.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Annisa.


Terlihat Zein kecewa melihat Kanaya yang pergi dia ingin berlari untuk mengejar Kanaya tapi cepat di hadang oleh Bu Annisa.


"Dasar anak nakal ya! di minta ngurusin butik nggak mau malah di sini godain bini orang. Mau mama hukum!" bu Annisa langsung menarik telinga Zein. Dan ternyata Zein adalah anak dari bu Annisa. Sang pemilik LPK.


"Hah! dia beneran udah menikah, Ma?!" Zein begitu terkejut, dia tidak percaya.


"Iya, dia sudah menikah, Zein. Jadi carilah perempuan yang masih gadis, di luar sana masih banyak."


"Huff.. belum apa-apa udah patah hati." keluhnya.


...****************...

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2