
*********
Dirga begitu bahagia kala pulang dari kantor dengan membawa sesuatu yang dipesan oleh Kanaya. Ini adalah pertama kali karena ia meminta sesuatu katanya setelah hamil, bukan makanan yang susah tapi makanan yang khas selalu diminta oleh para ibu hamil, rujak.
Dirga yang sebenarnya belum waktunya pulang dari kantor dia langsung pulang dan mencarikan rujak tersebut setelah Kanaya mengirim pesan singkat padanya.
Dirga begitu antusias membelikan itu untuk Kanaya dia ingin selalu berusaha menjadi suami siaga yang selalu ada ketika Kanaya membutuhkan.
"Assalamu'alaikum... Nay sayang!" teriak Dirga memanggil Kanaya yang entah di mana dia sekarang.
"Wa'alaikumsalam..." terlihat Kanaya keluar dari kamar Dia terlihat sangat senang melihat Dirga yang sudah pulang pastilah apa yang menjadi pesanannya sudah dibelikan.
Kanaya semakin antusias untuk menghampiri Dirga ketika melihat Dirga memperlihatkan resep berwarna putih dengan mengangkatnya sampai di depan wajahnya, Dirga juga tersenyum sembari satu tangan melambai untuk memanggil Kanaya untuk cepat datang.
"Sini, lihatlah apa yang mas bawakan untuk mu," ucap Dirga.
"Itu apa, Mas?" Tanya Kanaya yang belum jelas melihat apa isi di dalamnya meski dia tahu kalau hanya rujak saja yang dia pesan tetapi hanya sekedar untuk memastikan saja.
"Ini rujak yang kamu pesan," Dirga langsung menarik tangan Kanaya dan menuntunnya untuk duduk di kursi.
Dengan sangat semangat Dirga mulai membuka plastik dan mengeluarkan apa yang di dalamnya sebuah rujak yang berada di dalam mica.
"Kok cuma satu, Mas nggak mau ikut makan?"
"Tidak usah, yang terpenting kamu bisa memakannya dan apa yang menjadi keinginan dari anakku tercapai. Apapun yang kamu inginkan katakan kepada mas jangan hanya ditahan. Mas akan berusaha untuk mencarikannya untukmu."
Dirga terus sibuk membuka mica tersebut dan setelahnya dia sendiri yang menyuapi Kanaya memakan rujak itu.
Mencium baunya saja Dirga sudah merasa giginya ngilu sendiri apalagi kalau sampai dia ikut memakannya, pasti akan lebih parah.
Tetapi sepertinya itu tidak berlaku untuk Kanaya yang terlihat begitu menikmati rujak tersebut. Membayangkan bagaimana rasa dari mangga muda benar-benar sudah membuat saliva Dirga terus saja keluar loh.
Bukan itu saja tetapi wajah Dirga selalu memberikan ekspresi yang terlihat lucu ketika Kanaya mengunyah.
__ADS_1
"Apakah rasanya sangat enak?"
Kanaya mengangguk dengan semangat rasanya memang sangat enak mungkin karena pengaruh dari kehamilannya jadi rasa masam dari buah-buahan tidaklah terasa.
"Enak, coba Mas rasakan sedikit saja pasti mas akan ketagihan," Kanaya berganti mengambil rujak tersebut dan berniat untuk menyuapi Dirga tapi Dirga menggeleng.
"Tidak usah, mas tidak yakin dengan rasanya," Dirga menolak karena dia sudah sangat yakin kalau rasanya tidaklah enak.
"Coba dulu, Mas," Kanaya tetap kekeuh untuk menyuapi Dirga. Kanaya tidak mau kalah pokoknya Dirga harus bisa merasakan rujaknya.
"Tidak usah, Nay. Kamu saja yang makan mas tidak suka rujak," tetap Dirga menolak.
"Tidak tidak pokoknya Mas harus makan, sedikit tidak apa-apa Mas banyak juga boleh," Kanaya tetap terus membujuk.
Tak ada pilihan lagi kecuali menerima suapan dari Kanaya dan dia harus memakan rujak yang mungkin rasanya akan sangat berbeda untuknya.
Wajah Dirga begitu mengkerut ketika mau makan rujak tersebut, ekspresinya sangat lucu sekali hingga membuat Kanaya tertawa begitu lepas.
Kanaya tidak protes dia merasa senang karena Dirga mengatakan enak, sepertinya dia begitu yakin dengan apa yang dikatakan tanpa mempertimbangkan ekspresi wajah Dirga tadi.
Begitu lahap Kanaya memakan bahkan sampai hampir habis dan dia masih terus memakannya, tentu hal itu membuat Dirga merasa sangat puas dia sangat senang karena usahanya tidak sia-sia.
Satu jam dia mencari dan berkeliling kota Semarang hanya sekedar untuk mencari rujak dan alhamdulillah lelahnya terbayarkan dengan Kanaya yang memakannya sampai habis tak tersisa.
"Alhamdulillah ... Terima kasih ya Mas. Akhirnya Kanaya bisa makan rujak juga. Besok kalau pas pulang kerja beliin lagi boleh Mas," Kanaya meringis.
Ternyata Kanaya ketagihan bahkan meminta lagi untuk dibelikan besok. Tentu Dirga akan menyanggupi apa yang menjadi keinginan Kanaya.
Hanya sekedar rujak saja tak akan menjadi masalah untuknya jangankan hanya satu jam satu hari pun akan dia tempuh demi bisa membuat Kanaya bahagia ketika mendapatkan apa yang dia inginkan.
**********
Kesibukan Yuan di kampus membuat dia tidak pulang bahkan hampir satu bulan lamanya. Dulu saat dia jauh dari rumah rasanya ingin selalu pulang karena ada orang yang dirindukan, tapi kali ini tidak! Tidak ada siapapun yang bisa dia rindukan.
__ADS_1
Dalam kesehariannya dia hanya menginginkan kesuksesan untuk kuliahnya supaya dia bisa selesai sesuai waktu yang telah ditentukan sebelumnya.
Bukan hanya dengan Angga saja tetapi Yuan selalu melakukan tugas dengan semua teman-teman yang lain. Sekedar mengerjakan tugas atau hanya menghabiskan waktu luang dalam kebersamaan supaya bisa melupakan semua kenangan yang telah ada.
"Yuan, besok ada acara di kampus Kamu datang kan?" Tanya salah satu teman yang ada di sana.
Dia telah berkumpul duduk bersama teman laki-lakinya yang berjumlah sepuluhan orang. Tugas sudah selesai mereka kerjakan dan kini hanya tinggal santai-santai untuk menghabiskan waktu bersama-sama untuk menghilangkan rasa jenuh.
"Kayaknya Aku pengen pulang deh, Bapak memintaku pulang untuk besok," jawab Yuan dengan rasa bersalah karena kemungkinan besar dia tidak bisa mengikuti acara untuk besok.
Yuan juga tidak tahu kenapa dia disuruh pulang atau mungkin karena dia sudah lama tidak pulang dan kedua orang tuanya merindukan dia.
"Yah, Sayang sekali dong padahal acara besok pasti akan sangat ramai. Pasti akan terasa hampa karena kamu tidak datang."
"Kan ada yang lain. Acara besok juga bukan wajib jadi sepertinya aku memilih pulang. Sudah lama juga tidak pulang," jawaban Yuan membuat yang lain sangat kecewa. Padahal semuanya akan sangat meriah jika kedatangan Yuan juga. Karena semua acara akan selalu lebih hidup ketika ada Yuan.
"Maaf, mungkin lain kali kalau ada acara lagi akan aku usahakan untuk ikut. Tapi untuk sekarang aku tidak bisa," jawab Yuan yang sudah tidak bisa di ubah lagi keputusannya.
"Oke deh, aku tahu orang tuamu pasti sangat merindukanmu atau mungkin di rumahmu akan ada acara." kini Angga yang bicara. Teman satu kamar dengan Yuan itu selalu saja sibuk makan dalam pekerjaan apapun, bahkan ketika mengerjakan tugas pun dia tidak bisa kalau tidak ada makanan.
"Nggak tau, tapi sepertinya tidak ada acara deh. Kalau ada bapak pasti sudah memberitahu lebih dulu."
"Ya kan siapa tau. Siapa tau mau bikin kejutan gitu," Angga meringis.
"Kejutan kejutan, aku bukan bocah SD yang pantas di beri kejutan," Kali ini Yuan sudah selalu bisa bergurau. Dalam situasi seperti ini dia bisa melupakan segalanya tapi tidak ketika sendiri.
"Yeee..., namanya orang tua mana ada yang tau, Yuan."
"Kita lihat besok aja lah," jawab Yuan karena dia juga tidak bisa asal menebak-nebak.
*********
Bersambung....
__ADS_1