
*********
Beberapa hari selalu merasa tidak enak bahkan juga merasa sangat gelisah membuat wak Ami terus tidak tenang dan ingin sekali dia kembali ke Merbabu untuk mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.
Ingin sekali meminta izin kepada Dirga juga Kanaya tetapi dia seolah tidak berani, bagaimana kalau mereka berdua tidak mengizinkan dia untuk pulang dan menjenguk suaminya di kampung.
Tetapi perasaannya semakin ditahan maka semakin dia gelisah dan semakin tidak enak dan tentu juga ingin secepatnya bisa pulang dan mengetahui alasan di balik perasaannya saat ini yang seolah begitu menyiksa dirinya.
Kegelisahannya terlihat jelas oleh Kanaya yang selalu berada di rumah bersamanya juga terlihat dari asisten rumahnya.
Biasanya wak Ami akan selalu tersenyum dengan lepas dan selalu banyak bicara, tetapi beberapa hari ini dia lebih memilih diam dan hanya bicara seperlunya bahkan dia jarang sekali terlihat tersenyum kepada Kanaya juga semua yang ada di rumah itu.
Seperti kali ini dia terus dia duduk di ruang tengah sembari tangannya masih memegang kemoceng yang dia gunakan untuk membersihkan debu di meja.
Wak Ami terus melamun dan pikirannya hanya tertuju kepada suaminya yang tak bagaimana keadaannya sekarang. Apakah dia baik-baik saja bersama kedua menantunya atau malah sebaliknya.
"Wak, Apakah wak ada masalah tolong ceritakan kepada Kanaya. Sudah beberapa hari ini wak terlihat murung dan selalu diam, sebenarnya ada apa wak?"
Kanaya yang merasa curiga langsung menghampiri dan juga menggenggam tangannya membuat wak Ami seketika tersadar dan sontak melihat ke arahnya.
"Wak tidak apa-apa, Nay," jawabnya dengan berbohong karena wak Ami tidak ingin membuat Kanaya sedih dan juga merasa sangat kecewa kepadanya, Kanaya maupun Dirga sudah sangat baik kepadanya tentu dia tidak ingin mengecewakan mereka berdua yang sudah menganggap sebagai orang tuanya sendiri.
"Bohong, wak tidak dalam keadaan baik-baik saja. Katakan pada Nay, Wak. Jangan bikin Nay jadi kepikiran seperti ini," Kanaya terus mendesak.
Kanaya sangat menginginkan bahwa wak Ami akan mengatakan semuanya yang tengah dia rasakan saat ini dan membuatnya begitu gelisah.
"Nay, sebenarnya wak merindukan rumah. Wak ingin menjenguk rumah, Nay."
Wak Ami menunduk seraya mengatakan apa yang tengah dia inginkan saat ini kepada Kanaya. Dia benar-benar ingin pulang meski hanya sebentar saja. Tak masalah dia akan kembali di usir tapi dia sudah bisa tenang setelah melihat suaminya dalam keadaan baik-baik saja.
"Dalam beberapa hari lagi Mas Dirga juga akan ke sana, katanya ingin ke tempat Kyai Ahmad nanti Kanaya coba untuk bicara kepada Mas Dirga siapa tahu dia mengizinkan wak untuk ikut bersamanya."
__ADS_1
Sebenarnya Kanaya tidak ikhlas jika wak Ami kembali ke Merbabu mengingat semua yang telah dilakukan oleh wak Tejo kepadanya yang begitu sangat kejam. Tetapi, melihat wak Ami yang begitu sedih tentu Kanaya sangat tidak tega hingga akhirnya memberikan izin untuk kembali ke Merbabu.
Tetapi semua itu juga tergantung dengan izin Dirga. Jika Dirga mengizinkan maka bisa akan kembali tetapi jika tidak maka juga tidak akan bisa kembali.
"Terima kasih ya, Nay."
Kanaya semakin erat menggenggam tangan wak Ami memberikan senyum yang berhasil memberikan kekuatan untuk wak Ami yang benar-benar tengah di landa gelisah.
*********
Benar saja, Kanaya menceritakan keinginan wak Ami yang ingin pulang ke Merbabu setelah Dirga pulang bekerja.
Tidak langsung sih, tapi setelah Dirga selesai bersih-bersih dan istirahat sembari menikmati minuman yang di bawakan oleh Kanaya untuknya.
"Menurut mas bagaimana? Mas mau ajak wak untuk pulang ke Merbabu?"
Dirga berpikir sebenarnya setelah mendengar semua yang dijelaskan oleh Kanaya kepada dirinya. Bukannya tidak boleh tetapi mengingat semua yang dilakukan oleh wak Tejo membuat Dirga menjadi sangat berat untuk memberikan izin kepada wak Ami untuk kembali ke Merbabu.
"Kita lihat saja besok kalau mas sudah mau berangkat. Tapi kalau memang wak mau pulang ya mas tentu tidak bisa melarangnya. Tapi harus dengan syarat wak Ami harus tetap kembali ke sini bersama mas. Mas tidak mau Wak Ami tinggal lagi dengan mereka dan akan di perlakukan sama seperti yang sudah-sudah."
"Tapi sebenarnya mas punya saran, itu adalah rumah ayah kamu dan yang berhak menempati adalah kamu ataupun keluarga kandung dari ayahmu. Sementara wak Tejo dia tidak ada kuasa di sana jadi jika dia mengusir kamu ataupun wak Ami dia juga tidak bisa tinggal di sana. Bahkan sebenarnya kamu ataupun wak Ami bebas mengusirnya jika dia tetap berperilaku seperti itu."
Kanaya juga ikut terdiam seperti apa yang Dirga lakukan tadi setelah mendengar apa yang Dirga katakan. Memang benar sih tapi Kanaya merasa sangat tak tega jika harus melakukan hal yang seperti itu.
"Tapi itu hanya pendapat mas saja sih. Semuanya tergantung kamu juga wak."
Kembali Dirga mengatakan akan hal itu. Menegaskan kalau semua sesuai yang di kehendaki oleh Kanaya juga Wak Ami.
"Entah lah, Mas. Kita lihat bagaimana besok," katanya.
Menurut Dirga, yang punya hak kuasa saja tidak bisa tinggal di tempat itu tapi kenapa yang sama sekali tak ada kuasa malah bebas menempati tempat itu, bukankah sangat tidak wajar.
__ADS_1
Kalau yang menempati adalah Arifin, mungkin masih bisa di pertimbangkan karena dia adalah anak wak Ami masih ada hubungan dengan Kanaya, tapi wak Tejo? Jika wak Ami dan wak Tejo sampai berpisah bukankah dia tak ada hak apapun lagi?
Tapi untuk Arifin saja semua tak ada yang tau dia berada di mana sekarang. Dia pergi dengan alasan merantau tapi kenyataannya dia sama sekali tak ada kabar juga tak mengatakan dia pergi ke mana.
"Hem, bagaimana keadaan mu seharian ini? Kamu baik-baik saja kan?" Dirga mengalihkan pembicaraan menanyakan keadaan Kanaya dan yang jelas adalah kehamilannya.
"Alhamdulillah, Mas. Aku baik-baik saja kan anak kita sangat pintar. Dia tidak mau merepotkan Uminya dan juga tidak mau membuat Uminya merasakan kelelahan. Dia selalu baik."
Kanaya menunduk melihat perutnya yang sudah mulai terlihat dan perlahan mengelus nya.
Dirga juga ikut berpartisipasi dengan apa yang Kanaya lakukan, bukan hanya mengelus saja tapi Dirga juga membungkuk dan membisikkan doa juga mengajak berbicara.
"Anak Abi harus selalu jadi anak baik ya, jangan bikin umi capek atau lelah. Oke sayang," ucap Dirga setelah selesai melantunkan sebuah doa.
"Iya, Abi," Kanaya yang mewakili untuk menjawab perkataan Dirga.
Keduanya tersenyum dengan begitu bahagia, dia juga saling menatap untuk sejenak dan setelahnya Dirga memberikan kecupan untuk perut Kanaya dan beralih ke keningnya.
"Jaga dirimu baik-baik ya, Sayang. Dan ya! Jaga buah hati kita sebaik-baiknya hingga dia sampai dewasa dan menjadi seperti mu kalau dia cewek. Kalau dia cowok biar sama seperti Mas," Dirga tersenyum.
"Pasti lah, Mas. Sampai kapanpun Naya akan selalu menjaganya."
"Meski tanpa mas?"
Kanaya mengernyit, apa maksud Dirga?
"Bukan apa-apa, jangan di pikirkan," Di rengkuh tubuh Kanaya dan di tenggelamkan di dadanya di sambung dengan di hujani kecupan di puncak kepalanya.
"Ya Allah, bahagia kan selalu Kanaya ku. Jangan buat dia merasa kecewa ataupun putus asa di kemudian hari,' batin Dirga.
*******
__ADS_1
Bersambung...