
...***********...
Semua hanya bisa menangis ketika menunggu Dirga di rumah sakit. Tak dapat melihat secara langsung hanya lewat kaca saja.
Kanaya tak henti-hentinya menangis dan merasa sangat sedih juga sangat merasa sangat menyesal. Rasa paling bodoh karena tak bisa memahami suaminya yang ternyata mengidap penyakit yang sangat serius, bahkan dia sempat berpikir Dirga melakukan sesuatu yang mengkhianati cintanya.
Entah Kanaya yang terlalu bodoh ataukah Dirga yang terlalu pintar menyembunyikan semua darinya. Bahkan Kanaya benar-benar tak bisa melihatnya karen Dirga begitu pintar menyembunyikannya.
Kata-kata Dirga terus terputar di ingatan Kanaya dan membuat dia sangat takut akan kehilangan. Bagaimana kalau yang Dirga katakan adalah hal yang benar?
''Tidak, mas tidak boleh melakukan ini pada Naya,'' Kanaya kembali terisak.
Wak Ami langsung menghampiri dan langsung memeluk Kanaya, memberikan kekuatan pada keponakannya yang saat ini benar-benar sangat rapuh.
''Sabar, Nay. Dirga pasti akan baik-baik saja.'' ucap Wak Ami.
''Wak. Naya sangat takut.'' Kanaya semakin terisak.
''Ingat, Nay. Kamu tidak boleh sedih terlalu berlebihan. Ingat kesehatan anak yang ada di dalam kandungan mu, Nak.'' umi Uswah yang berbicara dia juga mendekati Kanaya yang sangat lemah itu.
Semua perawatan terbaik di dapatkan oleh Dirga, semua hanya ingin Dirga secepatnya sembuh.
Bukan hanya Kanaya saja yang merasa sangat menyesal tapi kedua orang tuanya juga. Mereka sangat mengenal Dirga dengan sangat baik tapi mereka juga tidak bisa melihat penderitaan anaknya.
__ADS_1
Selama ini berarti Dirga selalu menjalani semuanya sendiri tanpa ada siapapun yang menemaninya. Membayangkan akan hal itu saja membuat hati mereka seakan di cabik-cabik dengan sangat keras hingga rasanya sangat sakit.
''Umi, Mas Dirga,'' Kanaya kembali terisak ketika mengatakan itu kepada Umi. Dia melepaskan diri dari wak Ami dan beralih kepada Umi dan keduanya sama-sama menangis.
''Sabar, Nak. Dirga pasti akan baik-baik saja. Kita sama-sama doakan Dirga ya.''
Dalam keadaan menangis Kanaya mengangguk.
*********
Setelah di perbolehkan untuk bertemu dengan Dirga Kanaya lah orang pertama yang datang.
Dengan keadaan lemah dan sangat lemah dan pucat Dirga tersenyum menyambut kedatangan Kanaya yang perlahan mendekat dan duduk di sebelahnya.
'Mungkin di sisa-sisa akhir hidup Mas,' batinnya.
Kanaya hanya terus menangis tak mampu untuk menjawab apapun pada Dirga, hatinya begitu teriris melihat keadaan Dirga sekarang yang sangat jelas terlihat begitu kurus dengan selang rumah sakit di mana-mana.
Tangannya di biarkan ketika Dirga meraihnya dan ditarik hingga sampai di bibirnya. Sesekali di kecup dan sesekali di usapkan pada pipinya dan sesekali juga di letakkan di atas dadanya hingga Kanaya dapat merasakan detak jantung Dirga.
''Bagaimana dengan anak kita, baik-baik saja kan?'' tangannya yang satunya menyentuh perut besar Kanaya.
Kali ini anaknya pun sepertinya juga sangat kecewa dan marah pada Dirga karena sama sekali tidak mau bergerak, padahal biasanya akan selalu aktif ketika Dirga menyentuhnya.
__ADS_1
Dirga berusaha keras untuk tenang saat ini tak ada air mata yang turun meski hanya satu tetes saja. Kali ini dia sangat kuat karena ingin melihat Kanaya juga kuat.
Dirga juga tak lagi mau menyinggung akan penyakitnya tapi malah Kanaya yang memulainya.
''Apakah sangat sakit?'' Kanaya juga berusaha untuk tidak menangis lagi sekarang ini.
''Tidak. Tidak ada rasa sakit yang bisa menandingi ketika kamu membenci mas. Mas akan sangat sakit ketika kamu membenci mas. Mas minta maaf,'' sekali lagi Dirga mengecup tangan Kanaya.
Ya! mungkin memang tak ada rasa sakit yang akan melebihi rasa sakit ketika di benci oleh orang tercinta bagi para pecinta, dan itu juga yang Dirga rasakan.
''Jangan benci Mas ya, Mas tidak akan pernah merasa tenang nantinya. Doakan mas supaya secepatnya sembuh.''
''Mas berharap mas akan bisa menjalani kewajiban mas sebagai abi ketika anak kita lahir nanti. Mas ingin mengadzaninya dan memberikan nama yang sangat indah untuknya.'' Dirga berusaha tersenyum sekarang.
''Pasti, pasti mas akan sembuh dan bisa menjalankan kewajiban mas sebagai abinya. Mengadzaninya, memerikan nama yang indah untuknya dan juga menemani di setiap perkembangannya.''
''Terima kasih ya sayang, sudah menjadi bagian dari hidup mas,'' ucapnya.
''Hem,'' Kanaya hanya mengangguk saja.
*****
Bersambung...
__ADS_1