Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Gagal Panen


__ADS_3

...****************...


Sudah tak sabar Kanaya untuk kembali ke Magelang. Masih dengan bersiap-siap dia sudah begitu antusias dan terus mengajak Dirga untuk lebih cepat lagi dalam bersiap.


Terasa semua bayangan di lereng Merbabu sana sudah terus berada di depan mata, membuat Kanaya tak sabaran.


"Mas, ayo cepat. Naya sudah tidak sabar ingin secepatnya pulang," ucapnya begitu antusias.


"Pulang? kalau kamu menginginkan pulang berarti kita tidak jadi pergi dong, kan rumah kamu di sini sekarang," jawab Dirga.


Kanaya terdiam sesaat, benar kata Dirga. Bahwa di sinilah tempat Kanaya pulang. Tak ada lagi tempat di Magelang kecuali hanya menjadi tamu saja sekarang.


Bahkan dulu pun juga tidak karena dia hanya menjadi orang yang menumpang hidup pada wak_nya. Dan sekarang, setelah menikah dengan Dirga di sinilah Kanaya mendapatkan tempat yang di sebut rumah, dan di sinilah tempat dia kembali pulang.


"Kenapa diam saja, apakah kamu tidak suka menjadikan rumah ini sebagai rumah mu? menjadikan tempat tujuan untuk pulang saat kamu pergi?" Dirga mendekat, mengejutkan Kanaya dengan menyentuh bahunya.


Matanya menatap lekat wajah istrinya yang masih terpaku diam, entah apa yang dia pikirkan saat ini yang jelas dia terlihat berfikir keras.


"Hem?" Dirga kembali meminta penjelasan. Apakah Kanaya masih mengharapkan dia akan kembali pulang di Magelang, dan menjadikan tujuan pulangnya di sana padahal disinilah sekarang rumah yang sebenarnya?


"Tidak, Mas. Disinilah tempat Kanaya pulang. Dimana mas Dirga tinggal di sanalah tempat Kanaya kembali," jawabnya.


Kini Dirga tersenyum senang, jawaban Kanaya adalah jawaban yang sangat dia ingin dengar. Dirga juga tidak mau memaksa kalau Kanaya masih mau beranggapan seperti itu, karena memang butuh waktu untuk benar-benar bisa lepas. Apalagi di sana Kanaya sudah tak punya orang tua dan hanya Wak-nya saja.


"Apakah kamu sedih?" tanyanya.


"Hem, bukankah mas selalu berusaha membuatku bahagia, kenapa aku harus bersedih," begitu yakin Kanaya menjawab.


Lagi-lagi Dirga di buat tersenyum, kini dia beralih merangkul pundak Kanaya hingga mereka berdua saling menempel.


"Sudah siap?" tanya Dirga dengan sedikit melirik ke arah wajah Kanaya yang tenggelam di dadanya.

__ADS_1


"Hem," jelas Kanaya langsung mengangguk, dia sudah tak sabar untuk ke Magelang. Dia ingin bisa bertemu dengan sahabatnya.


"Kita berangkat sekarang," di lepaskan Kanaya dan Dirga langsung mengambil perlengkapan mereka berdua yang ada di dalam tas ransel berwarna hitam.


Satu tangan Dirga memegangi ransel sementara satunya menggenggam tangan Kanaya.


Semuanya sudah siap, bahkan pak Danu juga sudah stay di samping mobil, Pak Danu sudah siap untuk menjadi sopir dan akan mengantarkan majikannya kemanapun yang mereka ingin.


"Terimakasih, Pak," ucap Dirga setelah pak Danu mengambil alih tas dari tangan Dirga dan memasukkannya ke bagasi.


Perjalanan segera di mulai, ini adalah kembalinya Kanaya ke Magelang setelah dia menikah dengan Dirga. Berharap semua akan baik-baik saja dan mereka berdua akan selalu bahagia di manapun berada.


...****************...


Tak ada persiapan apapun dari wak Ami juga wak Tejo untuk menyambut Kanaya juga Dirga. Bahkan mereka berdua tidak tau kalau Kanaya juga Dirga akan datang.


Keduanya tetap beraktivitas seperti biasa, pergi ke ladang dan juga melakukan apapun seperti biasanya. Begitu juga dengan Arifin yang juga tidak tau.


Tapi, kali ini wak Tejo tengah uring-uringan di ladang. Sayuran yang tinggal panen di serang hama yang sangat luar biasa banyaknya. Menjadikan panennya gagal padahal sudah di perkirakan mereka akan untung besar.


"Astaga, ini kenapa bisa. Padahal sudah aku rawat dengan sangat baik. Bahkan obat-obatan juga aku pilih yang sangat mahal. Arghhh!" teriak wak Tejo yang begitu frustasi.


Tangannya terus menggaruk kepalanya yang seolah tiba-tiba gatal padahal tak ada kutu atau apapun yang mengganggunya.


"Gagal sudah, keuntungan yang aku harapkan kini menjadi kerugian yang sangat besar, arghhh..." kembali kedua tangannya menyibak rambutnya dengan kasar, wak Tejo benar-benar tak habis pikir kenapa bisa terjadi?


"Pak, jadi gagal dong untuk lamarin cewek Arifin. Dia sudah terus mendesak Arifin, Pak," ucap Arifin.


Bukannya membantu menenangkan bapaknya tapi Arifin menambah pusing, jelas itu membuatnya semakin frustasi.


"Kamu nggak lihat nih! semuanya hancur begini. Semua tak bisa di harapkan! nggak laku untuk di jual, bagaimana bisa bapak lamarin pacar kamu itu!" semakin emosi Wak Tejo.

__ADS_1


"Tapi, Pak. Dia sudah tidak bisa menunggu lagi. Kalau Arifin tidak melamarnya cepat dia akan menikah dengan orang lain, Arifin tidak mau itu, Pak!" Arifin terus saja mendesak.


Sama sekali tidak memikirkan bagaimana keadaan orang tuanya sekarang, entah ada dan tidak adanya modal utama melamar.


Bukan hanya bertani saja yang membutuhkan modal bahkan melamarnya seorang gadis juga membutuhkan modal yang besar apalagi kalau mereka mendesak langsung menikah itu akan semakin banyak lagi modalnya. Tapi Arifin tidak memikirkan itu.


"Kamu ngerti nggak sih, Fin! bapak lagi pusing ini gara-gara gagal panen, dan kamu malah menambah pusing bapak dengan keinginan mu itu! makanya kerja, Fin! jangan hanya lontang-lantung tidak jelas seperti ini!"


"Loh! kenapa bapak jadi mempermasalahkan ini pada Arifin, kalau bapak pusing yang pusing saja tapi jangan berkata seperti itu dong pak sama Arifin!"


"Loh, kenapa sekarang kamu jadi nyolot begini sama bapak! emang bapak salah kalau meminta kamu untuk bekerja!"


"Kenapa harus bekerja kalau semua saja bisa bapak kasih. Kalau memang panennya gagal dan tak bisa mendapatkan uang, kenapa tidak jual saja ladangnya, kan beres!"


Saran yang sangat menjerumuskan dari Arifin. Dia tidak peduli apapun entah itu ladang hak siapa yang penting dia bisa menikah dengan kekasihnya dengan cepat.


Arifin tidak mau sampai di tinggal nikah oleh kekasihnya yang jelas sangat dia sayang itu. Dia tidak akan rela.


"Apa kamu bilang! jual ladang ini?! kamu nggak bisa mikir, Fin!"


"Buat apa harus di pikir, Pak. Kita jual ladang ini juga tidak akan rugi kan? ini bukan ladang kita kan? jadi tidak ada ruginya!"


"Tapi, Fin!" sepertinya wak Tejo masih mempertimbangkan saran dari Arifin itu.


"Udah ya, Pak. Pokoknya Arifin mau dalam minggu ini bapak lamarin kekasih Arifin. Kalau tidak mau, lihat saja apa yang bisa Arifin lakukan," entah apa yang akan di lakukan Arifin tapi yang jelas hal yang tidak baik.


"Fin! kamu mau kemana! bantu bapak!" teriak wak Tejo.


Arifin tetap tak peduli dia tetap pergi meninggalkan bapaknya dalam kebingungan.


"Arghhh! dasar anak nggak tau di untung!" omel nya.

__ADS_1


...****************...


Bersambung....


__ADS_2