
...****************...
Di peringatkan buka berarti Zein akan diam begitu saja. Meski sudah keluar dari ruangan juga belum tentu dia akan menyerah begitu saja.
Katanya ada yang menunggu dan itu membuat Zein keluar dan benar, memang ada yang menunggu tapi dia adalah papanya sendiri.
"Zein, kata mama kamu..."
"Apa yang mama katakan, Pa? Mama pasti bilang kalau Zein terus mengganggu muridnya, iya kan, Pa?"
Zein menoleh ke arah papanya yang kini terus mengawasi gerak-geriknya. Sudah seperti anak kecil atau mungkin seperti seorang penjahat semua yang Zein lakukan terus di awasi. Apalagi dia yang terus ingin mendekati Kanaya.
"Apa yang mamamu katakan adalah benar, Zein. Sebaiknya kamu jauh-jauh darinya dan cari yang belum menikah. Di luar sana masih banyak, Zein." Katanya.
"Hem," hanya itu saja yang Zein katakan untuk menjawab papanya. Dia tentu sangat malas karena bukan mama bukan papa keduanya seperti sama-sama ikut campur dengan apa yang dia suka.
Zein duduk di tempat tunggu, berharap dia akan bisa secepatnya kembali melihat Kanaya yang pulang. Atau mungkin dia akan mencoba untuk menawarkan diri untuk mengantarkan Kanaya.
Ternyata larangan dari mama juga papanya tidak menyurutkan semangat Zein untuk mendekati Kanaya. Dia masih sangat semangat, ada rasa kebahagiaan saat dia berhasil membuat Kanaya kesal padanya dia sangat puas.
...****************...
Seperti hari-hari biasa Hani sekarang, selalu membantu orang tua di kebun. Menanam juga merawat bahkan juga memanen tanaman yang sudah siap di panen.
Dia tak pernah mengeluh meski takdirnya dia masih seperti sekarang ini. Takdir yang tidak sama seperti kedua sahabatnya.
"Nduk, kemarin itu emak lihat kamu di anter pulang sama Yuan, pemuda desa sebelah. Sebenarnya kamu dan dia ada hubungan apa to, Nduk?" tanya Sang emak.
Hani terkesiap, bagaimana mungkin emaknya bisa bertanya seperti itu dan dari dari mana emaknya tau kalau Hani pernah di antar oleh Yuan?
"Hani tidak ada hubungan apapun kok dengan kak Yuan, Mak. Kami hanya sebatas teman saja," jawab Hani dengan sangat ramah.
"Oh, tak kira memang ada hubungan serius. Kalau ada emak restuin kok," emak Hani malah cengengesan setelah mengatakan kalau dia memberikan restu pada Hani dan Yuan.
__ADS_1
Emak mana yang tidak akan restu jika anaknya bersanding dengan pemuda baik juga sangat terpelajar. Orang tua manapun pasti akan sangat senang kan?
"Apa sih, Mak. Hani juga kak Yuan tidak ada hubungan apapun kecuali hanya sebatas teman," sekali lagi Hani menegaskan.
Tapi emaknya masih saja tak percaya meski dia sudah mengatakan hal yang sejujur-jujurnya.
"Yo wes. Tapi emak akan berdoa semoga dari yang tidak ada apa-apa bisa menjadi apa-apa," jawabnya.
"Apa sih, Mak. Jangan aneh-aneh deh," Hani tak habis pikir. Bagaimana mungkin emaknya begitu menginginkan Yuan yang akan bersanding dengan anaknya ini.
"Tidak salah kan jika berdoa," emang tidak salah dalam sebuah doa. Semua orang bisa berdoa dan meminta apapun termasuk meminta hal yang tak mungkin dan bisa menjadi mungkin.
'Mak mak, Hani itu tidak ada hubungan apapun dengan kak Yuan. Dia memang pernah mengantar Hani pulang tapi itu semua karena Kanaya, bukan karena Hani sendiri," batin Hani.
Jika di suruh menilai maka Hani juga akan menilai positif untuk Yuan. Jika dia memang berkesempatan memilih pasangan maka dia juga akan memilih laki-laki yang sama seperti Yuan.
Dia sangat baik juga sangat sopan. Dia begitu setia dan juga tidak neko-neko. Pokoknya dia paket komplit untuk Hani. Tapi mau bagaimana lagi, masalah hati tidak bisa di paksakan begitu saja. Semua akan datang dan akan pergi sesuai dengan kehendak-Nya.
...****************...
Dirga sudah sangat tidak sabar, dia sangat ingin bisa cepat pulang dan bertemu dengan istrinya, dia sangat merindukannya.
Senyumnya, kata-kata yang malu, juga semua tentangnya membuat Dirga tak sabar ingin bisa cepat pulang.
Kali ini setelah waktu sedikit senggang Dirga gunakan untuk pergi ke pusat perbelanjaan. Dia berniat mencari sesuatu yang indah yang ingin dia berikan pada Kanaya sebagai hadiah.
Memang Kanaya tidak minta apapun, tapi dia yang menginginkannya.
Sebuah kalung berlian menjadi tujuan Dirga, setelah dia melihat dia langsung tertarik sampai kini juga langsung mendekat.
Dirga tau, berlian seperti itu pasti harganya sangat mahal tapi itu tidak sebanding dengan kebahagiaan Kanaya yang akan dia lihat.
Senyum bahagia juga cinta yang mungkin perlahan tumbuh di hati Kanaya itu lebih dari segalanya.
__ADS_1
"Mbak, bisa bungkus ini," katanya. Bahkan Dirga langsung minta di bungkus tanpa bertanya lebih dulu berapa harganya. Sungguh! Dirga pasti sangat kaya hingga membeli berlian sama seperti membeli sebuah makanan.
"Baik, Tuan." dengan senang hati penjaga toko itu langsung melakukan apa yang Dirga minta. Membungkus dengan rapi dan indah berlian itu.
"Bisa bayar dengan ini?" tanyanya dengan menyodorkan kartu ATM tampa batasnya yang berwarna hitam.
"Bisa, maaf bisa tunggu sebentar," jawabnya dengan begitu ramah.
"Hem," Dirga mengangguk. Dia menunggu penjaga itu untuk menyelesaikan transaksinya.
Tak berapa lama penjaga itu kembali lagi dengan kotak berlian itu yang berwarna merah juga mengembalikan kartu milik Dirga.
"Ini, Tuan," ucapnya seraya menyodorkan keduanya.
"Terima kasih," Dirga terlihat senang, akhirnya dia bisa membelikan barang berharga untuk Kanaya. Semoga saja istrinya itu senang.
Dirga keluar dari sana dia bergegas pulang karena dia juga mau istirahat. Hari-hari yang sangat melelahkan untuknya hingga dia sangat kekurangan istirahat.
Ting...
Pesan masuk di ponsel Dirga, sepertinya yang mengirim pesan adalah orang kantor.
"Assalamu'alaikum, Pak. Ini, saya hanya mau menyampaikan kalau hari ini ada surat lagi yang datang. Jadi surat yang datang sudah ada empat, Pak."
Dirga sangat penasaran. Kira-kira surat itu dari siapa. Kenapa orang suruhannya juga belum bisa mendapatkan informasi sama sekali.
Apakah benar surat itu dari Yuan, atau dari orang lain yang memang sengaja ingin mencerai berai hubungan dia dengan Kanaya?
"Aku akan menemukan mu, setelah aku pulang kau adalah target ku." gumam Dirga.
...****************...
Bersambung...
__ADS_1