
********
Tentu kepergian Dirga bukan seperti apa yang dia katakan kepada Kanaya melainkan dia pergi ke rumah sakit yang sudah di rujukan oleh dokter yang bisa menangani.
Semua Dirga melakukan sendiri karena memang tidak ada yang menemaninya dalam pengobatan ini. Berkali-kali dia beristighfar karena merasa bersalah kepada keluarganya karena tidak berkata jujur, tapi mau bagaimana lagi keadaan belum memungkinkan untuk dia mengatakan hal yang sejujurnya.
Para pihak rumah sakit yang menangani Dirga juga merasa sangat kasihan karena dia yang berobat untuk penyakitnya yang sangat panas tetapi tidak ada satupun keluarga yang menemani, jelas mereka semua akan merasa sangat iba.
Bukan hanya semata-mata untuk berobat seperti biasa saja tetapi kali ini diri kamu lakukan kemo yang diharapkan bisa membunuh sel kanker yang ada di dalam kepalanya, karena itulah saran yang diberikan oleh dokter yang pertama kali menanganinya.
"Bismillahirrahmanirrahim," Dirga akan melakukan apapun yang terpenting dia bisa sembuh dan kelak bisa hidup bahagia bersama istri dan anaknya setelah dia lahir di dunia.
Berbagai tes Dirga lakukan hingga akhirnya dia masuk ke ruang kemo bersama orang yang sangat ahli dalam bidang itu.
Dzikir terus terucap entah itu keluar dari bibirnya atau hanya di dalam hatinya saja tetapi yang jelas Dirga hanya mengingat Allah dan memohon kesembuhan darinya karena Allah lah yang telah menurunkan penyakit kepadanya dan Allah juga yang akan menurunkan obat untuk dirinya.
Butir-butir air mata keluar mengiringi harapan Dirga untuk bisa juga mengiringi segala angan-angan yang terlintas di dalam kepalanya.
Rasa takut tentu ada bagaimana kalau penyakitnya tidak dapat disembuhkan, Bagaimana dengan nasib Kanaya dan juga anaknya kelak tanpa dirinya.
"Mas, mas harus semangat. Ingat senyum kebahagiaan keluarga dan jadikan mereka penyemangat untuk kesembuhan mas," ucap sang dokter sebelum kemoterapi_nya di mulai.
"Hem, terima kasih dok."
__ADS_1
Sang dokter tersenyum dengan ucapan Dirga yang terlihat tegar meski sebenarnya dia menyembunyikan semua perasaan sedihnya pada dokter itu.
"Bisa kita mulai?" tanya sang dokter.
"Hem," Dirga mengangguk. Tentu, lebih cepat lebih baik kan?
'Ya Allah, Engkau yang telah menurunkan penyakit ini dan Engkau juga yang menurunkan obatnya. Hamba sudah bertawakal dan melakukan apa yang bisa hamba lakukan, dan keputusan akhirnya hamba serahkan kepada-Mu.' batin Dirga.
********
Setelah Siang dan di jam istirahat Zein pergi untuk menemui Muna di kampus, tentunya untuk mengajak makan siang bersama.
Sebisa mungkin Zein akan selalu meluangkan waktu untuk bisa selalu bersama dengan Muna supaya mereka bisa benar-benar kuat hubungannya.
"Mas, mas bilang kemarin ingin jujur kan kepada Muna. Apa yang sebenarnya terjadi kepada Mas Dirga?"
Muna begitu tidak sabar untuk mengetahui penyakit apa yang sebenarnya menimpa Kakak sepupunya itu. Zein sudah berjanji kepadanya untuk jujur dan sekarang dia sudah tidak sabar untuk segera mengetahuinya.
"Bentar dong, Sayang. Kita habiskan dulu makan siangnya," ucap Zein.
"Janji ya?!" Muna sangat menegaskan. Tentu dia tidak mau sampai Zein berbohong kepadanya.
Semalam seharusnya Zein mengatakan tapi karena kelelahan Muna yang tidur duluan. Jadi siapa yang salah? Muna sendiri kan.
__ADS_1
"Iya iya!" Zein juga sama menegaskan kalau dia tidak aku berbohong kepada Muna soal Dirga. Dia sudah berjanji akan selalu mengatakan apapun dan tak akan ada rahasia.
Hingga akhirnya makan siang mereka selesai dan Muna semakin tak sabar.
"Mas, cepat katakan," ucapnya lagi.
"Tapi kamu jangan syok ya. Dan ya! Kamu jangan katakan dulu pada Kanaya, ini masalah mereka jadi biar Dirga sendiri yang mengatakannya. Tapi saya ya akan membujuk Dirga jika dia tetap tidak mau mengatakan."
"Iya, cepat katakan, Mas." Semakin Muna tidak sabar untuk segera tau.
"Dari obat yang sudah di cek, obat itu adalah obat yang biasa di konsumsi pada pasien yang menderita kanker, Yang."
"Kan_kanker?!" pekik Muna tak percaya.
Zein mengangguk cepat, itu memang yang Safari katakan. Apalagi di perjelas ketika Dirga langsung pusing ketika hanya di jitak oleh Zein meski hanya sangat pelan.
"Astaghfirullah, mas Dirga," Lesu, jelas Muna langsung lesu dan juga sangat sedih.
Muna saja sudah langsung seperti itu dan rasanya tidak semangat lagi untuk melakukan apapun bagaimana dengan Kanaya?
******
Bersambung....
__ADS_1