Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Merasa Minder


__ADS_3

...****************...


Tangan terus bergandengan setelah keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah umi Uswah. Tangan Kanaya juga Dirga terus saling bertautan dan saling menggenggam dan merasa saling memiliki dan melindungi.


Senyum terus terpancar dengan sesekali mata yang terus saling menatap. Memberikan pujian kepada masing-masing meski dalam hati keduanya dan tak terucap dari lisan.


"Assalamu'alaikum!" seru Dirga dengan suara kerasnya sementara Kanaya hanya dengan suara yang lirih.


"Wa'alaikumsalam," jawab semua orang yang ada di dalam.


Begitu ramai akan semua orang-orang, lebih tepatnya para ibu-ibu yang usianya hampir sama dengan umi Uswah.


Semua juga langsung menatap keduanya yang melangkah masuk, semua saling tatap-tatapan dengan melempar senyum. Jelas, mereka semua merasa ikut merasa senang dan seolah ikut merasakan kebahagiaan yang ada pada Kanaya juga Dirga.


"Mas, kok banyak orang. Ada acara apa?" bisik Kanaya.


"Kata umi lagi ada arisan. Tapi mas pikir Umi hanya mau pamer menantu saja makanya Umi minta aku ajakin kamu ke sini," jawab Dirga.


"Hem?" Kanaya begitu ragu dia sangat malu untuk menghampiri ibu-ibu yang begitu banyak. Begitu grogi karena baru kali ini Kanaya akan benar-benar di kenalkan pada semua teman-teman Umi.


"Sini, Nduk," begitu semangat Umi menghampiri Kanaya lalu menggandengnya. Menuntunnya hingga sampai ke hadapan semua teman-temannya.


"Kenalin, ini Kanaya menantu saya. Istrinya Dirga," ucapnya dengan bangga. Memperkenalkan Kanaya tanpa rasa malu.


"Wih, ayu banget, Jeng," jawab salah satu dari mereka.


Ibu-ibu yang kurang lebih dua belas orang itu langsung di salami dengan takzim oleh Kanaya membuat mereka semua terkagum-kagum.


"Wih, ayu perilakunya juga," sahut yang lain.


Semakin berbunga-bunga Umi Uswah ketika menantunya mendapatkan pujian, berarti tak salah kan mereka memilih Kanaya. Alias sudah sangat tepat.


"Alhamdulillah," jawab Umi.


Kanaya hanya tersenyum simpul saja dengan beberapa candaan semuanya, sementara Dirga dia juga melakukan hal yang sama, menyalami semuanya. Tak masalah, mereka seumuran dengan Umi Uswah sudah seperti ibu sendiri juga bagi Dirga karena sudah begitu akrab dengan mereka.

__ADS_1


"Ealah, Jeng. Padahal aku lagi mau daftarin anak saya untuk jadi mantu Jeng Uswah. Tapi ternyata udah terlambat," entah beneran atau nyata tapi itulah yang di katakan salah satu dari mereka.


"Hahaha, kamu kurang gercep, Jeng Rani," semua tertawa sementara Umi Uswah hanya tersenyum kecil saja.


"Halah, gagal punya mantu cakep sing sholeh kayak Nak Dirga," katanya lagi. Terdapat semburat kecewa di wajahnya berarti apa yang telah dia katakan itu memang benar-benar nyata. Dia ingin anaknya menikah dengan Dirga.


"Berarti belum jodoh, Jeng," ibu yang lain yang bicara.


"Umi, Dirga kamar dulu," pamit Dirga.


"Yo wes, nak Naya biar di sini dulu nemenin Umi," dan tertahan lah Kanaya di sana, kalau Umi sudah bicara seperti itu tidak mungkin Dirga akan menentangnya. Begitu juga dengan Kanaya yang harus menurut dan tetap tinggal.


"Iya, Umi," Dirga langsung bergegas. Sejenak Kanaya memandangi Dirga, rasanya tak ingin di tinggal tapi mau bagaimana lagi.


Dirga hanya meninggalkan anggukan kecil juga senyuman tipis saja sebelum dia benar-benar pergi membuat Kanaya pasrah sekarang.


"Masih kuliah ya, Jeng?" tanya ibu yang lain.


Kanaya seketika menoleh, matanya terkesiap karena pertanyaan itu. Bagaimana jika semuanya tau apa pendidikan terakhir Kanaya apa semua akan mengejek Umi?


"Tidak, dia sedang kursus," jawab Umi.


"Oalah, cuma kursus. Tak kirain kuliah atau mungkin sudah kerja," kan benar, kata-kata dengan sedikit merendahkan itu Kanaya dengar.


Lalu kenapa jika Kanaya hanya kursus, apakah itu tidak baik?


Apakah dengan hanya kursus lantas bisa di hina begitu?


Kanaya terdiam tanpa kata, dia jelas tak berani berkata-kata karena dia memang menyadari siapa dirinya. Seorang wanita yang datang dari desa tanpa pendidikan tinggi juga tanpa pengalaman. Benar-benar tak bisa di banggakan.


Umi Uswah mengelus punggung Kanaya yang tau kalau Kanaya memikirkan sesuatu, mungkin karena perkataan tadi.


"Iya, tapi dia tetap kebanggaan kami. Dia adalah menantu terbaik kami," puji Umi Uswah.


Alhamdulillah, terlihat Umi begitu tulus mengatakan itu, bahkan mengatakannya dengan begitu sangat yakin.

__ADS_1


"Padahal kalau dengan anak saya kan dia malah sudah menjadi guru," katanya lagi.


Kanaya sangat minder, dia merasa tidak nyaman di banding-bandingkan seperti ini. Tapi itulah jalannya, Kanaya harus tetap diam dan mengolah hatinya untuk tetap bersabar dengan perkataan yang seperti apapun.


...****************...


Masih di rumah Umi Uswah juga Abi. Dirga dan Kanaya masih makan malam bersama. Sebenarnya mereka ingin pulang sebelum makan tapi itulah Umi. Dia tidak akan membiarkan keduanya pulang sebelum makan malam.


"Abi, lusa Dirga dan Kanaya mau ke Magelang," ucap Dirga.


"Ke Magelang, kenapa? apa ada acara?" Abi begitu terkejut.


Bukan hanya Abi saja tapi Kanaya sendiri juga sama, Dirga belum mengatakan itu padanya.


"Tidak Abi, hanya mau ke tempat Kyai Achmad saja. Sama mau ziarah ke makam orang tua Naya," jawab Dirga yakin.


Tidak tau kalau ada angan-angan seperti itu tapi Kanaya sangat senang. Dia sudah sangat merindukan orang-orang yang dia sayang di sana.


"Lalu kursus Naya?" tanya Abi lagi dan Umi juga mengangguk.


"Naya akan libur dulu, Abi. Paling hanya dua atau tiga hari."


"Baiklah, tapi hati-hati. Ada pak Danu kan yang akan nyetir mobilnya?"


"Iya, Bi," Abi mengangguk sepakat setelah tau Dirga tidak nyetir sendiri. Abi begitu khawatir padahal Dirga juga biasa pergi sendiri dengan jarak yang jauh. Mungkin kali ini karena ada Kanaya bersamanya.


'Maaf, Bi.Sebenarnya bukan hanya itu saja alasannya. Tapi Dirga hanya ingin menyelidiki siapa yang terus mengirim surat pada Naya dengan mengatasnamakan Yuan.' batin Dirga.


'Aku senang bisa ke Magelang, tapi kenapa aku merasa ada yang aneh ya, apa mas Dirga menyembunyikan sesuatu dari ku?' kini Kanaya yang membatin.


Makannya Dirga juga Kanaya dia percepat mereka ingin segera pulang karena takut akan kemalaman juga. Karena saat ini Dirga nyetir sendiri sementara pak Danu tengah mengerjakan pekerjaan atas perintah Dirga.


...****************...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2