Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Semuanya Lancar


__ADS_3

...****************...


Kanaya begitu terkejut, dia juga langsung khawatir saat melihat wajah suaminya yang begitu pucat. Baru saja dia masuk ke dalam mobil dan sudah melihat Dirga yang jelas dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Tetapi meski seperti itu Dirga tetap tersenyum dan berusaha memperlihatkan kepada Kanaya kalau dia dalam keadaan baik-baik saja.


"Mas, kamu sakit?" belum juga mengucapkan salam tetapi Kanaya sudah langsung menanyakan keadaan Dirga, tentu Kanaya sangat khawatir.


"Tidak, mas tidak sakit hanya merasa lelah saja," jawab Dirga yang terus memperlihatkan dirinya yang baik-baik saja kepada Kanaya.


"Beneran?" Kanaya tidak percaya begitu saja karena Dirga benar-benar terlihat sangat pucat.


"Beneran, mas tidak apa-apa. Mas hanya lelah nanti dibuat istirahat juga sudah kembali baik lagi," jawab Dirga seraya mengelus kepala Kanaya bagian belakang.


Kanaya yang sadar kalau Dirga tidak dalam keadaan baik-baik saja hanya diam dan membiarkan Dirga bersandar pada sandaran kursi di dalam mobil.


Sebenarnya Kanaya ingin bercerita begitu banyak apa yang telah dilewati seharian ini tetapi melihat Dirga yang seperti ini Kanaya menjadi urung dan hanya diam.


Perjalanan pulang sangatlah lancar tidak ada hambatan apapun bahkan jalanan yang biasanya macet kali ini begitu lancar membuat Kanaya merasa lega itu artinya Dirga bisa istirahat lebih cepat.


...****************...


Dirga yang masih merasa pusing tidak ikut Kanaya juga Muna untuk mengajar anak-anak di masjid. Dirga mempercayakan itu kepada istri dan sepupunya dia percaya mereka berdua bisa mengemban amanahnya dengan baik dan mengajar anak-anak dengan baik juga.


Dirga sangat percaya kepada Kanaya karena memang dia sudah terbiasa dengan anak-anak begitu banyak bahkan bisa membuat anak-anak menjadi lebih baik.


Berdua Kanaya dan Muna berjalan menuju masjid, tentu mereka berdua tidak hanya diam tapi saling bercerita dengan apa yang menjadi pengalaman selama ini. Kanaya bercerita tentang kursus juga tentang paket C yang sedang dia jalani sementara Muna bercerita tentang kuliahnya.


"Kuliah itu enak ya?" tanya Kanaya begitu penasaran kepada Muna.


"Bisa banyak teman, banyak pengalaman dan yang jelas bisa semakin banyak ilmu untuk mempersiapkan masa depan untuk menggapai impian, bukan begitu kan Mbak Muna?" tanya Kanaya yang terlihat begitu sangat ingin kuliah sama seperti Muna.


Tetapi apapun itu yang diinginkan oleh Kanaya hanya bisa terjadi jika Dirga mengizinkannya. Tetapi Kanaya tidak akan sampai untuk mengatakan apa yang menjadi keinginannya karena dia tidak mau terlalu menjadi beban untuk Dirga.


Sudah begitu banyak yang diperlakukan kepadanya dan dia belum bisa membalas satupun dari budi baik Dirga.


"Ya memang enak, benar-benar bisa mendapatkan hal baru yang belum pernah kita pikirkan sebelumnya. Kita dituntut untuk bisa melakukan apa yang menjadi tujuan kita. Tercapai dan tidaknya sebuah mimpi itu tergantung diri kita sendiri, kalau kita menginginkannya dan melakukan dengan benar-benar maka semua akan terwujud. Tetapi, kalau kita tidak bisa melakukan dengan benar maka semuanya hanya akan menjadi mimpi belaka yang tidak akan pernah bisa kita capai," jawab Muna yang begitu jelas.


Apa yang dikatakan oleh Muna semuanya adalah benar, semua tidak akan pernah terwujud jika kita tidak bisa memanfaatkan semua dengan baik.


Mungkin sekarang Kanaya baru bisa bermimpi untuk bisa kuliah tetapi suatu saat pasti dia akan bisa melakukan itu jika apa yang sekarang dia jalani dia tekuni dengan baik dan mimpi Kanaya satu persatu akan terwujud dengan berjalannya waktu.


...****************...


Rasa malu benar-benar telah didapatkan oleh Arifin dan keluarganya. Pernikahannya gagal. Kini mereka selalu di cemooh oleh orang karena semua perbuatan yang dilakukan oleh Arifin.

__ADS_1


Menghamili dua gadis sekaligus adalah hal-hal yang sangat memalukan bagi keluarga. Nama baik seketika tercoreng dan akan sangat susah untuk kembali menjadi orang yang terhormat dan begitu di segani seperti sebelumnya.


Wak Ami selalu saja menangis di setiap malamnya, bahkan di saat-saat dia duduk seorang diri dia hanya bisa meratapi nasib akan kegagalan dalam mendidik anaknya.


Wak Ami bener-bener sangat malu tetapi bukan hanya itu yang membuat dia merasa sangat sedih dan sakit hati tetapi yang lebih membuat sedih adalah dia yang merasa gagal.


Sementara Wak Tejo selalu menyalahkan dan melimpahkan apa yang terjadi kepada wak Ami dan selalu mengatakan kalau Wak Ami terlalu memanjakan Arifin. Padahal yang sebenarnya memanjakan adalah dirinya sendiri.


Sementara Arifin sendiri dia benar-benar sangat frustasi karena pernikahan yang gagal juga karena kedua perempuan yang telah dia hamili selalu datang untuk meminta pertanggung jawabannya.


Tetapi bukan Arifin kalau menerima begitu saja apa yang sudah dilakukan, dia akan tetap mengelak dan tidak mengakui perbuatan yang sudah beberapa bulan dilakukan.


Kali ini kedua wanita itu kembali datang yang jelas mereka meminta Arifin untuk tanggung jawab. Arifin tidak bisa lepas begitu saja dari tanggung jawab, biar bagaimanapun bayi yang ada di kandungan mereka adalah anak dari Arifin.


Keduanya terus mengejar Arifin dan terus menyerukan keinginannya untuk Arifin segera menikahi mereka. Semakin lama perut mereka akan semakin besar dan semua orang bahkan seluruh dunia akan melihat kalau mereka hamil, dan jika semua orang tahu bahwa mereka hamil di luar pernikahan maka mereka pasti akan sangat malu.


"Pokoknya kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan kepada kami, Arifin. Ini adalah anakmu jadi kamu harus bertanggung jawab!" seru Siti dengan suara yang mengeras dan juga begitu menegaskan kepada Arifin.


"Tidak akan pernah! aku tidak akan pernah bertanggung jawab. Bisa saja kan itu adalah anak orang lain? kamu bisa dengan mudah tidur denganku siapa tahu kamu juga dengan mudah tidur dengan orang lain!" Arifin terus mengelak dia tidak mau mengakuinya.


"Kamu pikir kami perempuan serendah itu hingga kami akan tidur kepada setiap laki-laki yang datang kepada kami? tidak! kami tidak sepertimu yang mudah bergonta-ganti pasangan hanya untuk tidur dan bersenang-senang. Kami hanya melakukannya hanya kepadamu saja tidak ada orang lain!" kini Sri yang menjawab.


"Halah! jangan sok suci kalian. Aku tahu perempuan seperti apa kalian ini. Perempuan yang mudah dirayu oleh seorang laki-laki. Kalian tidak lebih dari seorang perempuan murahan! paling-paling itu hanya anak orang lain tetapi karena kalian begitu terobsesi kepadaku jadi kalian mengatakan itu adalah anakku dan mengacaukan pernikahanku. Sekarang kalian puaskan!" suara Arifin begitu lantang dengan kemarahan.


Pernikahan dia gagal karena kedua wanita ini jadi pastilah Arifin akan menyalahkan mereka dan akan semakin merendahkan mereka.


...****************...


"Tuan, apakah Tuan membutuhkan sesuatu?" tanya Pak Danu saat masuk ke dalam rumah atas permintaan Dirga.


Kanaya belum pulang dari masjid dan dia ada di ruang tengah.


Rasa pusingnya sudah hilang sekarang dan dia sudah bisa kembali memeriksa pekerjaannya lewat laptop.


"Pak Danu, bagaimana kegiatan Kanaya seharian ini, semuanya lancar kan?" tanya Dirga.


Padahal dia bisa saja menanyakan pada Kanaya langsung nanti setelah istrinya itu pulang tapi dia sudah tidak sabar ingin mendengar semuanya.


Nanti bisa dia pura-pura bertanya pada Kanaya kalau sudah pulang kan?


"Alhamdulillah, Tuan. Nona sangat pintar, dia sangat mudah memahami semuanya. Saya yakin dia pasti akan lulus dalam sekolah ini. Dan saya yakin dia pasti akan mendapatkan nilai yang memuaskan," terang pak Danu yang bercerita begitu antusias.


"Alhamdulilah. Apakah ada tempat lain yang di kunjungi selain sekolah juga tempat kursus?"


"Tidak ada, Tuan. Tadi setelah selesai di sekolah Nona meminta pulang sebentar untuk istirahat dan setelah itu baru ke tempat kursus," kembali pak Danu menjelaskan.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak. Tolong, terus awasi perkembangan Kanaya. Apapun katakan padaku. Jika dia mengatakan ingin sesuatu pada pak Danu, tolong katakan padaku."


"Baik, Tuan. Apakah masih ada yang lain?"


"Tidak, silahkan pak Danu kembali," pinta Dirga.


Pak Danu mengangguk dan langsung keluar dari sana. Sementara Dirga hanya diam sejenak memikirkan Kanaya.


Seandainya saja dia bisa, ingin dia selalu bersama Kanaya. Sebenarnya Kanaya menolak saat Dirga menyuruhnya ke masjid karena melihat dirinya yang tidak baik, tapi Dirga terus mengatakan kalau dirinya baik-baik saja.


Kembali Dirga harus bisa mengendalikan semuanya, keinginannya akan bersama dan bermanja-manja dengan Kanaya dia berusaha tahan sampai dia benar-benar sembuh.


Kata dokter Rendra, biasanya apa yang terjadi pada Dirga bisa saja terus di alami selama enam bulan lamanya. Jadi, saat dokter Rendra tau perkembangan Dirga yang begitu cepat dia sempat tidak percaya.


Sempat tadi Dirga menghubungi dokter Rendra setelah apa yang dia rasakan tadi siang dan Dirga memang harus menjalani beberapa terapi lainnya untuk benar-benar bisa sembuh.


"Assalamu'alaikum!" seruan dari Kanaya membuat Dirga langsung menoleh. Senyum dari istrinya benar-benar sangat membuat Dirga merasa tenang dan sangat bahagia.


"Wa'alaikumsalam," begitu bahagia Dirga menyambut kedatangan Kanaya. Wajahnya begitu ceria, mungkin ada hal baru yang dia dapatkan saat mengajar anak-anak.


Langsung Kanaya menghampiri Dirga, meriah tangan yang sudah di ulurkan dan mengecupnya.


"Ada apa nih, bahagia sekali?" tanya Dirga.


"Apa mas tau, tadi anak-anak sangat lucu sekali saat menanyakan mas yang tidak berangkat. Mereka mengatakan kalau besok mas harus datang kalau tidak mereka tidak mau mengaji di masjid dan akan datang ke sini."


"Nampaknya mereka sangat merindukan kamu loh mas," imbuhnya lagi.


"Jelas lah, aku juga sangat merindukan mu," jawab Dirga.


"Loh, kok malah jadi merindukan Naya. Kan yang merindukan mas anak-anak bukan aku," Kanaya protes.


"Ya lah, kalau merindukan anak-anak paling hanya mendapatkan salim saja, tapi kalau merindukan mu kan dapat yang lebih dari salim," goda Dirga dengan mengedipkan matanya genit.


"Ih, mas nakal ya." di cubit nya perut Dirga namun sebelum sampai Dirga mundur dan Kanaya tak menyerah.


"Ih," Kanaya terus mengejar tapi Dirga juga terus menghindar. Tawa keduanya begitu memenuhi ruangan itu hingga akhirnya berhenti saat Kanaya jatuh dan menimpa Dirga.


"Nah kan benar, kalau merindukan kamu bisa dapat ini, cup..." Langsung Dirga mencium bibir Kanaya dan membuat pipi Kanaya berubah merah. Kanaya malu.


"Mas mencintai mu, Nay," ucapnya.


"Nay juga mencintai, Mas," jawab Kanaya malu-malu dan di lanjutkan dengan Kanaya yang semakin ambruk dan memeluk Dirga di atasnya.


Dikecupnya puncak kepala Kanaya berkali-kali, matanya tertutup dan menghirup aroma yang begitu menenangkan dari rambut Kanaya yang masih tertutup hijab.

__ADS_1


...****************...


Bersambung...


__ADS_2