
'Ku tumpahkan kerinduan yang begitu besar di dalam hati saat bertemu dengan kekasih hati. Senyum mu mampu memusnahkan rasa rindu yang menggebu juga kekhawatiran yang begitu besar. Alhamdulillah, Akang bisa kembali melihat mu dalam keadaan baik-baik saja. Tetaplah tersenyum.'
#Yuan Prayoga
...****************...
Begitu senang Dirga sekarang. Meski Kanaya masih terus dingin padanya tetapi dia begitu senang karena bisa selalu bersama.
Sekedar perbuatan juga perhatian kecil mampu membuat Kanaya semakin hangat meski masih jarang berbicara.
Tetapi Dirga rasanya ingin marah, hatinya terasa panas saat melewati depan rumah Yuan dan Kanaya terlihat begitu berharap bisa melihat laki-laki yang menjadi saingan terberatnya.
Meski akhirnya Kanaya tak melihatnya tetapi Dirga merasa sangat kecewa, kenapa dia belum juga bisa menggantikan posisi Yuan di dalam hati Kanaya. Sampai kapan dia akan bisa memiliki hati Kanaya seutuhnya.
Mungkin memang masih terlalu cepat, tetapi Dirga juga tak mau lebih lama lagi. Dia ingin sekali bisa menjadikan Kanaya miliknya seutuhnya, juga selamanya di seumur hidupnya.
"Tuan, apakah kita akan pulang sekarang?" tanya sang sopir saat baru saja menurunkan Hani juga Kanaya di pertigaan jalan.
Sebenarnya Dirga ingin mengantarkan mereka sampai rumah tetapi Kanaya menolak. Dia tak mau sampai ada orang yang tau kalau mereka di antar oleh Dirga. Orang yang terhormat yang beberapa orang di desanya kenal sebagai orang yang paling dermawan.
"Tidak, cari penginapan di sekitar sini. Kita akan berada di sini beberapa hari," jawab Dirga yang matanya masih serius melihat Kanaya juga Hani yang berjalan bersamaan dan sudah semakin jauh.
"Baik, Tuan," begitu patuh sang sopir itu. Setia dan selalu melakukan apa yang Dirga ingin.
Semakin tak terlihat kedua gadis yang Dirga antar, di tambah lagi dengan mobil yang perlahan mulai berjalan pergi ke desa Lembayung.
...****************...
Begitu penasaran Hani pada Kanaya. Dia terus menunggu Kanaya bercerita tetapi sahabatnya itu terus diam dalam langkahnya. Hani butuh penjelasan, kenapa Kanaya terlihat begitu dekat dengan Dirga.
"Aya, maaf ya sebelumnya. Hem, kamu sejak kapan kenal sama tuan tadi?" rasa penasaran Hani membuatnya sudah tak sabar ingin bertanya, hingga akhirnya dia mengutarakan secara langsung apa yang ada di dalam kepalanya.
"Hem?" Kanaya menoleh cepat. Dia juga masih bingung mau mulai darimana. Kanaya tau, pasti Hani sudah berpikir yang tidak-tidak padanya.
__ADS_1
"Apa kamu tidak mau bercerita padaku?" Hani menghentikan langkah sembari mencekal lengan Kanaya dan membuatnya menghadap ke pada Hani.
Tatapan penuh rasa penasaran terlihat jelas dari Hani saat ini. Tetapi, Kanaya masih bingung karena sebenarnya dia sendiri juga tidak mengerti kenapa Dirga selalu mendekatinya. Padahal jelas-jelas dia sudah menolaknya.
"Ayolah, Aya. Cerita! bukannya kamu sendiri yang selalu bilang kalau tak akan pernah ada rahasia di antara kita? lalu apa ini, bahkan sekarang kamu tidak bercerita meski sudah ketahuan seperti ini."
"Bukan seperti itu, Han. Sebenarnya aku juga baru beberapa hari ini kenal. Dia datang ke rumah," ucapan Kanaya terhenti.
"Terus!" Hani semakin tak sabar untuk mendengar semua penjelasan Kanaya.
"Awalnya wak bilang mau beli kebun milik wak. Terus aku di minta nganter untuk lihat kebunnya. Dan ternyata...?"
"Dan ternyata apa?" semakin penasaran Hani. Kenapa Kanaya harus putus-putus jelasinnya.
"Ternyata saat di kebun dia bilang suka sama aku. Dia bilang mau nikahin aku," Kanaya menunduk lesu. Apa yang di takutkan seolah menjadi nyata. Padahal dia hanya ingin Yuan saja yang suka padanya, mengatakan cinta dan terakhir menikahnya. Tetapi ternyata sudah lebih dulu orang lain yang mengatakan itu.
"Astaghfirullah, terus kamu bilang apa?"
"Alhamdulillah, aku pikir kamu akan menerimanya dan meninggalkan kak Yuan. Aku udah takut sendiri nih. Seandainya kamu jadi sama dia entah bagaimana nasib kak Yuan. Dia pasti akan sangat sedih," jawab Hani melow sendiri.
"Aku berusaha menolaknya, Han. Tetapi Wak Tejo, sepertinya dia begitu menginginkannya, akau jadi sangat takut, Han. Kamu sendiri kan kenal bagaimana sifat wak Tejo dia tidak mau menerima penolakan apapun kalau dia sendiri udah cocok," Kanaya terlihat lesu juga sangat takut.
Hani diam berpikir, apa yang Kanaya katakan benar. Hani sendiri sangat mengenal bagaimana sifat asli wak Tejo yang super keras itu.
"Berdoa saja, Aya. Semoga wak Tejo tidak memaksakan kehendaknya untuk kali ini. Dan lebih mementingkan kebahagiaan mu daripada urusan yang lainnya," ucap Hani menyemangati.
"Semoga saja," keduanya kembali berjalan. Sadar mereka sudah sangat lama pergi Wati pasti akan mencari mereka.
...****************...
Dekorasi yang sangat indah, lapangan yang luas di depan rumah Wati membuat acara tak membutuhkan tempat lain untuk acara yang sakral untuknya.
Alunan musik Gending Jawa mulai terdengar, di barengi dengan penyanyi wanita yang juga menyanyikan lagu Jawa dengan sangat indah.
__ADS_1
Lagu yang indah menjadi sambutan untuk para tamu undangan juga tamu dari pihak mempelai laki-laki yang juga sudah berdatangan dan langsung menempati tempat yang sudah di siapkan.
Kanaya juga Hani terlihat sumringah ikut menyalami tamu, lebih tepatnya mereka berdua di belakang meja yang di gunakan untuk meletakkan kado-kado yang di bawa oleh tamu undangan.
Keduanya terlihat kompak, memakai gamis simpel namun terlihat elegan berbahan brokat berwarna peach.
Semua tamu sudah hampir memenuhi ruangan, sementara ustadz Achmad yang di minta menjadi saksi belum juga hadir.
Semua sudah tidak sabar untuk menyaksikan acara yang begitu sakral itu. Acara yang akan menjadi sejarah untuk Wati dan yang akan selalu di kenang dalam hidupnya.
Semua para pria yang menjadi penjaga tamu berdiri, Kanaya juga Hani menoleh dan ternyata ustadz Achmad yang datang. Alhamdulillah.
Semua menyalami kedatangannya. Orang yang begitu di hormati di daerah itu yang selalu mengajarkan nilai-nilai positif kepada semuanya.
Ternyata ustadz Achmad tidak datang seorang diri. Ada pria tampan yang berjalan di belakangnya.
"Aya, kenapa orang itu datang juga?" bisik Hani karena yang datang bersama Ustadz Achmad adalah Dirga.
Dirga memang terlihat tampan dengan koko putih, kopyah putih, jas hitam juga sarung berwarna hitam. Terlihat seperti santri sejati. Tetapi tetap saja tak membuat Kanaya terpana.
Tapi Kanaya langsung terpana dengan orang yang ada di belakang Dirga. Pria dengan kemeja abu-abu juga celana katun berwarna hitam.
Kanaya tersenyum sumringah, tak dia sangka kalau dia akan bertemu dengan pemilik hatinya secepat ini sebelum satu bulan mereka berpisah.
Haruskah Kanaya menghampiri Yuan?
Tidak mungkin kan? ini bukan saatnya. Akan banyak orang yang tau kalau dia langsung menghampirinya. Tetapi Kanaya sangat ingin bertemu meski sekedar bertanya kabar.
Kanaya tersenyum, dan di saat bersamaan Dirga juga tersenyum. Dia pikir Kanaya tersenyum kepadanya padahal dia tersenyum dengan pria yang ada di belakangnya yang juga tengah tersenyum melihat Kanaya.
...****************...
Bersambung.....
__ADS_1