
****************
Begitu tidak sabar Kanaya saat ini dia terus membereskan semua perlengkapan untuk dirinya juga Dirga, memasukkan ke dalam koper dan terus meneliti supaya tidak ada satupun barang Yang terlewatkan.
Hari ini keduanya akan kembali ke Merbabu dengan beberapa niat dan yang paling utama adalah ingin menghabiskan waktu berdua dan lebih fokus untuk berusaha supaya Kanaya cepat mendapatkan kehamilan, sebut saja kepergian mereka ini adalah sebagai honeymoon yang pertama untuk mereka berdua karena semenjak menikah mereka belum pernah honeymoon dan terus sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Membayangkan betapa indahnya Villa yang dibuat oleh Dirga sudah membuat Kanaya terus tersenyum dan melamun, pasti villa itu sangat indah dengan beberapa bunga di taman sesuai yang diinginkan oleh Kanaya yang ingin memiliki sebuah Villa yang terdapat taman dan kolam ikan kecil di sekitarnya.
Tentu Kanaya tidak sendiri dalam berkemas karena ada Dirga yang selalu membantunya karena tidak ingin membuat istrinya terlalu kelelahan.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Dirga dengan menurunkan koper dari ranjang dan siap untuk membawanya.
"He'em," Kanaya mengangguk cepat dengan tangan juga menyambar tas selempang kecil yang berwarna hitam.
Keduanya benar-benar berangkat tentu mereka tidak hanya berdua saja tetapi ada pak Danu yang kembali menjadi sopir untuk mereka berdua yang akan siap mengantarkan ke manapun mereka pergi.
****************
"Ibu apa-apaan sih, lihat gara-gara ibu anak saya menjadi kesakitan begini kan. Saya nggak mau tahu ya sekali lagi ibu melakukan ini saya akan lapor kepada mas Arifin supaya Ibu diusir dari rumah ini," seru salah satu istri Arifin dengan begitu kasar karena kesalahan kecil dari Wak Ami.
Padahal hanya karena wa Ami mengambilkan air yang hangat namun menurutnya terlalu panas dan membuat kulit bayi itu sedikit memerah dan kini dia menyalahkan Ibu mertuanya sendiri. Padahal sebelum dia menggunakannya seharusnya dia sudah mengeceknya lebih dulu bukan, tetapi dia malah lebih memilih menyalahkan orang lain dan tanpa menyadari sebenarnya kesalahan dirinya sendiri.
Bukan seperti mertua kedua menantunya memperlakukan Wak Ami tetapi sudah seperti layaknya pembantu yang terus disuruh dan harus melakukan apa yang mereka minta.
Keadaan wak Ami semakin kurus karena tidak terurus dengan baik. Makan sekedarnya juga seadanya bahkan dia sering tidak makan karena tidak diizinkan oleh kedua menantunya. Sementara wak Tejo dia juga ikut-ikutan seolah menindas wak Ami karena dia adalah adik dari orang tua Kanaya yang dia pikir telah memberikan penderitaan untuknya.
"Maaf nak tadi ibu sudah memastikannya itu hanya hangat-hangat kuku tidak mungkin akan melukai anakmu," ucap wak Ami membela dirinya sendiri karena dia merasa sudah melakukan hal yang benar.
"Halah ngeles aja bisanya, udah salah nggak mau ngaku. Terus salah siapa, aku begitu?" ucapannya begitu nyinyir kepada wak Ami jelas wanita angkuh seperti dia tidak akan mudah mengakui kesalahan sendiri dan lebih memilih menyalahkan orang lain termasuk mertuanya sendiri yang sebenarnya terus berusaha menerima dan memberikan kasih sayang sama selayaknya kepada anaknya sendiri.
__ADS_1
Tetapi kasih sayang dari Wak Ami ternyata tidak dihargai oleh mereka semua. Suami, anak bahkan juga kedua menantunya sama-sama tidak menghargai kasih sayang dan jerih payah usaha yang selalu dia lakukan.
"Aku nggak mau tahu ibu harus ganti yang baru, nih ambil!" dengan kasar dia menyodorkan ember kecil berwarna hijau yang terdapat air di dalamnya ke tubuh wak Ami hingga akhir itu tumpah dan membasahi bajunya.
Begitu pedih dan sakit dengan nasib yang diterima oleh wak Ami sekarang, tak ada kebahagiaan dalam hidupnya bahkan sekedar senyum pun tak pernah lagi ada. Dan hanya tangis derita yang selalu dia sembunyikan dan selalu tumpah ruah ketika berada di dalam kamar seorang diri. Bahkan kini Mak Tejo juga tidak pernah mau berada dalam satu kamar dengannya.
Nasib yang begitu menyedihkan semoga kelak wak Ami mendapatkan kebahagiaan entah melalui jalan yang seperti apa.
"Ibu, ambilkan aku handuk! cepat, anakku sudah kedinginan!" belum perintah dari satu menantunya di lakukan lagi kini satu menantunya yang lain juga ikutan menyuruhnya.
Tubuh wak Ami hanya satu itupun sudah sangat kecil dan ringkih, tak akan mungkin bisa melakukan apapun dengan gesit juga tak akan bisa terbagi untuk melakukan pekerjaan dari dia orang sekaligus.
"Iya, sebentar!" teriak wak Ami menjawab.
"Bu, ambilkan air dulu untuk ku! aku yang lebih dulu!"
Wak Ami diam tak menjawab keduanya, dia keluar dari kamar itu dengan membawa ember kecil tadi.
Melangkah dengan sangat pelan karena merasakan lelah dengan kehidupannya sekarang. Dia ingin bisa seperti yang dulu lagi, bisa bebas melakukan apapun dengan keinginannya sendiri.
Entah bagaimana ladangnya sekarang dia sudah lama tak pernah ke ladang lagi setelah kedua menantunya itu melahirkan.
Padahal dia melakukan itu karena ingin bisa membantu merawat cucunya tapi ternyata seperti sekarang inilah yang dia dapatkan. Hanya harga diri yang terus di injak-injak dan tak pernah di hargai dalam semua pekerjaannya.
"Ibu, mana airnya!"
"Ibu, handuknya mana!"
Keduanya berseru secara bersamaan memanggil wak Ami dengan begitu keras.
__ADS_1
Setetes demi setetes air mata jatuh dari mata wak Ami yang terlihat begitu lelah. Sudah setiap malam dia begadang untuk merawat menantunya dan sekarang siang juga tak ada waktu untuk istirahat.
"Ya Allah, kuatkan aku. Berikan aku keikhlasan dan kesabaran dalam menghadapi semua ini." gumamnya.
Terbesit wajah senyum Kanaya yang sudah sangat lama tak lagi dia lihat, wak Ami sangat merindukannya. Keponakan yang dulunya begitu kecil yang di limpahi kasih sayang hingga besar dan setelah menikah. Tapi sekarang setalah dia menikah tak lagi pernah menjenguknya.
"Apa kabar mu, Nay. Semoga kamu dalam keadaan baik-baik saja dan Allah selalu memberikan kamu kebahagiaan," gumamnya lagi yang penuh harap sembari menghapus air matanya.
Kembali wak Ami bergerak untuk mengambil air hangat, dan berlari lagi untuk mengambil handuk yang di jemur di depan rumah. Begitu melelahkan meski pekerjaan yang tak begitu terlihat.
Bukan hanya tubuh wak Ami saja yang merasa lelah tapi juga hatinya. Berharap semuanya akan berakhir indah dan dia akan bahagia suatu saat di hari tuanya.
"Nih, Nak," pertama wak Ami memberikan air pada menantu satunya tentu lagi-lagi di komentari.
"Dasar lelet," ucapnya sadis.
Wak Ami tidak menjawab, dia lebih memilih diam dan kembali keluar untuk memberikan handuk kepada satu menantunya.
"Ini handuknya nak," wak Ami masuk ke kamar yang lain.
"Lama sekali sih, Bu. Lihat nih anakku sudah kedinginan begini. Bagaimana kalau sampai dia sakit! Ibu yang harus bertanggung jawab!" ocehnya.
Benar-benar kedua menantu yang tak punya rasa berterima kasih juga tak punya rasa sopan santun kepada orang yang lebih tua.
Kenapa, kesalahan dari Arifin tapi yang mendapatkan getahnya adalah wak Ami. Apakah semua kesalahan Arifin memang pantas di limpahkan kepada ibunya? tidak kan?
****************
Bersambung...
__ADS_1