Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Kelahiran di hati duka


__ADS_3

...*******...


Dalam tangis Kanaya terus berjuang seorang diri. Dirga yang telah berjanji akan menemani di hari persalinan kini tak datang.


Kanaya masih tidak percaya, dalam hatinya dia masih sangat yakin kalau Dirga masih ada, dia hanya pingsan saja.


Rasa sakit benar-benar Kanaya rasakan. Dengan terus melakukan apapun yang para pekerja medis katakan.


"Akk!!" hingga sampai di dorongan akhir Kanaya dapat melahirkan buah hatinya dengan selamat.


Apa yang harus Kanaya rasakan sekarang, bahagia atau sedih?


Dia harus bahagia karena dia telah menjadi seorang ibu, anaknya lahir dan langsung dia dengar tangisnya yang sangat lantang.


Tetapi dia sedih jika pikirkannya salah, maka bayi mungil yang dia lahirkan itu sudah menjadi seorang anak yatim di hari dia lahir.


"Selamat ya, Bu. Anak ibu perempuan." kata dokter yang masih menggendong anak Kanaya yang masih terus menangis.


"Dok, saya harus menemui suami saya." katanya.


Sejenak Kanaya menjadi seorang ibu yang egois karena tidak bertanya bahkan tersenyum melihat anaknya. Dia masih terus terpikirkan suaminya yang masih dia percaya masih hidup.


"Tapi, Bu?" jelas dokter sangat ragu, Kanaya baru saja melahirkan kan?


"Saya mohon, saya ingin membawa anak saya menemui suami ku. Suami ku bilang dia akan mengadzaninya setelah lahir," Kanaya kembali menangis.


"Bu," dokter ingin memberikan pengertian kepada Kanaya karena itu tidak akan mungkin karena dokter sudah tau kalau Dirga sudah tidak ada.

__ADS_1


"Saya mohon, pertemukan kami," bahkan Kanaya sudah langsung ingin beranjak padahal dia baru akan di bersihkan.


"Ba_baiklah." Dengan pasrah dokter itu menurut pada Kanaya. "Tolong di percepat." titahnya pada para suster.


"Baik, Dok."


*********


Di atas kursi roda Kanaya menghampiri Dirga dengan menggendong anaknya. Tentu, wak Ami yang telah mendorongnya.


Sementara umi Uswah beserta abi Hasan juga mengikutinya dari belakang.


"Mas, lihatlah. Anak kita sudah lahir. Dia sangat cantik tapi semuanya mirip dengan mu." Kanaya sesenggukan saat berkata.


Semuanya menangis begitu juga dengan Muna dan Zein yang datang setelah mendapat kabar.


"Mas, bangun ya. Katanya mas ingin mengadzani anak kita. Mas, Naya mohon bangun lah.


"Mas," tangan Kanaya bergerak menyentuh lengan Dirga yang wajahnya kini sudah pucat pasi.


"Mas, bangun!" Air mata kembali deras lagi. Kanaya tak bisa membangunkannya.


"Nay, Dirga sudah pergi. Kamu harus bisa ikhlas." ucap abi Hasan.


"Iya, Nak. Ikhlas ya. Biarkan Dirga tenang di sana," susul umi Uswah.


"Ti_tidak. Mas Dirga masih hidup. Dia sudah berjanji pada Kanaya. Dia akan melakukan semua kewajibannya sebagai abi. Dia sudah berjanji Umi, Abi."

__ADS_1


Kanaya tetap kekeuh, dia tetap yakin. Baru tadi Dirga mengatakan semuanya bagaimana mungkin sekarang Dirga sudah mengingkarinya.


"Ikhlas Nay. Kamu harus sabar," kini wak Ami yang berbicara.


"Tidak, Wak. Mas Dirga masih hidup. Dia tidak mungkin meninggalkan Kanaya dan juga anak kami. Mas Dirga tidak mungkin pergi."


"Mas, bangun mas. Bangun." tangan kanan terus menggoyangkan lengan Dirga dia tak akan pantang menyerah untuk itu.


Meski tangisnya pecah tapi dia masih tidak percaya.


"Mas Dirga pasti akan bangun sebentar lagi."


"Mas, lihatlah anak kita." ucap Kanaya.


Anak bayi itu juga seakan merasakan hal yang sama seperti yang Kanaya rasakan, dia juga terus menangis.


Seperti anak yang sudah berumur, bayi mungil itu bahkan juga mengeluarkan air mata yang jarang sekali terjadi pada seorang bayi.


Tangisnya terdengar begitu pilu semakin membuat yang ada di sana semakin terisak dalam duka.


"Mas ba..." wajah Kanaya ambruk tepat di perut Dirga, dia gak sadarkan diri hingga membuat bayi yang ada di pangkuannya tertimpa olehnya.


"Astaghfirullah!" cepat mereka mengambil bayi itu dari Kanaya dan Kanaya segera di pindahkan ke ruang rawat untuk mendapatkan penanganan.


*******


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2