Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Menjenguk Zein


__ADS_3

...****************...


Setelah merasa sangat tenang akhirnya Kanaya juga Dirga menjenguk Zein ke rumah sakit. Dengan terus bergandengan keduanya masuk, mencari ruangan Zein di rawat setelah sempat bertanya pada bagian informasi.


"Dirga!" seorang memanggil membuat keduanya menoleh bersamaan dan menghentikan langkah.


Savira lah yang memanggil, dengan baju kebesarannya yang berwarna putih. Savira semakin mendekat dengan senyum yang terpancar.


"Vir," sapa Dirga.


"Nay," sapa Savira yang mengulas senyum juga langsung memberikan pelukan hangat kepada istri sahabat itu.


Dengan senang hati Kanaya menerima perlakuan Savira, dia sangat senang karena sahabat Dirga suaminya bisa baik dan bersahabat juga dengannya. Awalnya, Kanaya pikir akan sangat susah untuk bisa akrab dengan Savira tapi ternyata tidak.


"Kamu ada pemeriksaan, Ga?" tanya Savira beralih kepada Dirga. Savira yang tak tau apa maksud dari kedatangan mereka berdua ke rumah sakit terpaksa menayangkan itu secara langsung.


"Tidak, mau menjenguk temen," jawab Dirga.


"Temen, temen yang mana maksudnya?" Savira mengernyit bingung. Semua teman Dirga Savira juga mengenalnya mereka juga selalu menjalin silaturahmi sama seperti dengan Dirga, bagaimana mungkin ada yang Savira lewatkan.


"Temen, Naya. Ada kan pasien yang masuk dalam keadaan pingsan karena di hajar orang."


"Hem," Savira nampak berpikir, "Maksudnya pasien yang bernama, Zein Andriawan?" imbuhnya.


"Hem," Dirga mengangguk.


Savira mengerti, mereka bertiga saling bercerita sembari berjalan menuju ruang perawatan Zein. Dan kebetulan Savira sendiri yang menjadi dokter dari Zein.


"Tidak perlu khawatir, tak ada luka serius. Hanya luka luar saja."


"Tapi, bagaimana dengan keadaan kamu, Nay. Kamu baik-baik saja kan? orang-orang itu tidak berbuat sesuatu padamu kan?"


Sedikit banyak Savira juga sudah mendengar cerita apa yang telah terjadi karena setelah kedatangan Zein ada beberapa polisi juga datang untuk meminta penjelasan.


Savira tidak tau kalau yang terjadi itu korbannya juga Kanaya, setelah Kanaya dan Dirga datang baru Savira tau.


Sebenarnya Dirga juga Kanaya akan ke kantor polisi setelah ini karena mendapatkan pangilan juga untuk menjadi saksi, tapi Dirga memutuskan akan datang setelah Kanaya benar-benar tenang dan setelah menjenguk Zein.

__ADS_1


Sebenarnya Dirga masih sangat takut kalau sampai nanti Kanaya kembali ketakutan saat di mintai penjelasan, tapi mau bagaimana lagi semua adalah prosedur yang tak bisa di tolak. Mereka harus tetap memberikan kesaksian supaya pelakunya cepat mendapatkan hukuman yang sebanding dengan apa yang mereka lakukan.


"Sa_saya, saya baik Mbak," jawab Kanaya yang suaranya kembali gemetar, mungkin dia kembali mengingat kejadian yang menimpanya tadi.


Hanya di tanya sekecil itu saja wajah Kanaya sudah berubah pucat bagaimana nanti kalau di kantor polisi?


"Sudah, sabar Nay, sabar," Dirga merangkul Kanaya dia tau dengan apa yang tengah di rasakan oleh istrinya ini.


Savira diam sekarang tak lagi dia bertanya karena tau Kanaya masih dalam keadaan tidak baik.


"Ini ruangan Zein," Savira menunjukkan setelah mereka sampai di depan ruangan Zein.


Ada rasa gelisah di hati Dirga, bagaimana kalau sampai Zein merasa menjadi seorang pahlawan dan akan menuntut hal yang tidak-tidak dan akan menyudutkan Dirga. Bagaimana kalau Zein meminta Kanaya darinya.


"Mas," Kanaya memanggil saat Dirga terdiam dan tak melangkah namun mata melihat ke arah pintu. Tentu ada yang Dirga pikirkan dan Kanaya tau kegelisahan suaminya itu.


Di genggamnya tangan Dirga dengan erat, Kanaya tersenyum kala Dirga menoleh lalu mereka berdua akhirnya masuk setelah hati mereka sama-sama merasa tenang.


Ternyata di dalam bukan hanya Zein saja tapi ada bu Annisa yang tengah menyuapi Zein.


"Naye," mata Zein langsung menangkap Kanaya lebih dulu padahal ada Dirga juga Savira yang juga masuk.


"Naye, kamu tidak apa-apa kan? mereka tidak melakukan sesuatu padamu kan?" tanya Zein yang nampak tergesa-gesa.


"Alhamdulillah, Naya tidak apa-apa. Terima kasih atas bantuan mu, Zein. Naya selamat dan baik-baik saja karena berkat kamu juga," Dirga yang menjawab.


Kanaya hanya diam, sedikit dia tersenyum memberikan kode kalau yang di katakan Dirga itu benar, dia baik-baik saja.


"Alhamdulillah," jawab Zein. Meski ada rasa tak rela di hati Zein karena yang menjawab adalah Dirga tapi Zein berusaha berbesar hati.


Apalagi, di tambah dengan melihat kedua tangan Kanaya yang kini malah merangkul lengan Dirga begitu erat, itu adalah sinyal kalau Kanaya sangat nyaman bersama suaminya dan tak mungkin ada harapan untuk bisa melepaskan.


Bu Annisa menaruh piring yang dia bawa ke nakas, dua tersenyum sembari berjalan ke arah Kanaya yang terlihat masih sangat ketakutan. Mungkin, sekarang Kanaya juga akan takut pada laki-laki asing begitu juga dengan Zein jika mendekat. Dan hanya dengan Dirga saja dia akan nyaman.


"Nay, kamu tidak apa-apa kan? kata Zein mereka membawamu pergi," begitu lembut ucapan bu Annisa yang berdiri di hadapannya.


"Sa_saya ba_baik Bu," jawaban Kanaya masih saja terbata-bata itupun masih dengan gemetar. Sepertinya Kanaya juga membutuhkan dokter untuk memeriksa kejiwaannya yang mungkin sedikit terguncang karena kejadian tadi.

__ADS_1


"I_ibu di sini?" tanya Kanaya.


"Ya, saya di sini. Sepertinya Zein adalah pembohongan besar ya, Nay. Bahkan dia tak mau jujur kalau aku adalah ibunya sendiri," bu Annisa tersenyum meledek ke arah Zein.


Kanaya terperangah, dia sungguh tidak tau kalau ternyata bu Annisa adalah ibunya Zein. Pantes saja Zein begitu bebas keluar masuk ke KPK dan menemuinya, ternyata dia adalah anak pemilik LPK itu sendiri.


"Maafkan Zein ya untuk semua perlakuannya. Dia sebenarnya baik, hanya saja dia sedikit nakal," Baik tapi sedikit nakal? entah bagaimana itu sebenarnya.


"Hem, Naya sudah maafin kok," jawab Kanaya.


Benar tak ingin melepaskan tangan dari suaminya Kanaya saat ini, bahkan sudah ada di depan bu Annisa pun dia tetap tak melepaskan. Dirga tak ambil pusing, dia malah merasa senang kalau istrinya bisa selalu merasa nyaman saat bersama dirinya.


Dirga melangkah mendekat Zein dan Kanaya pun juga mengikutinya. Dirga terdiam, membiarkan sejenak keheningan terjadi mungkin Kanaya akan mengatakan sesuatu pada Zein.


Kanaya nampak melihat ke arah Dirga, seolah meminta izin untuk bicara jelas Dirga langsung tersenyum simpul juga mengangguk.


"Mas Zein, terimakasih sudah menolong Nay. Dan..., maaf, gara-gara Nay mas Zein jadi masuk rumah sakit. Maaf," air mata Kanaya kembali menetes.


Ini adalah pertama kalinya ada orang asing yang mau berkorban untuk dirinya di tempat yang baru di Semarang itu. Meski Zein begitu menyebalkan dan begitu keras kepala tapi ternyata dia memiliki sisi baik juga.


Dirga yang melihat itu langsung mengambil sapu tangan dan mengusap pipi Kanaya yang basah. Dirga juga tak tersinggung atau berpikir yang tidak-tidak karena Dirga tau Kanaya memang tidak suka merepotkan orang lain. Bahkan kadang pada dirinya saja Kanaya sangat sungkan.


"Sama-sama, Naye. Tapi, kamu juga tidak perlu meminta maaf. Ini bukan kesalahan mu. Ini kemauan ku sendiri untuk bisa berusaha berguna untukmu. Tapi nyatanya Tuhan tetap berkehendak lain. Hanya suamimu yang akan selalu berguna dan bisa melindungi mu," jawab Zein.


Sepertinya hati Zein sudah benar sekarang, tidak eror lagi dan begitu mengharapkan Kanaya dan merendahkan Dirga.


Savira terus diam, menyimak apa yang tengah terjadi. Savira menyadari, kalau ada cinta di hati Zein untuk Kanaya tapi sepertinya Kanaya tidak menerimanya. Jelas dia tidak akan menerimanya, cintanya hanya untuk Dirga saja.


Wanita seperti Kanaya tidak akan mudah tertarik pada lawan jenis apalagi di luar ikatan halal. Mungkin saja pernah mencintai seseorang, tapi Savira percaya tak ada kata yang terucap dan mengatakan cintanya pada orang itu.


Cinta Kanaya cinta yang sudah sangat langka di jaman sekarang, cinta setelah menikah, cinta dalam halal, cinta pada suaminya saja. Bukan pada orang yang hanya sebatas dia kagumi lalu dengan berani mengatakan aku mencintaimu. Tidak!


'Dirga benar-benar sangat beruntung bisa memiliki pasangan seperti kamu, Nay.' batin Savira.


...****************...


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2