Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Tak Akan Di biarkan


__ADS_3

...********...


Hari libur yang hanya beberapa hari membuat Yuan tetap memutuskan untuk pulang. Memang di Jogja dia ada yang bisa dia kerjakan, ada tugas kampus yang belum selesai. Tapi itu bisa dia lakukan di rumah kan?


Tak ada mimpi lagi tentang masa depan dengan Kanaya. Eish, bohong kalau tak ada. Masih terbesit sedikit keinginan yang mustahil itu bisa bersama-sama lagi dengan Kanaya tapi Yuan tau itu hanya sebuah angan kosong saja yang akan menyakitkan.


Di harus berjuang untuk melupakan. Sekarang mimpi untuk kesuksesan yang paling dia utamakan. Bukankah jodoh, rezeki juga maut semua sudah ada yang mengatur?


Hati Yuan begitu tersayat lagi, ingatan akan Kanaya kembali lagi kala dia sampai di depan rumah. Kenapa mawar yang menjadi kesukaan Kanaya itu mekar begitu banyaknya.


Bahkan dulunya saat masih bersama Kanaya paling banyak hanya tiga, tapi sekarang? Bahkan sepuluh lebih yang mekar.


Matanya terpejam sesaat, seandainya saja Kanaya nya masih bisa dia gapai untuk mimpinya Yuan akan langsung memetiknya semua dan ingin dia berikan ke hadapan Kanaya, semuanya.


"Ya Allah, kenapa bunga kesukaan Kanaya ini mekar begitu banyak? Apakah ada arti dalam semua ini, tolong jelaskan padaku. Apakah bunga ini mencerminkan Kanaya sekarang yang sudah bahagia dengannya? Apakah Kanaya bisa seperti bunga ini yang mekar begitu indah di sana?" Gumam Yuan.


Sebenarnya Yuan tidak lagi khawatir dengan Kanaya yang ada bersama Dirga, Yuan bisa melihat kalau Dirga benar-benar mencintai Kanaya dan pasti akan berjuang penuh untuk kebahagiaannya.


"Ya Allah, apakah aku berdosa jika masih memikirkannya?" Gumam Yuan lagi.


Baru saja Yuan ingin masuk ke rumah dia melihat Arifin melintas dengan mengendarai motornya. Entah mau kemana dia terlihat buru-buru.


"Arifin, mau kemana dia?" Gumam Yuan yang sangat penasaran.


Ingin Yuan memastikan dengan melihat lebih lagi ke arah Arifin yang sudah jauh tapi panggilan mengurungkan niatnya.


"Udah pulang kok tidak langsung masuk, Yuan. Cepat masuk emak udah siapkan makanan kesukaan mu," Ternyata emaknya Yuan yang datang.


"Iya, Mak," Sebenarnya Yuan masih penasaran dengan Arifin tapi dia tak bisa mengabaikan emaknya yang sudah begitu senang menyambutnya.


Yuan seketika masuk dan langsung di ikuti emaknya dari belakang.


"Ayo, cepetan. Bapak udah nungguin tuh di dalam," Ucap Emaknya tak sabaran.


"Iya, Mak. Yuan ke kamar dulu mak, mau naruh tas," Pamitnya.


"Iya, jangan lama-lama yo," Emaknya langsung masuk lebih dulu sementara Yuan pergi ke kamar untuk meletakkan tasnya juga mengganti baju.


...*************...


Sekarang hanya tinggal Hani sendiri yang masih selalu pergi ke desa Lembayung untuk mengajar anak-anak.


Kesendirian juga kesepiannya dia usahakan untuk bisa di habiskan bersama dengan anak-anak, dengan itu semua bisa indah dan dia bisa melewatinya.


Di perjalanan dia hanya bisa berjalan dengan pelan menggiring anak-anak yang satu desa dengannya.

__ADS_1


Matanya memandangi setiap sudut tempat yang dia lalui sekarang, terlalu banyak kenangan indah bersama dengan kedua sahabat.


Hanya bisa tersenyum sendiri kala mengingat semua itu.


"Kenapa kalian pergi begitu cepat sementara aku masih tertahan sendiri di sini seorang diri," Gumamnya.


Sebenarnya banyak para gadis yang satu desa dengan nya. Tapi mereka tak sedekat seperti saat bersama dengan Kanaya ataupun Wati. Mereka sangat dekat bahkan sudah seperti saudara.


Begitu pelan Hani melangkah matanya seolah benar-benar menyapu setiap tempat dan mengingat semua kenangan yang pernah di lalui. Terlalu banyak kenangan manis yang sangat sayang jika di lewatkan.


Sampai-sampai Hani tak melihat kalau anak-anak sudah tak terlihat lagi.


Tinnn.....


Hani terperanjat kala tiba-tiba terdengar bunyi klakson yang begitu keras mengejutkannya. Motor itu berhenti tepat di belakangnya langsung mampu membuat Hani minggir karena dia pikir motor itu akan lewat, tapi ternyata tidak.


"Sendiri aja, Han. Mau aku antar nggak?" Tawarnya.


"Tidak usah mas, Hani bisa berangkat sendiri," Jelas Hani akan menolak karena yang datang adalah Arifin. Entah dari mana dia saat ini sepertinya dia habis pergi.


"Kenapa tidak usah, aku siap loh nganter kamu. Nggak minta bayaran deh, cukup satu muach saja udah cukup kok," Katanya.


Bibirnya monyong seolah menjelaskan apa yang dia inginkan apalagi kalau bukan meminta satu kecupan dari Hani. Sungguh tak tau malu kan dia?


"Maaf, saya harus berangkat," Hani lebih memilih pergi dari hadapan Arifin.


Padahal dulu mereka juga sering bermain bersama ketika masih kecil Arifin juga selalu menjaga Kanaya juga Hani. Membela mereka kala ada orang-orang yang mengejeknya tapi sekarang? Entah setan apa yang membuat Arifin menjadi seperti sekarang ini.


Sempat Hani mengagumi Arifin karena menjadi sepupu yang terbaik untuk Kanaya, bahkan Arifin tidak malu menggendong Kanaya saat pulang sekolah. Membagi uang jajannya pada Kanaya saat wak Tejo tak memberi saku pada Kanaya.


Sungguh, perilakunya sekarang sudah berubah total sangat berbanding terbalik dengan apa yang terjadi dulu.


"Kenapa kamu begitu menolak ku, Han. Aku hanya mau mengantar mu saja, tidak lebih. Kalau aku minta yang lain mungkin kamu bisa menolak tapi ini kan?"


"Maaf, tapi saya masih bisa berangkat sendiri," Hani langsung berjalan.


Kesal karena di tolak oleh Hani Arifin turun dari motornya dia sengaja membuntuti Hani dan menginjak kaki Hani, jelas itu membuat Hani terpekik.


"Akk, mas Arifin!" Pekik Hani kesakitan.


"Sekarang bagaimana, udah nggak bisa berangkat sendiri kan? Lebih baik sekarang naik motor ku dan aku antar, udah deh jangan sok jual mahal. Aku tahu seberapa harga gadis seperti mu ini. MU_RAH," Arifin begitu menegaskan di akhir kalimat.


Sungguh keterlaluan, sudah menyakiti kaki Hani sampai membuat susah jalan sekarang malah menghina harga dirinya.


"Cepat ikut!" Sentak Arifin dengan tangan juga langsung bergerak untuk meraih tangan Hani.

__ADS_1


Tapi belum juga tangan itu sampai di tangan Hani tangan Arifin sudah di cengkram kuat oleh tangan yang sepertinya memiliki kekuatan yang sepadan dengannya.


Arifin sangat terkejut, tangannya di tekan sangat kuat membuatnya langsung melihat siapa pelakunya.


"Kamu!" Mata Arifin begitu nyalang penuh kebencian.


"Kenapa, Arifin. Apa setelah sepupumu kamu buat pergi lantas kamu bisa seenaknya saja menjadikan gadis lain menjadi penggantinya? Apa kamu menyesal sekarang karena kehilangan mainan mu yang bisa kami perlakuan dengan sesuka hatimu?"


"Kak Yuan," Mata Hani menatap tak berkedip Yuan yang sekarang berdiri di depannya dan menjadi benteng untuk melindungi Hani.


"Jangan kamu pikir semua orang akan takut kepadamu Arifin. Kamu pikir hanya karena tato yang seperti ini lantas bisa membuat semua orang tunduk kepadamu, jawaban adalah TI_DAK," Yuan menegaskan di akhir kalimat. Memang Arifin memiliki tato di kedua tangannya, tato ular.


Semua keburukan sudah Yuan ketahui dia tidak akan mungkin membiarkan para gadis-gadis menjadi budak Arifin, di permainkan begitu saja lalu di buang setalah dia bisa mengambil apa yang tidak seharusnya.


Arifin melepaskan paksa tangannya matanya masih tetap memandang tajam Yuan. Bendera perang seolah sudah berkibar di tengah-tengah mereka berdua persaingan yang sangat sengit meski saat ini hanya sebatas mata saja.


"Kau akan menyesal, Yuan. Tunggu saja apa yang bisa aku lakukan," Jari telunjuk Arifin terangkat seolah dia benar-benar menegaskan akan berbuat sesuatu pada Yuan.


"Aku tunggu apa yang bisa kamu lakukan, Fin," Tantang Yuan.


Dengan hati yang penuh amarah Arifin pergi dari hadapan Yuan juga Hani. Tentu dengan matanya yang masih memandang keduanya sebelum dia benar-benar pergi.


"Kak, terima kasih. Kalau kak Yuan tidak datang entah apa yang akan dia lakukan," Ucap Hani.


"Kamu tidak apa-apa kan? Bagaimana kakimu, sakit?" Tanya Yuan.


"Sedikit, tapi masih bisa untuk jalan kok."


"Sudah, sini bareng aku saja. Kebetulan aku juga mau ke tempat Kyai Achmad," Ajak Yuan.


"Tapi Kak?"


"Dengan keadaan kakimu seperti ini apa mungkin kamu bisa sampai tepat waktu. Mungkin kamu akan sampai setelah selesai nanti, yuk," Kekeuh Yuan dan sudah berjalan untuk ke motornya.


Yuan menaiki motornya lalu mendekatkan pada Hani. "Yuk."


"I_iya," Akhirnya Hani menerima penawaran Yuan, yang di katakan Yuan benar dia akan sampai setelah selesai jika tetap berjalan.


"Terima kasih sebelumnya, Kak."


"Hem. Sudah?" Dan Hani hanya mengangguk setelah dia duduk menyamping di motor Yuan dengan berpegangan bagian belakang juga memberikan jarak dengan Yuan.


Tak mengatakan apapun Yuan langsung menjalankan motornya.


Begitu baik Yuan pada Hani. Entah karena Hani adalah teman Kanaya atau mungkin dia memang baik dan selalu peduli dengan semua orang. Semoga saja kebaikan Yuan bukan karena orang-orang tertentu tapi untuk semua orang.

__ADS_1


...*******...


Bersambung....


__ADS_2