Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Harus Bisa


__ADS_3

'Kenapa aku sangat takut, aku takut akan sebuah kegagalan yang terus membayangi ku. Aku ingin berjuang, tapi ini tidak mudah. Bantu aku untuk bisa menjalani hidup baru ini.'


#Kanaya Setya Ningrum


...****************...


Terasa begitu cepat hari yang berjalan, hingga kini Kanaya tengah sibuk bersiap untuk kursus pertamanya.


Dia semakin sibuk sejak bangun tidur, menyiapkan semua perlengkapan Dirga, sarapan juga bersih-bersih rumah. Tapi itu tidak hanya Kanaya sendiri yang lakukan karena ada Dirga yang membantu dan saling berbagi tugas.


Selama ini Kanaya juga belum tau sebenarnya apa pekerjaan Dirga karena dia belum mengatakannya, dan Kanaya juga tak mau terlalu bertanya dan mengurusi urusan Dirga. Kalau Dirga mau pasti dia akan katakan sendiri.


"Sayang!" teriak Dirga.


"Hah!" Kanaya menoleh dengan sangat terkejut.


Sayang? panggilan yang membuat Kanaya menjadi malu. Jantungnya langsung berdegup tidak karuan hanya karena sebuah panggilan saja.


"Hehehe, tidak apa-apa kan aku panggil sayang. Kalau kamu iri kamu juga boleh panggil aku sayang juga," kedua mata Dirga berkedip-kedip dia juga tersenyum begitu manis.


Kanaya tersenyum malu-malu, kenapa dia sekarang lebih sering menjadi pemalu seperti ini. Mana Dirga sering banget menggodanya lagi.


Memang beberapa hari ini Dirga juga tidak berniat untuk menyentuhnya hanya sebuah kecupan lembut saja yang selalu dia berikan.


Kata Dirga, tidak harus dengan berhubungan di atas ranjang yang bisa menguatkan sebuah hubungan, tapi dengan apa yang Dirga dan Kanaya lakukan sekarang itu lebih berarti dari sebuah hubungan ranjang.


"Gimana, penawaran yang impas kan?" Dirga mendekat membuat jantung Kanaya semakin cepat bekerja.


"Apa sih?" Kanaya memalingkan wajahnya dengan cepat, senyumnya dia sembunyikan dari hadapan Dirga yang sebenarnya sudah lebih dulu melihatnya.


"Gemes deh, nih untuk mu."


"I_ini apa?" Kanaya bertanya tapi juga sudah langsung menerima kotak yang Dirga berikan padanya.


"Itu ponsel baru untukmu. Aku tidak bisa terus menunggumu di tempat kursus sampai kamu pulang, tapi kalau kamu sudah pulang kamu hubungi saja aku dan akan langsung aku jemput," terang Dirga.


"Tidak usah, ini sangat berlebihan," Apa lagi yang harus Kanaya lakukan. Dirga kembali memberikan sesuatu hal yang dulu terasa mustahil untuk dia miliki.


Hanya ponsel butut saja Kanaya tidak bisa memilikinya tapi sekarang Dirga malah memberikan ponsel pengeluaran terbaru yang pasti dengan harga yang sangat fantastik.


"Tidak ada yang berlebihan Naya sayang. Ini hanya untuk berkomunikasi saja saat kita berada di tempat jauh. Siapa tau kamu tiba-tiba merindukanku," begini percaya diri Dirga berbicara.


"Ih, apa sih!" Kanaya semakin malu di buatnya.

__ADS_1


"Sudah siap belum, sini aku bantu pakainya. Uh, anak perempuan ku hijabnya masih berantakan. Eh, ini kurang ke kanan. Ya ya begini baru benar," ucap Dirga mengomentari kerjaannya sendiri yang membantu Kanaya memainkan hijab.


Kanaya hanya bisa pasrah karena tangan Dirga bergerak lebih cepat daripada tangannya sendiri.


"Dah, dah seperti bidadari yang turun dari surga. Dan kelak juga akan kembali ke surga dengan bergandengan tangan dengan ku," katanya.


'Amin,' hanya sebatas di hati saja Kanaya mengamini dan jelas langsung di protes oleh Dirga.


"Kok nggak di aminin?" protesnya.


"Udah," sekilas Kanaya menjawab.


"Nggak denger," wajah Dirga berubah masam.


"Hehe, kan di dalam hati," Kanaya meringis manis.


Muach...


Satu kecupan langsung mendarat di bibir Kanaya karena Kanaya begitu menggemaskan di mata Dirga.


"Tuan!" teriak Kanaya yang protes.


"Hem, minta lagi nih rupanya. Panggil Mas atau sayang baru aku lepaskan, kalau tidak kita tidak jadi berangkat," ancam Dirga dengan kedua tangan sudah mengapit wajah Kanaya.


"Oh, minta di hukum nih ya," Dirga kembali mendekatkan wajah Kanaya ke wajahnya.


Kanaya sudah memejamkan mata, keningnya mengkerut hingga terdapat beberapa baris di sana.


"Satu, dua, ti..."


"Mas!" teriak Kanaya yang akhirnya keluar juga panggilan yang berbeda untuk Dirga. Bukan panggilan tuan lagi melainkan dengan Mas. Itu lebih baik bahkan sangat baik menurut Dirga.


"Alhamdulillah, akhirnya. Makin cinta deh makin sayang deh!" Dirga langsung memeluk Kanaya dengan heboh membuat tubuh Kanaya seolah tergoncang-goncang.


"M_mas, ini sudah siang," suara Kanaya seolah tenggelam tak terdengar karena kehebohan dari Dirga sendiri.


...****************...


Kembali Kanaya sampai di tempat kursus kemaren. Multi fashion Annisa, tempat yang akan menjadi tempat belajar Kanaya.


Mobil berhenti di depan gedung, sebelum Kanaya keluar Dirga lebih dulu keluar membukakan pintunya lalu meminta Kanaya keluar.


Begitu gugup Kanaya sekarang, ini adalah hari pertama dia masuk. Sama seperti perasaan masuk SD atau masuk SMP dulu itulah perasaan Kanaya sekarang.

__ADS_1


Ada takut ada gugup ada gelisah semua bercampur aduk di dalam hati Kanaya. Hingga akhirnya Kanaya merasa ragu untuk keluar dari mobil.


"Kenapa, apa kamu tidak akan belajar dan akan terus berada di mobil?" Dirga melihat Kanaya dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Melihat Kanaya yang seperti itu membuat Dirga merasa semakin gemas saja.


"A_aku takut," jawabnya.


"Kenapa harus takut, hilangkan rasa takutmu dan hadapi dengan keberanian. Sambut keberhasilan nya, Nay. Ayo semangat dan turunlah," Dirga terus menyemangati Kanaya.


"Anggap saja kamu lagi masuk SD. Lingkungan baru, pelajaran baru juga teman baru sama seperti itu. Dan seiring waktu berjalan kamu akan akrab dengan mereka dan akan menjadi teman. Yuk semangat."


Dirga menurunkan tangannya, menarik Kanaya seperti menarik anak kecil dan memaksa keluar.


Dengan terpaksa Kanaya keluar. Seperti anak kecil Kanaya sangat takut dan itu membuat Dirga semakin gemas.


"Ayo, Naya sayang. Kamu harus bisa kamu harus berhasil dan sukses. Katanya kamu tidak mau merepotkan ku kan? kalau begitu kamu harus semangat dan harus berhasil." ucap Dirga.


Perlahan Kanaya melangkah setelah menyalami Dirga juga mendapatkan kecupan di keningnya.


Dirga terus diam mengamati langkah Kanaya yang begitu pelan. Sesekali Kanaya menoleh kearah Dirga memastikan kalau Dirga masih ada di sana. Setelah pasti Kanaya kembali melangkah.


Dirga terus tersenyum mengantarkan Kanaya dengan segenap doa dan harapan.


Dirga baru kembali ke mobil setelah Kanaya benar-benar tak lagi terlihat dari pandangan matanya.


"Kamu pasti bisa, Nay. Aku yakin kamu akan sukses di kemudian hari," gumam Dirga.


Sekali lagi Dirga melihat arah pintu gedung di mana Kanaya terakhir terlihat. Ada senyum yang keluar di sana.


Dirga benar-benar pergi dari sana ada pekerjaan Dirga yang menunggu dan pekerjaan yang terbengkalai beberapa hari ini.


Sampailah Dirga di tempat yang di tuju, sebuah gedung yang menjulang tinggi. Di sanalah usaha Dirga.


Sebuah gedung dengan beberapa lantai yang begitu besar.


Dirga bergegas masuk tapi belum juga sampai pintu ada petugas keamanan yang menghampirinya.


"Pak, ini ada surat untuk istri Anda." kata petugas keamanan itu.


"Surat?" Dirga mengernyit dia sangat bingung.


...****************...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2