
...****************...
Wak Ami benar-benar akan ikut dengan Dirga untuk kembali ke Merbabu. Dia sangat khawatir dan pikirannya selalu tidak enak, entah apa yang terjadi.
Ataukah mungkin anak semata wayangnya itu pulang atau mungkin malah hal yang lain yang membuat dia begitu gelisah seperti sekarang ini.
Sementara Kanaya, dia tidak ikut karena Dirga tidak mengizinkannya takut akan merasa kelelahan nantinya.
Karena tak tenang jika Kanaya hanya berdua saja dengan asisten rumah Dirga meminta Umi Uswah untuk datang menemani Kanaya selama dia pergi. Tentu Umi Uswah akan sangat bahagia atas panggilan Dirga tersebut.
"Mas, nanti mas pulang kan? tidak akan bermalam di sana kan?"
Belum apa-apa Kanaya sudah merasa rindu, dia tak akan rela jika di tinggal lama-lama oleh Dirga. Seandainya boleh, maka Kanaya ingin ikut tapi mau bagaimana lagi, izin tidak di dapat.
"InsyaAllah, mas tidak akan bermalam di sana. Hem..., kamu mau mas beliin apa dari sana?"
"Hem, apa ya? Oh iya! Naya pengen mas beliin nasi jagung yang di bungkus terus ada ikan asin juga sayuran yang di kasih sambel kelapa."
Membayangkan akan makanan itu sudah membuat Kanaya ingin ngiler saja. Dulu waktu belum menikah dia sering makan tapi setelah menikah sama sekali belum pernah.
"Emang ada?" Dirga mengernyit, dia belum pernah mendapati makanan yang seperti itu.
"He'em, ada. Nanti tanya saja sama Wak."
"Baiklah, semoga mas bisa menemukannya. Dan doakan mas supaya bisa cepat pulang bersama Wak."
"Pokoknya Wak harus ikutan pulang ke sini loh, Mas."
"Iya, mas akan pastikan itu," jawab Dirga.
"Sudah siap, Wak?" Dirga menoleh ketika melihat wak Ami keluar dari kamar. Tidak ada barang-barang yang di bawa hanya membawa tas kecil saja.
"Sudah," wak Ami berjalan menghampiri keduanya.
Terlihat wak Ami begitu senang dia terus tersenyum juga wajahnya yang juga terlihat berbinar.
"Mas berangkat dulu ya, Nay. Kalau mau apa-apa nanti bilang sama Umi."
__ADS_1
"Santai saja, Ga. Naya akan terjamin jika bersama Umi." Umi Uswah juga menghampiri.
...****************...
Kebahagiaan begitu besar dari pengantin baru, Muna dan Zein yang saat ini baru berbulan madu di salah satu pulau yang begitu indah.
Sebenarnya Muna tidak ingin mereka pergi begitu jauh dari rumah karena dia belum pernah, takut katanya. Tetapi Zein terus menyakinkan kalau semua akan baik-baik saja apalagi ada dirinya yang akan selalu menjaganya.
Pulau Dewata Bali. Yah! tempat itulah yang menjadi pilihan Zein untuk mengajak Muna menghabiskan waktu bersama selama beberapa hari ke_depan.
Saling memahami satu sama lain dan tentu untuk membuat waktu mereka menjadi semakin indah dan begitu privat.
Di salah satu hotel Muna tengah berdiri di balkon, melihat bentangan laut yang begitu indah di lihat. Apalagi terlihat sangat jelas senja yang mulai muncul karena akan pergantian hari.
"Eh, Mas," Muna sangat terkejut karena tiba-tiba Zein memeluknya dari belakang.
Muna menoleh dan mendapati Zein yang menempelkan dagunya di atas pundak Muna.
"Hem, apakah kita di sini tidak akan ngapa-ngapain, Dek?" tanya Zein lemas.
"Hem, Muna nggak tau," jawab Muna.
Ya! semenjak sah menjadi suami istri Muna dan Zein memang belum saling memberikan hak dan kewajiban mereka itu semua karena tamu bulanan Muna yang datang tepat di malam pertama.
"Mu_mungkin besok," Muna tergagap. Dia masih sangat malu ketika membicarakan hal-hal yang seperti itu.
"Amin, semoga tamu mu segera pergi sebelum kita pulang dari sini. Atau mungkin kita undur saja kepulangan kita. Aku tidak masalah kalau kita di sini satu atau dua minggu lagi, selama ada kamu aku akan siap meski sampai kapanpun."
Zein membenamkan wajahnya di ceruk leher Muna yang tertutup akan hijab yang dia pakai. Meski masih tertutup tetapi sudah bisa merasakan bagaimana harumnya kulit Muna yang keluar dari celah-celah hijab yang dia pakai.
"Mas, geli!" pekik Muna. bukannya melepaskan tetapi Zein tetap membenamkan wajahnya di sana dengan sesekali mata melihat ke arah laut yang semakin lama terlihat semakin indah ketika sang surya mulai berganti.
Zein juga sama sekali tidak menjawab apa yang dikatakan oleh Muna dan tetap melakukan apa yang menjadi kegemarannya untuk sore ini.
Mungkin Zein melakukan itu karena dia memang sudah sangat tidak sabar bisa mendapatkan hak yang memang sudah seharusnya dia dapatkan sejak kemarin tapi nyatanya? sampai sekarang pun dia belum mendapatkannya.
Ikhlas dan sabar itulah yang harus dilakukan oleh Zein saat ini karena Apa yang terjadi adalah hal di luar kemampuannya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Muna Az-Zahra," ucapnya.
"A_aku juga mencintaimu, Mas," Muna menjawab dengan malu-malu.
Dia belum pernah mengungkapkan perasaannya kepada laki-laki dan hanya sekarang saja dia berani mengatakan akan semua perasaan dan itu dia ungkapkan kepada laki-laki yang sekarang menjadi suaminya.
Zein terlihat semakin bahagia karena rasanya terbalas.
Muna itu tak jauh-jauh seperti Kanaya, meski di awal dia tidak cinta tapi setelah menikah dia akan patuh dan akan taat pada suami. Berusaha keras untuk memberikan cintanya hanya kepada laki-laki yang sah menjadi suaminya.
Dan itulah yang Muna lakukan, awalnya sudah ada rasa yang hanya sedikit mengagumi tapi setelah menikah dia benar-benar menyerahkan segalanya kepada Suaminya.
Cup...
Muna tetap terdiam meski Zein menciumnya dari samping dan dia tetap memeluknya dari belakang. Tak perlu menghindar karena malu pada orang lain kan karena apa yang akan dia lakukan tidak akan di lihat oleh orang lain.
"Apakah kamu bahagia?" tanyanya.
Muna mengangguk. Meski awalnya dia sangat takut tapi kali ini doa bisa menikmati dan bisa bahagia ketika datang di tempat-tempat yang indah dengan Zein.
"Alhamdulillah, tidak sia-sia aku mengajakmu ke sini. Suatu saat kita datang lagi ke sini atau mungkin ke tempat lain, bagaimana?"
"Kita keliling dunia kalau perlu," imbuhnya.
"Hem..., Muna ikut Mas saja. Mass geli!" pekik Muna di akhir kalimat. Zein iseng banget menggelitik perut hingga dia benar-benar merasa kegelian.
"Hahaha, ternyata kamu geli juga ya. Aku pikir tidak kan udah dari tadi di peluk tapi tidak ada reaksi. Jadi..."
"Oh, aku ngerti. Kamu menahannya ya kan karena begitu nyaman aki peluk."
"Apa sih," Muna tersenyum malu-malu, dia tak menoleh ke arah Zein dan tetap melihat ke arah laut yang semakin indah ketika menjelang senja.
"Ih, menggemaskan sekali deh. Cup..."
"Mas..." pekik Muna yang semakin malu.
...****************...
__ADS_1
Bersambung...