
'Akan akang tunggu sampai kapanpun, Aya. Akang akan tetap berharap suatu saat kita akan bersama. Jika memang Allah tidak pernah menakdirkan kita bersama, setidaknya hati kita akan selalu bersama. Cinta kita akan tetap satu.'
#Yuan Prayogo
...****************...
Hani begitu terkejut melihat kedatangan Yuan yang tampak bahagia. Wajahnya terus menoleh dengan mata terus mencari keberadaan Kanaya, gadisnya yang sangat dia rindukan.
"Han, di mana Kanaya. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu. Aku juga bawakan bunga mawar kesukaannya," ucap Yuan yang memperlihatkan tiga tangkai bunga mawar.
Hani masih terdiam, dia bingung harus mengatakan apa dan memulainya dari mana.
"Aya! Ya! Akang datang!" teriaknya, kakinya melangkah untuk mencari-cari Kanaya yang dia pikir mungkin tengah bersembunyi.
"Mau main petak umpet ya, Ay!" teriaknya lagi dengan senyuman bahagia. Yuan benar-benar berpikir kalau saat ini Kanaya tengah mengerjainya dengan bersembunyi.
Kemana-mana Yuan melangkah untuk mencari tapi sama sekali tak melihat Kanaya. Lalu Kanaya ada di mana?
"Han, kamu datang bersama Kanaya kan?" Yuan menoleh lagi ke arah Hani yang masih bungkam.
"Eish, anak itu selalu saja ngerjain," keluhnya lagi.
Terlihat Hani menghela nafasnya panjang, dan setelahnya mengeluarkan perlahan.
"Kak, Aya sudah pergi," Hani mulai berbicara.
"Pergi? tidak mungkin dia pergi sebelum bertemu dengan ku, Han! sekarang katakan. Dia sembunyi di mana?" Yuan kembali celingukan mencari Kanaya yang tetap saja gak dapat dia temukan.
Tak mungkin Yuan akan menemukannya, karena Kanaya memang sudah gak ada lagi di sana.
"Kak, i_ini surat dari Kanaya," tak berani Hani menjelaskan dengan kata-katanya sendiri. Dia sangat yakin kalau di dalam surat akan ada semua penjelasan tentang apa yang di alami Kanaya sekarang.
"Tumben dia menulis surat?" Yuan begitu penasaran karena ini memang tak seperti biasanya. Tak pernah Kanaya menulis surat seperti sekarang, paling dia akan datang ke kebun itu dan memberikan tanda coretan dengan batu di batang pohon.
Yuan menerima surat yang Hani sodorkan, dia langsung mengambil posisi duduk dan membukanya langsung. Dia juga sangat penasaran apa isinya.
__ADS_1
““’’““““
Assalamu'alaikum, Kang...
"Wa'alaikumsalam, Ay," jawab Yuan seraya mulai membaca surah Kanaya.
“““"““"""
'Bagaimana kabar Akang saat ini? Kanaya akan selalu berdoa semoga Akang selalu sehat-sehat dan selalu dalam lindungan Allah, Amin.'
"Amin," Yuan menirukan kata akhir kalimat.
'Kang, begitu banyak cerita juga kenangan yang sudah kita lalui. Semua tawa, tangis bahkan juga kegilaan kita pernah jalani bersama-sama. Tak ada keinginan untuk mengakhiri segalanya, karena setelah ini sampai kapanpun Aya harap hubungan kita tetap baik-baik saja.'
'Kang, mimpi kita memang pernah sama, begitu juga harapan kita yang ingin merajut bahagia untuk masa depan. Tapi, takdir ternyata tak seindah apa yang kita bayangkan. Bahkan takdir harus memupus semua mimpinya kita untuk bersama-sama.'
'Maafkan, Aya. Bukannya Aya tak mau menunggu juga tak sabar untuk membina suatu hubungan yang serius. Jika Allah memberikan pilihan makan Kanaya akan memilih menunggu Akang sampai kapanpun lamanya. Tapi, Allah telah tak mengizinkan itu, Allah telah menyatukan Aya dengan pria lain. Maafkan Kanaya. Kanaya gelah menikah dengan tuan Dirga.'
Lemas tubuh Yuan, seketika matanya berkaca-kaca dan berakhir air matanya terjun bebas. Musnah, hancur semua harapan juga mimpinya. Hatinya begitu sakit menerima kenyataan bahwa gadisnya benar-benar di ambil oleh orang lain seperti mimpinya waktu itu.
"Kenapa, Aya. Kenapa kamu tinggalkan Akang?" Yuan begitu rapuh. Mungkin jika ada pria lain di sana mungkin dia akan di ledek karena begitu cengeng dan rapuh. Tapi itulah hatinya sekarang, dia tak bisa mengendalikan rasa sakit itu.
Sekedar untuk melanjutkan bacaan dari surat Kanaya saja rasanya sudah tak mampu, dia benar-benar belum siap membaca semuanya.
"Kak, maafkan Hani karena tak bisa menghentikan semua ini. Bahkan Kanaya sendiri juga tidak bisa. Maafkan Aya, Kak."
Hani menyentuh bahu Yuan pelan, lalu duduk di sebelahnya. Matanya melihat bagaimana hancurnya hati Yuan saat ini. Benar-benar hancur.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Han?" Yuan menoleh ke arah Hani meminta penjelasan sejelas-jelasnya.
"Tidak lama tuan Dirga mendekati Kanaya. Bahkan, sebenarnya saat pernikahan Wati dia sudah terus berusaha. Kanaya sempat menolak saat dia mengatakan cinta dan berniat untuk melamarnya. Tapi...?" ucapan Hani terhenti.
"Tapi apa, Han?"
"Aku sendiri tidak tau, kenapa beberapa hari ini Kanaya langsung menerimanya begitu saja. Tanpa protes atau perlawanan apapun. Di tambah lagi dengan wak Tejo juga Mas Arifin yang terus memaksanya. Bahkan Mas Arifin mengancam akan menghamili Kanaya jika dia menolak lamaran Tuan Dirga," kata Hani menjelaskan.
__ADS_1
Terkejut juga amarah datang bersamaan pada Yuan. Dia begitu tak menyangka kalau Arifin akan melakukan hal sehina itu demi sebuah tujuan, tapi apa tujuan sebenarnya?
Yuan juga begitu bingung, bagaimana mungkin Kanaya bisa menerima Dirga begitu saja tanpa penolakan apapun, sungguh aneh.
"Bahkan Kanaya sempat seperti orang linglung, Kak. Dia bahkan mengatakan dia tak sadar kalau sudah menerima Tuan Dirga." imbuh Hani lagi.
"Kamu tau Dirga itu siapa?" tanya Yuan heran.
"Dia donatur di pesantren Al Amanah. Tempat Kyai Achmad."
Yuan diam berpikir. Tak mungkin tak ada apa-apa tapi Kanaya bisa menerimanya begitu saja.
"Yakinlah, Han. Lama kelamaan semua akan terbuka jelas. Semua akan terlihat seiring berjalannya waktu."
"Maksudnya?"
Sepertinya Yuan memang sudah merasa ada yang mengganjal dalam kejadian ini.
"Kanaya memang masih polos. Tapi dia bukan gadis bodoh. Semoga saja semua akan hilang sebelum terjadi hal-hal yang buruk." harap Yuan.
"Terus, apa yang ingin Kak Yuan lakukan sekarang?"
"Hanya doa yang bisa kita lakukan." jawab Yuan berusaha tegar meskipun hatinya masih terlalu sakit.
'Kemungkinan Dirga melakukan mahabbah padamu, Aya. Dan Akang tau, Mahabbah tak akan bertahan lama. Akang masuh berharap, akan ada takdir terbaik untuk kita. Akang tak peduli jika suatu saat memilikimu setelah menjadi milik orang lain,' batin Yuan.
Dalam pikirannya hanyalah ingin tetap bersama Kanaya. Cintanya tak akan pudar sedikitpun meski Kanaya sudah menjadi milik orang lain.
Mungkin ini adalah harapan tergila, tapi hati Yuan sudah terlanjur dalam untuk Kanaya.
Cintanya bukan hanya di saat Kanaya masih menjadi seorang gadis saja, tapi cintanya akan tetap ada meski Kanaya berstatus istri orang ataupun janda jika kelak Allah menakdirkan jalan seperti itu untuk Kanaya.
Cinta Yuan adalah cinta yang sejati. Bukan cinta saat bersama dengan Kanaya saja, tapi cintanya juga tetap ada meski Kanaya bersama Dirga. Yuan yakin akan hati mereka yang memang sudah saling bersatu.
...****************...
__ADS_1
Bersambung....