
'Sebuah kenangan akan selalu indah, terukir menghiasi hati dan akan mengingat di kala berdiri seorang diri. Kenangan bersamamu begitu manis, hingga tak bisa aku lupakan dan akan selalu terkenang, bersamamu aku bahagia, Kang Yuan.
#Kanaya Setya Ningrum
...****************...
Jarak yang begitu jauh dengan mata yang juga tak melihat tak membuat hati Yuan sama sekali tidak peka. Hatinya sangat peka saat Kanaya mengalami apapun. Entah dia sedang bahagia ataupun sedih Yuan pasti akan merasakannya.
Sungguh, hati mereka berdua sudah benar-benar bersatu meski tidak dengan yang lain. Jika saja semua bisa terjadi sesuai yang mereka inginkan, pastilah Yuan akan segera meminang Kanaya dan menyatukan segalanya.
"Apa yang sedang terjadi padamu, Aya?" tanya Yuan pada dirinya sendiri.
Jantungnya berdetak tak menentu, darah berdesir aneh dan pikirannya hanya tertuju kepada satu orang saja, yaitu Kanaya yang saat ini jauh dari matanya.
Yuan yang terduduk di tempat kost nya hanya bisa berdiam diri dan melupakan segudang tugas yang ada di hadapannya.
Semuanya seolah terlupakan dengan sosok Kanaya yang begitu dia rindukan. Padahal waktu pulang juga masih lama, apakah Yuan harus pulang begitu saja tanpa sebuah alasan yang jelas?
Tetapi jika tidak pulang maka dia juga tidak bisa tenang. Tetapi, bagaimana dengan semua tugas yang juga belum selesai. Bagaimana dengan skripsi yang harus dia selesaikan secepatnya?
"Apa yang harus akang lakukan, Ayy?" tanyanya lagi. Dia begitu bingung. Dia tau pasti, kalau saat ini gadisnya sedang tidak baik-baik saja.
"Assalamu'alaikum," pintu terbuka dan perlahan, dan muncullah Angga dengan kresek bening di tangannya.
Dua bungkus makanan yang dia bawa, satu untuknya dan satu adalah pesanan dari Yuan.
"Wa'alaikumsalam. Cepat sekali kamu pergi?"
"Hah! cepat?" pekik Angga. Angga juga langsung duduk di sebelah Yuan dengan bingung. Pasalnya dia saja pergi hampir setengah jam, padahal biasanya dia akan pergi selama beberapa menit saja untuk membeli makan.
"Kamu baik-baik saja kan, Yuan?" selidik Angga. Ini sangat tak biasa menurutnya.
"Baik-baik saja, emangnya kenapa?" tanya Yuan. Tangannya juga langsung menerima uluran nasi bungkus yang Angga berikan barusan.
"Oh, aku pikir otakmu lagi nggak konek," setengah acuh Angga menjawab, dia juga sudah mulai membuka nasi bungkusnya.
Tak berlebih-lebihan makanan yang Angga beli, hanya nasi putih dengan kering tempe juga pindang di goreng dengan telur saja. Itu sudah terasa nikmat untuk mereka berdua.
Mereka yang sama-sama memiliki keluarga yang tak kaya-kaya amat harus pintar-pintar mengolah uang supaya cukup dalam beberapa hari. Bahkan mereka berdua juga mengambil pekerjaan sampingan.
__ADS_1
"Aw!" Yuan menjerit saat tiba-tiba bibirnya tergigit saat dia baru mengunyah. Padahal dia merasa sudah hati-hati tapi entahlah, pikirannya semakin tidak enak sekarang.
"Kenapa?" tanya Angga penasaran, "kegigit?" imbuhnya.
"Iya," Yuan kembali melanjutkan makannya meski lebih hati-hati sekarang.
"Mau makan daging itu," Angga terkekeh.
"Iya, dagingnya sendiri kan?" Angga semakin terkekeh mendengar jawaban Yuan. Biasanya kalau di rumah kedua orang tuanya akan mengatakan itu kalau pas makan sesuatu dan tergigit. Dan itu sekarang Angga katakan pada Yuan.
"Iya," Lagi Angga memasukkan nasinya hanya menggunakan tangan saja. Katanya akan lebih nikmat jika makan menggunakan tangan saja, dah itu ternyata benar.
...****************...
Langkah gontai dari kaki Kanaya sekarang. Melangkah pulang setelah dari makam kedua orang tuanya.
Awalnya berniat pergi ke desa Lembayung tetapi dia urung karena dia tak semangat juga sudah terlambat.
"Seandainya Kang Yuan ada di sini. Mungkin, Kanaya tidak akan kesepian dan terlalu sedih seperti ini," katanya seraya melangkah.
Tangan terus memainkan tali tasnya, berjalan menunduk melihat setiap aspal yang kakinya pijak.
Bagaimana tidak akan mengingat Yuan, hanya Yuan seorang yang selalu tau dan selalu ada untuknya di saat saat seperti ini. Tetapi sekarang? Yuan tak akan selalu ada untuknya.
Hingga akhirnya langkah terhenti saat melihat pertigaan jalan. Jalan di mana akan menuju tiga desa yang berbeda. Lembayung, Buntar juga Ambung.
Kanaya menoleh ke belakang, Di belakang sanalah desa Lembayung. Jika dia berbelok kiri maka dia akan pulang ke desa Buntar, jika dia terus lurus maka akan ke desa Ambung, Desa Yuan.
Teringat kembali setiap kenangan yang sudah di ciptakan di pertigaan jalan itu. Bersama teman-teman, yang jelas juga bersama Yuan.
Begitu indah untuk di kenang, hingga tak terasa membuat Kanaya tersenyum kala mengingat semuanya. Bagaimana kenakalan dan kejailannya saat dulu masih menjadi anak ingusan dan terus mengerjai Yuan.
Kanaya melangkah, mendekati tempat yang biasa buat duduk, di bawah pohon nangka yang tak terlalu besar.
'Kang, jangan tinggi-tinggi! nanti jatuh!' ucap gadis kecil berhijab putih saat melihat Yuan manjat di pohon nangka.
Sementara Kanaya kecil duduk di bawah pohon nangka dengan mendongak dengan perasaan ngeri.
'Tidak, tidak mungkin akang akan jatuh. Kalau jatuh kan ada kamu yang kejatuhan akang. Enak kan di akang, hahaha!' tawa Yuan menggelegar. Menggema keras di jurang yang ada di bawah sana.
__ADS_1
'Kanaya! ya ya ya ya...' sekali panggilan Yuan begitu indah menggema. Membuat Kanaya tersenyum dan bergegas mencobanya.
'Kang Yuan! an an an an...!' Kanaya tersenyum karena berhasil.
'Kang, suara Aya ada banyak!' Kanaya begitu sumringah.
'Iya dong. Seandainya kamu bisa manjat juga di sini. Pasti kamu akan semakin senang melihat pemandangan yang sangat indah. Juga merasakan angin yang berselisir sejuk.'
'Ih! akang curang! turun turun!'
"Nggak mau, Ayya.!
'Akang turun!' Kanaya menggoyangkan pohon nangka hingga membuat pohon itu meliuk-liuk dan membuat Yuan kalang kabut di atas.
'Aya, nanti akang ja..., bugh. Aww!' Belum juga selesai bicara Yuan sudah jatuh. Untung saja tidak jatuh kebawah sana.
'Hahaha!' Kanaya malah begitu girang melihat Yuan terjatuh. Maklum, masih terlalu kecil dan belum tau akang hal bahaya, yang dia tau hanya sebuah kebahagiaan dan kebahagiaan.
"Kang Yuan an an an!" teriak Kanaya setelah kembali ke masa sekarang. Dia sudah terduduk di tempat yang dulu. Duduk di atas rumput dengan kaki yang bergelantungan.
Ada sedikit rasa lain yang terlepas, tentu sebuah rasa yang dari tadi membuat dada merasa sesak.
Jleder...
Kanaya terperanjat saat tiba-tiba saja ada guntur menyambar. Bahkan tiba-tiba cuaca seketika berubah menjadi dingin dan berkabut.
Perlahan hujan turun begitu lebat dan Kanaya tak sempat mencari tempat berlindung. Hanya di bawah pohon nangka itulah yang menjadi sedikit melindungi.
"Kenapa tiba-tiba hujan?" tanyanya pada diri sendiri.
Kanaya ingin pulang, tetapi dia tak membawa payung. Dia juga tidak mungkin bertahan di sana karena guntur yang terus bersuara.
Kaki perlahan melangkah, nekat pulang meski dia akan kebasahan. Tapi tidak! tiba-tiba tak ada tetesan air hujan yang mengenainya.
"Kang Yuan!" Kanaya menoleh setelah melihat payung yang melindunginya.
"Dirga, Buka Yuan," ucap orang itu yang tak lain adalah Dirga.
Kanaya terdiam, kecewa karena bukan orang yang di rindukan yang datang, tetapi orang lain yang tadi mengatakan cinta kepadanya.
__ADS_1
...****************...
Bersambung....