
**********
Senyum Kanaya terpancar begitu indah saat mobil sudah akan masuk di desa di mana dulu dia tinggal. Lebih tepatnya di pertigaan jalan yang penuh dengan sejuta kenangan.
Semua kenangan terasa kembali hadir di ingatannya menumbuhkan sedikit debaran yang begitu cepat di dalam dadanya. Senang, terharu juga gelisah berkumpul menjadi satu.
"Mas, bisa berhenti di sini dulu tidak?" Tanyanya. Wajahnya begitu berbinar begitu bahagia. Melihat pemandangan kedua gunung yang menjulang tinggi. Merapi dan juga Merbabu yang terlihat berdampingan.
"Bisa, emang mau ngapain?" Dirga sangat penasaran apalagi melihat begitu bahagia juga antusiasnya Kanaya.
Bagaimana tidak bahagia, ini adalah pertama kali kakinya kembali menginjak tanah kelahiran yang begitu banyak cerita di setiap perjalanan hidupnya.
"Mau lihat-lihat, Mas. Apalagi pemandangannya kebetulan bagus banget. Boleh di fotoin nggak, Mas?" Ucapnya.
Dirga mengernyit, padahal kemarin-kemarin Kanaya begitu tak suka saat di foto tapi sekarang malah minta sendiri. Bagaimana mungkin Dirga bisa menolak.
"Baiklah. Pak Danu, berhenti sebentar di sini," Ucap Dirga tentu pak Danu langsung menepikan mobilnya di tempat yang lebih luas.
"Hati-hati, Nay," Begitu antusiasnya sampai-sampai Kanaya begitu tak sabar dia keluar dengan cepat dan berlari ke ujung jalan dan merentangkan tangan. Merasakan hembusan angin yang begitu sejuk.
Udara yang sangat Kanaya rindukan, udara yang kemarin hanya dia impikan kapan bisa kembali merasakannya dan sekarang dia bisa.
Matanya terpejam, dengan tangan yang masih sama. Menyambut sapaan dari angin yang begitu sejuk dan menggerakkan semua yang dia pakai. Semua seolah ingin terbang.
Dirga ikut merasa sangat bahagia melihat Kanaya yang seperti sekarang ini. Tak sia-sia dia mengajaknya dengan alasan ingin ke tempat Kyai Achmad dan mau ziarah. Padahal nyatanya bukan itu saja, ada misi lain yang lebih penting.
"Apakah sangat sejuk?" Dirga menoleh ke arah Kanaya, juga berdiri tepat di sebelah Kanaya.
Tak bisa di pungkiri, pemandangan yang sangat indah inilah yang mungkin sangat susah untuk Kanaya lupakan, dan itu tak akan mungkin bisa.
"Ini sangat sejuk, Mas," Di buka matanya menoleh ke arah Dirga yang kini tengah menatapnya. Dan saat itu juga satu potret di ambil oleh Dirga. Bukan dengan ponsel melainkan dengan kamera khusus yang sengaja Dirga bawa.
"Mas, jangan banyak-banyak!" Protes Kanaya karena Dirga tiada henti mengambil fotonya.
Dari berbagai gerakan, juga berbagai senyum Dirga bisa mendapatkannya. Alhamdulilah.
Keduanya benar-benar seperti seorang sepasang kekasih yang tengah di mabuk asmara. Tertawa, tersenyum dengan sedikit perlakuan yang penuh menggoda. Begitu bahagianya mereka berdua dan itu akan selalu Dirga lakukan.
Seandainya ada Yuan, pastilah dia hanya bisa terdiam. Tapi Dirga yakin, Yuan sudah bisa menerima segala takdir ini. Memang awalnya tidak benar tapi Dirga menganggap itulah jalan takdirnya.
__ADS_1
Sementara, jika yang melihat orang yang iri mungkin mereka akan begitu nyinyir dan mengomentari kebersamaan dan kebahagiaan mereka berdua. Untung saja tak ada siapapun di sana kecuali mereka berdua dan pak Danu saja.
Gamis hijau, juga hijab syar'i berwarna hijau yang Kanaya pakai saat ini. Dia terlihat anggun dengan balutan itu.
"Sudah, apakah masih kurang fotonya?" Tanya Dirga.
"Kurang bagaimana, itu udah kelebihan, Mas. Bisa-bisa overdosis itu. Kaya mabuk foto nantinya," Ucap Kanaya.
Tapi itu tak peduli bagi Dirga, dia sangat bahagia dengan apapun yang Kanaya katakan hingga kini dia malah terkekeh.
"Lanjut sekarang?" Tanya Dirga setelah di rasa puas di sana.
"Hem," Kanaya mengangguk dan saat itu juga keduanya kembali ke mobil. Perjalanan akan kembali di langsungkan.
"Lihat, Mas," Di dalam mobil yang sudah berjalan lagi Kanaya begitu penasaran dengan fotonya sendiri yang di ambil oleh Dirga.
Dengan senang hati Dirga juga memperlihatkan.
"Bagaimana, bagus tidak? Apakah perlu besok kita cetak?" Tanya Dirga.
"Hem, terserah mas saja deh. Tapi...?"
"Tapi kenapa?" Dirga mengernyit.
"Tidak apa-apa, nanti bisa ambil foto lagi bareng mas," Di rengkuh nya kepala Kanaya dan di beri kecupan di puncak kepalanya.
'Subhanallah, seneng lihatnya Tuan Dirga dan Nona Naya bahagia seperti ini. Semoga saja kebahagiaan selamanya mereka berdua dapatkan. Amin,' batin pak Danu penuh harap.
************
Begitu terkejut wak Ami ketika mobil Dirga berhenti di depan rumahnya. Tak ada persiapan apapun juga tidak tau akan kedatangannya yang sangat mendadak kali ini.
Bahkan kali ini wak Ami baru saja hendak ke ladang lagi.
"Assalamu'alaikum, Wak!" Begitu girang Kanaya melihat wak nya yang masih terpaku tak percaya.
Kanaya langsung turun dari mobil berjalan menghampiri wak Ami dan terus menyalaminya. Sementara Dirga berjalan di belakang Kanaya dan pak Danu mengeluarkan barang-barang mereka begitu juga dengan oleh-oleh yang mereka bawa.
"Wa_wa'alaikumsalam..., Alhamdulillah, Aya. Kamu kembali pulang. Wak sangat merindukanmu, Aya," Wak Ami langsung memeluk Kanaya setelah mendapat salam takzim darinya.
__ADS_1
Seperti seorang ibu kepada anak perempuannya wak Ami terus menghujani kecupan di seluruh wajah Kanaya. Bahkan saking bahagianya bisa melihat Kanaya wak Ami sampai mengeluarkan air mata.
"Bagaimana kabar kamu, Nduk?" Di lepaskan pelukannya dan Kanaya langsung mengusap air mata wak Ami.
"Alhamdulillah, Wak. Kabar Naya baik," Senyum Kanaya merekah.
"Alhamdulillah," Syukur pun wak Ami panjatkan.
"Assalamu'alaikum, Wak." Kini Dirga yang menyapa.
"Wa'alaikumsalam, Nak. Terima kasih sudah mengajak Aya berkunjung di rumah wak. Sering-seringlah datang wak akan sangat merindukan Aya jika terlalu lama," Wak Ami masih merangkul Kanaya.
"Iya, Wak. Itu pasti. Kami akan sering datang untuk berkunjung."
"Wak Tejo nggak di rumah, Wak? Dan mas Arifin?" Tanya Dirga.
"Mereka lagi di ladang. Yuk masuk dan tunggu di dalam. Sebentar lagi mereka pasti pulang."
Begitu ramah wak Ami memperlakukan mereka berdua, menyambut dengan perasaan yang sangat bahagia. Tapi entah jika wak Tejo juga Arifin, entah mereka akan bahagia atau mungkin sebaliknya.
"Halah, kok pakai repot-repot bawa oleh-oleh. Kesini ya kesini saja to Nak Dirga," Begitu tertegun wak Ami melihat oleh-oleh yang begitu banyak yang di bawa pak Danu.
"Tidak apa-apa, Wak. Tadi kebetulan lewat pasar jadi sekalian," Dirga menjawab dengan ramah.
"Terima kasih ya, Nak."
"Iya, Wak."
Dirga duduk di ruang tengah sementara Kanaya mengikuti wak Ami masuk ke dalam, membantu menyiapkan minum untuk dirinya juga suaminya. Tentu tak terlupa pak Danu juga mendapatkan jatah.
"Wak, wak sehat kan? Beberapa hari nggak ketemu kok Naya merasa wak sedikit kurus ya?" Tanya Kanaya.
"Hem? Biasa saja, Aya." Bibir mengatakan biasa saja tapi nyatanya berbeda dari semburat wajah yang terlihat. Ada apa?
"Wak, wak baik-baik saja kan?" Jelas itu langsung terlihat oleh Kanaya.
"Wak baik-baik saja, Aya. Sudah, bawa ke depan minumnya," Pinta wak Ami.
Kanaya menurut apa yang wak Ami katakan tapi dia berhenti sejenak dan menoleh melihat wak Ami lagi. Ternyata ada kesedihan besar yang di sembunyikan. Ada beberapa tetes air mata yang keluar tapi cepat wak Ami hapus dengan hijabnya.
__ADS_1
'Wak kenapa, apakah ada masalah?' batin Kanaya.
********