Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Jangan Salah paham


__ADS_3

'Kepercayaan harus selalu di pupuk dalam sebuah hubungan. Tanyakan jika ada sebuah keraguan jangan di pupuk dalam hati sendiri dan akan terjadi kesalahpahaman yang akan menjadikan retaknya sebuah hubungan.'


#Author


...****************...


Ketakutan Kanaya semakin besar karena Dirga yang tak kunjung datang. Apalagi pria itu terus saja di sana dan terus mengajaknya bicara.


"Mbak, apakah mbak bahagia dengan pacar mbak? kalau tidak lebih baik bersama aku saja mbak. Aku yakin aku bisa bahagiakan mbak," katanya.


Semakin ngelantur pria itu bicara. Kenal tidak akrab tidak tapi dia sok kenal juga sok akrab. Bahkan dia seolah-olah sudah kenal begitu lama.


Sebenarnya siapa orang ini, kenapa dia begitu tidak tau malu seperti ini. Belum kenal saja dia sudah berniat jadi perusak hubungan orang bagaimana kalau sudah kenal?


"Mbak, kenapa mbak diam saja. Apa mbak sariawan?" katanya lagi.


Dia ikut maju, menyamakan berdiri sejajar dengan Kanaya. Melihat arah mata Kanaya yang terus melihat arah kendaraan berdatangan.


Kanaya tetap diam tak menanggapi apapun yang pria itu katakan.


"Oh ya, Mbak. Boleh kenalan nggak? Nama saya Zein, nama mbak siapa?" tangannya terulur kepada Kanaya jelas tidak akan di hiraukan olehnya.


Sebisa mungkin kalau Kanaya harus menjauhi para laki-laki yang ingin mendekatinya.


Belum punya suami saja Kanaya tidak akan mudah di dekati oleh laki-laki apalagi sekarang setelah punya suami.


Kanaya adalah tipe orang yang setia. Dia hanya akan menaruh satu laki-laki saja di dalam hatinya dan jika di paksa untuk melupakan pastilah akan sangat lama itu terjadi ya seperti sekarang ini.


Kanaya masih susah melupakan Yuan dan mengganti Dirga. Tapi tetap saja Kanaya akan menghormati dan juga menjaga nama baik Dirga.


"Oh, tidak boleh ya," tangan Zein dia tarik lagi. Rasa kecewa itu jelas adanya tapi mau bagaimana lagi?


Kanaya tersenyum kala melihat mobil Dirga datang hatinya sangat lega. Kanaya ingin cepat lepas dari laki-laki yang mengaku namanya Zein itu.


Tinnn....


Mobil berhenti, Dirga hendak turun tapi Kanaya sudah lebih dulu masuk ke mobil dengan sangat buru-buru. Jelas hal itu memantik rasa penasaran dalam hati Dirga.


Hembusan nafas lega keluar dari hidung Kanaya namun tidak dengan Zein yang kecewa juga Dirga yang sangat penasaran.


Dirga melihat luar dari kaca tentu akan terlihat seperti pria dengan sangat jelas. Wajahnya terlihat sangat kecewa dengan mata terus memandangi Kanaya yang sudah masuk.

__ADS_1


"Nay, ada apa?" tanya Dirga penasaran.


"Ti_tidak. Bisa secepatnya kita pergi dari sini? aku ingin cepat pulang atau kemanapun yang penting pergi dari sini," jawab Kanaya dengan gugup.


Kanaya hanya ingin menjauh sejauh-jauhnya dari Zein yang sepertinya juga tertarik padanya. Mungkin sekarang dia bisa menghindar tapi bagaimana besok-besoknya lagi Kanaya masih akan terus berada di sana kan sampai enam bulan.


Dirga menurut dia menjalankan mobilnya. Sebentar dia melihat pria itu apakah Kanaya ingin menghindarinya? siapa dia sebenarnya kenapa terlihat begitu tertarik pada Kanaya?


Satu masalah belum selesai dan belum di selidiki kini datang lagi satu. Ujian apa lagi ini, kenapa semua datang dengan bersamaan.


Kanaya terus diam, dia sebenarnya sudah tidak nyaman berada di tempat kursusnya. Baru hari pertama saja sudah ada orang yang seperti itu bagaimana hari-hari setelahnya.


Jika Kanaya ingin keluar bagaimana dengan uang yang sudah Dirga keluarkan dan itu pasti akan sia-sia saja.


"Nay, ada apa?" tanya Dirga lagi yang merasa sangat penasaran karena dia terus diam sedari tadi.


"Hem... siapa pria tadi, apakah kamu ada masalah dengannya? apakah dia melakukan sesuatu padamu?" selidik Dirga.


Kanaya menoleh, seperti apapun yang terjadi Kanaya harus tetap jelaskan kalau tidak pastilah akan terjadi salah paham.


"Mas, Aya tidak kenal dengannya. Tapi dia mengaku namanya Zein. Dia terus mengejar ku. A_aku..." Kanaya menghentikan omongannya apakah benar harus di selesaikan?


"Aku takut, Mas. Aku takut dia akan terus mengganggu ku." kini Kanaya tertunduk.


"Hem, kalau kamu tidak nyaman di sana kamu keluar saja dari sana," begitu enteng Dirga mengatakan.


Mata Kanaya langsung terbelalak bagaimana bisa Dirga mengatakan semudah itu. Bagaimana dengan uang yang sudah di keluarkan. Jika Kanaya keluar maka uang itu juga akan hilang.


Uang sepuluh juta bukanlah uang yang sedikit bagi Kanaya tapi entah kalau bagi Dirga.


"Tidak tidak! Aya pasti bisa menghadapinya. Aya akan tetap bertahan di sana," tolak Kanaya dengan cepat.


"Benar?" Kanaya mengangguk cepat, "ya sudah, tapi kalau ada apa-apa kamu harus katakan padaku. Kamu tidak boleh berbohong meski hanya hal kecil saja."


"Iya, tidak akan ada yang Aya sembunyikan," lega hati Kanaya. Dia bisa menahan semuanya dia pasti bisa menghadapi Zein.


Dirga tersenyum dia mengangkat tangannya mengusap puncak kepala Kanaya hingga membuat hijabnya sedikit berantakan.


"Mas, jangan di berantakin!" teriak Kanaya protes.


"Hahaha, maaf sayang." Dirga terbahak karena perbuatannya telah membuat Kanaya protes dan kini berwajah menggemaskan.

__ADS_1


Keduanya kembali diam seketika membuat Dirga mengingat akan surat yang tadi dia terima yang mengatasnamakan Yuan Prayoga.


"Nay, dulu aku pas masih sekolah seneng banget kirim surat sama temen-temen. Kalau kamu bagaimana?" Dirga tidak mau Kanaya langsung curiga jadi dia lebih memilih untuk membelokkan topiknya lebih dulu.


"Hem, Aya tidak begitu punya teman jadi tidak pernah kirim-kirim surat. Lagian teman yang paling akrab hanya Hani dan Wati itu saja udah satu desa tinggalnya." jawab Kanaya jujur.


Dirga jadi yakin kalau Kanaya tidak pernah kirim surat sebelumnya tapi belum pasti juga kan?


"Hem, apakah kamu pernah kirim surat pada seseorang dalam waktu dekat ini?"


Kanaya terdiam. Bohong kalau dia tidak mengirim surat pada seseorang dalam waktu dekat ini. Karena dia pernah mengirim surat pada Yuan sebelum dia di paksa Dirga datang ke sini.


"Kenapa, apa kamu kirim surat pada seseorang dalam waktu dekat ini?" tanyanya lagi dan terdengar semakin mendesak.


"Ya, aku pernah mengirim surat dalam waktu dekat ini," Kanaya hanya ingin jujur. Karena tak baik jika dia menyembunyikannya.


Kanaya tau apa yang dia katakan apalagi kalau dia jujur dia menulis surat untuk Yuan pasti Dirga akan kecewa.


"Untuk siapa?" Dirga semakin penasaran.


Apakah benar harus Kanaya katakan? pasti akan terjadi salah paham.


Kanaya masih diam, tentu dia berpikir sebelum mengatakannya.


"Hem?" Dirga semakin tak sabar.


"Kang Yuan," jawab Kanaya dengan mata terus fokus di depan. Tak sedikitpun dia menoleh kepada Dirga.


Benar, dan salah paham itu terjadi pada Dirga. Dia mengira Kanaya mengirim surat setelah Kanaya sudah ada di Semarang bukan sebelum datang ke Semarang.


Tangan Dirga mengepal, apa yang dia pikir ternyata benar. Kanaya telah mengkhianatinya. Tapi kenapa Dirga masih belum percaya.


"Ka_kapan?" amarah sudah muncul di hati Dirga.


"Sebelum Mas membawa Aya ke sini."


Ternyata kecurigaan Dirga salah. Kini amarahnya langsung reda. Lalu, apa maksud dari surat tadi?


...****************...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2