
'Kesalahan ku menjadikan penderitaan mu, karena aku kamu harus merasakan sakit. Meski seperti itu, aku tetap memohon padamu, jangan tinggalkan aku.'
#Dirga Gantara
...****************...
Begitu lama Dirga menunggu Kanaya, sudah tiga jam dia terus terjaga dan tak sedikitpun dia berpaling dan pergi dari hadapan Kanaya.
Dirga terus mengompres Kanaya, dan kembali lagi memegangi tangan Kanaya juga menghujani kecupan. Begitu menyesal, tapi Dirga sendiri juga tak bisa berbuat apa-apa karena itu tumbuh secara murni di bawah sadarnya.
Mungkin dengan limpahan kasih sayang Kanaya bisa memaafkannya nanti. Kalau tidak! Dirga hanya bisa pasrah meskipun dia tetap berharap tidak akan kehilangan Kanaya.
"Alhamdulillah, akhirnya demamnya sudah berkurang," syukur Dirga ucapkan, setelah tangannya selesai menyentuh kening Kanaya.
Dirga hendak mencelupkan kain ke air hangat lagi dan ingin dia gunakan untuk mengompres lagi, namun di saat kain itu baru tertempel di kening mata Kanaya perlahan terbuka.
Netra yang sedikit kecokelatan itu terlihat bingung memandang langit-langit yang sangat asing baginya. Melihat itu Dirga juga menarik tangannya.
Namun tangannya langsung di tangkap oleh tangan Kanaya. Tak lama netra Kanaya melihat ke arah Dirga dan seketika dia mulai ketakutan.
Tangan cepat melepaskan, tubuhnya sudah langsung mulai menggigil dan wajahnya semakin pucat. Bayangan akan perlakuan Dirga padanya yang sudah terekam dalam ingatannya seketika berputar kembali. Jelas dan semakin jelas.
"Jangan, jangan sentuh Aya! jangan! pergi kamu, pergi!" teriak Kanaya yang seketika histeris.
Tak pernah dia pikir kalau dia akan memiliki suami yang sangat menakutkan. Bahkan sekedar dalam mimpi pun tidak pernah dan kini malah langsung berada di dunia yang nyata.
"Naya, Sayang. Jangan seperti itu aku suamimu, Sayang," Dirga ingin menyentuh Kanaya tetapi tangan Kanaya terus berontak.
"Pergi, jangan dekati aku! jangan sentuh aku, akk!!" teriakan Kanaya semakin menggema kala Dirga sudah mulai berhasil memegang tangannya.
"Akk!!" ketakutan Kanaya begitu besar, dia trauma akan perbuatan Dirga tadi. Entah setan apa yang merasuki pikiran Dirga hingga dia begitu kasar dan menakutkan tadi.
Kanaya menangis sangat keras, dia juga terus menjerit-jerit tak tertahan namun wajahnya semakin pucat dan tatapan matanya semakin kosong.
"Jangan sentuh Aya, lepas! akk!!" Kanaya sudah beralih duduk, menyandarkan punggung di sandaran ranjang dengan memeluk kedua kaki juga ingin menyembunyikan wajahnya.
Betapa ikut sakit hati Dirga melihat istrinya seperti sekarang ini. Ini semua adalah kesalahannya. Jika saja dia tidak mendengarkan semua perkataan Arifin tadi mungkin ini senja tidak akan terjadi.
__ADS_1
Dirga tidak akan memaksa Kanaya memberikan haknya dan penyiksaan tidak akan dia lakukan. Sungguh menyesal Dirga juga begitu malang nasib Kanaya yang berakhir seperti ini di tangan suaminya sendiri.
"Sayang, maafkan aku. Maafkan aku," Dirga semakin mendekat tapi Kanaya semakin berteriak histeris dan semakin gemetaran tubuhnya.
"Ga!" pintu terbuka dari luar dan ternyata Savira yang masuk, "Astaghfirullah hal azim!" Savira begitu terkejut.
Dia sudah sangat yakin tadi kalau hal ini akan terjadi pada Kanaya dan ternyata benar adanya.
"Kamu keluarlah dulu, Ga. Biar aku yang menenangkannya." pinta Savira.
"Tidak, Vir. Aku tidak mau meninggalkannya, aku ma_ mau tetap di sini," tolak Dirga. Bahkan dia masih saja tak mau berpindah dari posisinya.
"Kamu harus keluar dulu, Ga!" pinta Savira lagi.
"Tidak! aku tidak mau!" ucapan Dirga semakin tinggi. Dia tidak akan mungkin meninggalkan Kanaya dalam keadaan yang seperti itu. Tidak akan.
"Ga! apa kamu mau Kanaya jadi gila, Hah!" mata Savira nyalang tajam ke arah Dirga yang tak mau mendengarkannya.
"Sekarang ini Kanaya sangat takut padamu. Dia akan gila kalau kamu terus berada di sini. Percayalah padaku, dan keluarlah sekarang." imbuh Savira.
Tentu Dirga tidak mau sampai Kanaya_nya akan gila. Dia tidak ingin itu terjadi dia sangat mencintainya.
"Baiklah," dengan berat hati Dirga keluar dari kamar itu meninggalkan Kanaya dengan Savira. Dirga menengok sebentar sebelum dia benar-benar keluar dari pinta, dan dia lihat Savira yang mulai menenangkannya.
"Nay, kamu yang tenang ya. Dia tidak ada lagi di sini. Kamu tenang," perlahan kesadaran Kanaya mulai kembali, dia mencari-cari Dirga dengan perasaan takut dan benar dia tak melihat Dirga ada di sana karena dia sudah keluar.
"A_aku takut," tangis Kanaya pecah dan seketika Savira memeluknya seperti seorang sahabat.
Alhamdulillah, Kanaya mendapatkan sahabat baru di Semarang. Dia adalah Savira sahabat Dirga juga. Semoga Savira bisa menggantikan Hani yang tak bisa lagi bersamanya. Meski Safira tetap tak bisa menggantikan Hani juga Wati di posisinya.
"Sudah, jangan takut. Kamu aman sekarang," Savira terus mengelus punggung Kanaya. Dengan penuh kelembutan yakin itu akan membuat Kanaya tenang.
Benar saja, tak berapa lama Kanaya sudah tidak menangis lagi, hanya tinggal sesenggukan yang masih Savira rasakan.
Kruk...
"Eh, kamu lapar?" Savira tersenyum melihat Kanaya. Perutnya menyerukan genderang karena ingin di isi.
__ADS_1
Dengan polosnya Kanaya mengangguk, tangannya juga sudah berada di perutnya yang terasa melilit.
"Bentar, aku ambilkan makan dulu sebentar," Savira hendak beranjak namun tangannya kembali di cekal oleh Kanaya. Kanaya menggeleng, "Kenapa?"
"A_aku takut," wajah Kanaya kembali pucat.
"Ya sudah, aku akan tetap di sini," Savira kembali duduk namun dia mengambil ponselnya dan menghubungi Dirga.
Kanaya hanya melihat, dia gak tau siapa yang saat ini Savira hubungi.
"Tolong buatkan bubur untuk Kanaya secepatnya." pinta Savira.
'[Ya. Naya bagaimana, dia baik-baik saja kan?]'
"Dia baik-baik saja, buruan! kalau tidak dia akan kelaparan," Savira tersenyum namun matanya melihat Kanaya.
"[Ya, aku akan segera lakukan.]'
Telfon langsung di putus oleh Savira. Namun sebelum kembali mengantongi Savira lebih dulu mengirim pesan pada Dirga. Untuk saat ini Dirga tidak boleh mendekati Kanaya dulu di saat dia sadar. Kalau tidak pasti keadaan akan semakin buruk.
'Ingat, Ga. Jangan masuk. Ketuk saja pintunya biar aku yang keluar. Untuk beberapa hari ini kamu harus menjauh dulu darinya saat tersadar.' pesan Savira.
'[Baik, Vir. Itu tidak masalah asalkan Naya cepat sembuh,]' balas Dirga.
"Mbak, mbak siapa?" tanya Kanaya dan mengejutkan Savira.
"Savira. Kamu bisa panggil Kak Vira. Anggap saja aku sebagai kakakmu selama kamu di sini," jawab Savira.
"Emang Aya ada di mana?" Kanaya begitu bingung, dia tak tau di mana. Ini tempat yang sangat asing baginya. Bahkan dia juga semuanya sangat berbeda.
"Di Semarang," seulas senyum kembali keluar dari bibir Savira. Tangannya sudah menyentuh lembut wajah Kanaya yang seketika membulatkan mata.
"Se_Semarang?"
...----------------...
Bersambung....
__ADS_1
...****************...